Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Penjelasan


__ADS_3

Malam itu berita kematian Ratu Violet serta Pangeran Alvaro langsung menyebar seisi istana. Tak lupa dengan berita kembalinya Putri Valmira bahkan lebih dulu tersebar di seluruh kerajaan.


semua penghuni kerajaan langsung menyambut baik berita ini. Mereka bergembira karena sudah terbebas dari pemimpin yang kejam.


Sayangnya seseorang yang mereka nantikan masih belum sadarkan diri. Valmira kini terbaring di dalam kamar dengan Kangta yang menunggunya dengan setia. lelaki itu juga yang mengatur semuanya, dan dialah yang menyebarkan berita kembalinya Putri Valmira.


Deon kini sedang menerima pengobatan, lelaki itu sudah sadar dari beberapa saat yang lalu.


Kangta menceritakan semua yang terjadi, Deon rasanya tidak percaya.


" jadi maksud tuan nona Alora yang selama ini kita kenal sebenarnya adalah Putri Valmira itu? bagaimana bisa?" tanya Deon yang masih kebingungan.


" iya, Alora adalah putri Valmira. inti jiwanya selama ini di kurung didalam lampion"


" lalu kenapa nona tidak mengingat dirinya?"


" itu yang masih menjadi misteri, saat ini Alora maksudku putri Valmira sedang terbaring di kamar"


Deon hanya mengangguk pelan,


" lalu bagaimana dengan kedua orang itu, Violet dan Alvaro?"


" mereka langsung di masukkan ke penjara"


" sepertinya situasi sudah aman, kalau begitu aku akan menyusul nenek serta bayi G kemari"


" bayi G?"


" anak putri Valmira dan Raja Gyan"


Kangta terdiam sejenak, ini adalah berita yang sudah lama dia nantikan. Lelaki sampai tidak sadar mengeluarkan air matanya.


" iya, segera bawa dia kemari" ucap Kangta dengan penuh harap.


Meski Deon masih sedikit lemah dia tetap pergi ke hutan bersama dengan beberapa prajurit. Kini hubungan mereka bukan lagi tahanan melainkan orang tinggi kerajaan. lelaki itu bahkan meminta 3 kereta kuda untuk ikut bersamanya.


" nenek.." panggil Deon saat membuka pintu pondok.


suasana pondok begitu sepi, membuat perasaan Deon cemas. lelaki itu masuk kedalam ternyata semuanya sedang duduk di belakang pondok sambil membakar ubi.


" nenek, " wanita tua itu langsung menoleh dengan wajah kaget.


" Deon, kau sudah kembali. lalu bagaimana dengan putri?" tanya nenek sambil berjalan mendekati Deon.


" nenek sudah tau jika nona adalah putri Valmira? " tanya Deon yang baru tau jika nenek itu memanggil Alora dengan sebutan putri.


nenek mengangguk berkali-kali.


" Violet berhasil di kalah oleh putri, saya sengaja kemari untuk menjemput nenek dan yang lainnya"


" benar? syukurlah. aku bisa tenang. Ratu Amanis pasti bahagia jika tau hari ini terjadi, ayo kita pergi. aku akan mengambil bayi G dulu" nenek itu segera menuju kamar. Sedang yang lainnya dengan senyum bahagia langsung menyambut Deon dan mendekati lelaki itu.


" apa benar Ratu violet sudah kalah?" tanya wanita asing. Deon hanya mengangguk saja lalu menyuruh mereka berjalan ke tepi hutan dan menaiki kereta. Sedang dirinya akan menunggu nenek keluar.


" ayo, aku sudah siap" nenek itu terlihat sangat bahagia. Dia menggendong G yang sedang terlelap di balik selimut tebal.


perjalanan mereka terasa sangat lama, apalagi nenek yang sudah menunggu hati ini dalam waktu yang lama.


" nenek terlihat sangat bahagia"


" tentu saja, saya sudah menunggu dan yakin bahwa putri pasti kembali. Ingatan saat malam terbunuhnya Ratu Amanis sangat membekas dalam ingatan. saya akan selalu menjaga anggota kerajaan sesuai dengan apa yang Ratu Amanis pesankan padaku" Deon langsung terenyuh.


Kereta mulai memasuki gerbang utama, sebagia pelayan Ratu, nenek langsung bisa hafal jalan serta lorong menuju kamar putri Valmira.


Begitu sampai di ambang kamar, disana sudah ada Kangta yang menunggu. Nenek berjalan masuk tapi dengan pelan Kangta menghalanginya.


" aku ingin menggendongnya" ucap Kangta pelan sambil menatap bayi mungil yang masih tertidur.


" tentu saja" nenek segera membuka ikatan dan membawa bayi G pada Kangta.


Dengan sangat hati-hati Kangta membawanya dalam dekapan.


" tampan sekali" lirih Kangta saat melihat wajah G.


nenek melanjutkan perjalanan, dia masuk ke dalam dengan di temani Deon.

__ADS_1


" putri masih belum sadar, kau tunggulah disini." ucap Deon.


" tentu" jawab nenek itu.


Deon kembali keluar dia ingin bergabung dengan Kangta untuk melihat bayi G.


" dia sangat mirip dengan kakak" ucap Deon saat Kangta mengusap pipi bayi G pelan.


" aku berhutang banyak pada Gyan. karena sudah memisahkannya dengan anaknya" lirih Kangta merasa bersalah.


" jangan seperti itu tuan, jika tuan tidak memisahkannya mungkin sampai saat ini putri Valmira tidak bisa sampai di kerajaan Mystick" hibur Deon yang memang ada benarnya.


" aku akan mengatakan pada Gyan semua nya saat bertemu nanti. Dan meminta maaf dengan sangat menyesal"


" saya yakin kakak pasti akan mengerti keputusan yang tuan ambil"


" aku tau, dia bukan orang pendendam"


Siang harinya Valmira tak kunjung sadar, kini nenek yang menjaganya sedang duduk sambil menenangkan G yang mulai rewel.


ooekk oeekk


" kamu lapar ya, tunggu ibumu yang sedang tertidur. tenang ya" ucap nenek tersebut sambil menggoyangkan pelan dalam dekapan.


ooeekkk ooeekk


suara tangisan itu melengking keras. membuat kesadaran Valmira mulai kembali.


" emm" Valmira mulai siuman. wanita itu membuka matanya. Dia berada di kamarnya.


lalu menatap ke arah sumber berisik.


" Derya, bayi siapa itu ?" nenek tua itu segera berbalik dan menatap Valmira dengan wajah senang.


" putri, anda sudah mengingat saya?" tanya nenek itu memastikan.


" memangnya kapan aku melupakanmu?" jawab Valmira lalu beranjak duduk.


" putri!" nenek itu langsung menangis terharu. Semuanya ini adalah kebahagiaan yang selama ini dia nanti.


" ini bayi anda. bayi G. anda baru saja melahirkan. apa putri lupa?"


" melahirkan bayi? apa bayi Alvaro?!" tanya Valmira ketakutan. jangan sampai dia memiliki bayi dengan lelaki penghianat itu. dia tidak sudi.


" bukan, ini bayi anda dengan lelaki lain. saya tidak tau pastinya. mungkin Deon bisa menjawab pertanyaan itu" jelas nenek.


" Deon? siapa lagi itu?"


" dia teman anda. akan saya panggilkan nanti. Tapi mungkin anda bisa menyusui bayi G terlebih dahulu. sejak kemarin dia belum minum susu"


Valmira seketika merasa canggung, ingatan mengenai hamil dan melahirkan masih belum ada di fikirannya. membuat Valmira bingung harus bagaimana melakukannya.


" mari saya bantu" nenek itu dengan telaten mengajari cara menyusui bayi. Awalnya dia mengira Derya berbohong padanya. Tapi saat bayi G berada dalam dekapannya dan meminum susunya hati Valmira menjadi tenang. kini dia percaya jika dia memang sudah memiliki anak. buktinya air susunya keluar dan bayinya langsung tenang.


" siapa nama bayi ini.?"


" anda belum memberikan nama. biasanya anda memanggilnya bayi G, inisial nama ayahnya. begitu saat putri mengatakannya pada saya"


Valmira menatap bayinya dengan senang. Rasanya begitu senang sampai tidak bisa di utarakan.


" bayi G, kau sangat tampan." lirih Valmira.


setelah selesai menyusui bayinya, Derya memanggil Kangta dan Deon. dia memberitahu jika Valmira sudah siuman tapi Valmira tidak mengingat beberapa hal.


kedua lelaki itupun masuk ke kamar.


" putri," ucap Kangta dan Deon berbarengan.


" ku dengar kalian yang membawaku kemari? kenapa aku bisa bersama dengan kalian? dan kenapa bisa aku memiliki anak? siapa ayah dari anakku?" tanpa basa -basi Valmira langsung mencerca mereka dengan pertanyaan.


" putri perkenalkan saya Kangta, penyihir Osmond"


" saya Deon, penyihir Reuben kerajaan Garamantian"


mereka menjadi lebih formal sekarang. Alora yang mereka kenal sudah berubah menjadi putri Valmira, Anak penyihir hebat Marilla.

__ADS_1


" kami kemari memang sedang mencari kerajaan Mystick. karena kerajaan ini melakukan sihir hitam yang memicu malapetaka di Azerbaza. Dan ternyata semua itu berkaitan dengan inti jiwa putri yang selama ini di kurung oleh Violet" jelas Kangta secara singkat.


" dia memang mengambilnya. lalu bagaimana kalian bisa sampai disini. padahal kerajaan Mystick dilindungi oleh tabir ibuku?" tanya Valmira lagi.


" andalah yang membawa kami kemari"


Valmira terdiam dari cara bicara dan bahasa tubuh, dia bisa menilai jika Kangta merupakan penyihir hebat.


" jadi berapa lama kalian bersamaku?"


" tidak lama hanya selama perjalanan menuju ke kerajaan hubungan kita sedikit lebih dekat" jawab Kangta. Deon tidak berani menjawab. dia mendadak gagu, aura alora berbeda. kini menjadi Valmira wanita itu terlihat sama dengan kakaknya. begitu dingin dan tegas.


" lalu siapa ayah dari anakku?" mendengar pertanyaan ini Kangta dan Deon saling pandang. Bagaimana bisa Valmira tidak mengingat Raja Gyan.


" itu, dia adalah kakak angkat saya. Raja Gyan dari Garamantian" jawab Deon.


" Raja Gyan? aku menikah dengannya? bagaimana bisa. aku sudah memiliki suami, dia adalah Alvaro. meskipun aku juga sulit menerimanya"


Kangta dan Deon kembali bingung menjelaskannya.


" Putri saat itu anda tidak ingat hal ini, bahkan menyebut diri anda dengan nama Alora. mungkin ada sesuatu hal yang terjadi yang membuat anda kehilangan ingatan anda" saut Kangta yang membuat Valmira akhirnya paham. dia akan menanyakan hal ini pada Violet. Dia pasti sudah melakukan sesuatu sehingga dirinya tidak mengingat apapun.


" baiklah kalian bisa pergi" sudah cukup bagi Valmira. untuk seterunya dia akan mencari tau sendiri.


" kami pamit putri"


Kangta dan Deon keluar kamar.


" Derya aku ingin mengunjungi makam ibu dan bibi" ucap Valmira lemah. Sudah banyak sekali hal yang terjadi. membuatnya merindukan 2 sosok yang selama ini melindunginya.


" baik putri, saya akan menyampaikan agar para pelayan mempersiapkan keperluannya"


Derya keluar, tinggal dirinya dan bayi G. bayinya ternyata tidak tidur. dia menatapnya sambil tersenyum. seakan mengajaknya bercanda.


" G. ayahmu adalah Raja Gyan" ucap Valmira.


bayinya kembali tertawa.


" kau senang mendengar mana itu?"


bayinya mengangkat tangan ingin menggapai wajah ibunya. Valmira ikut gemas jadi membawanya dalam gendongan dan bercanda ria.


Sore hari tiba, Valmira di dalam kereta menuju makam Ratu Marilla dan Bibi nya, Ratu Amanis. di dalam rombongan juga ikut serta Kangta dan Deon yang sejak lama ingin mengetahui kebenaran akan kematian Ratu Marilla.


Mereka sampai di sebuah taman rumput yang luas. Disana ada beberapa makam yang terawat rapi.


" ikuti aku" ucap Valmira yang menuju ke makam ibunya.


Ratu Marilla. itu yang tertulis dalam batu nisan. Di sampingnya ada juga tulisan Raja Haf.


" ini makam ibuku" ucap Valmira, dia tau jika inilah yang ingin Kangta lihat.


" apa kau tau jika berita meninggal ibumu masih menjadi misteri bagi beberapa orang?" tanya Kangta


" iya, ibu meninggal saat aku masih kecil. selama ini yang merawat ku adalah Ratu Amanis. bagiku dialah ibu ke dua ku" jelas Valmira.


" lalu apa Raja Haf adalah ayahmu?"


" bukan, kata bibi ayahku adalah lelaki pengecut yang tidak perlu di kenang. sampai sekarang pun aku tidak tau siapa ayahku. Tapi aku memiliki keyakinan bahwa suatu hari dia akan datang padaku"


Kangta terdiam mendengar jawaban Valmira.


" lalu siapa Raja haf?"


" dia adalah adik ibuku, bukan adik kandung. Hanya itu yang aku tau"


" baiklah, aku pergi dulu. kau bisa leluasa menyapa ibumu" Kangta berjalan menjauh diikuti dengan Deon. mereka menunggu di samping kereta kuda.


" ibu, aku sudah kembali. aku sendiri tidak ingat kapan aku meninggalkan kerajaan. tapi ini adalah buktinya. bayi laki-laki ini adalah cucu ibu. namanya G. aku belum memilihkan nama yang bagus untuknya"


" ibu, beberapa tahun kebelakang telah terjadi kejahatan yang terjadi di kerajaan. Aku merasa bersalah karena baru bisa datang sekarang. Rakyat sudah menderita akibat di pimpin oleh Violet. wanita itu bahkan sudah mengambil inti jiwaku. namun jangan khawatir. dia sekarang sudah mendekam di penjara. aku sudah mengambil tenaga dalamnya. dia tidak akan bisa melakukan sihir lagi"


" ibu yang ingin kau sampaikan adalah terimakasih. aku merasa jika semua ini mungkin sudah itu ketahui. Alasan ibu membagi inti jiwa ibu dan mempertemukan ku dengan orang-orang baik. aku merasa terlindungi. Aku merasa selama ini ibu yang sudah menuntunku. terimakasih" ucap Valmira mengeluarkan semua yang dia rasakan setelah inti jiwanya kembali. wanita itu lalu meletakkan bunga dan pergi ke makam bibinya.


Sama seperti tadi, Valmira mengucapkan banyak terimakasih. sayangnya dia masih belum mengingat kejadian saat bibinya memberikan seluruh energinya kepadanya malam ini. masih membutuhkan banyak waktu sampai ingatan Valmira bisa kembali pulih.

__ADS_1


menjelang malam Valmira kembali ke kerajaan dia berniat akan menemui Violet dan Alvaro besok. Dan menanyakan alasan kenapa mereka tega melakukan hal ini. Segala kekacauan yang mereka buat, harus segera di selesaikan. Valmira harus mengetahui secara detail apa yang sudah mereka lakukan saat dia menghilang. termasuk sihir hitam apa yang sudah mereka berdua kembangkan. Valmira merasa sangat kasihan dengan rakyat. Dan hari ini juga saat Kangta memintanya untuk mengeluarkan tahanan wanita. Valmira langsung menyanggupi, mekipun dia masih tidak atau kenapa bisa ada tahanan sebanyak itu di istana.


__ADS_2