
Hari sudah mulai beranjak siang, Falla masih tenang terbaring di ranjang. Semalam dia menunggu Emrick dan kakaknya kembali Sampai melewati tengah malam dan ketiduran di sofa. Dia benar - benar masih mengantuk.
" eggh" Falla menggeliat mencari posisi yang nyaman.
" em.. sudah siang?" sadar Falla saat melihat sinar terang dari lubang angin di kamarnya.
Falla beranjak duduk, dan baru menyadari semalam dia tertidur di sofa. Kenapa bangunnya di ranjang?.
" apa Emrick yang memindahkan ku" gumam nya. Mendadak hatinya berbunga-bunga. Suaminya ternyata masih perhatian dengannya.
kltak.
sesuatu jatuh dari ranjang. Sebuah kayu namun bercampur dengan emas.
" apa ini? ...."
kayu ini berbentuk oval dan ada huruf TH besar di sana.
" apa Emrick sengaja memberikannya padaku atau benda ini terjatuh. jika iya aku harus mengembalikannya"
Falla bergegas membersihkan diri , dia tidak mungkin menemui Adipati dalam keadaan seperti ini.
" putri, akhirnya anda bangun"
" Astaga kau mengagetkan ku saja" Falla baru membuka pintu kamar dan sudah menemukan pelayannya berdiri sangat dekat dengannya.
" putri mau kemana? " Falla berlalu menuju pintu.
" aku akan menemui Adipati sebentar" jawabnya.
" tapi anda belum sarapan"
" nanti saja"
Akhirnya Falla keluar bersama pelayan yang mengekor di belakang. Entah langkahnya yang pendek atau putri Falla yang terburu-buru.
" apa Adipati ada?" tanya Falla pada pengawal pribadi Emrick.
" iya,.masuklah" jawabnya acuh.
Falla mengetuk pintu sebelum masuk, karena pintu sudah setengah terbuka.
" Adipati, maaf menganggu"
" Falla, duduklah ada apa kemari?"
" saya hanya ingin mengembalikan benda ini, apa ini milik Adipati?" Falla mengeluarkan benda yang dia temukan tadi.
" ini sebenarnya untuk mu, benda ini adalah token keluarga kerajaan milikku. Karena kau adalah nyonya di kediaman ini dan tidak banyak orang yang mengenalmu, maka token ini aku berikan padamu. Sebagai identitas bahwa kau adalah istriku" jelas Emrick perlahan agar Falla mengerti.
" ah ini seperti tanda pengenal kerajaan, benda ini begitu berharga bukan. apa lebih baik jika.."
" aku memberikan tulus padamu. terimalah, dan gunakan benda itu dengan baik"
" kalau begitu terimakasih Adipati"
tok tok tok
suara pintu terketuk,.keduanya mengalihkan pandangan ke arah pintu.
" yang mulia, makan siang anda" selir Thalasa masuk dengan membawa berbagai macam makanan. Falla merasa tidak enak, semalam dia sudah mengajak Emrick saat Thalasa bersama.
" Adipati, saya mohon pamit untuk kembali" ucap Falla.
__ADS_1
" jangan terburu-buru. makanlah bersama kami" ucap Emrick.
" iya Putri, bergabunglah di sini. biasanya kami hanya berdua saja" timpal Thalasa yang berniat pamer. Dia ingin membuat Falla tau dia dan Emrick selalu makan siang bersama.
" emm.saya..."
" mari putri,.lagi pula porsi makanannya cukup banyak" Thalasa menyentuh lengan Falla dan membawanya duduk bersama di meja makan yang berada tak jauh dari sana.
" baiklah, tapi mungkin cuma sebentar saja" balas Falla tak ingin menganggu, dia tau diri dan mengerti jika Emrick bukan saja milik dirinya seorang.
" iya,. putri" wajah Thalasa dengan suara lembut, menutupi rasa bencinya pada putri kerajaan ini.
Mereka bertiga makan dengan pelan. Rasa masakan ini sedikit berbeda dari makanan yang dia makan.
" cobalah ini makanan kesukaan yang mulia" Thalasa membawa sebuah menu makanan dari daging.
Falla mengangguk dan mengambil satu. Wanita itu langsung melahapnya. awalnya terasa sedikit asin namun lama kelamaan muncul sensi pedas. Falla tidak biasa makan seperti ini. Wajahnya langsung merah menahan rasa pedas di mulutnya.
" bagaimana" tanya selir Thalasa.
" enak, ini.. uhuk uhuk.." Falla terbatuk tidak bisa menyembunyikan rasa pedas.
" minumlah, kau pasti tidak terbiasa makan dengan rasa pedas" Emrick memberikan air.
Thalasa yang melihatnya awalnya merasa puas membuat Falla kepedasan tapi kenapa malah dia cemburu saat Emrick memberikan perhatiannya.
" terimakasih, mungkin jika sudah terbiasa tidak akan seperti ini" Falla semakin merasa tidak enak.
" ini makanlah, sayur dan ayam ini lebih hambar dan hampir mirip dengan masalah di kerajaan mu" Emrick membawakan 2 piring menu. Falla mencoba keduanya.
" iya, ini terasa lebih baik"
" selir lain kali jika mengajak makan putri Falla hindari makanan dengan rasa pedas, mengerti"
" tidak masalah, jika Selir sering membawakan makanan dengan rasa pedas mungkin saya bisa cepat terbiasa" Falla berniat membela Thalasa. Dia tidak enak hati karena dirinya Thalasa malah di salahkan.
" terimakasih Putri" balas Thalasa.
Tak lama makan siang pun akhirnya selesai, Falla kini berada di kamarnya.
" emm perutku .." lirih Falla. Dia tidak tau efek dari makan pedas saat perut masih kosong. Wanita itu bergelung di atas ranjang dengan merintih.
" putri anda kenapa? apa perlu saya panggilkan tabib?"
" tidak jangan. Jangan sampai orang lain tau. Aku hanya tidak terbiasa makan pedas. Jadi perutku agak sakit"
" kasihan sekali anda putri. kalau begitu saya ambilkan minuman jangan agar lebih baik".
" tidak usah, aku yakin sebentar lagi juga akan baik-baik saja" cegah Falla. Dia takut dia hal ini malah akan menimbulkan masalah. lebih baik dia tutupi dan semuanya akan baik-baik saja.
" putri yakin?"
" iya,.sudah" pelayan itu meninggalkan Falla di kamar. Dia merasa tidak tega, namun putri bersikeras agar masalah ini jangan sampai di ketahui siapapun.
......................
Siang ini Valmira kembali menemui Kangta. Dia sudah berfikir dengan matang. Mau bagaimanapun dia akan membuka portal hari ini juga.
" bagaimana, kamu sudah memilih?" tanya Kangta. mereka berdua berada di tebing sebelah istana. Dengan angin laut yang menerpa pelan tubuh mereka.
" iya, kita coba menggunakan gelang itu"
" kau yakin? jika dampaknya terlalu besar, aku tidak berani menanggung resikonya"
__ADS_1
" tenang saja, aku yakin hal ini pasti berhasil"
" baiklah kalau begitu kita pergi sekarang"
Mereka akan berpindah ke area pulau khusus untuk para pendatang. Agar mereka tidak perlu mengatur perpindahan mereka lagi.
cruuusshh
Valmira dan Kangta sudah sampai. Mereka berada di daratan tinggi. Semacam bukit di tengah hutan.
" kau siap?" tanya Kangta. Valmira mengangguk, dia mulai dengan mengeluarkan energi tabir yang dulu dia serap . Dia akan menggunakan hal ini untuk menggabungkan tabir dengan inti jiwanya.
cruussshhh
energinya menyentuh tabir. Valmira berkonsentrasi, mengenali tabir milik sang ibu.
Di sisi lain Kangta mengeluarkan gelang giok putih. Setelah Valmira memberikan tanda jika penyatuan telah berhasil.
" aku akan membuatnya menyentuh tabir" ucap Kangta. Valmira mengangguk pelan.
ccrruuasssh
Kangta mengeluarkan energinya dan menyatukannya dengan gelang tersebut. perlahan gelang itu melayang dan semakin ke atas. Kangta berharap jangan sampai kekhawatiran terjadi. Akan sangat berbahaya dan menanggung resiko yang berat.
ccrruussshh
keduanya menambahkan energi saat penyatuan antara gelang dan tabir sedikit lagi di mulai.
wwiinnggg
suara berdenging kencang sekali. Seakan terjadi penolakan antara tabir dan gelang tersebut.
" apa ini?"
" mereka bertubrukan, jika sampai keduanya tidak bisa saling menyatu maka inilah efek yang aku takutkan terjadi" Kangta berusaha membuat kekuatannya selembut mungkin. Dia mencoba dengan menguraikan inti jiwa yang ada di gelang agar efek penolakan tidak terlalu besar.
ccttarrrr
sebuah petir terlihat, Valmira sampai tidak bisa berkedip. ini pertama kalinya terjadi hal seperti ini. Penolakan gelang dan tabir ternyata begitu besar. Ada apa sebenarnya ini.
" Kangta apa ini akan berlangsung lama? tabir benar- benar memberikan penolakan. Aku tak bisa menenangkannya lagi"
" entahlah, kita harus terus mencoba. Mungkin dengan menggabungkan kekuatan kita sebagai tanda jika tidak ada yang mencoba merusak tabir"
" baiklah kita coba"
Kangta dan Valmira masing-masing sebelah tangannya saling berhadapan. Mereka membuat sebuah penyatuan energi untuk di bawa masuk di dalam gelang. Mereka berharap jika hal ini bisa membuat tabir tenang dan menunjukkan celah yang mereka cari.
Dan benar saja, kini Valmira mulai bisa merasakan jika tabir perlahan mulai tenang dan menerima gelang tersebut.
Kangta dan Valmira saling menatap dan tersenyum senang. Mereka bisa membuka portal setelah ini.
gelang tersebut melayang berganti posisi. menunjukkan celah yang bisa di gunakan untuk membuka portal.
" bagaimana?" tanya Kangta. Dia tidak mengetahui apa yang dirasakan Valmira.
" sudah ketemu. Aku bisa menemukan celahnya"
" baiklah, aku akan membuka portal nya kalau begitu" tawar Kangta. Di lihat situasi memang mengharuskan Valmira untuk tetap mengendalikan tabir.
" ide bagus, saat hitungan tiga buka portal tepat di bawah lereng gunung"
" baiklah"
__ADS_1
crussshhh