Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Malam Pertama


__ADS_3

Angin berhembus cukup kuat malam ini, membuat kapal oleng kesana kemari. sepertinya tanda badai datang mulai terasa apalagi langit tampak menurunkan tetesan air hujan.


Meskipun dari luar kapal tampak terhempas hebat, di dalam kapal malah tenang tak berasa goncangan ombak. Semuanya tentu karena sihir Kangta, sebesar apapun ombak yang menerjang, penumpang kapal tidak akan merasakan goncangannya, pantas saja Kangta berani membawa Valmira dalam perjalanan ini.


" makanan sudah siap" ucap Aislinn membuka pintu kamar Valmira.


" aku akan segera kesana" jawab Valmira dengan anggukan dan senyum tipis.


" bagaimana sejauh ini? apa kalian tidak merasakan apapun?" tanya Kangta pada Aislinn dan Zephyr.


" tidak, tapi kami yakin jika kita memang berlayar pada arah yang benar" jawab Aislinn.


" aku juga merasa kita sudah benar memilih arah," balas Kangta.


" ah ya kalian lihat gelang ini? ini adalah gelang milik Marilla, dulu gelang ini bisa membawaku menuju kerajaan Mystick. tapi beberapa tahun berlalu tampaknya sudah tidak bisa lagi setelah kabar kematiannya aku dengar" Kangta memberikan gelang giok putih. Valmira memberikan gelang itu karena ingin melupakan Gyan, dia tidak tau saja fungsi sebenarnya dari gelang tersebut.


" benda ini memang memiliki energi sihir Marilla, tak heran bisa membawa tuan dengan mudah ke Mystick. Kematian Marilla memang belum bisa dipastikan, tapi jika sihirnya menghilang kemungkinan memang benar Marilla sudah tiada. hanya gelang ini yang menjadi barang bersejarah miliknya" Zephyr mengambil gelang tersebut.


Valmira baru saja sampai di meja makan, dia mendengar semua perbincangan itu dengan cukup jelas.


" jadi itu benda pusaka?" tanya Valmira membuat semuanya menoleh ke arah Valmira.


" sepertinya iya" Zephyr menimpali.


Valmira duduk sambil merenung, ternyata Gyan tidak cuma-cuma memberinya sebuah gelang. Lelaki itu selama ini begitu menyayanginya.

__ADS_1


" kau pakailah" ucap Kangta pada Valmira. Lelaki itu sengaja memberikannya di depan semua orang agar Valmira tak bisa menolaknya. Dan benar saja Valmira tampak ingin menolak, tapi tidak mungkin mengatakan rahasianya. wanita itu akhirnya terpaksa menerima apalagi baik Zephyr dan Aislinn juga tidak keberatan.


" terimakasih" ucap Valmira menatap Kangta penuh arti. Semenjak bangun dari ketidaksadarannya Valmira kini tau siapa sebenarnya Kangta, rasa segan sempat membuat hubungan keduanya canggung, namun berulang kali Kangta mengatakan agar dia bersikap biasa saja. sayangnya Valmira tidak bisa. Wanita itu cukup tau diri sekarang.


Makan malam berlangsung dengan sangat aman, saat ingin beranjak Valmira akhirnya memasang gelang itu agar tidak terjatuh. Dan seperti sebelumnya gelang giok dengan warna putih itu dalam sekejap berubah menjadi biru laut dan warna itu bergerak mengelilingi gelang.


" apa yang kau lakukan?" tanya Aislinn tampak terperangah.


Valmira yang mendengar pertanyaan aneh itu menjadi setengah kaget dan heran sendiri, dia tidak melakukan apapun.


" coba lihat" Aislinn mengambil tangan Valmira dan menunjukkannya pada Kangta.


" kau bisa merasakannya bukan? benda ini memutarkan energi" ucap Aislinn, semuanya menjadi fokus pada gelang tersebut.


" apa hal ini pernah terjadi sebelumnya?" Kangta berdiri dari tempat duduknya. Valmira mengangguk ragu-ragu. apa dia melakukan sesuatu yang buruk, atau ada sesuatu yang salah dengan dirinya.


" kau istirahatlah," Aislinn mengantarkan Valmira sampai di depan kamarnya. meski banyak sekali pertanyaan dalam benaknya tapi Valmira hanya bisa menelan semuanya. Ketiga orang itu juga tidak memiliki keinginan untuk menjelaskan padanya.


Aislinn kembali ke meja makan, disana Kangta dan Zephyr masih diam. mereka memikirkan apa yang baru saja mereka lihat.


" kita semua melihatnya degan jelas bahwa giok itu aktif kembali, wanita itu bukanlah orang sembarangan" lirih Zephyr yang di angguki oleh istrinya, Aislinn.


......................


Kerajaan Garamantian terlihat begitu meriah, rombongan Prysona memasuki istana. Barisan tamu kehormatan serta tandu-tandu berjejer memadati jalanan istana. suara musik mengalun keras dari istana depan sebagai bentuk penyambutan tamu istimewa kerajaan.

__ADS_1


Dan tak lupa Ratu Garamantian secara langsung menyambut kedatangan kerajaan Prysona dimana merupakan kerajaan asal sang ratu. Shana berdiri di atas balkon istana yang langsung berhadapan dengan jalan masuk utama para tamu. Dengan senyum manis dan lambaian tangan serta dalam balutan gaun kerajaan yang mewah, Shana tampak cantik dan ramah. Wanita itu belum mengetahui tujuan asli kedatangan rombongan kerajaan Prysona.


" ibu!" panggil Shana saat mereka sudah berada di aula utama istana.


Ratu Prysona dengan senyum singkat membalas pelukan putrinya yang begitu manja.


" bagaimana kabar ibu? kenapa ayah tidak ikut datang?" tanya Shana dengan suara manjanya.


" semuanya baik. ayahmu memiliki banyak sekali tanggung jawab" jawab singkat ratu Prysona.


" yang mulia raja datang" penjaga memberikan pengumuman.


Semua tamu bersiap menyambut kedatangan Gyan. tak lupa dengan Shana yang mencari tempat paling depan. Ratu Prysona menyuruh putrinya agar segera menemani sang Raja.


Gyan berjalan dengan tenang, wajah rupawan serta baju kebesarannya yang mewah membuat tampilan Gyan begitu menarik perhatian kaum hawa. postur tubuh yang tegap seolah mengisyaratkan kesan bijaksana dan tegas. Gyan duduk di singgasana menatap intens para tamu. Shana datang mengikuti kemudian duduk di kursinya. Semuanya diam memperhatikan.


" aku ucapkan selamat datang Ratu Prysona beserta rombongan di kerajaan Garamantian, kami akan berusaha menjamu sebaik mungkin dan silahkan kalian menikmati segala hal yang tersedia di Garamantian. kami cukup berterimakasih atas kunjungan kalian semua" ucap Gyan dengan sangat wibawa. Semua tamu begitu merasakan aura Gyan yang sangat kuat, apalagi jika mereka seorang penyihir. Mereka tanpa keraguan percaya akan kehebatan Gyan.


Pesta berlangsung dengan sangat meriah, sayangnya Ratu Prysona sejak tadi bersikap sedikit dingin pada putrinya. Dengan alasan status membuat ibundanya tidak mau berbincang terlalu lama dengan Shana.


" ibu mau kemana?" tanya Shana mendapati ibunya meninggalkan aula.


" saya akan pergi beristirahat, Ratu" jawab ibunya dengan halus dan segera melanjutkan langkahnya. Shana ingin menanggapi ucapan itu, akhirnya hanya bisa diam menatap kepergian ibunya dengan perasaan heran.


" Yang mulia, ada yang mencari anda" pelayan pribadinya membuyarkan lamunan Shana.

__ADS_1


" hem" Shana berdeham dan kembali masuk ke aula dengan perasaan sedih. tidak biasanya ibunya mengacuhkannya seperti ini.


__ADS_2