Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Finnflok


__ADS_3

Makan malam sudah selesai beberapa waktu yang lalu, bahkan Valmira sudah menghabiskan makanannya. Namun hari masih terlihat sama. Masih ada goresan jingga sama saat mereka memulai makan malam. langit malam belum benar-benar gelap. masih ada sisa senja yang belum hilang. Hal ini sangat aneh, akhirnya karena penasaran Valmira memberanikan diri keluar dari kamar. Panggilan namanya berangsur-angsur menghilang, dan membuat ketakutan Valmira menipis sejenak.


Wanita itu berjalan menuju kabin dan keluar ke geladak kapal. Dia menatap langit serta lautan yang tenang. Di bawah sana air sangatlah jernih, dia bisa melihat aneka binatang sihir yang berenang kesana kemari.


Lalu dia melihat sekeliling, Valmira bisa melihat jika mereka berada di dalam sebuah dinding kaca. Kapal mereka hanya berputar-putar mengelilinginya. sejak tadi mereka tidak pergi kemana-mana.


Valmira mengambil nafas panjang, mungkin ini adalah satu rintangan yang Kangta pernah ceritakan. Valmira sama sekali tidak tau jika mereka sedang berusaha melewati tabir pelindung milik ibunya.


" kau melihat Sesuatu?" tanya Kangta yang sudah berdiri di sampingnya.


" sebenarnya kita berada dimana? kapal ini hanya berputar-putar saja"


" sebenarnya kita sedang menuju kerajaan Mystick. Kerajaan Marilla, dia memberikan semacam tabir perlindungan agar orang luar tidak bisa masuk ke pulau miliknya. Semalam badai yang kita hadapi adalah salah satu lapisan tabir Marilla dan kini mungkin kita berada pada lapisan selanjutnya" jelas Kangta tidak menutupi lagi. Dia seharusnya berterimakasih karena Valmira, mereka bisa melewati badai sebelumnya dengan selamat.


" tabir perlindungan? lapisan kaca itu yang kau maksud?"


"lapisan kaca?"


" iya, kita berada di dalam lapisan kaca. Semacam labirin, apa kau tidak melihatnya?" Kangta menatap dengan bingung arah yang Valmira tunjukkan.


" kita semua tidak melihat apapun selain lautan Alora"


Valmira menatap sesaat wajah Kangta, dia mencari kebohongan disana. Sayangnya tidak ada, Kangta tidak sedang menyanjungnya.


" apa kau bisa menggambarkan bagaimana pola labirin yang terlihat?" lanjut Kangta dengan nada lemah.


" aku akan mencobanya" Valmira mengangguk pelan.


kini kedua orang itu berada di anjungan kapal, hanya ada Kangta, Valmira dan Deon. mereka menatap kertas yang ada di meja sedangkan Valmira menggambar pola yang dia lihat di luar.


tidak ada yang bersuara agar tidak menganggu konsentrasi Valmira.


" hanya ini yang terlihat, saat kita melewati posisi ini kita pasti akan melihat pola lainnya" ucap Valmira setelah selesai menggambar.


" baiklah" Kangta mengangguk.

__ADS_1


" tuan!!" sebuah teriakan terdengar dari geladak.


" siapa itu?" Deon melihat dari jendela anjungan.


" tuan itu nahkoda kapal" Deon begitu senang segera keluar dari anjungan dan turun ke geladak.


Kangta dan Valmira hanya mengamati dari dalam anjungan.


" kenapa Deon terlihat sangat senang?" tanya Valmira heran.


" setelah melewati badai, kita baru menyadari jika nahkoda kapal menghilang. sudah mencari kemanapun tidak ketemu. untung saja dia bisa kembali sekarang"


" jadi begitu, pantas saja Deon langsung menyambut kedatangan nahkoda"


" kita bawa gambar ini agar nahkoda bisa segera mengemudikan kapal dan kita bisa keluar dari sini" saran Kangta.


" anda benar, "


Kangta menggulung kertas itu lalu turun ke geladak. sedangkan Valmira tetap di anjungan mengamati interaksi di geladak.


" bagaimana caranya kau bisa sampai disini?" tanya Kangta.


" aku mencari mu kemana-mana tapi tak juga menemukan mu. Untung saja kau kembali" ucap Deon.


" baiklah, ini ada peta rute pelayaran, kau ikuti sampai ke ujung dan jika sudah selesai segera beritahu aku" Kangta memberikan gulungan kertas kepada nahkoda. Lelaki itu segera menerimanya.


" baik tuan," jawabnya lalu pergi bersama dengan Deon ke ruang kendali.


Sepeninggalnya kedua orang itu, Kangta kembali ke kamarnya untuk melanjutkan pemulihan. Valmira masih berdiam di anjungan sambil mengelus perutnya yang semakin besar. Bayinya terus aktif bergerak dan seakan bisa di ajak berinteraksi. Valmira semakin senang dengan perkembangannya. wanita itu terus mengelus perutnya sambil merasakan jika energi dari gelangnya mengalir masuk ke tubuhnya.


Malam semakin larut, kini langit sudah di penuhi bintang-bintang. Setelah memastikan jika kapal bergerak sesuai dengan rute darinya Valmira keluar ke geladak. Kembali menatap air yang seakan menghasilkan kilatan cahaya biru. Sangat indah dan membuatnya ingin masuk ke dalam.


" nona, " panggil seseorang di belakangnya.


" ah iya, " Valmira menoleh dan ternyata di nakhoda mendekatinya.

__ADS_1


" ada masalah?" lanjut Valmira, khawatir jika ada sesuatu.


" tidak, saya sudah mengikuti gambar di kertas sesuai keinginan tuan. Saya kemari hanya ingin berbincang dengan nona yang sepertinya kesepian" jelas nahkoda.


" oh begitu" aneh sekali, sejak dia naik sampai badai terjadi, nahkoda tidak pernah meninggalkan kemudi kapal atau bahkan mengajaknya berbicara seperti ini.


" lalu siapa yang disana?" tanya Valmira menatap ke ruang kendali.


" ada tuan Deon" jawabnya lalu ikut bersandar di pagar.


" ku dengar kau sempat hilang terbawa badai?"


" iya, untung saja bisa bertahan dan kembali ke kapal. Saya sangat bersyukur bisa bertemu dengan kalian semua lagi"


" kau harus lebih berhati-hati jangan sampai terjatuh lagi, takutnya lain kali tidak bisa kembali lagi"


" anda benar nona" nahkoda itu mengangguk pelan.


" oh ya sudah berusia berapa bulan kandungan anda?" lanjut nahkoda sambil menatap perut Valmira penuh ketertarikan.


" mungkin 5 bulan, aku tidak pernah menghitungnya. hanya berharap dia baik-baik saja" lirih Valmira sambil mengelus perutnya, mendadak bayinya bergerak cukup kuat.


" aku akan kembali ke kamar. ikuti terus rute yang ada" pesan Valmira lalu berjalan ke kabin.


" tunggu!" secara mendadak nahkoda itu menarik tangan Valmira pelan. reflek Valmira menarik tangannya dengan cepat.


" maafkan aku, aku hanya ingin berbincang lebih lama denganmu" lanjut nahkoda yang melihat penolakan Valmira.


" lain kali, perutku sedang tidak enak jadi harus berbaring sebentar" jawab Valmira berhati- hati takut menyinggung nahkoda itu.


" baiklah. maaf telah mengagetkan mu" nahkoda itu tersenyum tipis dan Valmira melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Valmira menutup pintu kamar dan mendekati ranjang. Tapi dia baru menyadari sesuatu yang aneh. lengannya terasa begitu licin, dan basah oleh lendir bening.


" apa ini?" Valmira bahkan mencium bau amis yang kuat.

__ADS_1


wanita itu segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan lengannya. Dia baru ingat, jika lengan ini tadi yang di tarik oleh nahkoda kapal.


" kenapa ada lendir dari tangannya?" Valmira mencoba memikirkan, apa mungkin nahkoda itu menyentuh sesuatu dan tidak membersihkan tangannya. Valmira belum menemukan keanehan jadi setelah membersihkan lengannya wanita itu langsung menaiki ranjang dan berbaring.


__ADS_2