
Pagi hari tiba, Ratu bangun dengan wajah yang cemberut, ia bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena mengkhawatirkan si Putih, dari matanya pun jelas terlihat kalau ia kurang tidur.
Ratu berencana menemui si Putih lagi, tapi Sani memberitahu bahwa Ibu Suri sakit dan sempat pingsan, akhirnya mereka pergi ke paviliun Ibu Suri terlebih dahulu.
Ternyata mertuanya itu sudah membaik, dan tak lama Ratu pun pamit karena ia ingin melihat keadaan si Putih.
Setibanya disana, Ratu merasa sedih karena belum ada perkembangan lagi tentang kesehatan si Putih. Hari kemarin kudanya itu mulai mau makan, dan sekarang si Putih masih dengan porsi makan yang sedikit. Bahkan waktunya lebih banyak digunakan untuk berbaring karena lemas.
"Putih…" Panggil Ratu lirih
"Tolong panggilkan tabib istana kemari..!" Ucap Ratu pada salah satu pengawal
Pengawal itu sedikit merasa bingung, tapi ia tak bisa membantah,
"Baik yang mulia.." jawab Pengawal sambil melangkah pergi
"Untuk apa Ratu memanggilnya?" Tanya Sani heran
"Untuk mengobati si Putih.." jawab Ratu pelan, ia masih fokus pada si Putihnya itu
Sani yang tak tega melihat Ratunya bersedih, ia membiarkan Ratunya itu melakukan sesuatu untuk kudanya itu, meski itu sedikit aneh.
Tabib istana pun datang,
"Salam yang mulia.." Ucap Tabib
"Tolong kamu periksa keadaan si Putih dan obati dia..!" Ucap Sang Ratu
__ADS_1
"Si Putih itu yang mana orangnya yang mulia?" Kini Tabib istana merasa bingung
"Tentu saja kudaku itu." Ratu menunjukan jari telunjuknya pada si Putih yang sedang berbaring lemas
"Apa-apaan Ratu ini, mana bisa saya mengobati hewan sakit."Gumam Tabib dalam hati
"Tapi saya belum pernah merawat hewan sakit yang mulia, saya tidak mengerti." Jawab Tabib dengan wajah bingungnya itu.
"Bukankah kamu selalu membanggakan jarum-jarum mu itu, coba saja dulu..anggap saja kamu sedang mengobati manusia bukan hewan..!" Ratu mulai memaksa
Akhirnya sang Tabib tak bisa membantah lagi, ia mulai mendekati si Putih, meraba sebagian badannya. Tabib merasakan memang kuda itu badannya sedikit demam. Ia menyudahi pemeriksaanya dan memberikan saran agar si Putih dibiarkan istirahat dulu dan diberi makanan meski ia tidak mau, ya.. harus disuapi secara paksa. Tapi Ratu tidak puas dengan hasilnya.
"Tapi tabib, si Putih itu hanya berbaring ia sepertinya kesulitan tidur, bisakah kau membuatnya tertidur dengan jarum akupunturmu itu..!" Ucap Ratu
"Ta-pi dia bukan manusia yang mulia." Ucap Tabib
"Astaga, merepotkan sekali, haruskah aku menurutinya meski ini tidak masuk akal? Aarrghhh.." Tabib itu mulai marah dalam hatinya
Tetapi kemarahan itu ia pendam, ia melangkah masuk lagi memeriksa si Putih. Memang hewan ini berbaring tapi matanya tak terpejam, seperti mengalami susah tidur, akhirnya sang tabib menggunakan metode akupuntur yang sama pada si Putih seperti yang biasa ia lakukan pada pasien manusia.
Saat ia mencoba menancapkan jarum yang pertama di kaki belakang kuda, dan ternyata kaki depan si Putih refleks menendang sang tabib hingga ia terjungkal ke belakang dan meninggalkan jejak lebam di pipinya, bahkan lebam itu meninggalkan bentuk sepatu kuda.
"Hahahahha… " para pengawal disana tertawa
"Astaga" Sani dan Ratu serempak membuka mulut mereka karena kaget
Tabib itu kemudian berlari menghindar jauh dari si Putih.
__ADS_1
"Yang mulia, maafkan hamba.. sepertinya hamba benar-benar tidak bisa mengobati kuda itu." Ucap sang tabib sambil memegangi pipinya yg sakit
Sani yang menoleh ke arah sang tabib, berusaha menahan tawanya itu, tapi ia benar-benar tak bisa menahan rasa ingin tertawanya saat melihat bentuk sepatu kuda dipipi tabib itu.
"Hahahahha.. benar-benar lucu." Sani akhirnya tertawa lepas
"Apa kau menertawakanku?" Tanya sang Tabib kesal
"Ah tidak, aku heran denganmu, bukannya jarummu itu sangat kau banggakan tapi kenapa itu menjadi tidak berguna saat ini? Hemm.." Sani mencoba menyindir Tabib istana
"Ini jelas berbeda, lagipula aku bukan tabib hewan." Jawab tabib itu, ia semakin kesal
"Yang mulia, apakah ada yang harus hamba lakukan lagi?" Tanya tabib
"Tidak usah, pergilah..dan obati lukamu itu..!" Jawab Ratu lemas , kini ia berdiri memandangi si Putih dengan rasa sedih
Sang tabib akhirnya merasa lega, ia kembali dengan terburu-buru, ia tidak ingin berurusan dengan kuda itu lagi.
Ratu menyuruh beberapa pengawal mengambil buah-buahan segar di perkebunan dan mencari banyak rumput segar, ia akan memastikan kudanya itu makan walau hanya sedikit.
"Putih…. Jangan buat gue begini dong, gue udah terlanjur sayang banget sama lo, pokoknya lo harus bertahan." Gumam Gita (Ratu) dalam hati
Selama beberapa hari ini Ratu memperketat pengamanan si Putih meski terkesan lebay dimata orang lain, ia curiga dengan kesakitan si putih yang mendadak itu, ia tidak ingin keadaan si Putih semakin memburuk.
Selama membaca komik, ia tidak pernah membaca tentang kudanya ini. Mungkin karena alur ceritanya mulai berubah. Ia juga tidak tahu siapa dibalik sakitnya si Putih, nama yang terbesit di pikiran Ratu hanya satu "Selir Mey" tapi ia tidak ingin menuduh tanpa bukti.
Bersambung…
__ADS_1