Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Seperti Ikan Louhan


__ADS_3

Keesokan harinya Angga sarapan bersama keluarga Baskoro, karena acara semalam membuat pria itu menginap disini.


Sebenarnya Angga yang sudah beralih mengurus perusahaan papanya Andra karena sudah ada Gita dan Baskoro yang memimpin perusahaan.


Angga sedang berusaha memajukan perusahaan ayahnya sendiri, Baskoro juga memberikan modal yang banyak untuk membantu Angga, sudah 2 bulan terakhir ini dia menetap tinggal di rumah Andra, namun disana sudah tersedia kamar yang lengkap beserta baju-bajunya, membuat dia pergi tanpa membawa apapun barangnya disini.


Sehingga membuatnya tidak kerepotan saat sesekali menginap di Keluarga Baskoro.


"Kak, lesu amat?" Gita


"Kurang tidur nih Git." Angga


"Kak, tau gak?" Gita


"Gak, dan gak mau tau." Angga


"Ini soal Nisa." Gita


"Apa? Kenapa dia?" Angga


"Katanya gak mau tau, hmm.." Gita


"Kakak ralat yang tadi, di delete deh omongan yang tadi, hehe jadi gimana?" Angga


"Siang ini dia mau balik ke luar negeri nerusin kuliahnya, aku tadinya udah janji mau nganterin dia sampe bandara, tapi ternyata aku ada pertemuan penting di kantor, dan gak bisa diwakilkan, jadi...." Gita


"Oke, Kakak aja yang anterin, hehe.." Angga


"Gercep banget, ya maksud aku gitu, nanti siang Kakak jemput dia di rumahnya jam 10." Gita


"Oke." Angga


Mendadak pria itu bersemangat, bahkan sarapan dengan cepat, pria itu bersiap-siap pergi ke kantor ingin menyelesaikan rapat paginya hari ini.


Yes, mungkinkah ini kesempatan kedua? Pikir Angga


Gita pergi terlebih dahulu, setelah itu mobil Angga yang keluar dari gerbang. Sementara Baskoro sedang bersantai di Rumah, pria itu hanya pergi ke Kantor sesekali saja.


***


Pukul 09.30 Angga sudah berada didepan rumah Nisa, namun dia hanya berdiam diri disana, dia menunggu jam 10.00.


Pria itu tidak mau jika sampai membuat Nisa menunggu, maka dia pergi lebih awal.


Masuk gak ya? Tapi, Gita bilang jam 10, gimana ini? Pikir Angga


Dia menelpon Gita, namun ternyata ponselnya tidak aktif, sepertinya adiknya itu memang sedang melakukan pertemuan penting.


Angga juga tidak bisa menghubungi Nisa lewat pesan, karena dia tidak punya nomor ponselnya, membuat lelaki itu semakin bingung.


Setelah 15 menit menunggu, pria itu memberanikan diri untuk masuk ke dalam.

__ADS_1


Ibunya Nisa mempersilahkan Angga masuk dan menunggu Nisa didalam saja.


"Kak Angga, kenapa Kakak yang datang kesini?" Nisa


"Hehe, itu.. emm anu, Gita tidak bisa datang karena acara yang mendesak, jadi aku yang menggantikannya," ucap Angga sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


"Hmm, aku gapapa kok Kak pergi sendiri, aku gak mau ngerepotin Kakak, lagipula aku bukannya tidak bisa ke Bandara sendiri, hanya saja ingin ditemani sahabatku,hehe..." Nisa


"Oh, jadi Kakak pulang lagi nih?" Angga


"Kasian dia Nis, udah jauh-jauh kesini, kamu dianterin Den Angga aja..!" Ibunya Nisa


"Hmm, Kakak bawa sopir gak?" Nisa


"Gak, memangnya kenapa?" Angga


"Mah, Kak Angga sendirian, nanti Nisa berduan aja dong di dalam mobil." Nisa


"Hmm, gapapa kamu duduk di belakang aja..!" Ibunya Nisa


Akhirnya mereka pergi saat jam 10 tepat, Nisa duduk di belakang dan Angga menyetir di depan layaknya supir pribadi Nisa.


Gadis itu menunduk saat melihat tatapan Angga lewat spion dalam mobil.


Angga yang menyadari jika aksinya ketahuan, dia seketika mendadak salah tingkah. Dan mencoba mengalihkan rasa canggung itu.


"Nis, berapa lama lagi kamu kuliah disana?" Angga


"Emm, sekitar 1 tahun lebih Kak." Nisa


"Aku betah-betahin aja Kak, aku sebenarnya lebih suka disini, ada keluarga juga, kalau disana aku 'kan sendirian." Nisa


"Kamu udah punya pacar?" Angga


"Hehe, aku gak mau pacaran Kak, nanti aja kalau ada jodohnya taaruf lalu menikah." Nisa


"Oh, hehe.." Angga


Aduh, salah nanya… dia memang belum punya calon, cuma kalau ada yang tiba-tiba ngajak taaruf trus nikah gimana? Pikir Angga


"Minat gak kalau taaruf nya sama Kakak aja..!hehe.." Angga


"Ah Kakak becanda aja, udah sampe nih." Nisa


Angga mengantar sampai ke dalam, bahkan menunggu sampai pesawat yang ditumpangi gadis itu benar-benar lepas landas.


Angga pulang dengan kekecewaan, dia pergi dengan semangat dan pulang dengan wajah murungnya.


Sementara Nisa yang berada di dalam pesawat, dia masih mengingat pertanyaan Angga, gadis itu memang masih meninggalkan sedikit harapannya pada Kakak sahabatnya itu, namun yang terpenting saat ini adalah cita-citanya.


Jika kita berjodoh, pasti tuhan mempertemukan kita suatu saat nanti Kak, jika pun bukan, aku berharap kita menemukan kebahagiaan kita meski dengan orang lain. Batin Nisa

__ADS_1


Siang itu Angga memilih pulang ke rumah papanya Andra, dia sudah tidak ingin kembali ke kantor dan asistennya lah yang menghandle semua pekerjaannya hari ini.


Siang itu Angga membaringkan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamarnya. Jadi begini ya rasanya dianggap tidak ada? Dianggap tidak penting dan dikacangin? Sesakit ini? Batin Angga


Angga akhirnya tertidur siang itu.


"Kak bangun Kak!" Dafa


"Ada apa? Kakak masih ngantuk." Angga


"Anterin aku ke rumahnya Kak Kirana!" Dafa


"Sendiri aja sama pak Nanang tuh! biasanya juga bertiga ditambah sama bi Sri." Angga


"Ih, Kakak 'kan gak kerja, ayo bangun jangan malas-malasan Kak!" Dafa


Dafa yang gigih membangunkan adiknya itu, membuat Angga akhirnya bangun dan mengantar bocah itu pergi.


Angga yang sedang bad mood itu duduk dibelakang bersama Dafa, sementara yang menyetir adalah pak Nanang.


Dafa bingung dengan sikap Kakaknya itu, bahkan ketika dikerjai, pria itu diam saja, tidak melakukan perlawanan apapun.


"Kakak kenapa sih? Lesu banget, di klitikin juga gak mempan, senyum dong! Ketawa dong!" Dafa


"Hahahaha… , udah tuh ketawa." Angga tertawa dengan terpaksa dengan wajah lesunya.


Dafa menatap Kakaknya dengan kebingungan, Kakak sebenernya kenapa? Hari ini kok dia Aneh banget. Pikir Dafa


Ckit…


Tiba-tiba mobil itu berhenti seketika karena ada kucing yang tiba-tiba berlari menyeberang jalan, membuat Dafa terpental dan kepalanya benjol.


"Hahahaha…. Kepalamu kaya ikan louhan, hahaha… makasih kamu udah menghibur Kakak." Angga


"Ini bukan hiburan Kak." Dafa


"Pak, yang benar dong bawa mobilnya!" ucap Dafa pada supir didepan.


"Maaf Den, ada kucing nyebrang tiba-tiba." Pak Nanang


Kini Dafa yang merasa kesal, dia bad mood sepanjang jalan, sementara Kakaknya tertawa setiap kali melihat kearah kening adiknya itu.


Yang lebih menderita adalah Pak Nanang, yang berusaha menahan tawanya melihat Dafa, lelaki itu takut jika sampai dipecat, sekuat tenaga dia bersikap biasa saja dan mengabaikan majikan mudanya itu.


Namun tetap saja saat melihat benjolan itu dari spion dalam mobil, dan menyamakan benjolan itu dengan ikan louhan seperti yang dikatakan Angga, membuatnya akhirnya tertawa lepas.


Namun supir itu tertawa saat keadaan sudah kembali hening.


"Hahahahahaha…." Pak Nanang.


Membuat dua penumpang di belakang, saling menatap heran.

__ADS_1


Ah leganya akhirnya tawa ini bisa dikeluarkan, astaga apakah ini akan menjadi hari terakhirku bekerja? Batin Pak Nanang.


Bersambung...


__ADS_2