Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
BAB 54 Kedatangan


__ADS_3

Tak terasa mie Ramen yang dimakan pangeran Ceng habis, dia memang suka makanan pedas.


"Aku tadi sempat mencarimu kesini, tapi kau tidak ada."


"Benarkah?, ada perlu apa kau mencariku?"


"Ah, aku hanya ingin menjenguk keponakan ku saja, apakah kau masih mengalami mual muntah?"


"Ya setiap pagi hari." Jawab Ratu singkat sambil melanjutkan kegiatan makannya itu.


"Lalu, bagaimana kelanjutan kasus selir Mey? Dia mendapat hukuman apa?"


"Iisshhh… apa kau tidak tahu jika dia mencoba melakukan aksi bun*h dir*? Tapi aku merasa ada yang janggal, apa benar dia benar-benar menyerah dan merasa putus asa?hmm.."


"Mungkin juga, karena daripada mat* disaksikan semua orang, lebih baik mat* diam-diam tanpa ada yang tahu, lalu bagaimana keadaannya sekarang?"


"Menurut tabib istana, seminggu lagi dia akan sembuh, akan aku pastikan dia langsung dipindahkan ke penjara bawah tanah, menunggu disana sampai Raja datang dan memutuskan hukuman yang pantas."


Pangeran Ceng memperhatikan kertas putih di dekat meja, ia berjalan perlahan,mengambil surat itu, saat ia mencoba membuka dan membacanya...tiba-tiba Ratu mencoba merebut surat itu, tetapi karena pangeran Ceng lebih tinggi dari Ratu, membuatnya kesulitan untuk meraih suratnya.


Surat itu kemudian terbuka, pangeran Ceng berusaha membacanya disaat tangan Ratu mulai berusaha menggapai surat itu.


"Astaga, ternyata kamu romantis juga ya.. padahal dari tingkah lakumu sepertinya aku meragukan surat ini dibuat olehmu.. Haha.. ini ambilah..! Aku sudah puas membacanya."


"Tidak sopan." Ratu mengambil surat itu dengan kasar.


"Hmm..hmm.. ada yang merindu nih, tak tahan ingin ditemani tidur lalu dipeluk, dan bersandar di dadanya.." Ucap pangeran Ceng menggoda Ratu


"Diam kau..! Sini biar aku jitak kepalamu, kemari..!" Teriak Ratu mulai berdiri dan mengejar pangeran Ceng


Pangeran Ceng pun lari terbirit-birit keluar, disusul Ratu dan yang terakhir Sani yang berlari mengkhawatirkan Ratunya itu.

__ADS_1


Hari ini Ratu merasa senang karena mendapatkan teman yang bisa diajak bercanda dan bermain seperti ini, ini sedikit menghiburnya dikala ia meratapi takdirnya yang terperangkap di dunia komik.


* *


Keesokan harinya Raja menerima surat balasan yang dibawa pengawal kepercayaannya itu, ia tak sabar ingin segera membacanya.


Raja begitu senang, ia membaca surat itu sambil tersenyum-senyum sendirian.


"Andai saja tugasku disini sudah selesai, aku akan segera kembali menemuimu.." Gumam Raja


"Tapi, apakah ini benar balasan darinya? Benarkah ini isi hatinya? Biasanya dia selalu acuh padaku, apakah dia kini merasakan perasaan yang sama denganku? Ah.. aku benar-benar penasaran ingin membuktikannya." Pikir sang Raja sambil tersenyum.


Tapi sayang, memang selama di desa perbatasan Raja selalu mengalami berbagai masalah yang tidak ada habisnya, seakan dia sengaja ditahan di desa ini.


Raja juga sedang disibukkan dengan penyelidikannya tentang masalah penyerangan kemarin.


* *


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan tak terasa sebulan sudah berlalu. Ratu disibukkan dengan rutinitasnya sendiri, mengurus si putih , bermain dengannya, berlatih memanah, dan bermain bersama Sani dan juga pangeran Ceng, ia merasa lega karena pada akhirnya selir Mey kembali ke sel tahanan.


Pada akhirnya Ratu pun hanya bisa membatasi aktivitas-aktivitasnya demi anak yang ia kandung. Jika ada pangeran Ceng datang atau ibu Suri yang berkunjung menengok calon cucunya itu, maka Ratu akan makan bersama, jalan-jalan bersama, bahkan memasak bersama, dan  jika malam tiba Ratu masih selalu ditemani oleh Sani karena masih merasa ketakutan.


Selir Mey yang berangsur pulih, dia tidak mendapatkan solusi untuk meloloskan diri. Bahkan pamannya pun tidak mengunjunginya lagi setelah pertemuan itu, membuatnya harus kembali ke penjara bawah tanah meneruskan hukumannya.


Rizad sesekali menengok selir Mey untuk melihat keadaannya, meski jelas Mey mengacuhkannya. Selama di penjara Selir Mey tidak mau berbicara dengan siapapun, dia lebih banyak diam.


Selir Mey hanya mempunyai satu harapan, yaitu pengampunan Raja Deon, dia akan membuka mulutnya jika Deon mengunjunginya.


* *


Akhirnya Raja kembali dari tugasnya, ia menemui ibu Suri sebentar lalu segera memecut kudanya berlari ke arah paviliun Ratu, Deon sungguh tak sabar ingin bertemu dengan Ratu dan calon anaknya itu.

__ADS_1


Raja memang tidak memberitahukan kedatangannya pada siapapun, ia ingin memberi kejutan pada ibu Suri dan Ratu Anggrek, sesampainya di depan gerbang, dia melihat taman yang indah yang dihiasi bunga-bunga.


"Tempat ini masih sama seperti dulu." Gumam Raja pelan


Raja berjalan dengan perlahan, selangkah demi selangkah ia lewati dengan senyum manis di wajahnya. Ia menuju kamar Ratu mengetuknya dua kali secara perlahan dan langsung membukanya.


"Yang mulia Raja.." Ucap Sani sambil menutup mulutnya yang jelas merasa kaget itu.


Sementara Ratu hanya memandang dengan mata yang berkaca-kaca, ia tidak bisa mengendalikan perasaannya.


Dia merasa ada rindu yang tertahan dan mungkin itu milik Ratu Anggrek, tapi yang jelas yang Gita Rasakan kala memandang Raja Deon saat ini adalah Rasa bersyukur karena kini ia bisa memastikan misinya itu berhasil dan akan berusaha menjadi istri yang baik, berperan sebagai Ratu Anggrek yang mencintai Raja Deon.


Sani melangkahkan kakinya keluar kamar, ia memberikan waktu untuk pasangan itu melepaskan rindu.


Raja menghampiri Ratu dan duduk disebelahnya, "Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?"


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, kapan kau kembali? Kenapa sangat tiba-tiba?"


"Ah, tadi pagi.. tentu saja aku ingin memberimu kejutan, hehe… hai anak ayah apa kau baik-baik saja?" Tanya Raja sambil mengelus perut sang Ratu


Ratu hanya tersenyum dengan melihat tingkah manis Deon. Jarak yang memisahkan membuat Raja merasakan arti kerinduan, rasa membutuhkan, dan ternyata perasaan cinta itu nyata.


Raja yang melihat Ratu tersenyum begitu manis, melihat bibir merah itu membuatnya tergoda dan memberanikan diri untuk lebih dekat, lebih dekat dan lebih dekat, hingga hidung mereka saling beradu, nafas hangat yang jelas terasa membuat mata mereka akhirnya saling bertemu, saling menatap dalam jarak yang sangat dekat.


Waktu seakan berhenti, Ratu menutup matanya, seolah ia juga menginginkannya, "astaga, gue harus berusaha menjadi Anggrek, gue harus jadi istri yang baik, ok bisa Gita, ayo.. pasti bisa, jangan melawan, biarkan saja dia melakukan apa saja yang dia mau..!" Pikir Gita yang sedang merasa gugup dan bingung.


Raja yang melihat Reaksi sang Ratu, ia tersenyum dan mulai menempelkan bibirnya tepat dibibir merah sang Ratu.


Deg..


Bersambung..

__ADS_1


Rekomendasi novel hari ini, kepoin yu..



__ADS_2