
semua tampak tegang, entah makhluk apa yang sedang mengejar mereka. sayangnya mereka kalah cepat. Kuda air itu berhenti saat di depannya juga ada sesuatu yang menghadang.
" bagaimana ini?" Deon sangat cemas, jika sampai mereka di serang, dia tidak bisa membantu sama sekali. Tenaga dalamnya masih sangat lemah tidak bisa membantu menyelamatkan diri.
" kau jaga di sana aku akan menjaga di sini" Kangta langsung membagi.
Sedangkan Valmira ada di tengah-tengah. Dia merasa jika mungkin ada monster laut yang mendekat.
brak.
perahu mereka seperti di tabrak dengan keras. semuanya berusaha menyeimbangkan diri.
brakk..
belum juga selesai, di susul dengan benturan lainnya. mereka masih bisa bertahan, Kangta menatap Valmira. Dia memegang tubuh wanita itu agar tidak terjatuh.
" jangan panik" lanjut Kangta.
brakkk.
sekali lagi, dan kali ini tabrakan itu lebih keras dari yang sebelumnya.
semuanya tercebur kedalam air. Kangta melindungi Valmira khususnya bagian perut. Wanita ini tidak boleh sampai terluka sedikit saja.
setelah masuk ke dalam air mereka bisa tau apa yang sedang mengejar mereka. Ternyata ikan predator besar dengan ada yang menungganginya. Berbentuk seperti manusia kadal.
Kangta segera menarik Valmira untuk menyingkir, sedangkan Deon sudah lebih dulu berenang menjauh. Dia sadar diri jika tidak bisa melakukan apapun.
ikan itu berenang menjauh, kuda yang sebelumnya menyeret perahu kini sudah lepas dan berenang mendekati Valmira. Kangta dengan cepat menyuruh Valmira pergi.
ikan predator kini berbelok arah lalu mengejar Valmira sedangkan manusia kadal menyerang Kangta. Mereka sama-sama berusaha mempertahankan diri. jadi berpencar untuk mengalahkan masing-masing.
kuda Hippo segera menjauh, berenang dengan laju kencang. Sesekali ikan itu mendekat dan mengeluarkan gigi taringnya.
Valmira membelokkan kuda menuju karang-karang serta batuan laut. dengan jalan yang sempit membuat ikan besar itu kesusahan. bahkan beberapa kali harus menubruk batu dan melukai kepalanya.
Valmira mengeluarkan energinya saat melihat ikan itu tersangkut pada sebuah lubang karang.
crusshh
dengan satu serangan ikan itu langsung pingsan. Valmira kini kembali ke posisi Kangta. Lelaki itu pasti kesusahan karena harus bisa menahan nafasnya.
Dan benar saja kini Deon dan Kangta menghadapi manusia kadal itu.
crusshh
Valmira melemparkan serangan mengenai punggung manusia kadal. seketika kini Valmira yang menjadi targetnya.
Valmira menyingkir, Kangta dan Deon segera naik ke permukaan. hampir saja mereka mati kehabisan nafas. Valmira di kejar, berbeda dari sebelumnya. manusia kadal ini sering melemparkan serangan menggunakan senjata miliknya. Valmira sesekali membalas serangan itu dengan energi miliknya. aksi kejar- kejaran terus terjadi sampai akhirnya manusia kadal itu terkena serangan Valmira dan menghilang sejenak.
Valmira kembali mencari Kangta dan Deon. Dan akhirnya menemukan jika mereka mengapung menggunakan kayu sisa perahu yang hancur.
__ADS_1
" kalian baik-baik saja?" tanya Valmira begitu naik ke permukaan.
" tuan mengalami beberapa luka" jawab Deon. Valmira melihat Kangta begitu lemah dengan wajah pucat pasi. Tak lupa dengan lengan dan kakinya yang mengeluarkan darah.
" Kangta" panggil Valmira mendekati Kangta.
Tak ada yang menyadari jika di dekat mereka manusia kadal sudah kembali dengan bersiap melemparkan senjata ledakan.
duaarr..
Valmira, Deon dan kangta langsung terpental terkena ledakan. kedua lelaki itu terkena ledakan cukup parah. Dan seketika tidak sadar, Valmira meski terluka dia bisa melihat ke dua lelaki itu mulai tenggelam. Kini dengan sisa kesadarannya, Valmira meraih tangan Kangta dan Deon.
" kerajaan Mystick" lirih Valmira dan penglihatannya gelap.
......................
Kerajaan Prysona mengalami krisis cukup parah. Setelah kekalahan telak yang mereka terima dari Garamantian. Kini kerajaan lain serta wilayah di luar Prysona mulai memutuskan hubungan bilateral. kebutuhan sandang, pangan mulai menipis. Belum lagi para janda dan anak yatim mulai memenuhi perkotaan. kata makmur mulai menjauh dari kerajaan Prysona.
Sedangkan Rajanya sangat tidak peduli, menggunakan kas kerajaan untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan perang. Keputusan Raja kali ini benar-benar tidak main-main. Ambisi untuk menang menjadi nomor satu atas permasalahan yang terjadi. Tidak ada bantahan.
Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kamar Ratu Prysona. Posisinya semakin terjepit, tidak ada yang mau mendengarkan saran darinya. Suami dan anaknya sama-sama memiliki ambisi untuk menghancurkan Garamantian mau bagaimanapun caranya.
" bagaimana keadaan Raja sekarang?" tanya Ratu pada pengawal pribadi Raja. Dia khusus memanggil lelaki ini karena ingin meminta sesuatu.
" yang mulia semakin sering berada di barack serta ahli besi. Tidur dan makan, yang mulia juga sangat jarang, Yang mulia selalu mengkhawatirkan jika sampai kalah lagi dengan Garamantian" jawab pengawal itu secara terang-terangan. Di kerajaan meski tidak ada yang membela Ratu tapi banyak pihak yang diam-diam setuju dengan pemikiran Ratu.
" kapan rencana perang akan di mulai?"
"tidak ada yang bisa menghalangi Raja"
" iya Ratu"
" aku memanggil mu kemari, karena ada sesuatu yang ingin aku perintahkan padamu"
" apa Ratu? saya akan melakukan dengan baik"
" aku ingin kau mempertemukan aku dengan ketua penyihir Prysona"
pengawal itu terdiam, menerka -nerka apa yang ingin Ratu lakukan dengan Para penyihir.
" apa kau bisa?"
" saya akan mencoba"
" rahasiakan hal ini dari Raja. aku tau jika para penyihir sudah menasehati Raja, alasan mereka tetap mengikuti kehendak Raja adalah karena keselamatan keluarga mereka. katakan pada mereka jika aku yang ingin bertemu" jelas Ratu dengan nada yakin.
" baik Ratu, saya akan berusaha yang terbaik" pengawal itu mengangguk yakin. Dia memiliki keyakinan jika Ratunya pasti akan melakukan berbagai cara agar perang tidak pecah.
Setelah bertemu dengan Ratu, pengawal itu menerima panggilan dari Raja.
" laporkan keadaan pasokan pangan dan perlengkapan tenda"
__ADS_1
" lapor yang mulia, pihak pertanian sudah mengirimkan semua hasil panen. Bahkan di pasar, bahan makanan terbilang sangat kurang. Yang mulia"
" berapa banyak jumlah yang mereka kirimkan?"
" kurang lebih sama dengan persediaan pasukan sebelumnya"
" tambah lagi dua kali lipat!"
" baik yang mulia"
" lalu bagaimana dengan penambahan prajurit?, apa sudah memenuhi jumlah yang aku minta?"
" be.belum yang mulia" jawab pengawal itu takut. pasalnya banyak dari rakyat yang menolak perang ini dan menyembunyikan anak laki-lakinya.
" kenapa belum? mereka harus mendapatkan pelatihan dalam 2 bulan ini!"
" sudah hampir semua kepala keluarga sudah di paksa untuk menjadi prajurit kerajaan, yang mulia"
" jika perlu suruh semua laki-laki yang mencapai umur 15 tahun wajib untuk ikut dan menjadi prajurit"
" tapi yang mulia, ini akan membuat..."
" berani membatahku?!"
" ampun yang mulia, saya akan melaksanakan perintah" pengawal itu membungkuk tajam.
" Pergi !" usir Raja.
Dengan cepat lelaki itu pergi, keluar dari aula kerajaan. Dia tidak mau mendapatkan masalah lagi.
Kini tujuannya adalah barack, tapi sebelum melaksanakan perintah Raja, pengawal itu lebih dulu mengirimkan undangan pertemuan antara Ratu dan Penyihir terlebih dahulu. Hampir semua penghuni kerajaan tau jika Ratu saat ini sedang di kurung dan di awasi Raja dengan ketat. Tidak bisa melakukan apapun selain di dalam kamarnya.
Tidak ada yang berani menolong, termasuk putri tunggalnya. Shana malah sangat acuh, tidak peduli apa yang terjadi pada ibundanya. Dia lebih senang dengan keputusan yang ayahnya ambil. Kedua orang itu sudah sepakat untuk menghancurkan Garamantian.
" Putri, Raja memanggil anda di aula kerajaan" ucap pelayan Shana. Semenjak kabar pecah perang antara kerajaannya dengan Garamantian, panggilan Shana berganti menjadi putri. Mereka tidak mengakui pernikahan sebelumnya. Bagi mereka Garamantian adalah musuh utama kerajaan.
" yang mulia" sanjung Shana saat sampai di depan singgasana ayahnya.
" Shana, mungkin kau sudah mengetahui jika Prysona memulai perang dengan Garamantian. Bagaimana penilaianmu? ibundamu sama sekali tidak setuju, tapi ayah tidak bisa membiarkan orang lain menghina dan memperlakukan kita dengan seenaknya"
" Shana sangat menyetujui hal itu, jika perlu Shana akan ikut ayah ke medan perang" jawab Shana mantap, dia sebenarnya hanya bersandiwara. Mana mungkin dia sudi pergi ke medan perang. Dia tidak mau mati begitu saja.
" kau memang putri ayah yang bisa di andalkan, ayah ingin kau mengawasi ibumu, jangan sampai dia melakukan hal-hal yang berdampak dengan kelangsungan perang"
" baik ayah, Shana akan mengawasi ibunda. Semuanya akan Shana laporkan kepada ayahanda"
" bagus, bagus"
" jika ayah membutuhkan bantuan, Shana siap melaksanakan"
" tidak perlu, ayah hanya ingin kau menjaga ibundamu"
__ADS_1
" baik Ayahanda"