
Pagi menjelang, Gyan tertidur di samping Valmira dengan posisi duduk di kepala ranjang. Lelaki itu sedikit kelelahan akibat penggunaan energi sihirnya semalam. Tidak ada satu pelayan pun yang berani masuk ke kamar, meskipun itu Fleur. Wanita itu berdiri di depan pintu kamar, disana juga ada Aden tengah tertidur di sofa. Tak ingin menganggu tidur yang lain, Fleur akhirnya pergi mengurus pekerjaannya.
Mentari bersinar semakin cerah, dan naik semakin tinggi. cahaya keemasan mulai mencari celah agar bisa masuk ke kamar. Tidur lelap Gyan sedikit terganggu, lelaki itu menggeliat dan mulai sadar. Dia terlebih dulu mengecek keadaan Valmira, mulai dari pernafasan, suhu dan tanda vital lainnya. Baru beranjak turun untuk mencari Aden. Dia bisa saja memanggil lelaki itu, tapi dia tidak mau mengganggu istirahat Valmira.
klek. pintu kamar terbuka, di depannya terlihat Aden dan Fleur yang duduk di sofa tapi tertidur. Keduanya pasti kelelahan akibat semalam. Disebelah Fleur sudah ada makanan, nampaknya dia berniat mengirim makanan tadi.
" Aden.." panggil Gyan. Suara itu segera menyadarkannya.
" iya yang mulia" Aden langsung sigap berdiri. Alhasil Fleur juga ikut terbangun.
" yang mulia" ucap Fleur kemudian.
" Kau masuklah, jaga Alora" ucap Gyan pada Fleur.
" baik yang mulia" Fleur berjalan pergi.
" kita lebih baik kembali, ada sesuatu yang perlu aku beritahu"
" iya yang mulia"
Raja Gyan dan pengawalnya berjalan keluar dari kamar selir Agung menuju istana Raja.
" kau segera bawa surat ini, ini berisi perintah agar Deon kembali" ucap Gyan setelah menuliskan beberapa alasan kejadian yang mengharuskan adik angkatnya pulang.
" Deon? dia mana dia yang mulia?"
" entahlah, suruh kelompok bayangan mengirim ini menggunakan burung phionex milikku, burung itu pasti akan mengantar surat ini kepadanya" jelas Gyan. Jika menyangkut kelompok bayangan, maka tugas ini bersifat rahasia. Aden harus menggunakan jalur dan pakaian khusus nanti.
" baik yang mulia"
" dan suruh mereka menuliskan perkembangan misi kemarin"
" siap yang mulia"
Aden langsung pergi melaksanakan tugas. Gyan menggenggam cincin Gayde dengan erat. Sebentar lagi akan di adakan pertemuan penyihir yang di agendakan 5 tahun sekali. Kali ini sepertinya pertemuan ini akan jauh lebih lama, pasalnya banyak sekali kejadian aneh dalam 5 tahun kebelakang.
Sore hari, Fleur masih setia berada di kamar Alora. Dia sama sekali tidak meninggalkan kamar itu selain untuk makan dan ke kamar mandi, dan selama itu pula Valmira belum juga sadar. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Valmira. Ini kali ke 2 wanita itu mengalami hal aneh, membuat Fleur yakin jika ada yang tidak beres di istana ini.
Fleur berniat mengambil baskom untuk mengelap tubuh Valmira, tapi langkahnya terhenti tak kala melihat jemari Valmira bergerak pelan.
" Alora" ucap Fleur kemudian duduk kembali dan memegang tangan Valmira. Fleur melihat kelopak mata Valmira yang mulai bergerak.
__ADS_1
" Alora, kau bisa mendengarku?" saut Fleur lagi.
" emm" deheman Valmira, dan tak lama mata wanita itu terbuka.
" Alora?" panggil Fleur lagi, agar Valmira melihatnya. Meski terbuka, mata itu hanya menatap ke depan. Sama sekali tidak menghiraukan Fleur yang berada di sampingnya.
" Alora? hey" panggil Fleur lagi. Lalu tak lama mata itu menutup kembali. Rasa takut seketika menyergap Fleur. Dia cemas kenapa Valmira tidak sadar lagi.
" kau kemari! panggil kan yang mulia. katakan kondisi selir Alora semakin memburuk" ucap Fleur kepada pelayan kamar.
" baik" ucap pelayan itu lalu berlari keluar.
" Alora, Alora bangun" ucap Fleur terus menerus, belum juga habis rasa khawatirnya. Kini perlahan suhu tubuh Valmira semakin turun. Tangan dan kakinya terasa dingin. Fleur semakin panik, bahkan wanita itu menangis karena tak tau harus bagaimana.
" Alora.. aku mohon bangunlah" cicit Fleur sambil mengusap air matanya.
Tak lama suara langkah kaki mendekat, Fleur yakin jika itu adalah yang mulia Raja.
" apa yang terjadi?" tanya Gyan seketika melihat Fleur menangis di samping Valmira.
" yang mulia" ucap Fleur memberikan penghormatan.
" katakan! apa yang terjadi?"
Raja Gyan mengerutkan keningnya, lelaki itu berjalan mendekati ranjang. Dengan cepat langsung memegang tangan Valmira.
" dingin" ucap Gyan membenarkan jawaban Fleur tadi. Lelaki itu semakin tidak mengerti bukankah sihir jahat sudah keluar dan diatasi olehnya. Kenapa tubuh Valmira malah semakin buruk.
" panggil Shana kemari!" ucap Gyan setengah membentak. Jelas saja Gyan langsung mencurigai Shana sudah melakukan hal buruk lainnya kepada Valmira.
" baik yang mulia" ucap Fleur.
Gyan memeriksa denyut nadi Valmira, lelaki itu bertambah cemas tak kala merasakan jika denyut Valmira melemah, tubuhnya semakin dingin. Semua hal ini membuat Valmira seakan semakin dekat dengan kematian.
" Alora, apa yang terjadi padamu?" ucap Gyan menatap Valmira sendu.
Beberapa saat setelahnya, terdengar keributan di depan istana selir. Semua itu karena Ratu Shana yang mencoba pergi saat mendekati kamar.
" yang mulia Ratu, anda mau kemana?" tanya Fleur cepat. Shana semakin cemas, awalnya dia pergi karena mengira masalahnya tidaklah sebesar ini. Tapi semakin mendekati kamar, nyalinya semakin ciut. Dia mencoba beralasan tapi tidak bisa meyakinkan pelayan pribadi selir.
" Yang mulia Raja sudah menunggu anda di dalam" ucap Fleur lagi dengan menghalangi jalan Shana.
__ADS_1
kini mau tidak mau Shana harus masuk ke dalam kamar.
" yang mulia" ucap Shana pelan saat masuk ke kamar.
" kemari" Gyan berucap datar, tapi rasanya hawa dingin mencekam langsung terasa pada tubuh Shana.
Raja Gyan turun dari ranjang, berdiri berhadapan dengan Shana yang menyembunyikan ketakutannya.
" apa yang kau lakukan pada selir Alora?" tanya Gyan mengintimidasi.
" sa..saya? melakukan apa ?" tanya Shana terbatas-bata. Dia tidak mungkin mengakui perbuatannya semalam. Bukan hanya kerajaan Garamantian bahkan semua penyihir pasti akan memberikan hukuman padanya.
" jangan kau tutupi lagi, aku sudah tau semuanya. Sekarang katakan apa yang kau lakukan pada Alora sampai dia tidak sadarkan diri berkali-kali?" ucap Gyan penuh tekanan di setiap katanya. Lelaki itu mencoba bersabar, setidaknya sampai wanita ini mau mengatakan dengan jelas apa yang sudah dia perbuat.
" saya tidak melakukan apa-apa pada selir Alora. yang mulia" Shana tetap kekeh tidak mau mengungkapkan kejahatannya. Wanita itu menunduk menyembunyikan wajah takutnya.
ucapan Shana benar-benar menguji kesabaran Gyan.lelaki itu mengambil nafas dalam dan mendekati wanita itu.
" apa aku perlu mengatakan kepada Raja Prysona jika putri telah bermain api di belakangnya?" bisik Gyan. Dia masih berbaik hati tidak mengatakan secara keras, karena Gyan tau. hukuman bagi penyihir yang mempelajari sihir hitam adalah di lumpuhkan kekuatannya. Dia masih memandang Raja Prysona dalam menghadapi Shana sekarang.
manik Shana langsung membola, bagaimana Raja Gyan mengetahui rahasianya.
" ampun yang mulia, saya mohon jangan katakan apapun. Saya.. saya akan mengatakannya" ucap Shana cepat. Dia tau sekali jika Gyan tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.
" katakan! apa yang kau lakukan sampai Alora menjadi seperti ini" ucap Gyan melotot.
" sa..saya hanya memberikan sihir semalam. Tapi saya yakin sekali jika sihir saya gagal. Setelahnya saya tidak melakukan apapun lagi" ucap Shana mengakui karena terpaksa.
" lalu kenapa tubuh Alora berubah dingin bahkan nafasnya mulai melemah?"
" saya tidak tau yang mulia" ucap Shana jujur. Dia tidak melakukan apapun pada Alora, lagipula meskipun dia mau, energinya tidak akan cukup.
" kau jangan berbohong!" sentak Gyan meragukan ucapan Shana.
" benar yang mulia, saya tidak berbohong" Shana bersimpuh sambil menggelengkan kepalanya. Dia ingin terlihat bersungguh-sungguh. Shana tidak mau di ragukan. Dia sudah mengatakan yang sebenarnya, bagaimana lagi membuat yang mulia percaya padanya.
" saya berani bersumpah. Apalagi energi saya sudah Habis karena semalam. Mohon yang mulia percaya ucapan saya kali ini" Shana terus menjelaskan dan meyakinkan Gyan.
Alhasil lelaki itu sedikit tergugah, benar juga apa yang Shana katakan. Setelah melakukan sihir hitam energinya pasti habis, dia perlu beberapa hari untuk memulihkan diri.
" jika sampai kondisi Alora semakin memburuk, aku pastikan kau akan menerima hukumannya" desis Gyan penuh ancaman.
__ADS_1
" ampuni saya yang mulia" Shana mengiba.