Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan

Calon Ratu Menjadi Budak Persembahan
Tidak Ingat


__ADS_3

Situasi di luar menjadi cerah seketika, bahkan mereka baru menyadari jika ternyata badai sebelumnya terjadi saat siang hari. Semua tampak lega dan bersyukur bisa terlepas dari badai ganas itu. Kini Zephyr dan Deon mulai merapikan bagian geladak kapal. Segala macam benda bahkan bahan makanan berserakan di geladak serta haluan kapal. mereka menyusun kembali barang-barang itu ke tempat semula.


Sedangkan Kangta masih di dalam kabin, lelaki itu duduk di kursi sambil menutup matanya. Dia harus menstabilkan tenaga dalamnya. melewati badai tadi sangat menguras energi sihirnya. Dan kini tubuhnya mulai melemah dan memerlukan banyak waktu untuk bisa pulih kembali.


" Tuan, nahkoda kapal menghilang" lapor Deon dengan nada panik. Kangta membuka matanya. Dia melupakannya, pasti lelaki itu terlempar ke laut saat dia gagal mempertahankan kapal.


" cari di sekitaran laut, Dia mungkin terlempar dan jatuh ke air" jawab Kangta.


" baik tuan" Deon segera pergi.


Kangta menarik nafas panjang, kemungkinan terburuk nya adalah mereka akan kehilangan nahkoda. Kini harus ada dari ke 5 orang yang tersisa untuk bergiliran menahkodai kapal. Dan nama Aislinn atau Valmira tentu tidak mungkin menjaga kendali.


Soren menjelang, Kangta berjalan menuju kamar Valmira. Wanita itu belum sadar sejak badai reda. Kangta berdiri di samping ranjang, mengamati tubuh Valmira yang memiliki energi sihir yang banyak. Kangta mengingat kembali keanehan yang terjadi pada wanita ini, bagaimana bisa Valmira menenangkan badai dengan Kekuatannya. padahal energi miliknya saja belum cukup untuk mempertahankan kapal. Bahkan Kangta juga baru menyadari jika sebenarnya tabir Marilla akan menghisap energi sihir yang dikeluarkan, jadi inilah alasannya penyihir apapun tidak akan bisa melewati tabir ini.


" emm" Alora mulai terusik, Wanita itu membuka perlahan matanya.


" bagaimana keadaanmu?" tanya Kangta yang kini duduk di tepi ranjang.


" em, apa yang terjadi?" Valmira balik bertanya. wanita itu mencoba mengingat kembali hal yang terjadi terakhir kali.


" badai sudah reda?" lirihnya.


Kangta diam saja, ada yang tidak beres dengan Valmira.


" kau berdiri di haluan kapal saat badai itu melanda. apa kau tidak ingat?"


" berdiri di haluan kapal? " sambil mengingat kembali.


' Valmira, Valmira'


suara itu kembali lagi. Valmira menengok kesana kemari.


" ada apa?" Kangta ikut kebingungan.


" Valmira, siapa dia?"


" Valmira?" Kangta tidak mengenal nama itu, tapi kedengarannya tidak asing juga.


" aku mendengar panggilan itu berulang kali" Valmira terlihat cemas. Dia mungkin sedang berhalusinasi, tapi hal itu membuat tubuhnya bereaksi berbeda.


" aku pernah mengatakan jika memimpikan wanita berambut putih jatuh ke jurang kan. Wanita itu, wanita itu bernama Valmira" lanjut Valmira. Mengarungi lautan membuat energi Valmira semakin membaik, apalagi dengan gelang milik ibunya. seakan tubuhnya kembali terisi dengan energi yang seharusnya.


" jika kau terganggu suara itu kau bisa tutup telingamu. jangan biarkan panggilan itu terdengar olehmu" saran Kangta. Dia takut jika panggilan itu akan membuat Alora celaka. Bagaimanapun setelah melewati tabir pertama, mereka kini berlayar dalam lautan sihir. Apapun bisa terjadi bahkan zona waktu bisa berubah kapan saja.


" baiklah" Valmira mengangguk pelan.


" aku akan menyuruh Aislinn untuk menyiapkan makanan untukmu" Kangta beranjak lalu pergi dari kamar.


Di geladak kapal, Zephyr masih sibuk menata barang-barang sedangkan Deon masih belum kembali. Sepertinya dia masih mencari nahkoda yang hilang itu.


" Kangta lihatlah sepertinya kapal tidak berjalan. Di bawah sana sama sekali tidak ada tanda-tanda ombak akibat pergerakan kapal" Zephyr menunjukkan bagian lambung kapal.


Kangta bersandar di pagar dan melihat bagian yang di tunjukkan. Dan benar saja, lautan sangat tenang bahkan tidak ada ombak sama sekali. Seakan mereka berada di danau yang tenang.

__ADS_1


" kita berada di lautan sihir, tidak heran apapun bisa terjadi"


" kita seperti mengapung saja, layar kapal sudah tidak bisa berfungsi lagi, dan nahkoda menghilang. bagaimana kita bisa melewati lautan ini?"


" aku akan memikirkan cara, jika keadaan tetap tidak berubah"


tap tap tap


" tuan, " Deon sudah kembali. Lelaki itu berjalan mendekati Zephyr dan Kangta yang ada di pagar geladak.


" saya tidak menemukan nahkoda kapal, saya sudah berkeliling di sekitaran kapal. Dan setelah saya amati dari atas, lautan ini sama sekali tidak ada ombak. Bahkan langit selalu sama dan waktu berlangsung sangat lama" jelas Deon, dia lebih dulu menyadari keanehan dari lautan. Jadi sengaja mengeluarkan sihir untuk melayang ke atas. Dan benar saja, mereka seakan tidak berada di lautan. Tak ada angin ataupun ombak.


" apa mungkin kita terjebak dalam tabir selanjutnya?" celetuk Zephyr.


" entahlah kita tunggu saja beberapa lama. Sembari terus mengamati keadaan sekitar" balas Kangta. keduanya mengangguk kemudian mereka berpencar.


Kangta kembali ke kamarnya, tubuhnya rasanya remuk redam. Akibat energinya yang menipis, lelaki itu harus memulihkan diri dengan cepat. Dia tidak mau orang lain menyadarinya, bisa-bisa mereka akan cemas dan situasi menjadi lebih tegang lagi.


Waktu terasa begitu lama, tapi hari baru masuk malam hari. Mereka saat ini berkumpul di kabin mengelilingi meja makan. Hanya Valmira dan Kangta saja yang tidak disana, jadi Aislinn mengantarkan makanannya ke kamar masing-masing.


" keadaan semakin membingungkan kita tidak tau berapa hari kita terjebak disini. Waktu menjadi pelan dan itu tidak normal" jelas Zephyr yang mulai di landa kecemasan.


" aku juga berfikiran begitu, tapi itu menandakan kita bisa semakin dekat dengan pulau Marilla" Deon mencoba mengambil sisi positifnya. Semua penumpang pasti di landa kekhawatiran. Jangan sampai hal ini membuat mereka berpecah belah.


" sudah, sepertinya kita harus menunggu beberapa hari untuk bisa memastikannya" redam Aislinn.


Makan malam berlangsung lancar, semuanya kembali ke kamar masing-masing.


Kerajaan Prysona masih belum menandakan ingin berdamai, apalagi Gyan secara khusus membalas surat Raja. Disana lelaki itu mengatakan tidak akan mencabut perkataannya dan sampai kapanpun Shana yang sudah melakukan praktik sihir terlarang tidak di perbolehkan kembali ke Garamantian. Gyan juga dengan tegas menjelaskan bahwa kerajaan Garamantian siap menerima apapun yang Raja Prysona ancamkan. Gyan tidak akan takut, berada di medan perang sudah menjadi kebiasaannya sejak lama.


" bajingan!" teriak Raja. Dia benar-benar tersulut emosi membaca surat dari Raja Gyan. Tidak ada sedikitpun kata maaf untuk seseorang yang sudah menghina putrinya.


" yang mulia, mohon kendalikan emosi anda" salah satu pelayan pribadinya mencoba mengingatkan.


" Gyan brengsek, segera kumpulkan para penyihir. Kita akan berperang melawan Garamantian!" seru Raja.


" yang mulia, mohon anda pikirkan kembali. Keadaan kerajaan masih belum stabil, apalagi rakyat nanti..."


" kau sedang menasehatiku? lancang sekali!".


" ampun yang mulia, saya tidak berani" pelayan itu langsung bersimpuh meminta maaf. Dia tidak mau menerima hukuman, pasalnya emosi Raja sedang meluap-luap.


" pergi dan laksanakan perintahku!"


" baik yang mulia"


pelayan itu pergi dengan lari terbirit-birit. amukan Raja benar-benar menakutkan. lebih baik dia cari aman dan tidak banyak bicara.


Sedangkan Shana yang berada di dalam kamarnya, masih saja marah atas keputusan Gyan terhadap dirinya. Bagaimana bisa lelaki itu dengan mudah mencampakkannya.


" lihat saja, balasan ku tidak akan main-main, Gyan" lirih Shana sambil mengepalkan tangannya.


wanita itu kini tengah menunggu seseorang yang sudah lama sekali tidak bertemu sejak pesta di Garamantian.

__ADS_1


Hari ini Shana secara khusus memanggil seseorang itu karena dia memiliki niat khusus untuk balas dendam.


" Yang mulia, tamu anda sudah datang"


" persilakan masuk"


seorang lelaki masuk dengan sudut bibir tertarik sebelah. Dia sudah menunggu sejak lama, muridnya ini suatu hari pasti akan membutuhkannya.


" lama tak berjumpa Shana" ucap lelaki itu lalu mendekati Shana.


" duduklah aku akan menjelaskan alasan kenapa memanggilmu kemari" ucap Shana membuat tangan lelaki itu yang awalnya ingin mengelus rambut Shana berakhir terhenti.


" em baiklah" lelaki itu dengan sedikit terpaksa duduk di depan Shana. Meksi Shana adalah muridnya tapi wanita ini memiliki status yang lebih tinggi darinya. Sejak awal Shana hanya memperlakukannya seperti seorang pelayan, tidak ada rasa hormat, yang ada rasa saling membutuhkan seperti ini.


" jadi apa yang bisa aku bantu?" lelaki itu menyilangkan kakinya dengan sombong. dia merasa jika Shana sangat memerlukan bantuannya, maka ini saatnya dia jual mahal.


" aku ingin kau membantuku mengirimkan sihir hitam pada Gyan"


" Gyan? bukankah dia lelaki yang kau cintai itu. kenapa apa dia membuangmu atau bahkan mengusirmu dari kerajaannya?"


" diam kau! jangan banyak tanya, kau bisa lakukan itu apa tidak?"


" sihir hitam semacam apa?"


" kutukan, aku ingin kau mengirim kutukan pada lelaki arogan itu" balas Shana penuh keyakinan.


" situasi hatinya sedang buruk setelah kematian selirnya. aku ingin hal itu kau manfaatkan untuk memberinya kutukan. Aku ingin dia menyesal telah memperlakukanku dengan buruk lalu mati secara perlahan" lanjut Shana dengan mata berbinar. Dia tidak sabar menunggu hal itu terjadi.


" kau minta terlalu banyak, Shana. itu adalah hal cukup fatal"


" kenapa? aku sudah menyiapkan banyak tumbal. kau jangan khawatir"


" kali ini tebusannya bukan hanya tumbal, mengirim kutukan kepada Gyan, yang seorang penyihir hebat tentu tidak akan mudah. Aku menginginkan bayaran yang lebih besar"


" apa, katakan saja. aku pasti bisa memberikannya"


" kau yakin? selain bisa tertolak, kutukan yang tidak berhasil malah akan kembali pada yang mengirim, resikonya terlalu besar. Apa kau masih berani melakukannya?"


" jangan bertele-tele, kau mampu atau tidak. Aku akan mencari orang lain jika kau tidak mampu" kesal Shana.


" Shana, aku tentu bisa melakukan semua permintaanmu itu,.asalkan kau memberikan bayaran yang setimpal"


" tenang saja, apa yang kau minta?"


Lelaki itu beranjak lalu berdiri mendekati Shana tak lama membungkukkan badannya membuat mulutnya berada tepat di depan telinga Shana.


" aku minta keperawanan mu" bisiknya tanpa rasa hormat.


" Douglas! berani sekali kau!"


" hahahahahaha" lelaki itu tertawa puas. Sedangkan Shana menatap dengan tajam.


" jika tidak mau ya sudah. Di seluruh Prysona hanya aku yang bisa mengabulkan permintaanmu. Kau pikirkan baik-baik bayaranku, sayang. hahahahah" Douglas beranjak keluar dari kamar. Dia tau benar jika selama di Garamantian, Gyan tidak akan sudi menyentuh Shana. Sudah sejak lama Douglas memuja kecantikan wanita ini, kini waktu yang pas untuk bisa menikmatinya.

__ADS_1


__ADS_2