Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Pergerakan


__ADS_3

Garamantian terlihat sangat siap menghadapi Prysona. Apalagi pihak penyihir juga lebih percaya dengan perkataan Gyan. Memang seharusnya pelaku sihir hitam mendapatkan hukuman berat bahkan akan di cabut inti energi dalamnya. Tapi ini malah mendapatkan perlindungan dari kerajaan. sangat keliru.


tap tap tap


" yang mulia, saya mendapatkan laporan dari panglima perang perbatasan, jika dalam radius 100 km tentara Prysona sudah terlihat berjalan" Aden menjelaskan detail pertempuran. Saat ini Gyan sedang berada di balkon kamar Valmira. Lelaki itu sedang menunggu elang Kangta yang sudah beberapa lama tidak terlihat.


" seberapa besar?" tanya Gyan dengan wajah datar. lelaki itu sama sekali tidak peduli, dia sudah bertekad jika Prysona akan hangus di tangan nya. Setidaknya sebagai balasan atas sihir hitam yang sudah di kirim Shana ke Valmira berkali-kali.


" ada sekitar 100 ribu pasukan"


" tidak masalah, kau hubungi saja kumpulan penyihir, mereka akan menjadi pelindung utama. Mau bagaimanapun perang ini dikarenakan masalah sihir hitam, bukan murni karena birokasi"


" baik yang mulia"


Aden segera berlari pergi. Gurun pasir tampak sepi dan hampa setelah kematian selirnya. Bahkan angin terasa begitu sendu menerpa kulitnya.


uakk uakk


elang tiba-tiba terbang di sekitarnya, Gyan membuka wadah yang sudah berisi daging. Sebagai makanan burung itu.


Gyan menatap dengan seksama, burung elang ini terlihat sangat kelaparan tidak seperti biasanya. semua daging habis dalam sekejab, Gyan bahkan harus menambahkan lagi.


" sepertinya kau juga tidak bertemu dengan Kangta, kemana dia. apa mungkin sudah masuk ke wilayah samudera" lirih Gyan.


uakk uakk


" sudah kenyang?" elang itu hinggap di tangan Gyan. Dengan lembut Gyan mengelus bulu kepalanya.


" tinggalah disini sampai tuanmu kembali"


uakk uakk


Seakan menyetujui, elang itu bersuara sambil mengepakkan sayapnya. Melihat elang ini Gyan sedikit terhibur, sudut bibirnya tertarik sedikit. Sejak kematian Valmira senyumnya menghilang. Dulu Valmira yang sudah membuat senyum itu hadir dan kini menghilang. Wanita itu begitu berpengaruh pada dirinya, sangat kesepian. Jika bukan karena Kangta yang membawa jasad Valmira, mungkin Gyan bisa-bisa nekat menggunakan sihir hitam untuk menghidupkan kekasihnya itu.


Berbeda dengan balkon istana yang sepi, area perbatasan terlihat begitu menegangkan. Pasukan Garamantian sengaja tidak memperlihatkan diri. Sesuai dengan perintah sang Raja, mereka akan mulai setelah ada tanda-tanda dari kelompok penyihir.


pasukan Prysona sama sekali tidak mengetahui jumlah pasti pasukan musuh. Hanya dengan modal kemarahan serta harga diri raja Prysona berani menantang Raja Garamantian yang agung serta sebagai penyihir hebat. Siapapun tidak berani menyinggung Gyan, apalagi menantang lelaki itu. Belum lagi dengan kasus praktik sihir hitam.


Tenda pasukan Prysona terlihat mulai berdiri sejajar.


" Panglima, pasukan musuh masih belum terlihat. berdasarkan informasi mata-mata gerbang perbatasan masih terlihat sepi"

__ADS_1


" jika begitu kita berhenti disini,"


" baik panglima"


pasukan Prysona mulai mendirikan tenda-tenda serta perapian. Bahan makanan juga di persiapkan, sebentar lagi malam, mereka telah masuk wilayah gurun pasir. Angin dingin mulai menerpa mereka, medan yang seperti ini tidak bisa mereka kuasai. Prysona sebagian besar wilayahnya adalah Hutan serta tanah berlumpur, sama sekali berbeda dengan medan Garamantian.


Istana Raja Gyan malam ini kedatangan tamu, putri Farfalla serta ibu suri Raveen masuk dengan raut cemas.


Gyan duduk di ruang baca Gyan, kedua tamu itu tidak sabar ingin segera menemui sang Raja.


" kakak, Falla dengar kerajaan akan berperang dengan Prysona. apa benar?" tanya Farfalla tanpa permisi dan baru sampai di ambang pintu.


" iya" Gyan mengangkat wajahnya sebentar lalu menunduk lagi menatap laporan. sangat acuh.


" kaka, memangnya apa yang sudah terjadi? bukankah Raja Prysona sedang sakit? kenapa malah berperang?" putri langsung mencerca kakanya dengan sederet pertanyaan.


" putri" ibu suri segera menasehati.


Gyan sama sekali tidak bereaksi, diam membisu.


" maaf, kakak katakan sesuatu?" kini putri terlihat lebih tenang, wanita itu mendekat dan berdiri di depan meja Gyan.


" Prysona yang memulai peperangan, Garamantian hanya menanggapi saja" jawab Gyan


" wanita itu melakukan praktik sihir hitam. tidak akan di terima disini"


" astaga, bagaimana bisa! " pekik ibu suri, bagaimana ada hal terlarang seperti ini di Garamantian.


" Falla tidak menyangka" wanita itu menutup mulutnya tidak menyangka Ratu Shana sampai melampaui batas.


" falla, sebagai penerus kerajaan seharusnya kau tidak boleh mudah emosi. belajarlah untuk melihat sesuatu bukan dari tampak luarnya saja" jelas Gyan dengan lembut.


" maafkan Falla kakak, Falla selama ini tidak bisa membantu kakak menangani masalah kerajaan" wanita itu tampak sedih dan terpukul.


" tidak masalah, teruslah belajar"


setelah beberapa berbincang kedua wanita itu pergi dan kembali ke istana Harem. Keduanya masih diam, mereka tidak mengetahui sama sekali hal ini. Dan kini mendengarnya langsung dari Gyan seketika membuat mereka terdiam tidak menyangka.


" ibu, aku kini baru menyadari jika kakak memikul beban yang begitu berat. Aku merasa tidak berguna" lirih Putri Farfalla.


" sejak lama ibu sudah merasakannya, saat adanya selir Agung masih ada, ibu sama sekali tidak keberatan, kehadiran wanita itu membuat kakakmu lebih ceria. Kini semenjak tiada, tidak ada kesenangan dalam hatinya. ibu merasa kasihan" jelas ibu suri.

__ADS_1


" kakak, mulai sekarang Falla akan berusaha menjadi putri kerajaan yang pantas di banggakan kakak" tekad Farfalla.


" kau sudah semakin dewasa"


kedua wanita itu saling berpelukan, kini istana Harem sudah kosong. Semenjak wacana perang di mulai, Gyan secara khusus mengirimkan wanita-wanita itu kembali ke kota asalnya. Selain untuk menjaga keselamatan, Gyan sendiri sampai kapanpun tidak akan bisa menyentuh mereka. Bagi Gyan wanitanya hanya satu yakni Valmira. Semangat hidupnya hilang, lelaki itu hanya memforsir energi hanya untuk kerajaan dan dunia sihir.


" yang mulia, pasukan musuh berdiam di padang Mazu, apa kita perlu memberikan peringatan?" Aden baru saja sampai. untung saja dia di berikan kendaraan berupa burung sihir oleh Gyan, sehingga memudahkannya dalam perjalanan istana dan perbatasan.


" sampaikan tintahku, jika sampai pasukan musuh terus berjalan hingga mencapai radius 50 km segera eksekusi. Tidak perlu menyisakan tawanan" ucap Gyan tegas. lelaki itu berubah dingin dalam sekejab.


" yang mulia.." lirih Aden sampai terkejut tak bisa meneruskan perkataannya.


Gyan mengangkat wajahnya, menatap Aden yang sedikit gentar.


" baik yang mulai, saya akan segera menyampaikan tintah " ucap Aden cepat dan mantap. lelaki itu takut membuat Gyan tersinggung dengan reaksinya.


Gyan tidak jadi marah, hampir saja dia akan menasehati pengawal pribadinya. untung saja Aden bisa dengan cepat menangkap raut kesal Gyan.


......................


Keadaan kapal serta penumpangnya mulai berangsur membaik. Kini yang menjadi nahkoda kapal ada Deon dan Zephyr yang berjaga bergantian. Kedua lelaki itu cukup bisa berkerja sama. Meskipun Zephyr sedikit kesusahan karena tidak biasa melihat peta dengan baik. Sedangkan Deon sudah terlatih dan lebih lihai karena sejak awal tugasnya menemani nahkoda.


Kangta sejak kejadian penyerangan Finnfolk masih berdiam di dalam kamar. Tubuh serta tenaga dalamnya masih belum pulih. Lelaki itu setiap hari terus mencoba meningkatkan energinya. Sayangnya lukanya terlalu parah, jadi hanya bisa menunggu dalam waktu yang lama.


" Kangta bagaimana keadaanmu?" Aislinn masuk ke kamar dengan membawa nampan makanan.


" sudah lebih baik" jawaban itu yang selalu berikan kepada siapapun yang menanyakan keadaanya.


" baguslah, kalau begitu makanlah dulu"


Aislinn duduk di salah satu kursi, biasanya wanita itu langsung pergi entah kenapa kali ini Aislinn menunggu Kangta.


" ada yang ingin kau tanyakan?" lirih Kangta menyelesaikan semedinya.


" aku ingin tau bagaimana monster laut itu pergi? seingatku saat itu kita sudah sampai di pulau. kenapa malah kembali ke ke tempat semula"


" kau dan suamimu terkena sihir fikiran, dia membuat fikiran kalian kacau dan berhalusinasi bahwa semuanya sudah selesai"


" jadi begitu, kau membunuh wanita itu?"


" tidak. dia pergi, melarikan diri" jawab Kangta tak ingin banyak berbicara. Dia juga menutup rapat mengenai Valmira yang memiliki kekuatan.

__ADS_1


" jadi dia tidak akan kembali dan menyerupai seseorang lagi?"


" mungkin selama itu di kapal kita, dia tidak akan berani melakukannya" jawab Kangta dan mengambil makan. setelah mendengar jawaban yang dia inginkan wanita itu pamit pergi.


__ADS_2