
Pagi menjelang, langit tampak terang dengan aksen biru yang jernih. angin berhembus pelan. Rasanya kerajaan terasa begitu berbeda. Banyak yang berfikir hari yang cerah ini akibat dari kematian penyihir hitam yang selama ini berkeliaran di kerajaan. beberapa orang menyambut baik kematian Valmira, Meraka yakin jika kepergian wanita itu akan membuat kerajaan Garamantian semakin sejahtera. Karena selama ini aura kerajaan terasa dingin dan menakutkan.
Tak ada yang tau jika hal itu bukanlah karena kehadiran Valmira melainkan ulah orang lain yang sudah merencanakan semuanya. Siapa lagi jika bukan Ratu Shana, wanita itu dengan sengaja membuat aura kerajaan menjadi redup saat rumor penyihir hitam mulai menyebar. Dia juga mengirimkan beberapa mantra agar pelayan tampak ketakutan jika berdekatan dengan Valmira. Sedari awal memang Shana yang merencanakan rumor itu. Dan saat melihat Valmira tewas di depan matanya, itu seperti sebuah keajaiban. Shana bahagia tidak terkira.
Lain hal dengan Gyan, lelaki itu tampak begitu kehilangan. Valmira adalah wanita pertama yang hadir dalam hatinya, belum lagi dengan kabar kehamilannya. Seakan tidak ada yang dia inginkan selain anak dan istrinya. Tapi malam itu, semuanya di renggut paksa oleh waktu. Dalam dekapannya semua yang dia cita-citakan menghilang begitu saja. Jika saja Kangta tidak membuatnya kehilangan kesadaran, lelaki itu pasti menggila dan akan melakukan apapun demi membuat Valmira kembali.
" Alora!" teriak Gyan bangun dari tidurnya.
" kakak" putri Farfalla segera mendekat mendengar teriakan Gyan.
" dimana Alora!" Gyan segera beranjak turun dari ranjang.
" kakak, mau kemana?" Farfalla mau tidak mau mengikuti langkah Gyan.
" dimana Alora sekarang?" Gyan berbalik badan dia menuntut jawaban. Karena tidak mungkin juga dia mencari Selirnya di seluruh kerajaan.
Farfalla diam bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan kakanya.
__ADS_1
" selir Alora sudah di bawa oleh tuan Kangta " lirih Farfalla.
" apa Kangta berhasil membuat Valmira kembali?!" Gyan sedikit berharap.
" bu.bukan. para menteri tidak mengizinkan selir di makamkan secara kerajaan jadi...jadi tuan Kangta membawanya..."
" kau bicara apa? Alora tidak baik-baik saja kenapa ada pemakaman?"
" kakak, falla mohon tenangkan diri kakak. terima semua kenyataan ini. selir Alor sudah meninggal kak"
Gyan tampak mengamuk dengan berita yang Farfalla berikan. Dia masih percaya jika Alora masih bisa di selamatkan.
" iya yang mulia"
" dimana Alora sekarang?"
Aden langsung kebingungan, dia sedari malam hanya menjaga istana raja. Dia tidak tau berita apapun.
__ADS_1
" Aden, katakan di mana Alora!"
" dia sudah aku makamkan" Kangta sudah berada di sana dengan raut tenangnya. Dia sudah mengira jika Gyan pasti akan mengamuk dan mencari Valmira.
" berani sekali kau!" ucap Gyan sambil melotot tajam.
" wanita itu sudah tewas, kerajaan tidak sudi menerimanya. jadi aku terpaksa menguburkannya sendiri" jelas Kangta sesuai dengan rencananya.
" bagaimana bisa ? Alora baik-baik saja"
plakk.. tamparan keras mengenai pipi Gyan. Kangta menarik keras kerah baru Gyan dan mendekatkan wajahnya.
" kau harus menerima semua ini. Wanita itu sudah tewas. jika kau ingin memastikannya aku akan mengajakmu mengunjungi makamnya " desis Kangta penuh penekanan. Dan melepaskan kerah Gyan dengan keras. Gyan limbung sesaat, Farfalla dengan sigap langsung memegang lengan kakaknya.
" tidak, Alora tidak mungkin mati. tidak" ucap Gyan berulang ulang. rasanya baru kemarin dia makan bersama dengan selirnya dan bercanda riang.
" kau harus bisa menerimanya kematian Alora" ucap Kangta sebelum berjalan menjauh. Dia juga menyuruh Aden dan Farfalla untuk meninggalkan Gyan agar lelaki itu bisa menenangkan dirinya.
__ADS_1