
" di sebelah sana Alora" ucap Shana memberikan arah.
Suara itu bisa di dengar jelas oleh Gyan yang memang sedang menuju taman kerajaan. Lelaki itu tadi datang ke kamar Shana dan mendapati pelayan pribadi selirnya berada di sana. Wanita itu memberikan kabar jika Ratu dan selir sedang berada di taman kerajaan. Dan tanpa berlama-lama Gyan segera menyusul ke taman kerajaan.
Dan sinilah Gyan melihat selir nya berada di tengah kolam dengan Shana yang berteriak riang. Sangat mudah membuat emosinya meluap.
Gyan berjalan dengan cepat mendekati kedua wanita itu, lelaki itu berniat memarahi Shana terlebih dahulu, tapi kemudian..
byurr
Gyan langsung memalingkan wajahnya kearah Valmira. Wanita itu terjatuh ke dalam kolam. Seluruh tubuhnya tenggelam.
" Alora!" teriak Gyan langsung berlari ke kolam.
Sedangkan Shana yang menyadari kehadiran Raja, dengan cepat langsung menghentikan tawanya. Digantikan dengan wajah pucat takut mendapatkan hukuman.
" Alora!" Gyan melompat ke dalam kolam, mencari tubuh Valmira yang entah tenggelam dimana. Gyan berenang semakin ke tengah kolam, Dan merasakan jika dasar kolam semakin dalam. Gyan akhirnya melihat tubuh Valmira yang berada di tak jauh dari nya. Dengan cepat Gyan menarik tangan wanita itu setelahnya memeluk tubuhnya membawanya keluar dari kolam.
" yang mulia" ucap Aden yang juga ikut masuk ke kolam dan membantu Raja menuju ke tepi.
Ratu Shana menyaksikan semua kejadian dalam diam. Jantungnya berdegup kencang dan perasaannya tidak tenang. Dia sudah melakukan hal buruk pada selir kesayangan Raja di depan mata Raja Gyan sendiri. Ini pasti tidak mudah, dia harus menyiapkan alasan yang kuat agar terhindar dari hukuman.
Raja Gyan dan Aden berada di tepi, beberapa penjaga dan pelayan dengan sigap membawakan beberapa selimut.
" ini yang mulia" Aden memberikn selimut kepada Gyan. Tapi Gyan malah memakaikannya pada tubuh Valmira.
" panggil tabib segera" Gyan langsung menggendong tubuh Valmira dan berlari menuju kamar wanita itu. Untung saja jaraknya tidak seberapa jauh dari taman.
pelayan yang disuruh juga berlari menuju ruang tabib dan melaporkan perintah yang mulia.
Gyan tiba di kamar Selir Agung dan langsung meletakkan tubuh Valmira di sofa ruang tengah.
__ADS_1
" Alora, " panggil Gyan sambil mengelap air yang membasahi tubuh Valmira.
" yang mulia" Aden menyelimuti tubuh Gyan menggunakan selimut.
" Alora, bangun" Gyan menepuk-nepuk pipi Valmira agar sadar.
" Selir" ucap Fleur sedih saat dirinya baru saja datang. Seorang pelayan memberitahunya soal kejadian di kolam. Fleur berlari cepat menuju kamar. Dan kini dengan nafas terengah-engah dia melihat Valmira yang sudah tak sadar di atas sofa.
Sama Ratu memintanya pergi, perasaan Fleur memang sudah tidak enak. Dia sudah berfikir buruk pada Ratu. Dan saat melihat yang mulia raja datang ke kamar Ratu, tanpa perlu di tanya Fleur sengaja untuk melaporkan keberadaan Selir.
" dimana para tabib?" teriak Gyan marah. Valmira tidak kunjung sadar. dan Dia bingung harus melakukan apa.
" mereka dalam perjalanan yang mulia" jawab Aden mencoba menenangkan junjungannya.
" yang mulia" akhirnya beberapa tabib khusus sampai di kamar.
" cepat periksa" ucap Gyan ketus.
" tubuh selir terlalu banyak menghirup air," jawab salah satu tabib, setelah beberapa saat memeriksa.
" lalu bagaimana mengeluarkannya?" tanya Gyan emosi.
" dengan menekan bagian dada atau menyedotnya keluar" jawab tabib itu takut. Gyan tidak mungkin membiarkan salah seorang dari tabib ini melakukannya. Mereka semua laki-laki.
" siapkan baju kering" ucap Gyan yang membuat semua orang bingung. Lelaki itu membawa tubuh Valmira kedalam kamar, dia akan melakukannya sendiri. Dengan bantuan sihir tentu saja.
" baik yang mulia" jawab Fleur, lalu pergi mengambil baju dan beberapa selimut di ruang ganti.
" ini yang mulia" Fleur ikut masuk ke dalam kamar dan meletakkan semuanya di atas ranjang. Gyan menatap sekilas sambil memberikan kode untuk pergi. Fleur mengerti, wanita itu menutup pintu dari luar.
Gyan menatap Valmira sesaat, dia memulai sihirnya. merapal kan mantra dan meletakkan tangannya di atas dada Valmira. Perlahan membawa nya naik, dan saat mendekati mulut Gyan membuka bibir Valmira kemudian air keluar dari sana. Sayangnya hal ini tidak lantas membuat wanita itu sadar, Valmira masih menutup matanya.
__ADS_1
Gyan sedikit lega, pernafasan Valmira mulai terlihat normal. Lelaki itu mengambil baju kering dan mengganti pakaian Valmira.
" kalian periksa lagi" perintah Gyan saat keluar dari kamar. Tabib dengan segera melaksanakan perintah. mereka memeriksa dengan seksama, jangan sampai ada yang terlewat dari pemeriksaan mereka.
" kondisi selir sudah lebih baik, kami akan membuat ramuan agar selir bisa kembali sadar" ucap tabib dengan yakin.
" segera siapkan" jawab Gyan lalu mendekati ranjang. Dia mengelus kepala Valmira pelan. Selirnya begitu kasihan.
Waktu terus berlalu, Gyan sudah berada di istana. Dia mengganti pakaiannya yang sebelumnya basah. Setelah memastikan jika Valmira baik-baik saja Gyan bersedia meninggalkan wanita itu.
" yang mulia" Aden memberikan ramuan penghangat tubuh. Dia tak mau Rajanya juga ikut sakit.
" em" Gyan langsung meminum ramuan itu dengan cepat.
" kau menerima laporannya?" tanya Gyan yang sebelumnya menyuruh Aden meminta mata-mata kediaman Shana melaporkan apa saja yang terjadi di sana.
" Ratu Shana sering mendapatkan kunjungan dari pejabat dalam, lalu masalah selir. Mereka mengatakan jika selama ini Ratu berpura- pura saja, mereka sempat melihat yang berjalan normal saat kembali tadi" jelas Aden, Gyan diam tanpa ekspresi. Tapi hatinya membara penuh emosi.
" dia semakin berani saja" ungkap Gyan, kali ini akan melakukan sesuatu pada wanita itu sebagai penebus kesalahannya selama ini.
" apa yang mulia memiliki perintah?" tanya Aden yang juga ikut kesal setelah mendengar informasi ini dari mata-mata.
" nanti saja, pelan- pelan" jawab Gyan dengan seringai licik.
Keadaan Valmira sampai malam hari tak kunjung sadar. Wanita itu masih terlelap meski sudah banyak usaha yang dilakukan oleh tabib khusus.
Fleur terus mendampingi di samping Valmira, sambil terus menggosok telapak tangan wanita itu. Sejak tenggelam tubuh Valmira terasa sangat dingin. Padahal seluruh kamar sudah di penuhi beberapa perapian. Tapi tetap saja tidak membuahkan hasil.
" Alora sadarlah" gumam Fleur terus menerus, dia menyesal sudah meninggalkan wanita itu tadi.
Beberapa saat setelahnya jari-jari Valmira bergerak fi barengi dengan kelopak matanya yang membuka.
__ADS_1
" bibi..!" teriak Valmira langsung terbangun dari pingsannya.