Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Penasaran


__ADS_3

Gyan merasakannya, benda mungil dan lembut menerpa bibirnya. meski sang empunya terus mencoba melawan dan melepaskan diri. Namun Gyan tetap kekeh. ciuman ini merupakan hal terjauh yang pernah dia lakukan pada wanita. Gyan tidak akan melepaskannya dengan mudah.


Diluar istana rombongan putri Shana berjalan mendekat. Aden sudah bersiap menyambut namun bingung harus bagaimana menolak kedatangan putri Shana. Wanita di depannya ini sangat mudah marah.


" maaf putri, yang mulia tidak ingin di ganggu" ucap Aden lembut dan penuh sopan santun.


" kau siapa berhak melarangku" ucap Shana sombong. Dia yakin sekali jika Gyan sedang membutuhkan dirinya untuk menyalurkan efek ramuan darinya.


" maafkan saya putri, tapi ini sudah perintah dari yang mulia Raja" jawab Aden dengan sabar.


" yang mulia pasti membutuhkanku," balas Shana dan berjalan masuk.


" maafkan saya putri, tapi saat ini tidak ada yang boleh masuk ke dalam istana" Aden dan penjaga pintu segera menghalangi jalan.


" kalian berani melarangku!" Shana emosi. wanita itu menatap semuanya dengan tatapan tajam.


" maafkan kami putri, bukan maksud kami melarang. Tapi yang mulia, sudah memberikan perintah" jelas Aden mencoba memberikan pengertian agar putri Shana tidak memaksakan kehendaknya.


" yang mulia sedang membutuhkan ku, mengerti!" Shana tetap tidak mau tau, dia harus masuk ke istana Raja dan menemani lelaki itu.


" ampun putri, yang mulia tidak..."


" minggir.." putri Shana langsung menerobos. Para penjaga tidak berani berlaku keras, begitupun dengan Aden. Lelaki itu akhirnya ikut masuk mengikuti putri Shana dari belakang, sedangkan rombongan putri tetap tidak bisa masuk. mereka berdiam di depan istana.


tap tap tap


Shana melangkah dengan cepat menuju tangga.


" putri, saat ini yang mulia sedang ada tamu" ucap Aden menutupi siapa tamunya, agar putri Shana bersedia mengurungkan niatnya untuk masuk.


" tamu siapa?" Putri Shana berhenti dan membalikkan tubuhnya ke arah Aden.


" ada tamu penting" jawab Aden yang tak mungkin mengatakan kebenarannya.


" kau berbohong" ucap Shana lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga.


Wanita itu sedikit curiga tak kala melihat ruangan istana yang gelap. Dia menoleh ke arah Aden, seakan mengatakan jika tidak mungkin ada tamu dalam keadaan gelap seperti ini.

__ADS_1


Mereka sudah sampai di depan ruangan depan.


" putri, jangan masuk. anda pasti menyesal nanti" ucap Aden memberikan peringatan terakhir.


Sedangkan putri Shana malah menjadi penasaran, wanita itu tidak menggubris peringatan Aden. Dia tetap masuk ke ruangan yang memiliki cahaya meskipun sangat redup. Aden memilih menunggu dia depan. Dia tidak mau mendapat amukan Raja Gyan jika ketahuan.


Putri Shana masuk dengan langkah pelan menuju kamar yang pintunya terbuka sedikit.


" yang mulia,, " suara lirih seorang wanita membuat langkah Shana berhenti diikuti dengan jantungnya yang berdegup kencang. Jadi Gyan bersama dengan seorang wanita, tapi itu tidak mungkin. pikir Shana.


Wanita itu semakin penasaran dan melangkah kembali dengan lebih cepat, dan kini sudah berada di ambang pintu.


Melihat ke dalam kamar, dan betapa terkejut nya, Saat dia dengan jelas melihat Raja Gyan berciuman dengan Wanita yang entah siapa. Bahkan Shana melihat jelas, bagaimana tangan Gyan menahan penolakan wanita itu. Ciuman itu berlangsung lama, dan Shana tidak sanggup melihatnya.


Dengan berurai air mata, wanita itu menutup mulutnya dan berjalan mundur. Baru saat sudah jauh dari kamar, dia berlari keluar.


Aden sudah memperingatkan tadi, lelaki itu dengan pandangan datar melihat putri Shana keluar dengan tangis air mata. Lelaki itu hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Setelah ini pasti akan ada masalah baru.


" putri apa yang terjadi?" tanya pelayan pribadinya yang heran dengan keadaan putri Shana saat keluar. putri Shana terdiam sejenak melihat para pelayannya, lalu kembali berlari menuju kamar nya.


Sedangkan di dalam sana tanpa merasa terganggu sedikitpun, Gyan terus melancarkan aksinya. Raja Gyan membuat tubuh Valmira merapat di tiang ranjang karena takut.


" yang mulia, lepaskan saya.." Valmira terus memohon.


" banyak wanita yang menginginkan hal ini Alora" Gyan baru selesai mengambilkan Valmira air.


" minumlah" ucap Gyan sambil memberikan gelas. Valmira masih ragu, Gyan memaksanya dengan langsung membawanya ke mulut Valmira. mau tak mau Valmira menelan air itu.


" kau pernah melakukan hal ini sebelumnya?" tanya Gyan meletakkan gelas di nakas. Valmira diam saja dia tidak faham maksud dari melakukan hal ini.


" pernah tidur bersama lelaki?" tanya Gyan yang kembali mendekati Valmira. wanita itu menggeleng pelan dengan mata yang terus mengawasi pergerakan Gyan.


melihat jawaban Valmira, hati Gyan semakin bersemangat. Dia dan wanita itu sama sama tidak memiliki pengalaman.


" turunkan bajumu" ucap Gyan, lelaki itu mulai kembali. Dia akan mencari tahu sampai batas mana dia sanggup berdekatan dengan Valmira.


" yang mulia.. ini.. tidak.. pantas" cicit Valmira takut.

__ADS_1


" aku atau kamu yang turunkan" balas Gyan tak bisa memperdulikan ucapan Valmira.


Valmira memilih, dia perlahan membuka tali jubah satin. di baliknya sudah tak ada apapun lagi.


Gyan melihat bagaimana takutnya Valmira saat menarik tali itu. dalam benak Gyan, tubuh dan respon Valmira begitu berbeda dengan kenangan buruknya. lelaki itu seakan menjadi lelaki normal bila berdekatan dengan Valmira.


Tak sanggup diam saja, Gyan mendekati Valmira dan menyentuh leher Valmira. membuat wanita itu berhenti dan mendongak, menatap wajah Gyan.


Di tempat lain, Fleur yang sudah sejak tadi sampai di kamar, dia tidak menemukan Valmira di sana. Padahal tadi seseorang mengatakan jika Valmira sudah pulang lebih dulu. perasaan Fleur semakin khawatir saat tau jika malam semakin larut. Tidak biasanya Valmira seperti ini, apa telah terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.


Fleur akhirnya memutuskan untuk menunggu di luar bangunan, duduk di teras tempat tinggal pelayan. Wanita itu ingin sekali pergi dan mencari Valmira sendirian. Tapi istana ini sangatlah luas, dia tidak mungkin bisa menemukan Valmira.


Beberapa lama dia melihat ada 2 orang pelayan yang baru kembali.


" apa kalian melihat alora sebelum kembali ?" tanya Fleur cemas.


" Alora? kami tidak mengenalnya" jawab kedua pelayan itu.


" kalian ini baru dari mana?" tanya Fleur yang ingin memastikan.


" kami baru selesai dari istana raja," jawab salah satu pelayan. Fleur putus harapan, Valmira tidak mungkin berada di sana.


ke dua pelayan itu pergi berlalu meninggalkan Fleur yang terlihat kebingungan.


" wanita itu sangat putih dan cantik, apa kau tidak lihat bagaimana raja..."


sayup-sayup Fleur mendengar obrolan pelayan itu.


" tunggu" Fleur berlari mendekat lagi.


" apa maksud kalian dengan Wanita di istana raja?" tanya Fleur yang memiliki firasat buruk.


" kau tau, di istana raja ada seorang wanita cantik sekali. Dia sangat putih dan anggun. aku sangat iri dengannya" bisik salah satu pelayan.


" iya, kami di suruh untuk mendandaninya. Aku yakin malam ini raja dan wanita itu pasti..." pelayan itu tertawa manja, tidak meneruskan kalimatnya.


berbeda dengan Fleur yang wajahnya berubah sendu. wanita itu kemungkinan Valmira, bagaimana bisa sahabatnya sampai di istana raja. Fleur menatap kosong ke arah istana, dia tidak mungkin menyusul Valmira kesana.

__ADS_1


__ADS_2