Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Menenangkan


__ADS_3

" Kangta bagaimana situasi badai ini? kita sudah berjam jam tidak bisa melewatinya?" Zephyr tanpa permisi langsung masuk ke anjungan dan bertanya dengan nada protes.


" tuan Kangta sedang berusaha keras mencoba menyelamatkan kapal" jawab Deon sedikit emosi.


Apa pasangan itu tidak melihat bagaimana Kangta dengan sekuat tenaga mengamankan kapal. Tubuh Kangta basah karena keringat yang terus mengalir deras.


" tabir ini menarik energi sihir yang aku keluarkan, mungkin aku tidak bisa mempertahankan kapal lebih lama lagi. kalian segera persiapkan perlindungan diri" lirih Kangta dengan nafas yang tersengal-sengal.


" tuan, anda jangan terlalu memaksa" Deon semakin khawatir dengan kondisi Kangta. Jangan sampai terjadi hal yang buruk pada tuannya. siapa lagi yang akan melindungi mereka.


" lalu bagaimana? apa kita semua akan tewas?" Zephyr sudah mulai panik. Dari anjungan ini mereka semakin jelas melihat bagaimana kondisi samudra. petir, hujan serta ombak yang semakin tinggi semakin membuat gentar siapapun yang melihatnya.


" aku akan berusaha mengamankan laju kapal, kita akan membelokkan arah agar menjauh dari tabir ini" Kangta bersuara lagi.


" lebih baik begitu, kita tidak bisa melewati tabir ini tanpa mempersiapkan apapun" Aislinn terpaku menatap jendela depan. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di Haluan kapal ada seorang wanita berdiri menghadap lautan.


" siapa itu?" sambil menunjuk ke arah haluan.


Seketika ke empat orang itu mengalihkan pandangannya menuju arah yang Aislinn tunjukkan.


Begitupun dengan Kangta, di tengah konsentrasinya lelaki itu menatap tajam ke arah haluan.


" bukankah itu nona Alora?" Deon mengenali pakaian yang di kenakan Valmira.


" Alora?" gumam Kangta.


semua mata semakin mempertajam penglihatan, dan benar saja. Kini mereka dengan jelas mengenali wanita yang berdiri di haluan, seakan menantang badai yang saat ini menerjang kapal, Valmira dengan tegap berdiri tanpa merasa takut.


" kenapa dia di sana? itu sangat berbahaya" Deon memutuskan untuk segera menyusul Valmira.


Brakkk


uhukk uhukk


Kapal bergoyang dengan keras. sihir Kangta sudah tidak mampu mempertahankan kapal. lelaki itu terduduk dan muntah darah.


" tuan!" Deon kembali masuk dan jalan sempoyongan.


Zephyr dan Aislinn segera berpegangan pada dinding serta meja di dekat mereka. Kapal tidak memiliki perlindungan, kini penumpang bisa merasakan bagaimana besarnya ombak yang menerjang. mereka mulai kehilangan keseimbangan. Barang-barang mulai berjatuhan suasana mendadak pelik. Sejak keberangkatan mereka kondisi kapal yang stabil membuat mereka tidak pernah merasakan bagaimana ombak lautan.

__ADS_1


" Alora, bagaimana dia" dengan susah payah Kangta berusaha berdiri untuk melihat haluan kapal.


" nona masih disana" kawan Doen yang melihat kaca.


Seakan tidak tergganggu sama sekali dengan badai serta angin yang menerpa. Hujan sekali lebat, jarak pandang semakin buram.


" bantu aku keluar" Kangta memerintah.


" tapi bagaimana dengan.."


" tidak masalah"


Deon dan Kangta berjalan sempoyongan menuju pintu anjungan. Zephyr dan Aislinn tidak berani bergerak sama sekali, apalagi meninggalkan anjungan. Mereka tidak mau terlempar keluar kapal dan berakhir tewas.


" tuan hujan semakin lebat, ombak juga semakin besar" suara Deon sudah tidak terdengar lagi.


Begitu keluar dari pintu anjungan mereka langsung di sambut dengan angin hebat. Tubuh mereka hampir terbawa jika tidak erat memegang pegangan tangga.


" tuan!" Deon ketakutan,Kangta melepaskan pegangannya dan berjalan sendirian menuruni tangga.


Deon yang masih sehat saja kesusahan, apalagi dengan Kangta yang energinya sudah habis serta fisik yang tua.


" Alora!" panggil Kangta yang berada beberapa meter di belakang wanita itu.


Namun Valmira sama sekali tidak menghiraukan, wanita itu menatap ke depan dengan tangan terbuka.


Panggilan namanya itu terus memenuhi telinganya membawanya keluar kamar menuju haluan. Meski petir, hujan badai terjadi di luar namun bagi Valmira itu hanya gerimis biasa. Tidak ada pengaruhnya sama sekali.


' Valmira, Valmira kemari lah'


panggilan itu terus terngiang di kepalanya. Valmira menatap lautan seakan akan mengeluarkan kilatan cahaya biru. Membuatnya terpana menatap cahaya memabukkan itu.


" Alora!" panggil Kangta sekali lagi. Lelaki itu tidak bisa lebih dekat lagi, dia terus berpegangan pada dinding ruang kendali kapal.


Valmira terus menatap ke depan, perlahan tangannya terbuka. Cahaya biru keluar dari telapak tangannya. Dan dalam hitungan detik tangan kanannya bergerak ke atas. Awan serta petir semakin menggila.


Kangta menunduk namun tetap mengawasi Valmira.


mulut wanita itu terbuka mengucap sesuatu dengan bahasa lain.

__ADS_1


Tabir pelindung kini dengan jelas mengenali siapa yang datang, perlahan badai mulai tenang, hujan pun mereda. Valmira terus mengeluarkan cahaya biru dari tangannya. Perlahan tubuhnya menjadi ringan naik ke atas, sampai kakinya tidak menapak lagi di kapal.


Angin mengelilinginya seakan ingin membawa wanita itu pergi.


" Alora"


Suasana mulai kondusif, kesempatan itu di gunakan Kangta untuk mendekati tubuh Valmira.


" Alora, sadarlah"


Kangta bisa merasakan jika wanita di depannya berada dalam ambang kesadaran. Lelaki itu menahan tubuh Valmira agar tidak terbawa angin yang melingkupinya. Dengan sisa energi yang dia miliki, Kangta berusaha menurunkan tubuh Valmira yang masih melayang.


Setelah beberapa saat, awan hitam mulai menyibak. lautan kembali tenang serta hujan langsung reda. Di saat yang sama tubuh Valmira turun dan langsung terduduk di samping Kangta dalam keadaan pingsan.


" Alora" panggil Kangta sekali lagi.


" tuan, apa yang terjadi?" Deon berlari menuju haluan.


" bawa dia ke kamar" jawab Kangta tak ingin banyak bercerita. Dia sangat khawatir dengan kondisi Valmira.


" baik tuan" Deon dan Kangta akhirnya memindahkan Valmira dan menidurkannya di kamar.


Sedangkan Zephyr dan Aislinn yang menyadari jika kapal kembali tenang, kemudian mengecek dari jendela. Badai sudah berlalu, mereka berhasil melewati tabir pelindung pertama Marilla.


" sepertinya kita berhasil melewati badainya" ucap Zephyr.


" iya, dimana yang lain?" Aislinn tidak melihat Kangta, Deon ataupun Valmira di luar kapal.


Keduanya lalu keluar dan mencari yang lainnya.


" apa yang terjadi padanya?" tanya Aislinn saat mendapati kamar Valmira ramai.


Sayangnya baik Kangta maupun Deon tidak menjawab pertanyaan itu. keduanya sibuk mengambil kain untuk menyelimuti tubuh basah Valmira.


" kau, segera bantu Alora berganti baju, tubuhnya basah kuyup" perintah Kangta pada Aislinn. Karena situasi yang tegang Aislinn langsung mengangguk. semua lelaki keluar kamar hingga hanya dia dan Valmira.


Aislinn menatap kesana kemari, mencari baju Valmira yang sudah berserakan di bawah. Memilih yang masih kering serta sebuah handuk tebal. Dengan hati-hati Aislinn melepaskan baju Valmira. Terasa tubuh wanita ini begitu dingin, bahkan bibir Valmira membiru. Aislinn mempercepat aktifitasnya agar Valmira tidak semakin kedinginan.


" apa yang terjadi padamu" lirih Aislinn setelah selesai mengganti pakaian dan kini mengeringkan rambut Valmira menggunakan sihir miliknya.

__ADS_1


__ADS_2