Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Pagi yang indah


__ADS_3

celah kelambu kamar tersingkap, dan dengan mudah di tembus oleh cahaya keemasan. Sayangnya hal itu tidak membuat sang pemilik terganggu. Valmira masih tertidur bersama dengan Gyan Sang Raja.


Di luar istananya, rombongan semalam sudah sampai tadi pagi menjelang fajar dan kini sedang mempersiapkan diri untuk melayani tuannya.


Aden bahkan selepas membersihkan diri dari perjalanan, kini berada di ruang depan. Dia tampak duduk berjaga nyatanya matanya menutup dia tertidur dalam bertugas.


Selain itu juga Fleur sedang berada di kamar selir. Wanita itu sedang membersihkan beberapa ruangan yang sudah beberapa hari tidak di tempati itu. meski tubuhnya begitu lelah tapi Fleur senang, akhirnya dia bisa kembali lagi ke rutinitas yang dia sukai. Salah satu pelayan kamar ikut membantu Fleur, yang mana pelayan itu adalah kaki tangan dari sang Ratu. dia memiliki tugas untuk melaporkan segala hal yang terjadi di kamar selir Agung.


" anda baru saja kembali nyonya? saya dengar selir Agung sempat kabur, apa itu benar?" tanya pelayan itu.


" memangnya ada rumor apa saja saat kami tidak ada?" tanya Fleur balik.


" pelayan mengatakan jika selir di usir, ada juga yang mengatakan jika selir melarikan diri karena takut tersaingi dengan ratu" jawab pelayan itu sesuai dengan apa yang dia dengar. dalam hati Fleur tertawa mengejek. bagaimana bisa ada rumor yang begitu menggelikan itu.


" kami hanya melakukan kunjungan diam-diam" jawab Fleur tidak mau menambah rumor baru. Fleur sengaja mengatakan hal itu seperti Raja Gyan katakan semalam.


" kunjungan?"


" iya, Raja yang menyuruh kami. Sudahlah itu tidak penting. Lebih baik kau siapkan saja semua keperluan selir sebaik mungkin. aku akan pergi ke kamar tidur untuk mengecek kembali" jelas Fleur tidak mudah terpancing. Meski dia ingin sekali menolak semua rumor itu, tapi saat ini sepertinya tidak di perlukan. Bagaimana pandangan penghuni kerajaan jika tau jika selir Agung kabur dan kini berada di istana Raja. pasti mereka menuntut agar selir di beri hukuman.


" baik nyonya" jawab pelayan itu tanpa menunjukkan rasa kesalnya.


Fleur pergi begitu saja, karena sebenarnya dia hanya beralasan. Wanita itu ingin tidur sejenak di kamar tidur selir. mungkin 15 atau 30 menit dirasa cukup untuk mengusir rasa ngantuknya.


Di istana Raja, Valmira menggeliat tubuhnya terasa begitu bugar dan bersemangat. Gelang milik ibunya ternyata memiliki efek yang luar biasa pada tubuhnya, sayangnya hal ini tidak di ketahui olehnya.


" yang mulia" panggil Valmira sambil menggoyang pelan tubuh Gyan. Karena tidak ada sautan akhirnya wanita itu turun dari ranjang, dan keluar kamar.

__ADS_1


" pelayan" panggil Valmira dengan wajah masih mengantuk.


" iya selir Agung" jawab pelayan dengan sigap.


" kalian siapkan makanan segera" ucap Valmira. Wanita itu merasa jika perutnya sudah meminta diisi. Dia terbangun juga karena perutnya yang tiada henti bersuara.


" baik selir" jawab pelayan itu sopan.


Valmira lalu pergi ke pemandian. Semua sudah siap, bahkan baju untuknya juga sudah tersedia disana. Valmira berendam dan membuat tubuhnya sebersih mungkin. Rasanya sudah lama sekali dia tidak mandi seperti ini. tidak bisa di pungkiri jika kemewahan yang istana berikan sulit sekali tergantikan. Membuatnya tergoda untuk tidak pergi dari kerajaan.


Beberapa saat, Valmira sudah terlihat siap dan berjalan menuju ruang makan. Sesuai dengan harapannya. Makanan terhidang dengan baik dan terlihat sangat lezat.


tanpa menunggu lama Valmira segera duduk dan memulai aksi makannya.


" kau tidak menungguku?" Gyan sudah berdiri di belakang kursinya. Valmira tersentak sesaat.


" emm, " Gyan berdehem dan duduk di sebelah Valmira.


Dengan sigap Valmira menyiapkan sarapan Gyan, setidaknya sebagai bentuk permintaan maaf karena sudah lebih dulu meminta makanan di istana Raja.


" yang mulia ingin makan apa?" tanya Valmira menatap Gyan.


" aku..." ucapan Gyan terhenti, lelaki itu menatap rambut Valmira dengan tatapan aneh. Ada sesuatu yang membuat lelaki itu terdiam lama.


" sebentar" lanjut Gyan sambil menyentuh rambut bagian depan.


" ada apa?" tanya Valmira penasaran. apakah ada yang salah dengan penampilannya.

__ADS_1


Gyan menatap dengan serius. Dia tidak salah lihat, beberapa rambut Valmira memiliki pangkal berwarna putih. meski sangat tipis bahkan jika dilihat sekilaspun tidak akan ketara. Tapi bagi Gyan hal ini sangat aneh dan tidak masuk akal.


" tak apa " jawab Gyan datar. Dia tidak perlu mengatakan hal ini pada selirnya. Biarkan Valmira tidak tau, dengan begitu selirnya tidak akan merasa takut ataupun khawatir.


" ayo kita lanjutkan makannya" Gyan mengambil sesendok makanan dan menyuapi Valmira agar wanita itu tidak curiga. Valmira tersenyum singkat dan membuka mulutnya. Dia melupakan kejadian saat Gyan melihat aneh rambutnya.


Hari semakin siang, Valmira sudah berpindah ke kamar selir Agung. Di ruang kerjanya Gyan masih memikirkan penemuan mengenai rambut Valmira yang memutih. Lelaki itu tidak tau jika aslinya rambut Valmira memang berwarna putih. Dan saat ini menghitam adalah karena inti jiwanya yang keluar dari tubuh, bersamaan dengan kemampuan sihirnya.


" yang mulia, Deon memberikan kabar jika dia dan tuan Kangta sudah memulai perjalanan dengan nona Rachi" Aden melaporkan berita.


" iya," jawab Gyan singkat dan padat. Aden merasa aneh, lelaki itu menatap wajah sang Raja sejenak. Ternyata Gyan sedang melamun. pantas saja tidak banyak menanggapi.


" saya pergi" Aden memberikan tanda jika saja yang mulia memiliki pertanyaan atau perintah lain. Sayangnya tidak, Gyan masih terdiam seakan tidak merasakan kehadiran Aden.


Di kamar selir saat ini Valmira duduk di ruang baca sambil menatap gelang yang ada di tangannya. Kata Gyan ini adalah hadiah darinya karena sudah mau kembali ke istana. Valmira menatap sambil terus mengusap gelang tersebut. Dia merasa tidak asing dengan penampakan gelang ini. Dan satu lagi yang membuatnya aneh adalah gelang ini terus saja terasa dingin seperti air jika Valmira terus mengusapnya.


" selir cemilan" ucap pelayan kamar.


Valmira tidak menyahut sampai pelayan itu pergi.


" kenapa kau terus memandangi gelang itu?" tanya Fleur yang masuk membawa nampan berisi minuman.


" gelang ini begitu bagus" jawab Valmira singkat. Fleur tidak akan percaya jika dia mengatakan jika gelang ini mengingatkannya dengan lautan. Air yang dingin dengan suara angin yang menerpa tubuh. Bahkan sesekali Valmira bisa mendengar suara ombak saat menyentuh gelang ini.


" tentu saja, pasti itu dari yang mulia" balas Fleur berniat menggoda.


" memang. yang mulia begitu baik padaku" ucap Valmira tanpa sadar. Dia juga merasa jika Gyan memang tulus padanya.

__ADS_1


__ADS_2