
Aldi terjungkal karena pukulan Sanjaya, Maya menahan suaminya itu agar tidak emosi yang berlebihan, jika Aldi terluka parah, maka akan menjadi masalah baru untuk Sanjaya.
"Hentikan Bang.. !" Teriak Jani
"Kamu masih mau membela dia hah?." Sanjaya
"Tidak, aku hanya tidak mau jika Abang harus berurusan dengan polisi." Jani
"Kalian selalu saja mencampuri urusanku, aku muak, akan aku kembalikan Jani pada kalian, dan aku harap kalian jangan pernah mengganggu kehidupanku lagi dan juga Kirana!" Aldi
Aldi pergi meninggalkan mereka, dengan mengabaikan luka di sudut bibirnya.
Jani menatap punggung Aldi saat lelaki itu pergi, dia merasa berat melepaskan, namun dia juga harus mencari kebahagiaannya sendiri.
Maya yang melihat Jani sedih, dia mulai menenangkan adik iparnya itu, sementara Sanjaya malah terus saja bicara, terlihat sekali jika Sanjaya memang kesal.
"Kamu harusnya yang menceraikannya lebih dulu, kamu buang laki-laki macam dia!" Sanjaya
"Kamu itu adik Abang yang cantik, banyak yang mau sama kamu, jangan mengemis cinta begitu, apalagi sama c Aldi itu..!"Sanjaya
"Udah pah, jangan marahin Jani lagi, kasiankan dia, lagi sakit diomelin terus." Maya
"Hmm..iya iya, sudahlah kita jangan berurusan lagi dengannya, Kirana juga sama ayahnya, gak usah kamu pikirin lagi anak itu Jani!" Sanjaya
"Tapi aku tetap saja khawatir Bang, apalagi setelah melihat perubahan Mas Aldi yang semakin kasar." Jani
"Hmm.. aku mulai lelah menghadapimu yang keras kepala, mah.. papah pulang duluan ya?." Sanjaya
"Papah gak nungguin mamah?." Maya
"Hmm, papah duluan aja, bisa-bisa tensi darah papah tinggi lama-lama disini." Sanjaya
Sanjaya pergi begitu saja dan Jani hanya menghembuskan nafas kasarnya, dia merasa telah membebani kakaknya namun dia juga punya pemikirannya sendiri.
Maafkan aku Bang, maafkan aku.. Batin Jani
"Kalau kamu masih mengkhawatirkan Kirana, kita bisa mencarinya dengan sembunyi-sembunyi, jangan sampai Mas Sanjaya tahu..!" Maya
"Makasih mbak, mbak memang pengertian." Jani
"Mbak juga sebenarnya mengkhawatirkan anak itu jan." Maya
Maya menggenggam tangan Jani dengan kedua tangannya, seolah memberi kekuatan pada adik iparnya itu, agar lebih kuat menghadapi cobaan yang menimpanya.
***
Saat mata kuliah selesai, Nisa meminta Gita untuk mengantarnya mencari buku untuk bahan tugasnya.
Bahkan memaksanya, sebagai bentuk tanggung jawab karena sahabatnya itu menjahilinya sampai mendapatkan hukuman.
__ADS_1
"Lo pokoknya harus anterin gue, karena tugas ini ada juga gara-gara lo..!" Nisa
"Hmm.. iya bawel, gue akan tanggung jawab." Gita
"Chat kak Reza dulu, biar nanti dia gak nyariin lo..!" Nisa
"Iya, gue bukan anak kecil yang selalu diberi tahu." Gita
"Hehehe.. takut lo lupa aja." Nisa
Gita dengan segera mengirim pesan pada Reza agar tidak perlu menjemputnya pulang, lalu mereka segera pergi menggunakan taksi.
Saat mereka memasuki sebuah toko buku, beberapa orang mulai memperhatikan Gita, mereka mengenali gadis itu sebagai anak Baskoro, karena saat acara pertunangan itu membuat Gita dikenal banyak orang, terutama kalangan atas yang berkecimuh di dunia bisnis.
Namun meski tempat itu lumayan bagus dan fasilitas yang enak, tetap saja masih ada pencopet.
Karena pencopet itu melihat penampilan Gita yang terlihat stylish dan modis, pencopet itu tertarik dan mengincar gadis itu.
Tangan yang mulai menjelajah ke dalam tas Gita, namun disadari oleh gadis itu, tanpa pikir panjang dia memelintir tangan pencopet itu dengan bukti dompet yang masih dipegang lelaki itu.
"Kena kan." Ucap Gita
"Aw.. sakit, lepas!" Pencopet
"Enak aja lepas, nanti dilepas kalau sudah sampai kantor polisi." Gita
Disaat udah ketahuan bisa bilang begitu, kalau lancar sih pasti itu dompet tinggal dompetnya aja. Pikir Gita
"Enak aja, hajar aja Git..!." Teriak Nisa, dia begitu bersemangat.
Astaga ini anak, kenapa semangat gitu sih? Pikir Gita
Semua orang mulai ramai menghampiri mereka, bahkan ada yang sengaja mengabadikan momen itu dengan memvideokannya.
Security pun akhirnya mengambil alih, dia segera menyeret pencopet itu.
"Biar saya urus sisanya nona, terimakasih sudah membantu menangkap pencopet ini." Security
"Iya, sama-sama Pak." Gita
"Yah gak seru, kenapa lo tadi gak bikin dia babak belur sih?" Tanya Nisa
"Hmm.. gak lah, kan udah pasrah pencopetnya juga." Gita
"Gak seru ah, kalau nanti ada pencopet lagi, gue harap yang agresif gitu, biar lo bisa beraksi, kan keren." Nisa
"Astaga, doa lo itu keterlaluan banget." Gita
"Hehe.. " Nisa hanya tertawa menanggapi temannya itu, mereka melanjutkan pencarian mereka, mencari bahan tugas.
__ADS_1
Orang-orang yang sempat berkerumun tadi pun membubarkan diri, namun video tadi tersebar begitu cepat di sosial media, dengan topik utamanya Gita anak pengusaha kaya keluarga Baskoro yang mennagkap seorang copet. hehe
Setelah selesai mencari apa yang mereka butuhkan, mereka berniat pulang dan memesan taksi online, namun ternyata Reza sudah ada didepan mereka.
"Gita, kamu gapapa kan?." Reza
"Memangnya aku kenapa?." Tanya Gita
"Aku khawatir aja kamu terluka karena pencopet tadi." Reza
"Mana ada kak, yang ada pencopernya yang terluka." Jawab Nisa
"Hehehe.. iya sih, udah yuk kita pulang, disini bahaya banyak copet." Reza
"Hahaha.. so tahu, coba mana pencopet-pencopetnya?." Tanya Gita
"Bukan so tahu, tapi waspada aja, ayo pulang, aku bawa mobil, Nisa bisa sekalian bareng." Reza
Mereka Pun pulang dengan menggunakan mobil yang dibawa Reza, dan ternyata itu mobil pinjaman milik asisten pribadinya (Roni), Reza tidak mau jika naik motor dan malah dibonceng Gita lagi.
Bahkan tadi siang pun saat Gita mengatakan tidak usah dijemput, itu sangat melegakan bagi pria itu, dia tidak mau mengulangi kejadian memalukan di hari kemarin.
Untung aja gue bisa pake mobil c Roni, kalau enggak, bisa malu lagi gue dibonceng sama pacar. Batin Reza
"Za, motor kamu mana?." Gita
"Ada dikantor, aku khawatir pas liat video kamu, langsung OTW deh pakai mobil ini." Reza
"Ih, padahal aku lebih suka naik motor." Keluh Gita
"Kalau lo naik motor berdua, gue gimana dong Git? Tega bener deh." Keluh Nisa
"Hahaha, ya pulang sendiri lah, emangnya anak TK mesti dianter-anter." Gita
Nisa cemberut sepanjang jalan, bukan hanya karena ucapan Gita saja, namun karena dia duduk di kursi belakang sendirian dan menjadi orang ketiga diantara mereka, membuat dia benar-benar kesal.
"Gue serasa jadi kambing c0nge deh.." Keluh Nisa
Namun dua sejoli itu malah asyik bercanda, mengobrol berdua, serasa dunia hanya milik mereka berdua.
"Hmm.. gue dikacangin." Keluh Nisa lagi.
"Awas Kak Reza..!" Nisa
Mobil itu lalu berhenti seketika membuat semua orang kaget.
"Ada apa Za?" Gita
Bersambung...
__ADS_1