
Malam ini suasana istana Harem terbilang cukup sibuk, besok pagi adalah hari penobatan Putri Shana menjadi Ratu kerajaan Garamantian. Putri Shana sedang sibuk memeriksa gaun untuk dia pergunakan dalam acara penobatannya.
" bagaimana? apa ini terlalu sederhana?" tanya Shana pada putri Farfalla yang kebetulan sedang berkunjung.
" em, sudah cocok, tinggal dilengkapi dengan perhiasan pasti sangat bagus" jawab Farfalla menetap penampilan Shana dari atas sampai bawah.
" begitu? tapi menurutku ini masih kurang," pikir Shana sambil membolak balikan tubuhnya. wanita itu ingin tampil menjadi sorotan semua yang hadir besok.
" putri bisa mencoba lainnya" jawab Farfalla setengah malas. Ini sudah gaun ke 3 yang Shana coba. Wanita meminta pendapatnya tapi tidak satupun ucapannya yang di dengarkan. Malas sekali.
" ya, ide bagus" jawab Shana riang. Dia tidak ada capeknya bolak balik mengganti pakaian. Padahal niat Farfalla kemari adalah ingin mendiskusikan mengenai sikap kakaknya yang bersedia mengangkatnya menjadi Ratu. Kini minat Farfalla sudah hilang, wanita itu menjadi bosan.
" Putri, aku masih ada tugas pelajaran, jadi aku akan kembali ke kamar" ucap Farfalla pamit pergi.
" ya, baiklah." teriak Shana dari ruang ganti.
Putri Farfalla berjalan menjauhi kamar Shana, wanita itu dengan Fio berjalan melewati lorong.
" putri bukankah itu pelayan istana Raja?" tanya Fio saat melihat segerombolan pelayan yang keluar dari lorong Harem.
" sepertinya iya, darimana mereka?" gumam Farfalla sambil berjalan mendekati kumpulan pelayan itu.
" kalian dari mana?" tanya Farfalla menghadang jalan mereka.
" kami dari kamar selir Agung" jawab pelayan yang paling depan.
" ada perihal apa kesana?" tanya Farfalla lagi.
" kami mengantar gaun dan beberapa perhiasan dari yang mulia untuk selir Agung Alora"
" kaka mengirim gaun? untuk acara besok?"
" iya putri, kami hanya melaksanakan perintah yang mulia saja"
__ADS_1
" baiklah kalian bisa pergi" putri Farfalla memberikan jalan. para pelayan itupun pergi dan kembali ke istana Raja.
" ini sangat tidak biasa, kenapa kaka begitu perhatian pada Alora? tapi juga mengangkat putri Shana sebagai Ratu?, pasti ada yang kaka sembunyikan" gumam Farfalla curiga. Kakanya tidak biasa perhatian seperti ini, bahkan kepadanya saja Raja Gyan tidak pernah memberikan perhiasan. ini sangat aneh.
" apa putri?" tanya Fio yang tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Farfalla katakan.
" ah tidak, ayo kita kembali" ucap Farfalla meneruskan langkahnya.
Sedangkan di kamar Selir Agung, Valmira masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Baru saja pelayan Raja membawakannya beberapa barang berharga termasuk gaun yang sangat indah.
" yang mulia begitu perhatian padamu, Alora. Apa kau masih ingin pergi dari sini?" sindir Fleur sambil menyentakkan bahunya pada tubuh Valmira.
" kurasa lelaki itu sedang tidak berfikir normal. Raja Gyan bukanlah lelaki romantis menurutku" balas Valmira yang belum bisa mengalihkan pandangannya dari untaian berlian serta mutiara di atas meja itu.
" kau harus berterimakasih kepada yang mulia" ucap Fleur mengingatkan. Jangan sampai Valmira membuat Raja kecewa dan berakhir dengan berpaling pada Ratu barunya.
" aku akan melakukannya nanti" jawab Valmira yang sudah mendekati perhiasan dan mengambil beberapa.
" apa kau tak ingin mencobanya?" tanya Fleur dengan wajah sumringah. Sedangkan Valmira tak perlu menjawab, wanita itu tersenyum lebar sambil mengangguk berkali-kali.
" bagaimana?" tanya Valmira yang sudah memakai gaun berwarna biru gelap.
" kau sangat cantik, Alora. tunggu" Fleur mengambil sebuah mahkota kecil beserta kalung.
" aku akan membantumu memakai nya" Fleur mendadani Valmira dengan penuh ke hati-hatian.
setelah semua selesai, Fleur mundur sambil menatap Valmira. Wanita itu tampil dengan sangat cantik, kulit putihnya begitu bersinar akibat gaun birunya. Valmira tampak seperti dewi kecantikan yang selama ini hanya sebagai mitos.
" Fleur, kau kenapa?" tanya Valmira yang bingung dengan kebisuan Fleur.
" kau sangat cantik, aku yakin besok semua orang pasti terpana saat melihatmu" jawab Fleur yakin.
" kau bisa saja" jawab Valmira yang tidak menyadari kecantikannya.
__ADS_1
" bantu aku melepaskan semua ini" lanjutnya. Fleur membantu dengan wajah puas, dia berniat akan membuat temannya ini menjadi pusat perhatian dalam acara besok.
Pagi datang, situasi aula istana Harem terlihat mulai penuh. Acara penobatan akan segera di mulai, para selir Raja sudah memenuhi ruangan. Tinggal para pemuka saja.
" Ibu suri memasuki ruangan" teriak penjaga.
Raveena dengan di temani putri Farfalla berjalan masuk ke aula istana Harem. kedua wanita itu langsung menempati tempat duduk di barisan depan. Putri Farfalla sengaja datang bersama ibunya, dia ingin melihat penampilan Selir Alora beserta barang-barang pemberian kakaknya.
" putri Shana memasuki ruangan" lapor penjaga kemudian.
Semua mulut menutup, perbincangan berhenti dan ruangan mendadak sepi. Semua mata menatap kedatangan wanita yang menjadi alasan acara ini dilaksanakan. Semua menatap takjub pada gaun dan perhiasan Putri Shana yang mewah. Gaun hitam dengan pernik mutiara di beberapa tempat serta perhiasan lengkap dari atas ke bawah semakin membuat penampilan wanita itu menjadi bersinar.
Putri Shana menatap semua tamu dengan wajah angkuh. Dia akan menjadi wanita dengan status paling tinggi setelah ini.
" ibu suri" ucap Shana memberikan salam dengan wajah yang sombong. Raveena tersenyum ramah, padahal hatinya sama sekali tidak suka dengan sikap Shana yang mulai angkuh.
" bagaimana jika acaranya kita mulai saja?" tanya Shana.
" kita tunggu tamu undangan khusus dulu" jawab Raveena lembut, sedang Shana yang mendengarnya langsung mengerutkan kening. Dia lalu tersenyum senang, dalam fikiran nya tamu itu adalah yang mulia Raja.
" baik, ibu suri" jawab Shana bersemangat. Dia merapikan penampilannya, jangan sampai Raja Gyan melihat ada yang kurang dari dirinya.
Waktu berselang beberapa saat, sampai pengumuman Selir Agung memasuki ruangan. Awalnya tidak semua orang peduli dengan kedatangan Valmira, sampai dengan cepat penampilan Valmira menyihir semua tamu yang ada.
Valmira berjalan dengan pelan dan anggun menuju tempat duduknya. Meski ingatannya hilang tapi tubuhnya dengan reflek menampilkan sikap seorang anggota kerajaan yang menawan dan lemah lembut.
" astaga, cantik sekali" gumam putri Farfalla dengan mata tak berkedip. Dan situasi itu hampir dirasakan oleh sebagian tamu di aula.
Para selir dengan pelan memuji keindahan yang saat ini mereka nikmati. Bahkan Raveena juga ikut terkesima. Belum pernah dalam hidupnya melihat wanita se cantik ini. Dia semakin ingin mendekati Valmira, dia yakin wanita ini pasti akan memiliki nasib baik di samping Gyan.
Sedangkan Shana, dia sempat terpana sesaat. tapi dengan cepat rasa benci dan iri langsung menyadarkannya. Tunggu sampai dia menjadi Ratu, sasaran utamanya adalah Selir Agung Alora.
" baiklah kita bisa mulai acaranya" ucap pelayan Raveena membuat lamunan semua orang terhenti. Mereka kembali fokus dari khayalan sesaat.
__ADS_1
" tunggu, apa kita tidak menunggu yang mulia Raja?" tanya Shana panik.
" Raja tidak bisa datang putri, tamu undangan khusus adalah Selir Agung Alora, semua ini adalah perintah langsung dari Raja" jelas Ibu Suri dengan hati puas. Menatap wajah Shana yang kecewa merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Raveena.