Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Inti Iblis


__ADS_3

dung dung dung


suara genderang menggaung keras. Halaman depan istana yang biasanya di gunakan apel pasukan kerajaan kini memiliki fungsi lain. tepat di tengah halaman terikat seorang wanita dengan penampilan penuh dengan lumpur kotor sisa lemparan beberapa orang yang lewat.


Menjelang sore ini warga Mystick berbondong-bondong memadati istana luar wilayah selatan. Eksekusi penjahat Violet yang sempat tertunda kini dilaksanakan dengan penuh kemarahan.


" bunuh dia! "


" dasar kau wanita iblis!"


" kau wanita rendahan, Dasar tak berguna"


Segala cacian terdengar tak kala semakin ramai orang yang datang.


" putri Valmira datang" pengumuman istana.


Valmira datang, dia tengah menggendong bayi G dan dengan wajah tegasnya berjalan, berdiri di depan semuanya. Di sana juga ada Deon dan Kangta. Deon ikut mengamankan halaman sedang Kangta dia tengah gusar berdiri di area yang sepi pengunjung.


" kali ini aku tidak akan berlama-lama. Di depan kalian adalah penjahat kerajaan yang sudah kabur beberapa kali dan membuat semua orang menderita. sore ini hukuman atas semua kejahatannya akan segera di laksanakan sesuai dengan keputusan sebelumnya" jelas Valmira membuat semua orang tersenyum senang.


dung dung


acara akan di mulai, prajurit mengeluarkan pisau dengan jumlah banyak. Semua orang sudah tidak sabar ingin mengambil dan menyayat Violet.


" waktu hukuman telah tiba" teriak prajurit.


semuanya sama dengan sebelumnya. perwakilan petinggi dan Kaun bangsawan memulai hukuman.


" brengsek. tidak.. akkk. hentikan!" terikan Violet tak henti-hentinya. pisau kecil itu menyayat dan mengiris dagingnya. Darah mengucur deras Violet terus mencaci sesuka hatinya. Tak ada satupun yang iba dengan teriakkannya.


Dan kini saat yang di tunggu, rakyat Mystick terlihat antusias bahkan berebutan menghukum Violet. wanita itu sudah tidak memiliki tenaga lagi, tubuhnya terkoyak tak bersisa.


Valmira memilih pergi membiarkan rakyatnya melampiaskan sakit hatinya.


" kita kembali ke istana kerajaan" ucap Valmira kepada pasukannya. Wanita itu menaiki Zey lagi agar perjalanan lebih cepat.


Kangta ikut dengan pasukan kerajaan, sedangkan Deon masih tinggal di istana luar untuk menyempurnakan hukuman untuk Violet. Tubuhnya harus di pisahkan dan di makamkan di segala penjuru arah.


Saat ini Valmira sampai lebih dulu, keadaan istana kerajaan terlihat masih sama. penjagaan terlihat ketat dan semuanya aman.


" Putri, Pangeran G" teriak Derya saat melihat Valmira masuk ke istana dengan G dalam gendongannya.


" bagaimana kabar putri selama ini, kami mendengar jika terjadi kekacauan hebat di wilayah Selatan?" tanya Derya dengan raut cemas.


" semuanya sudah selesai, Violet sudah menerima hukumannya" jawab Valmira pelan.


" syukurlah, apa putri atau pangeran mengalami luka?"


" tidak, kami semua baik-baik saja"


Derya langsung mengambil alih G dan mengasuhnya. Dia tau jika Putri masih lelah, lagipula dia juga cukup merindukan bayi kecil ini.


......................................

__ADS_1


Setelah hari dimana Shana terlihat masuk ke Garamantian, kondisi Gyan memang berangsur melemah. tidak banyak yang tau mengenai kondisi ini selain Aden dan satu ahli obat kepercayaannya.


" tubuh yang mulia banyak mengandung aura hitam, hal ini tentu akan merusak keseimbangan energi dan tenaga dalam anda, yang mulia" jelas ahli obat.


" apa kau tidak memiliki sesuatu agar kondisi yang mulia membaik?" tanya Aden penuh kekhawatiran. Baru saja dia sedikit lega melihat Raja Gyan menangani perang, kenapa kini malah bertambah buruk.


" saya sudah melakukan berbagai cara, tapi aura hitam ini semakin hari semakin pekat. Ada sesuatu yang membuat mereka terus bertumbuh di dalam tubuh yang mulia"


" bagaimana kau ini, kau harus..."


" Aden.." panggil Gyan agar pemuda itu menenangkan dirinya.


" kondisiku tidak seburuk seperti yang dia katakan, tubuhku bisa pulih sebentar lagi" lanjut Gyan


" yang mulia pasti sedang berbohong, yang mulia selalu menyimpan semuanya sendiri"


" tidak, aku lebih tau bagaimana kodisi tubuhku. Aku sudah tau jika ada energi hitam di tubuhku. Semua itu kiriman dari iblis Shana, dia memberikan semacam ramuan kutukan padaku"


" apa? kutukan?"


" kau tenang saja, aku hanya meminumnya separuh. Dan pengaruh ramuan itu tidak terlalu kuat. Aku bisa pulih dalam beberapa bulan" jelas Gyan tanpa menutupi yang sebenarnya.


" kita harus memberikan pelajaran pada wanita jahat itu. Aku akan ..."


" tidak usah, dia sudah terkena serangan milikku. dalam waktu dekat dia tidak akan bisa melakukan apa-apa"


Aden melepas nafas lesu, dia sudah ingin sekali memberikan perhitungan pada mantan Ratunya. Wanita itu ternyata jauh lebih mengerikan daripada penilaiannya selama ini.


" baik yang mulia"


Apalagi dia juga hanya separuh meminum ramuan ke 2. Tenaga dalamnya tidak terlalu rusak parah. Namun semua penilaiannya itu, tak lantas membuatnya terhindar dari energi hitam ini.


Jika Shana terus merapalkan mantra, energi inipun akan sekian banyak dan pekat. Gyan harus bisa menyeimbangkan energinya terus menerus agar efek kutukan tidak langsung menyakitinya.


" ternyata kau selama ini hanya tipuan, Alora. Aku kira kau sengaja menemui ku untuk membawa ku pergi" lirih Gyan sedih, mimpinya mengenai Valmira selama ini adalah ulah Shana yang ingin mencelakainya. Dia sudah sangat senang karena akhirnya Valmira datang padanya.


" tak heran Shana menggunakan mu, kaulah satu-satunya kelemahanku" desis Gyan menatap jendela kamar. Bayangan Valmira masih sangat melekat dalam benaknya. cukup mendengar namanya saja, hati Gyan sudah bergetar karena rindu.


Sedangkan di sisi lain, tebakan Gyan mengenai Shana yang terluka agaknya kurang tepat. Wanita itu masih memiliki Douglas untuk memulihkan tubuhnya. Benar jika Shana tak bisa melakukan apapun, tapi Douglas bisa. Lelaki itu dengan sepenuh hati akan membuat Shana memiliki kekuatan sihir hitamnya kembali.


" bagaimana kau sudah mendapat cara untuk membuatku pulih?"


" tentu saja, kita bisa mulai perburuan. Membunuh penyihir untuk mengambil energi mereka bisa membuatmu pulih beberapa saat"


" lalu untuk kemampuanku, aku ingin melebihi Gyan. Tinggal satu ramuan lagi, aku ingin dia meminumnya" tegas Shana, dia bukan lagi ingin pulih tapi kemampuan sihirnya juga meningkat drastis.


" ada satu cara yang bisa membuat sihir hitam milikmu ada berlipat ganda" bisik Douglas dengan wajah licik.


" apa, katakan padaku, jangan bertele-tele" Shana mulai jengkel.


" membunuh keluargamu, seseorang yang memiliki hubungan darah. Jika kau menjadikannya persembahan maka aura gelap akan merasuk dalam nadimu" hasut Douglas. Padahal dia tau satu-satunya keluarga yang tersisa adalah sang ayah. Raja Prysona.


Shana terdiam sejenak, sang ayah masih dalam keadaan tak stabil. Dia bisa membunuh ayahnya lagipula posisinya sebagai putri mahkota tidak akan berpengaruh apa-apa sebelum ayahnya tiada.

__ADS_1


" satu-satunya yang tersisa adalah ayah" lirih Shana tanpa rasa bersalah.


" saya akan membantu jika anda sudah siap" ucap Douglas menutupi niat aslinya. Sejak awal dia memang menginginkan lelaki itu mati.


" nanti malam siapkan semuanya, aku akan mengajak ayah jalan-jalan kemari" Shana terlihat berbinar. Dia benar-benar sudah kerasukan iblis sama sekali tidak memiliki empati padahal seseorang yang akan dia korbankan adalah ayah kandungnya yang membelanya mati-matian.


" baik, akan saya laksanakan" jawab Douglas dengan senyum lebar. Lelaki itu keluar kamar. Dan tanpa sepengetahuan yang lain dia menuju kamar Raja. Dia akan melakukan sesuatu sebelum lelaki tua itu mati malam ini.


Menjelang malam seorang pelayan Raja mendatangi kamar Shana.


" putri Raja mencari anda" ucap pelayan itu, yang membuat Shana bingung. bukankah kondisi ayahnya terakhir kali masih tidak bisa di ajak berkomunikasi.


" baiklah" jawab Shana, dan perlahan berdiri. Dengan sedikit kesusahan wanita itu berjalan menuju kamar ayahnya. Dia cukup penasaran kenapa kesadaran ayahnya tiba-tiba pulih.


" ayah" panggil Shana lalu duduk di tepi ranjang ayahnya.


" Shana, bagaimana keadaanmu?"


" Shana baik baik saja, ayah bagaimana. apakah ayah sudah ingat apa yang sudah terjadi sampai ayah bisa seperti ini?" pertanyaan Shana memang sangat terlambat, namun memang ayahnya baru bisa di ajak bicara sekarang.


Raja Prysona terdiam, memikirkan jawaban dari pertanyaan Shana. Ingatannya kembali pada saat dia berada di medan perang. Di mana pasukannya mengalami hal aneh. Aura gelap serta sihir hitam memenuhi medan perang saat itu.


Dan tak lupa bagian saat dia bertemu dengan Gyan. Dengan tatapan nanar Raja Prysona mengalihkan fokusnya pada Shana. putri yang menjadi alasan semua keanehan terjadi pada pasukannya. Dia masih ingat perkataan Gyan, lelaki itu kemungkinan besar yang membawanya kemari dengan tujuan agar dia sendiri yang menghukum Shana.


" Shana katakan pada ayah jika selama ini kau tidak kenal dengan seseorang yang bernama Douglas dan tidak mengenal bentuk sihir hitam apapun" ucap Raja Prysona penuh harap. Sedangkan Shana seketika membatu, kenapa ayahnya langsung menanyakan hal ini. Shana menjadi curiga jangan-jangan ayahnya sudah mengetahui semua perbuatannya. Semua itu tidak lain pasti Gyan yang membuat ayahnya meragukannya.


" apa yang ayah katakan? Shana tidak tau menahu mengenai lelaki itu dan sama sekali tidak berhubungan dengan sihir hitam" elak Shana tegas.


" Shana, kali ini saja jujur pada ayah. apa kau yang sudah membuat ibumu terbunuh? kau pasti saat itu tidak sengaja. Ayah akan memaklumi jika kau mau mengatakan kebenarannya pada ayah" rayu raja Prysona. Lelaki itu mulai menangkap raut khawatir putrinya.


" ayah meragukan Shana,? sudah berapa kali Shana katakan, jika Gyan sudah memfitnah Shana. lelaki itu ingin Shana menjauh dari hidupnya" wanita itu kekeh tak mau mengaku.


Melihat ayahnya yang terus mendesaknya, membuat Shana mulai khawatir. Jika ayahnya lebih percaya pada Gyan, itu akan merugikannya nanti. Lebih baik dia mempercepat pengorbanan ayahnya saja.


" ayah, Shana benar-benar tak mengerti bagaimana bisa ayah meragukan Shana. Selama ini Shana sudah berbuat banyak hal. Bahkan selama perang terjadi Shana lah yang menjaga kerajaan. tapi kini ayah dengan teganya menuduh Shana melakukan praktik sihir hitam" Shana merangkai kata perkata dengan sangat lihai. Sangat terlihat menyakinkan apalagi dengan wajah yang terlihat kecewa. membuat Raja Prysona perlahan merasa bersalah dan melupakan semua ucapan Gyan.


" jika ayah masih meragukan Shana, maka lebih baik Shana pergi ke Garamantian dan meminta Gyan menghukum Shana sesuai dengan apa yang sudah dia tuduhkan pada Shana" lanjut Shana seakan menantang balik.


" tidak, tidak. maafkan ayah karena sudah meragukanmu"


" asal ayah tau saja, Gyan telah mengirimkan sihir kutukan pada Shana. sampai-sampai tubuh Shana melemah. lelaki itu tidak puas dengan hanya membunuh semua pasukan kita" jelas Shana memutar balikkan fakta.


" apa? lalu bagaimana kondisimu sekarang?"


" Shana masih merasa lemas, sihir itu sudah masuk perlahan dalam tubuh Shana" jelas Shana penuh kebohongan.


" kita harus mencari cara agar bisa mengirim kembali sihir kutukan itu pada pengirimnya"


" iya ayah"


" jika begitu, kau beristirahatlah jangan terlalu memaksakan diri"


" apa ayah tidak.keberatan mengantar Shana ke kamar. Shana begitu rindu ingin bersama ayah"

__ADS_1


" tentu saja, mari. Ayah akan mengantarmu"


__ADS_2