Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Lomba Lari


__ADS_3

Gita akhirnya sampai di kampusnya, dia tidak sempat merapikan rambutnya karena memakai helm tadi, dia begitu terburu-buru.


Tok


Tok


Tok


"Masuk.." Pak Rendi


"Kamu terlambat lagi?, berhubung cuma 5 menit, kamu boleh duduk." 


Syukurlah, gue gak jadi m@ti.. Batin Gita


Gita duduk disebelah Nisa yang sudah duduk dan siap dengan buku-bukunya.


"Lo tuh ya, kebiasaan deh telat pas kebetulan Dosennya Pak Rendi," ucap Nisa pelan.


"Gue juga gak tahu Nis, gue gak sengaja." Gita


Saat tatapan dosen itu tertuju pada dua gadis itu, membuat mereka diam seketika dan fokus pada penjelasan Dosen didepan.


Akhirnya 2 jam berlalu, Gita merasa lega dan perutnya mulai lapar.


"Ke kantin yuk..?" Gita


"Yuk.." Nisa


"Tunggu sebentar..!" Pak Rendi


"Ada apa Pak?" Gita


"Tidak apa-apa, tidak jadi." Pak Rendi


Dosen itu berlalu pergi, sepertinya dia ragu-ragu mengatakan sesuatu.


"Gaje deh.." Gita


"Bener, aneh juga tuh dosen." Nisa


Mereka memilih makan saja, memuaskan perut mereka daripada memikirkan Dosen yang tidak jelas tadi.


***


Angga bertemu tante Jani di Rumah sakit, ternyata wanita itu yang mempunyai janji bertemu dengan Angga.


"Tante udah bawa sampel nya?" Angga


"Udah ko, yuk buruan.. tante juga penasaran, semoga hasilnya memuaskan." Tante Jani


"Iya tante." Angga


Mereka akhirnya pergi ke salah satu ruangan di rumah sakit itu, mengisi formulir dan memberikan sampel masing-masing.


Karena hasilnya bisa sampai seminggu, mereka memilih pulang setelah penyerahan semua syarat-syarat itu.


"Kirana tidak tahu kan tentang ini?" Angga


"Tidak ko tenang aja, ini rahasia kita." Tante Jani


Angga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia juga bertanya banyak hal tentang Kirana pada wanita itu.


"Kamu boleh bertanya apapun tentang Kirana, pasti tante jawab ko, kamu jangan ragu-ragu..!" Tante Jani

__ADS_1


"Ah, iya tante, terima kasih.." Angga


"Lama banget ya seminggu hasilnya baru keluar?" Tante Jani


"Iya, padahal aku begitu penasaran." Angga


"Tante juga." Tante Jani


Saat mobil itu berhenti di depan rumah, Kirana kebetulan sedang berada disana, dia sedang mengobrol dengan satpam di pos depan.


Kak Angga, mamah Jani, darimana mereka? Pikir Kirana


Namun Jani tidak menyadari jika ada Kirana disana, dia turun dari mobil dengan tenang dan melambaikan tangannya pada Angga.


"Mamah darimana?" Kirana


"Astaga, mamah kaget tahu, mamah kebetulan aja ketemu Nak Angga." Jani


"Oh, kirain ketemuan Gitu." Kirana


"Hehe… enggak lah, buat apa?" Jani


"Kali aja mah, yu masuk mah, aku tadi masak loh, makanan sehat lebih banyak sayurannya tapi enak, buat mamah." Kirana


"Wah, makasih sayang.." Jani


***


Angga yang terlanjur tidak bekerja itu, akhirnya menghubungi Pak Andra, mengajaknya bertemu diluar, namun dia sepertinya tidak bisa karena anaknya yang berumur 10 tahun sedang mengikuti lomba di sekolahnya dan butuh dukungan orang tuanya.


Angga berinisiatif untuk datang ke sekolah Dafa anaknya Pak Andra, pria itu juga penasaran dengan anak lelaki itu.


Pak Andra memberitahu alamat sekolah anak lelakinya itu lewat ponsel, memberi share lok juga agar Angga mudah menemukan sekolah anaknya itu.


"Maaf Pak Andra, ibunya Dafa tidak datang?" Angga


"Tidak bisa, istri saya yang kedua itu meninggal setelah melahirkan Dafa." Pak Andra


"Maaf.. saya tidak bermaksud membuat bapak sedih." Angga


"Tidak apa-apa, kini saya hidup berdua dengan anak saya, ada baby sitter dan pelayan khusus untuk menemani dan merawat Dafa , tapi terkadang dia hanya ingin ditemani oleh Ayahnya saja, hehehe…" Pak Andra


"Oh, begitu ya. Dafa mirip sekali dengan Anda, hehe.." Angga


"Iya, dia 'kan anak saya.. hehe" Pak Andra


Karena hari itu hari untuk memperingati kemerdekaan, meski tidak pas di tanggal 17 namun sangat banyak lomba yang diadakan dan siswa begitu antusias.


Ada juga lomba lari yang dibuat grup antara anak dan orangtua, Dafa ingin sekali mengikuti lomba lari itu. Namun Pak andra yang sudah mulai berumur itu, dia tidak sanggup berlari sambil menggendong anaknya yang berat itu.


"Bagaimana jika dengan saya saja pak?" Usul Angga


"Apa tidak merepotkan?" Pak Andra


"Tidak kok pak, justru saya sangat senang, tapi Dafanya mau gak ya?" Angga


"Dafa sini sayang, kamu lomba larinya sama kak Angga aja ya, mau kan?" Pak Andra


"Tapi kan harus dengan salah satu Anggota keluarga pah." Dafa


"Gapapa sayang, anggap dia kakak kamu, kalau guru bertanya bilang saja kak Angga, kamu gak bohong, dia memang namanya kak Angga. Hehe.." Pak Andra


"Ok deh pah, kasina juga kalau papah yang harus lari sambil gendong aku, papah yakin kak Angga kuat?" Dafa

__ADS_1


"Kuat dong.." Angga


"Ok deh, kita tos dulu kak..!" Dafa


Akhirnya Dafa mau bermain satu kelompok dengan Angga, Pak Andra begitu senang melihat mereka akrab seperti itu.


Andai Angga anakku ada bersamaku, dia pasti setampan dan sekuat Nak Angga Baskoro ini. Pikir Andra


Saat teman yang lain bertanya tentang lelaki tampan dan gagah yang bersama Dafa, bocah itu akan menjawab dengan semangat dan tersenyum senang.


"Kamu satu kelompok sama siapa Dafa? Aku kira kamu sama papah kamu." Kiki (teman Dafa)


"Ini kak Angga." Dafa


"Oh, pantesan kalian mirip sekali." Kiki


Baguslah, kiki berpikir kak Angga benar-benar kakak ku. Hehehe.. Batin Dafa


Mereka begitu kompak dan menjadi pusat perhatian karena mereka sama-sama tampan dan wajah mereka mirip.


Pak Andra yang melihat mereka memenangkan perlombaan, dia berteriak paling kencang. Dia berlari menghampiri dua lelaki yang membanggakannya itu.


"Pah aku menang pah.." Dafa


"Iya kamu hebat nak." Pak Andra


"Aku cuma digendong, dan berlari sedikit di sebelah sana, Kak Angga yang hebat ya pah?" Dafa


"Iya, Kak Angga hebat." Pak Andra


"Hah.. hah.. aku butuh air, apa kalian membawa air minum?" Tanya Angga yang kelelahan.


"Biar aku ambilkan Kak." Dafa


Bruk… Angga terduduk di bawah karena lelah, dia sudah lama tidak berolahraga dan sibuk di kantor seharian membuatnya gampang lelah.


"Nak Angga tidak papa, aduh saya merasa bersalah sekali." Andra


"Tidak apa-apa, saya hanya sudah lama tidak berolahraga, hehe.." Angga


Melihat Dafa membawa minuman, membuat mata Angga berbinar, dia langsung mengambil dan meneguk semua air di dalam botol minum itu sampai habis.


"Hahaha… Kak Angga lucu." Dafa


"Apanya yang lucu?" Angga


"Kak Angga tampan, keren, masa lari segitu udah terkapar dibawah. Hehehe.." Dafa


"Kakak hanya sudah lama tidak berolahraga, tapi 'kan yang penting kita menang, hehe" Angga


"Iya kak, makasih.." Dafa


"Sama-sama anak ganteng." Angga


Mereka menjadi semakin akrab, bahkan Dafa meminta Angga mampir ke rumahnya, main sebentar bersamanya, tentu saja Angga senang sekali, selain menyukai anak lelaki itu, Angga juga bisa sekalian mencari informasi tentang keluarga mereka lebih dalam lagi.


Angga menjadi orang yang paling semangat diantara mereka.


"Kalau begitu ayo kita pergi ke rumah kamu Dafa," ajak Angga berjalan lebih dulu ke parkiran sekolah.


Dafa dan Pak Andra saling menatap satu sama lain, merasa sedikit heran dengan sikap Angga yang dianggap terlalu berlebihan, karena itu 'kan hanya berkunjung ke rumah mereka saja.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2