
" yang mulia, selir Alora sudah sadar" lapor Aden kepada Raja yang tengah berada di ruang kerjanya.
"kita kesana"
Gyan segera berdiri dan meninggalkan istana. Lelaki itu tidak bisa fokus sedari tadi menunggu kabar ini.
" yang mulia" ucap semua pelayan kamar selir Agung saat Gyan datang. Lelaki itu tidak membalas sama sekali, dan langsung menuju kamar tidur Valmira.
Dilihatnya Valmira sedang duduk bersandar di ranjang, dan Fleur tengah menyuapi wanita itu dengan ramuan dari tabib. Perapian di sana juga sudah di ambil, karena suhu Valmira mulai normal.
" yang mulia" ucap Fleur.
wanita itu berdiri dan menjauhi ranjang. Memberikan tempat untuk Gyan berada di samping Valmira.
" bagaimana keadaanmu?" tanya Gyan khawatir.
" saya baik, sudah tidak apa-apa" jawab Valmira tenang sambil tersenyum tipis.
" benar? tidak ada yang sakit?" Gyan memastikan.
" tidak ada, saya sudah kembali sehat" jawab Valmira yakin. Tubuhnya tidak terasa sakit. Hanya dadanya yang sedikit berat. Valmira tidak mungkin mengatakan hal itu, bisa-bisa Gyan malah panik dan menyalahkan para tabib.
" jangan berbohong , kau tidak sadar hampir setengah hari Alora" Gyan seakan tidak percaya dengan ucapan Valmira. Tidak mungkin bisa secepat itu pulih.
" benar yang mulia. Hanya tubuh saya yang masih lemas" balas Valmira sedikit membuat Gyan percaya.
" kau sudah makan?"
Valmira menggeleng pelan.
" ramuannya belum selesai saya minum" jawab Valmira sebelum Gyan marah.
" mana" Gyan segera meminta mangkuk berisi ramuan yang ada di tangan Fleur. wanita itu dengan cepat langsung memberikannya pada Aden, karena jarak lelaki itu lebih dekat dengan Raja.
" ini yang mulia"
" masih tersisa banyak" ungkap Gyan yang melihat isi mangkuk yang masih terisi penuh.
" rasanya pahit, jadi saya tidak bisa langsung meminumnya" jawab Valmira.
" ini baik untuk tubuhmu" balas Gyan, sambil menyendok ramuan.
__ADS_1
Para pelayan termasuk Aden meninggalkan kamar, mereka cukup sadar diri jika keberadaan mereka sedikit menganggu.
" iya, sedikit-sedikit saja" keluh Valmira yang melihat sendok itu penuh dengan ramuan.
" kalau sedikit-sedikit kapan selesainya. Nanti malah dingin ramuannya" nasehat Gyan dengan wajah serius.
" saya tidak bisa meminum sebanyak itu yang mulia" Valmira memiringkan wajahnya untuk menghindari suapan.
" Alora, kau mau cepat sembuh atau tidak?" tanya Gyan gemas. Valmira mengambil nafas panjang.
" biar aku meminumnya sendiri" ucap Valmira cepat. Dia tidak mau mengikuti keinginan Gyan yang mengharuskannya langsung menghabiskan semua itu.
Kini gantian Gyan yang menarik nafas saat mendengar ucapan Valmira. Selir nya ternyata sulit sekali menuruti dirinya saat sakit begini.
" em baiklah" jawab Gyan datar.
lelaki itu berdiri dan duduk di tepi ranjang, Valmira mengulurkan tangan untuk menerima mangkuk ramuan itu. Tapi nyatanya Gyan malah mengangkat mangkuk itu dan menaruhnya di mulutnya. Dengan cepat seluruh isi mangkuk berpindah ke dalam mulut Gyan. Valmira menatap dengan bingung, sampai setelah Gyan memegang kedua pipinya. Menahan kepala Valmira agar sedikit mendongak. Mulut Gyan yang penuh ramuan dengan cepat bertemu dengan mulut Valmira. Wanita itu seakan tau niat Gyan, berusaha menghindar. Sayangnya itu sia-sia, Gyan menarik rambut Valmira sedikit membuat mulut wanita itu terbuka, dengan begitu Gyan langsung menyuapi wanita itu menggunakan mulutnya. Valmira mau tak mau langsung menelan semua ramuan itu dengan cepat.
" pahit!" kesal Valmira setelah mulut mereka terlepas. Gyan mengambilkan buah anggur yang berada tak jauh dari sana.
" ini, " Gyan menyuapi Valmira. Valmira dengan cemberut langsung memakannya.
" yang mulia, cari kesempatan kan?" Valmira masih tidak terima dengan aksi Gyan tadi.
" ya bisa juga" jawab Gyan tak menampiknya. Lelaki itu mengusap bibirnya yang terkena ramuan menggunakan punggung tangannya.
" lain kali saat mau minum ramuan bilang padaku" ucap Gyan bermaksud menghibur Valmira.
" tidak akan" jawab Valmira ketus. mulutnya masih terasa pahit. Wanita itu menggeser tubuhnya mendekati nakas. untuk mengambil air minum.
" mau aku bantu lagi?" tawar Gyan mengingatkan kejadian sebelumnya.
" yang mulia!" kesal Valmira. Gyan tertawa gemas, lelaki itu membantu menuangkan air di gelas, bukan di mulutnya.
Hal yang berbeda terlihat di kamar Shana, wanita itu bingung mencari cara untuk menghadapi yang mulia Raja.
" apa Raja akan memberikan hukuman padaku?, hukuman apa?, cambuk?, atau apa?. Bagaimana ini?" Shana terus berbicara sendiri. Wanita itu mondar mandir karena panik.
" yang mulia Ratu, saya baru mendapatkan kabar jika Selir sudah sadar" lapor pelayan yang baru saja kembali.
" benarkah? lalu bagaimana kondisinya?" tanya Shana cepat.
__ADS_1
" menurut kabar, selir baik-baik saja. Saat ini sedang di temani yang mulia"
" yah untung saja" Shana menghembuskan nafas lega. Bukan karena senang dengan kabar ini, wanita itu sebenarnya menginginkan kabar buruk dari kediaman selir Agung. Tapi karena saat itu Raja Gyan ikut melihat di lokasi jadi mau tidak mau Shana berharap jika wanita itu baik-baik saja. Setidaknya untuk saat ini, agar dia terlepas dari hukuman berat.
" apa kita perlu kesana malam ini?" tanya pelayan itu.
" boleh juga, sekalian menganggu agar mereka tidak berduaan. kau segera siapkan obat atau apapun yang bisa kita bawa kesana" jelas Shana. Dia tidak mau jika kedua sejoli itu berkumpul berdua.
" baik yang mulia" jawab pelayan itu.
Beberapa lama setelahnya, Ratu Shana sudah siap pergi menuju kamar Valmira. dia beserta pelayan yang memapahnya berjalan dengan sedikit tertatih.
" yang mulia Ratu" ucap penjaga Kamar.
wanita itu masuk dan mendapati Aden di ruang depan.
" yang mulia Ratu" ucap Aden dan Fleur sambil berdiri dan menundukkan kepalanya.
" ku dengar selir Alora sudah sadar? bagaimana keadaanya?" tanya Shana dengan raut khawatir.
Aden kali ini tidak akan tertipu, dia sudah mengetahui cerita aslinya bagaimana.
" selir sudah lebih baik, saat ini masih bersama dengan yang mulia" jawab Aden seakan menyuruh Ratu Shana menunggu di luar.
" syukurlah, kalau begitu aku akan menemuinya " ucap Shana yang mengacuhkan maksud ucapan Aden.
" tunggu yang mulia" ucap Fleur yang juga ada di sana.
" ada apa? " tanya pelayan Shana yang tidak terima junjungannya di sela oleh seorang pelayan.
" di dalam, masih ada yang mulia Raja" cicit Fleur tidak ingin menyinggung.
" lalu ken..." Shana menoleh pelayannya.
" apa aku tidak boleh masuk?" tanya Shana kepada Fleur dengan tatapan tajam.
" ampun yang mulia, saya tidak bermaksud" jawab Fleur sambil membungkuk dalam.
Shana menyeringai meremehkan, wanita itu kemudian meminta di papah menuju kamar tidur Selir Agung.
Fleur dan Aden menatap kepergian Ratu dengan was-was. keduanya sama -sama tidak menyukai perangai Ratu mereka jadi hanya bisa diam sambil menggelengkan kepala pelan.
__ADS_1