
" jangan gegabah. itu sama saja kau menambah minyak dalam api. Lagi pula besok lusa akan ada jamuan bulanan, jangan lakukan apapun sampai hari itu tiba" sekakmat, Farfalla tidak boleh melakukan apapun. Ibunya sudah memperingatkan, dia tidak mungkin melanggar jika begini.
" baik bu" jawab Farfalla lemah.
Di istana Raja, Gyan kembali memijat keningnya. Persoalan Selirnya sungguh semakin bertambah besar. Apalagi setelah mengetahui rambut Valmira yang memutih. cap penyihir hitam semakin melekat padanya.
" adakah kiriman surat dari Deon atau Kangta?" tanya Gyan terlihat sedikit frustrasi.
" tidak ada, yang mulia"
" kenapa pak tua itu tak kunjung membalas suratku?"
" mungkin Deon dan tuan Kangta sedang mengurus Klan Ralba"
" itu bukan hal yang sulit menurutku. Apa membalas surat saja tidak bisa. Mereka pasti memiliki rencana" desis Gyan merasa janggal.
Dan itu memanglah benar, Kangta bukannya tidak bisa membalas surat. Lelaki itu tidak mau dan memilih memantau kerajaan secara langsung. Untuk Klan Ralba, mereka dengan mudah bisa di tangani dan saat ini tengah di temani oleh Deon di tempat yang sudah di sediakan.
Kangta merasa gusar setelah membaca surat Gyan, dia mencemaskan lelaki itu yang nekat dan mengorbankan banyak hal termasuk kerajaan. Baginya itu sangatlah berharga jangan sampai anak muda sejenius Gyan akan berakhir dengan mengorbankan nyawa meskipun untuk anak dan istrinya.
" kirimkan lagi surat pada Deon, tanyakan dimana sekarang Mereka berada"
__ADS_1
" baik yang mulia"
......................
Hari berlalu, malam ini tepat diadakan jamuan bulanan di istana Harem. sejak pagi Fleur mencoba merayu Valmira agar wanita itu tidak perlu datang. Fleur begitu mencemaskan temannya ini, apalagi saat ini Valmira sudah tidak mau menutupi rambut setengah putihnya itu.
" tidak Fleur, semua hanya kekhawatiranmu yang berlebihan saja. Aku tak apa, biarkan mereka mengatakan sesukanya" selalu saja Valmira menilai sederhana. Semua ini memanglah sudah rencana Valmira. Dia sengaja memperlihatkan ketidakberdayaannya agar saat dia meminum racunnya semua orang tidak akan heran. Apalagi acara jamuan pasti membuat kematiannya bisa di saksikan banyak orang. Valmira sudah bertekat malam ini semua hidupnya di sini akan selesai. Gyan bisa kembali fokus dengan kerajaan dan dunia sihir.
" kenapa kau terlihat begitu berbeda?"
" aku masih sama, Fleur"
" tidak. sejak pagi kau sibuk menata semua ruangan, bahkan memberikan beberapa perhiasan dan gaun padaku. Kau tidak berencana kabur lagi kan?" Fleur menyelidik
" kau yakin?" tanya Fleur sekali lagi.
" iya, ayo kita berangkat"
Akhirnya kedua wanita itu keluar dari kamar. Mereka menyusuri lorong istana, dari situ saja semua mata menatap Valmira dan Fleur secara sinis.
beberapa kali Fleur menarik nafas panjang agar tidak emosi menanggapi sikap merendahkan mereka. Jika dia mendengar cacian yang sedikit keterlaluan dia pasti tidak segan-segan memberikan pelajaran.
__ADS_1
" yang mulia selir Agung datang" pengumuman kedatangan Valmira sontak membuat seisi ruangan sepi mendadak.
Terkaitnya Valmira dengan rumor itu membuat semua pasang mata ingin memastikan secara langsung kebenarannya.
mulut terbuka dengan padangan tak percaya adalah reaksi yang hampir semua orang berikan saat melihat rambut Valmira. saat melangkah semua orang dengan cepat menyingkir tak mau berdekatan. Dan ini membuat jalan Valmira semakin mudah. Wanita itu tanpa terusik sedikitpun melangkah masuk menuju ke depan ruangan.
" yang mulia Ratu, ibu suri, putri Farfalla" sapa Valmira pada 3 wanita penting kerajaan.
putri Farfalla tampak prihatin dengan Valmira, berbeda dengan Shana yang memperlihatkan wajah sombong dan merendahkan Valmira.
" bagaimana kabarmu selir?" tanya Shana basa basi.
" saya baik, Ratu"
" aku kira kamu tak berani keluar kamar"
" untuk apa tidak berani? saya tidak melakukan apapun"
" maksudku, rumor diluar sangat kencang mengenai dirimu. takutnya bisa membahayakan keselamatanmu"
" Ratu jangan khawatir, tidak ada yang berani melakukan itu"
__ADS_1
" selir silahkan duduk" potong Farfalla yang merasakan situasi dingin antara ratu dan selir.
" baiklah, terimakasih putri".