
Ratu bangun sambil berteriak, dia bahkan masih merasakan kesedihan atas mimpinya itu.
Untung saja ibu Suri tidur nyenyak sekali, hingga dia masih tertidur meski Gita (Ratu) berteriak.
Gita yang mulai lupa dengan kehidupan nyatanya, kini dia mengingatnya kembali dengan jelas, merindukan keluarganya.
"Sudah berapa lama aku disini? Bisakah aku pulang, kenapa aku merasa tidak yakin?"
Ratu menurunkan kedua kakinya dari ranjang, ia melangkahkan kakinya, pergi keluar kamar memanggil Sani dan menyuruhnya membuat minuman hangat untuknya.
Sani menemani Ratu mengobrol, "apakah Ratu tidak bisa tidur karena tidak ada yang mulia disini?"
"Hemm.. ya anggap saja begitu."
"Bukankah besok juga yang mulia akan pulang, Ratu tidak usah khawatir."
"Hmm.. iya."
Ratu hanya menjawab pertanyaan Sani dengan asal, karena percuma dia bercerita yang sebenarnya karena Sani tidak mungkin akan percaya padanya, meski obrolan itu tidak nyambung tapi setidaknya Ratu tidak sendirian.
Karena sudah terlanjur bangun dan sejak hamil Ratu sering sekali merasa lapar, dia menyuruh Sani memesankan makanan, berharap koki istana masih bangun dan dengan senang hati membuatkannya makanan.
***
Di dapur istana sudah tidak ada orang, membuat pelayan bergegas menuju kamar para pelayan dapur. Membangunkan mereka satu persatu.
"Kepala koki… bangun..!"
__ADS_1
"Iya ada apa? Bukankah ini masih malam, aku masih mengantuk."
"Bangun…! Ratu ingin dibuatkan makanan malam ini."
"Kenapa tidak besok saja, mengganggu mimpi indahku saja."
"Ayolah kepala koki, kami tidak bisa bekerja kalau tidak ada perintah darimu, kami pasti kebingungan nanti saat memasak."
"Ya ampun, baiklah-baiklah ayo..!"
Selama perjalanan menuju dapur istana, sudah 2 kali kepala koki istana membentur tiang bangunan.
"Astaga, betapa sialnya aku malam ini." Keluhnya
Sesampainya di dapur istana, ternyata para pelayan dapur sudah berkumpul dan mereka masih menguap, menandakan mereka masih mengantuk.
"Katanya, yang mulia Ratu ingin makanan yang komplit kepala koki, dari cemilan hingga makanan berat, dari yang manis, asin, pedas, dan juga dari makanan kering hingga basah. Pokoknya Ratu ingin disediakan makanan yang banyak dan beraneka ragam"
"Kenapa begitu banyak dan begitu tiba-tiba, aku rasa calon anak Raja itu akan sangat merepotkan." Keluh kepala koki di dalam hatinya.
"Baiklah, ayo kita bekerja..! Semangat..! Aku harap kita bisa menyelesaikannya dengan cepat."
Satu jam berlalu makanan pun siap, karena banyak pelayan yang membantu membuat pekerjaan mereka cepat selesai.
Ratu begitu senang dengan semua makanan yang kini tersaji, dia bahkan sudah tidak sabar.
"Sani, ayo bantu aku untuk menghabiskannya..!"
__ADS_1
"Ini semua Ratu?"
"Tentu saja. Hehe"
"Astaga, ini begitu banyak sekali, bukankah program dietku selama 2 minggu terakhir akan sia-sia jika aku makan ini. Hiks.. calon anak Raja ini benar-benar menyebalkan, bahkan ini terjadi sebelum dia lahir." Ucap Sani dalam hati
Sani memakan makanan itu dengan wajah lesu, dia tidak berniat memakannya sama sekali.
"Kenapa wajahmu seperti itu, apakah makanan ini tidak enak?" Tanya Ratu
Sani langsung mengubah ekspresinya dengan senyum dan bahagia, "Enak Ratu.. aku hanya masih mengantuk saja."
"Hmm… ya sudah makan yang pedas saja biar tidak mengantuk lagi..! Ini ambillah..!"
Sani mengambil mangkuk itu dengan terpaksa, kini ia benar-benar mengutuk calon anak Raja itu.
Ratu begitu menikmati makanannya, dia memakan beberapa menu makanan, sepertinya nafsu makannya bertambah berkali-kali lipat saat dia hamil.
"Ah, aku kenyang.. anakku sudah ya nak, jangan makan terus, jangan pengaruhi ibu untuk memakan semuanya, bisa-bisa perut ibu sakit, kamu membuat semua makanan terlihat enak, Hehehe.. entah ibu harus berterimakasih atau memarahimu." Ucap Ratu senang, sambil mengelus-ngelus perutnya yang sudah mulai membesar.
"Astaga perutku, Sani… perutku."
"Ratu… tunggu dulu, akan aku panggilkan tabib istana."
Sani begitu khawatir, membuatnya bergegas pergi dengan segera.
Bersambung...
__ADS_1