Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Pertanda


__ADS_3

" Ratu anda makan dulu" ucap Valmira yang sejak pagi sampai malam masih berada di kamar Ratu Shana. Wanita itu merasa bersalah jadi ikut menemani dan melayani Ratu Shana.


" aku tak bisa makan," keluh Shana dengan wajah sok sedih.


" kalau begitu saya akan panggilkan pelayan untuk menyuapi anda" ucap Valmira yang memang sudah lelah meladeni semua keluhan Shana.


" jangan, bagaimana jika kau saja, biarkan pelayan melakukan tugas lainnya" ucap Shana cepat. Dia tidak mau yang lain, harus Valmira yang melakukan semua tugas ini.


Valmira mulai jengah, dia menarik nafas panjang dan mencoba bersabar lebih lama.


" hem, baiklah yang mulia" jawab Valmira menahan kekesalannya. Bagaimanapun semua ini karena Shana berniat menolongnya.


" akk" ucap Valmira sambil menyuapi Ratu.


Keadaan itu berlangsung sampai menjelang tengah malam. Untung saja dengan seribu alasan Valmira berhasil meminta izin kembali ke kamarnya.


" astaga tubuhku capek sekali, wanita itu benar-benar menjengkelkan" ucap Valmira yang kini tengah berbaring di ranjang dengan Fleur yang memijit tubuhnya.


" memang bagaimana bisa terjadi kecelakaan itu?" tanya Fleur penasaran, dia sudah menunggu kepulangan Valmira untuk menanyakan detail kejadiannya.


" entahlah aku tidak tau pastinya, Ratu langsung mendorong tubuhku bersamaan dengan balok kayu yang hampir jatuh. tubuh ratu terjatuh dan para pekerja langsung membantu" jelas Valmira seingatnya. Meski beberapa bagian perlu di curigai tapi Valmira tidak tau bagaimana menilai sikap Shana sebenarnya.


" hal ini seperti tidak masuk akal, bukankah dia begitu membencimu. Tapi kenapa merelakan diri menolongmu. ini sangat janggal" ungkap Fleur yang juga sedikit curiga.


" aku tidak berfikir panjang, Andai saja aku tidak menyanggupi ajakannya" Valmira menyesal ikut ke istana Ratu, dan melihat pengerjaan renovasi kamar.


" lalu bagaimana sekarang?"


" aku tidak tau, wanita itu kini dengan seenaknya menyuruhku kesana kemari, melakukan ini melakukan itu. Pegal rasanya" keluh Valmira sedikit mengungkapkan kekesalannya.


" sekali-kali kau tolak saja permintaannya" usul Fleur.


" tidak semudah itu. Wanita itu penuh dengan tipu muslihat. Ada saja alasan agar aku yang melakukannya"


" kau yang sabar saja, tahan emosi mu. Jangan sampai menimbulkan masalah lagi" nasihat Fleur. Biasanya Valmira yang berlaku bijak, kini emosi wanita itu tengah labil jadi gantian Fleur yang berperan untuk menasehati.


" aku akan mencobanya" jawab Valmira dengan nada lesu. Wanita itu menutup mata sambil menikmati pijatan Fleur, lama kelamaan tubuhnya terasa ringan dan masuk ke alam mimpi.


Di kamar putri, Shana sedang bersenandung riang. Seharian menipu selir Alora begitu mengasyikkan, dia memperlakukan wanita itu selayaknya pelayannya.


" yang mulia Ratu terlihat senang sekali hari ini" ucap pelayannya yang sedang meletakkan cemilan.


" tentu saja, seharian ini aku bisa melakukan apapun pada selir rendahan itu" jawab Shana sambil mengambil buah anggur. Nyatanya kaki dan tangannya tidak separah yang orang lain tau. Semua itu adalah sandiwara, dia sudah merencanakan semua itu bersama dengan para pekerja. Agar cideranya tidak terlalu parah.


" yang mulia harus menunjukkan status tinggi anda" ucap pelayannya salut atas berhasilnya rencana sang Ratu.


" ini masih permulaan, tunggu besok dia akan ku buat lebih menderita" ucap Shana tidak main-main.


Pagi menjelang, mentari bahkan belum keluar dengan sempurna saat pelayan putri Shana berkunjung ke kamar selir Agung.


" yang mulia Ratu meminta selir Agung untuk berkunjung ke kamarnya" ucap pelayan itu kepada Fleur.

__ADS_1


" baiklah, akan saya sampaikan" jawab Fleur singkat.


" yang mulia Ratu tidak mau menunggu terlalu lama" ucap pelayan itu lagi.


" iya, akan saya sampaikan" jawab Fleur setengah malas. Dan akhirnya pelayan itu pergi. Fleur masuk ke kamar. Melihat Valmira yang tertidur pulas, bahkan masih menggunakan pakaian semalam membuat Fleur setengah tidak tega membangunkannya. Tapi apa daya. jika Valmira tidak datang malah menjadi masalah.


" Alora" panggil Fleur lembut, wanita itu menggoyangkan pelan tubuh Valmira.


" bangun Alora, Alora" ucap Fleur berulang. Sampai Valmira menggeliat karena terganggu tidurnya.


" em, aku sangat mengantuk Fleur" Valmira mencoba mengganti posisi.


" Ratu memanggilmu lagi, ayo cepat bersiap" bisik Fleur di dekat telinga Valmira.


" wanita itu benar-benar ya" Valmira dengan mata tertutup berganti menjadi duduk.


" aku siapkan pemandian" ucap Fleur meninggalkan kamar.


Beberapa saat menunggu Shana tampak mulai emosi.


" kenapa dia tidak datang juga?" tanya Shana kepada pelayan.


" mungkin sebentar lagi Ratu"ucapnya menenangkan.


" awas saja dia tidak datang" Shana capek sejak tadi menunggu kedatangan selir Alora.


" itu dia Ratu " ucap pelayan yang ikut lega tak kala melihat selir Agung berjalan menuju mereka.


" baguslah" gumam Shana sambil menyeringai jahat.


" hari ini aku ingin berjalan-jalan di sekitar taman, jadi ingin kamu yang menemani" jelas Ratu Shana.


" kondisi yang mulia masih belum pulih benar, bagaimana jika istirahat saja di kamar" tawar Valmira.


" aku bosan di kamar. Ayolah temani aku" balas Shana sambil menampilkan wajah berharap.


" baiklah yang mulia" ucap Valmira terpaksa.


" mari saya bantu" Valmira memapah tubuh Shana, di sebelah kanan ada pelayan lainnya.


Fleur mengikuti Valmira dengan jarak dekat kali ini, dia tidak mau terjadi sesuatu pada temannya.


" ditempat itu sepertinya kita bisa duduk disana" tunjuk Shana ke sebuah bangku tak jauh dari kolam ikan yang luas di taman kerajaan.


Valmira segera membantu wanita itu duduk dengan pelan.


" indah dan sejuk sekali disini" ucap Shana senang.


" iya yang mulia" Valmira ikut duduk dengan nafas yang sedikit terengah-engah. mengetahui hal ini Shana menjadi puas.


" kalian siapkan cemilan untuk kami" ucap Shana kepada para pelayan.

__ADS_1


" baik yang mulia" pelayan itu pergi kecuali Fleur, dia tidak mau meninggalkan Valmira sendirian.


" kenapa kau masih disini?" tanya Shana yang mengetahui hal ini.


" saya akan menemani disini, mungkin nanti memerlukan..."


" tidak usah cukup selir Alora saja yang menemani, kau pergilah bantu siapkan cemilan" usir Shana. Valmira dan Fleur saling pandang sejenak. Sampai akhirnya Valmira mengangguk pelan, menyuruh Fleur untuk pergi.


" baik yang mulia" ucap Fleur berat hati. Kini hanya tinggal mereka berdua. Valmira dan Shana duduk di tepi kolam.


" ku dengar kau dulu seorang budak, aku ingin tau bagaimana kehidupanmu sebagai budak?" tanya Shana tanpa perlu basa basi. Ucapannya sama sekali tidak di saring.


" yang mulia pasti tidak kuat mendengarnya. Dulu setiap hari hanya bisa bekerja untuk bisa makan" jelas Valmira secara singkat.


" apa kau juga melakukan pekerjaan kasar lainnya?" tanya nya lagi dengan nada merendakahan.


" tentu saja yang mulia. Sebagai budak kita tidak bisa memilih pekerjaan"


" apa kau bisa menangkap ikan?" tanya Shana penuh maksud tersembunyi.


" bisa sedikit"


" bisa kau ambilkan aku ikan di kolam itu. Sepertinya enak untuk di panggang" perintah Shana membuat Valmira benar-benar tidak bisa berkata-kata.


" di kolam sana yang mulia?" tanya Valmira tak percaya mendengar perintah itu.


" iya, ayo cepat ambilkan aku ikan disana " rengek Shana.


" tapi itu, sepertinya tak pantas.."


" tak apa, kan aku ratu disini" jawab Shana seenaknya.


Valmira menarik nafas panjang, lalu berdiri dan mendekati kolam. Meski dulu dia sangat pandai menangkap ikan di laut tapi disini rasanya jauh berbeda. sangat memalukan.


" ayo Selir Alora" teriak Shana kegirangan.


Valmira menengok sesaat lalu kembali melihat kolam. Dia menaikkan gaunnya dan melepaskan alas kakinya. Wanita itu sedikit demi sedikit masuk ke dalam kolam. Ternyata kolam ini tidak se dangkal kelihatannya. Semakin masuk setengah tubuhnya hampir tertutup air.


Valmira melihat kesana kemari menjadi ikan yang bisa di tangkap. Shana tertawa tanpa suara melihat Valmira yang bertingkah selayaknya kaum rendahan.


" itu disana Alora" teriaknya lagi memberikan arahan.


" iya yang mulia" ucap Valmira.


Wanita itu berjalan kesana kemari, tubuhnya semakin condong ke bawah agar mudah melihat pergerakan ikan. Valmira terus mencoba menangkap hingga kakinya terpeleset dan tubuhnya tenggelam di kolam.


byurr.. seluruh tubuhnya menghilang dari permukaan.


mendadak seperti sebuah mimpi kilasan masa lalu Valmira muncul secara tiba-tiba. membuat kepala wanita itu tidak fokus. Valmira tidak bisa mengerakkan tubuhnya yang semakin jatuh ke dasar kolam.


' Valmira, pergi!' suara wanita terus terngiang di kepalanya.

__ADS_1


' pergilah ke Garamantian, cari penyihir. jangan sampai ingatanmu menghilang. Val Valmira'


" bibi...! " teriak Valmira yang terbangun dan sudah berada di kamarnya.


__ADS_2