Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
BAB 10 Tamu tak diundang


__ADS_3

Raja Deon memerintahkan pelayan untuk membersihkan dan  membumbui ikannya, sehingga ia tinggal membakarnya saja,


Pelayan itu kembali dengan ikannya,


"Baginda ini ikannya sudah siap." Pelayan memberikan ikan itu pada Raja


"Mmm… bagus, siapkan juga pembakarannya!" Perintah Raja


"Baik baginda." Pelayan itu pun menyiapkannya dengan patuh


Saat pelayan itu ingin membakar ikannya,


"Jangan…! Biarkan aku yang melakukannya." Perintah Raja tiba-tiba


"Tapi baginda…" pelayan itu merasa tidak enak melihat sang raja mengambil alih pekerjaannya.


"Sudahlah, biar aku saja … ibu yang ingin aku membakarnya." Raja Deon menjelaskan


Akhirnya pelayan itu menyerahkan pekerjaannya dengan rasa lega.


Dua ikan bakar telah siap, ia melihat masih ada banyak ikan yang belum ia bakar,


"Uhuk… uhuk…"


Deon terbatuk-batuk karena asap, ia sepertinya tersiksa dengan tugas dari ibunya itu.


"Ya ampun asap nya membuat mataku juga terasa perih, jika bukan permintaan ibu, sudah jelas aku tidak mau melakukannya, lebih baik aku disuruh berperang dari pada memasak." Keluh Raja Deon


Sambil mengucek-ngucek matanya yang perih


Selir Mey yang sedang berjalan-jalan disekitar istana melihat Deon dari kejauhan, , ia sangat senang dan bersemangat, dia terburu-buru segera menghampiri Deon.


"Sedang apa kamu disini?" Tanya Mey


Tapi Deon tidak menjawabnya, ia sibuk mengucek matanya yang perih, selir Mey yang menyadarinya ia langsung memegang kedua pipi Deon dengan tangannya dan mengarahkannya ke wajahnya, lalu ia meniup-niup mata Deon.


"Bukankah terasa lebih baik?" Tanya Mey


"Bukankah seharusnya adegannya si wanita yang matanya ditiup kenapa jadi aku." Gumam Deon dalam hati


"Ah.. i-ya sudah lebih baik." Jawab Deon terbata-bata , Deon sedikit kaget dengan Mey yang tiba-tiba memegang kedua pipinya dan menariknya.


Mey memberikan tawaran untuk menggantikan dia membakar ikan, tapi Deon menolaknya.


Mereka Pun berbincang-bincang dan saat Mey tau bahwa Deon akan makan bersama ibunya, ia merengek untuk ikut bergabung.


"Ayolah Deon ajak aku, aku ingin makan bersama Ibu Suri, aku ingin lebih dekat dengannya..!"

__ADS_1


Mey terus saja merengek hingga membuat telinga Deon sakit


"Astaga, yang namanya wanita pasti merepotkan, bahkan ia bicara seperti tidak ada jeda sama sekali." Gumam Deon kesal


Karena Deon tidak mau mendengar ocehan Mey, Deon pun menyetujuinya.


Mey lalu memeluk Deon dari belakang, karena ia sangat senang, mengira Deon selalu menuruti semua kemauannya. Tapi karena Deon sedang membakar ikan sementara lengan Mey yg memeluk tanpa sengaja tangan Mey mengenai pemanggangan tangannya pun terluka.


"Aawww… panas panas." Teriak Mey


Karena panik, Deon mengambil air yang berada didekatnya, air itu bekas ikan hasil pancingan tadi.


Bbyyuuurrr…


"Aaww… astaga apa yang kau lakukan, ini semakin melepuh?" Mey kesal


"Ya sudah kamu pulanglah dan obati lukamu, panggil tabib istana..!" Suruh Deon


"Tidak, aku tetap mau disini, panggilkan saja tabibnya kemari." Mey yang semakin kesal


Akhirnya tabib datang dan mengoleskan salep padanya, setelah selesai,


"Maaf selir, mengapa saya mencium bau anyir ya?" Tanya tabib sambil mengendus-ngendus


"Apa? Ah, sepertinya begitu."


Ia langsung berdiri dan menghampiri Deon.


"Air apa yang kau siramkan tadi?" Tanya Mey


"Kenapa datang lalu marah-marah?" Tanya Deon


"Jawab dulu pertanyaanku.!." Mey benar-benar kesal


Saat Deon mengingat ngingat,


"Astaga.. aku tak sengaja, air itu tadi sebenarnya bekas ikan." Jawab Deon jujur


Sebenarnya Mey marah besar , tapi ia tidak mau jika Raja melihat kemarahannya yang terkadang diluar kendali itu, ia mencoba menahan kemarahannya.


"Bagaimana aku bisa makan malam dengan ibumu dengan pakaian seperti ini?" Tanya Mey bingung


"Hhmm… kalau kamu mau kamu bisa kembali dulu dan berganti pakaian, lagipula aku belum membereskan masakanku, tapi ibu pasti lapar kalau aku berlama-lama disini pasti ibu marah." Jawab Deon


"Baiklah, tunggu aku beberapa menit saja!" Suruh Mey


Mey segera menuju paviliunnya dengan terburu-buru, bahkan setelah ia tak terlihat oleh Deon , dia mengangkat rok nya dan berlari kencang.

__ADS_1


"Nyonya tunggu aku…!" Teriak sang pelayan yang tak sanggup berlari lagi


"Hahahah… aku membayangkan Mey akan berlari terburu-buru, sepertinya wanita itu harus sedikit diberi pelajaran." Deon tertawa puas


"Mengapa dulu aku begitu patuh padanya, bahkan dulu aku selalu menuruti semua keinginannya meski merepotkan, sungguh aku ini bodoh sekali." Gumam Deon


"Kenapa aku mengutuk diriku sendiri orang bodoh? Astaga aku mulai gila." Pikir Deon


Dan akhirnya ia fokus saja dengan masakannya, karena ia tidak ingin terus mengutuk dirinya sendiri.


Dulu memang Deon terkesan bucin pada Mey, tetapi setelah ia mencurigai Mey, ia mulai meragukan Mey, dan sikap Mey yang membuatnya jengkel sangat mengganggunya, padahal dulu dia tidak mempermasalahkannya.


Mey pun datang dengan baju yang sudah rapi, wangi dan lebih cantik dari sebelumnya, sungguh terlihat jelas bahwa dia ingin menarik perhatian mertuanya itu.


Deon mengajak Mey ikut bergabung untuk makan bersama, ya suasana makan yang sedikit aneh karena Ibu Suri tidak menyukai Mey jadi suasana menjadi canggung.


"Bukankah kita akan makan bertiga?." Tanya Ibu Suri pada Deon


"Ah, begini bu, bukankah lebih banyak lebih menyenangkan hehe.. tadi tidak sengaja aku bertemu selir Mey, jadi aku mengajaknya untuk ikut makan bersama kita" jawab Deon mencari alasan


"Mmm… baiklah, ikan ini apa benar kamu yang memasaknya, jangan-jangan kalian malah bermesraan disana." Tanya Ibu Suri curiga


"Tidak bu, itu semua aku yang membakarnya, tanyakan saja pada para pelayan." Deon mencoba meyakinkan


"Baiklah-baiklah mari kita makan, ibu sudah lapar." Ajak Ibu Suri


Saat Mey melihat Anggrek, ia mulai kesal.


"Mengapa dia juga ada disini, sepertinya rencanaku untuk mendekati Ibu Suri akan gagal."


Dengan sengaja Ibu Suri terus membicarakan Ratu Anggrek dan memujinya, dia sama sekali tidak menganggap Mey ada disana.


Ibu Suri memang tidak menyukai selir Mey, seakan ia bisa menerawang dan mengetahui isi hati orang. hemm... ya mungkin karena pengalamannya selama ini untuk mempertahankan status permaisuri ia mendapat banyak musuh.


Sedari awal Raja Deon berniat menjadikan selir Mey selirnya, Ibu Suri sudah melarang keras tapi Deon tetap pada keputusannya "cinta memang buta"


Karena dirasa sudah cukup, ibu suri merasa ingin pulang terlebih dahulu, ia tidak mau berlama-lama melihat Mey.


Wanita yang membuat putranya keras dan sering menentangnya.


Ibu Suri pergi terlebih dahulu meninggalkan mereka, sebelum pamit ia berpesan supaya Deon menemani Ratu mengunjungi orang tuanya.


Deon hanya mengangguk menyetujui, Ratu malah merasa bingung karena harus menghadapi orang-orang baru lagi terlebih itu orang tua sang Ratu ia tak ingin dicurigai. Dan untuk Mey suasana hatinya sedang kesal dan cemburu.


Suasana menjadi kaku karena hanya tinggal mereka bertiga disana, satu persatu dari mereka pun pergi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2