
Ratu Shana terlihat sudah siap dengan aneka pusaka aneh. Wanita itu tidak main-main dengan ucapannya. Tepat malam ini, dia sudah siap akan mengirimkan sihir jahat kepada Valmira. Wanita itu begitu percaya diri, karena dia sudah menyiapkan 2 perawan sekaligus. Jika ini sampai gagal, wanita itu mungkin akan langsung mendatangi Valmira dan membunuhnya secara langsung.
" ambilkan pisau itu" perintah Shana kepada pelayan.
Shana sudah berada di ruangan khusus. Di depannya sudah ada lingkaran lilin yang masih mati dengan cawan emas yang berada di tengahnya.
Tak lupa dengan 2 wanita perawan yang berada di belakangnya, mereka duduk di sebuah pola lingkaran yang sudah di siapkan sebelumnya.
" bawakan cawannya" perintah Shana lagi.
Shana membalikkan badannya, melihat ke arah kedua gadis muda. Kedua wanita itu terlihat ketakutan, seluruh badan mereka gemetar saat Shana melangkah mendekat.
" yang mulia, ampuni kami. Kami mohon lepaskan kami" ucap salah satu gadis itu. Mereka saling berpelukan.
" sssuuut, setelah ini berhasil kalian akan aku berikan hadiah emas. Jangan khawatir" rayu Shana. Wanita itu hanya berbicara omong kosong. Dia hanya menghibur para gadis itu sesaat. Karena nyatanya mereka adalah persembahan Shana dalam ritual ini.
" yang mulia" ucap gadis itu tak kala Shana mengambil lengannya pelan dengan senyum mengerikan.
sssreeekkk
" aakkk" teriak salah satu gadis itu saat Shana dengan tanpa kasihan mengiris lengan itu. Darah merah keluar dengan derasnya.
" hiks hiks hiks" kedua wanita itu menangis ketakutan.
" ini tidak akan lama" ucap Shana setengah berbisik.
Setelah cukup, Shana melakukan hal yang sama kepada gadi kedua.
Cawan emas itu sudah terisi dengan darah campuran 2 perawan.
" letakkan kembali di tempat semula" ucap Shana kepada pelayan yang membawa cawan. sedang dirinya mengelap pisau menggunakan kain.
" sudah yang mulia"
" bagus, kau berjagalah di depan" perintah Shana. waktunya memulai ritual.
Shana duduk kembali ke tempat semula, dia merapalkan mantra. Seketika semua lilin menyala. Shana kembali mengulang mantranya. Matra yang dia pelajari secara sembunyi-sembunyi saat dia berada di Prysona dulu. Entah saat dia menemukan buku usang serta seseorang misterius, Shana semakin tertarik mempelajari sihir hitam. Rasanya senang sekali menyiksa dan membuat seseorang menderita. Dirinya masih belum mampu membunuh seseorang dengan sihir hitam ini. kekuatannya masih belum cukup untuk dipertaruhkan.
__ADS_1
Tak lama asap hitam mulai berkumpul, semakin besar dan pekat. Bahkan kali ini bagian tengah asap itu terlihat ada warna merah menyala, tanda jika asap itu mengandung banyak kejahatan. manik Shana langsung berbinar sihirnya hitam dahsyatnya tercipta dengan sangat cepat.
" pergilah, berilah kutukan untuk pemilik rambut ini" ucap Shana sesaat sebelum asap itu melayang mencari sasarannya.
Di sisi lain, malam ini sesuai dengan rencana Valmira. Wanita itu sudah berbaring di atas ranjang, dengan masih membaca buku.
" Alora, katamu mau tidur? kenapa masih membaca buku?" Fleur masuk kamar untuk meletakkan air minum di nakas.
" iya, iya. Sudah" ucap Valmira meletakkan bukunya.
Fleur meniup beberapa lilin, membuat kamar menjadi remang. Suasana yang cocok untuk tidur.
" selamat malam Fleur" ucap Valmira di saat temannya menutup pintu dari luar.
Valmira menutup matanya, tubuhnya mulai merasa ngantuk. Lalu tiba-tiba semua lilin mati, kamar menjadi gelap gulita. Valmira membuka matanya, hanya cahaya rembulan yang menjadi penerangan kamarnya saat ini.
" angin dari mana?" ungkap Valmira yang belum mengetahui jika di atasnya sudah ada asap hitam, kutukan dari Shana.
Valmira menatap sekeliling, rasanya malas sekali turun untuk menyalakan lilin. Toh, dia juga akan tidur. Akhirnya Valmira membiarkan saja kamarnya dalam kegelapan.
Namun saat dirinya terlentang, rasanya ada sesuatu sedang mengintainya. Valmira membuka matanya dan mendapati adanya seberkas cahaya merah di atasnya.
Asap itu mengikuti pergerakan Valmira, dan melayang semakin dekat. Hal ini membuat ingatan Valmira kembali pada saat pertama kali melihat hal serupa. Ketakutan melingkupi dirinya dengan sangat cepat.
" pergi!" teriak Valmira.
" pergi dari sini" ulang Valmira lagi.
Tapi itu adalah asap kutukan kiriman, mana mungkin mau menuruti perintah Valmira. Asap itu semakin dekat. Valmira duduk meringkuk di bawah jendela. tubuhnya bergetar ketakutan, wajahnya tertutup kedua tapak tangan. membuat cincin pemberian Gyan bisa menghadap langsung dengan asap itu.
pyar..
cangkir minum yang Gyan pegang mendadak jauh. Sedangkan sang empunya terdiam merasakan sesuatu yang aneh.
" yang mulia?" panggil Aden begitu melihat Raja terbengong tak berkedip.
" sesuatu telah terjadi pada Alora," ucap Gyan dan langsung berlari keluar.
__ADS_1
" pergi!" Valmira terus mengulang kata itu, asap itu menyerang dirinya berkali-kali. Cincin Gayde ternyata hanya berfungsi untuk memberikan tabir perlindungan saja. Tidak bisa melawan serangan.
Di tempat lain Shana terus membacakan mantra, membuat asap itu terus bertambah kuat. Serangannya hampir menembus tabir perisai dari cincin itu.
Valmira mulai mengumpulkan keberanian, dia menatap asap itu, dan bisa menyaksikan bagaimana dirinya dilindungi oleh tabir perisai.
Mendadak wanita itu mengigat sesuatu yang ada di mimpinya. disana seorang wanita menjulur tangannya dan keluar kekuatan. Valmira di ambang kesadarannya mulai melakukan hal yang sama. Wanita itu berdiri, diangkatnya tangannya, terbuka menghadap asap itu. Valmira hanya mengikuti nalurinya saja. Hanya dengan keyakinan saja, wanita itu mulai mengikuti pergerakan asap, dan saat telapak tangannya beradu berhadapan dengan asap, mendadak cahaya biru keluar dari telapak tangannya, Valmira berubah menjadi sosok yang berbeda. wanita itu seolah menjadi Valmira yang dulu. Valmira putri kerajaan Mystick, seorang penyihir Arghi yang hebat.
Asap hitam mulai melemah, Begitupun dengan Shana di sebrang sana. Namun di tengah serangan itu pintu kamar terbuka dengan keras.
brak..
Gyan menjadi orang pertama yang melihat hal aneh itu. Valmira kehilangan konsentrasi, wajahnya berpaling menatap sosok Gyan yang terdiam. Dan karena itu, asap hitam itu dengan mudah menyerang dan mengenai tubuh Valmira.
" akk"
" Alora!" Gyan berlari dan di saat bersamaan tubuh Valmira rubuh tak sadarkan diri. Gyan dengan sigap memeluk tubuh itu.
Bersamaan dengan itu Fleur dan Aden baru sampai di ambang pintu kamar. keduanya tampak bingung dengan keadaan di kamar.
Gyan segera menggendong tubuh Valmira dan meletakkannya di ranjang.
wusss...
semua lilin dengan cepat langsung menyala. Aden tampak biasa saja, sedang Fleur tidak. Wanita itu kaget dan sedikit takut.
" bawakan aku air hangat" perintah Gyan.
" baik yang mulia" ucap Fleur cepat. tidak ada waktu untuk memikirkan alasan kenapa lilin itu bisa menyala sendiri. wanita itu berlari melaksanakan perintah raja.
Berganti ke kamar Ratu Shana.
" uhuk uhuk" wanita itu muntah darah. Kekuatannya terkuras hebat.
" penyihir mana yang berani membantunya" ucap Shana terduduk sambil memegangi dadanya yang sakit.
" yang mulia! anda tidak apa-apa" pelayannya masuk begitu mendengar suara gaduh dari cawan yang terguling tak karuan.
__ADS_1
" tenanglah, sihirku berhasil mengenainya" jawab Shana sambil tersenyum jahat. Dia berhasil meski salah satu persembahannya meninggal.