
Pagi hari telah tiba, Ratu merasa badannya pegal-pegal karena kelakuan Raja Deon, ia malas sekali untuk bangun, meski ia dapat melihat cahaya matahari yang tembus ke dalam celah-celah jendela, tapi ia tak menghiraukannya.
Begitu pula dengan Deon, ia masih terbaring dengan lelapnya karena kelelahan.
Tiba-tiba Ratu merasakan mual yang setiap pagi ia rasakan, ia memaksakan diri untuk bangun, saat ia menurunkan kedua kakinya dari ranjang.
"Astaga, gue lupa kalo gue gak pake baju sama sekali, tapi gue bener-bener gak tahan, gue pengen muntah.." Ucap Gita (Ratu)
Akhirnya dia memutuskan berlari ke kamar mandi dengan tanpa memakai pakaian sama sekali.
Raja Deon yang mulai bangun dan mendengar suara orang sedang muntah, ia sedikit panik lalu mengambil handuk, dengan cepat ia memakainya, lalu pergi menyusul Ratu.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Tidak, aku hanya mual, dan ini sudah biasa aku alami setiap pagi, kamu tidak usah khawatir..!"
Saat Ratu menyadari ia sedang tidak memakai pakaian, ia langsung refleks menutupi dua asetnya itu. Aset atas dan bawahnya dengan tangannya.
"Haha… kau ini kenapa? Bukankah aku sudah melihat semuanya, tidak usah berlebihan begitu..!"
"Ia sih, tetep aja gue risih." Gumam Gita (Ratu) dalam hatinya
Ratu lalu tersipu malu, perlahan ia menurunkan tangan yang sedang menutupi sesuatu itu.
"Aku sudah tidak apa-apa, aku ingin mandi, sebaiknya kamu keluar dulu..!"
"Aku sudah disini, kenapa harus keluar, demi menghemat waktu lebih baik kita mandi bersama saja, biar aku yang menggosok badanmu." Ucap Raja Deon dengan senyuman nakalnya.
"Astaga, gue udah gede masa harus dimandiin juga sih, Huh.." Keluh Gita dalam hatinya
"Hmm.. terserah." Jawab Ratu
Raja langsung menggendong sang Ratu, membawanya ke bagian dalam kamar mandi, disana terdapat tempat untuk berendam juga, lalu Raja menurunkan Ratu, menuntunnya masuk ke kolam pemandian, meski kolam itu tidak besar tapi cukup untuk mandi berdua.
Ratu hanya mengikuti kemauan Deon, kali ini ia tidak ingin berontak. Mereka Pun duduk bersebelahan di dalam kolam dan Raja pun mulai menggosok badan Ratu.
"Astaga, baru kali ini gue dimandiin, ko ser-ser an geli-geli gitu ya? Hmm.. kendalikan dirimu Gita..! lo ko jadi keenakan gini sih, kayak penganten baru aja, huh.. tapi emang ia sih hany moon gini kali ya rasanya." Gumam Gita
Saat tangan Deon yang nakal mulai menjelajah ke bagian tubuh Ratu yang sensitif.
"Kamu nakal Deon, kamu niat gak sih mandiin aku?" Keluh Ratu
__ADS_1
"Hahaha.. ini menyenangkan." Jawab Deon bersemangat.
"Ya ampun, haruskah gue ngelakuin adegan semalam disini?" Keluh Gita dalam hati
Mereka begitu menikmati pagi hari dengan mandi bersama, bahkan saking asiknya mereka sampai kedinginan.
"Katanya mandi bersama itu menghemat waktu, mana buktinya? Malah semakin lama saja." Keluh Ratu
"Ah, sayang... bukankah kau juga menikmatinya?"
"Sudahlah tidak usah dibahas."
Ratu buru-buru melangkahkan kakinya keluar kamar mandi, berdiri di depan lemari dan memilih baju yang hari ini ia akan pakai.
Setelah sama-sama siap, mereka pun menikmati sarapan pagi bersama.
Hari ini Deon berniat mengunjungi selir Mey di dalam penjara setelah menemani Ratu.
* * *
Rizad datang menemui selir Mey, ia memberitahu kalau Raja sudah kembali. Karena dia sempat melihat Raja mengunjungi ibu Suri.
Selir Mey begitu senang, ia tersenyum penuh harap. Tentu saja senyuman untuk pertama kalinya sejak ia di dalam sel tahanan, meski harapan itu kecil tapi ia harus tetap bergantung pada harapan itu, ia tidak ingin mat* sia-sia.
Terdengarlah suara langkah kaki menghampiri sel selir Mey, dia mengangkat wajahnya dan mulai tersenyum.
"Deon… tolong aku..!"
"Hmm.. seharusnya kamu mengakui kesalahanmu dulu, baru meminta bantuan padaku..!"
"A-aku… a-ku benar-benar tidak berpikir jernih waktu itu, aku terlalu cemburu padanya, kau bahkan mengacuhkanku akhir-akhir ini karena dia."
"Tetap saja, cemburu mu itu berlebihan Mey, kamu sudah berusaha membunuh calon anakku juga, bukankah dia tidak melakukan kesalahan apapun padamu? Sudahlah lebih baik kamu terima hukuman atas apa yang telah kamu lakukan..!"
"Deon… tidak adakah sedikit saja rasa kasihan padaku? Aku yakin masih ada cinta di dalam hatimu untukku."
"Tidak. Dengan sikapmu yang seperti ini membuatku muak Mey, bahkan tak ada rasa bersalah yang terlihat dari matamu, kamu hanya mementingkan dirimu sendiri, mencari alasan pembenaran atas kejahatanmu."
Raja pun membalikkan badannya dan melangkahkan kakinya keluar tanpa memperdulikan teriakan selir Mey yang terus memanggil namanya.
"Dia yang berubah, atau aku yang selama ini salah menilainya?" Gumam Raja dalam hatinya.
__ADS_1
Mey kini merasa benar-benar diujung jurang, tak ada harapan yang bisa menolongnya, ia menangis terisak. "Semua ini gara-gara kamu Anggrek." Ucap Mey
Hati selir Mey benar-benar dipenuhi kebencian, ia sama sekali tidak merasakan rasa bersalah, justru malah menyalahkan orang lain.
* * *
Raja akhirnya kembali menuju paviliun Ratu Anggrek. Disana sudah ada ibu Suri yang menunggunya bergabung untuk berbincang-bincang.
"Bagaimana keputusanmu tentang Mey?" Tanya ibu Suri
"Ah itu, masih aku pikirkan bu. Aku memang akan menghukumnya tapi aku masih memikirkan hukuman yang pantas untuknya." Ucap Deon
"Jangan sampai kamu menolongnya Deon..! Ibu tidak akan membiarkannya." Ibu Suri menegaskan
Raja Deon hanya mengangguk sambil menatap wajah Ratu Anggrek, dia tahu jika dia membebaskan Mey, itu tidak akan adil untuk Anggrek, tapi jika hukuman mat* yang diberikan, itu juga terlalu kejam untuk orang yang pernah hadir di hatinya.
Deon yakin kalau ia kini sudah tidak mencintai selir Mey, tapi setidaknya ia akan memberikan keringanan hukuman untuk Mey.
* * *
Hari berganti hari, hingga seminggu sudah berlalu. Hari ini tepat dimana hari selir Mey mendapat hukuman. Selama itu Raja terus berpikir mengenai hukuman Mey ia ingin memperingan hukumannya tapi ketika rapat menteri diadakan, ibu Suri pun hadir disana, dan semua yang hadir menginginkan hukuman Mey sesuai dengan hukuman yang ada.
Jika ada seseorang yang berusaha membunuh keluarga Raja, maka akan dihukum mat* dengan cara dipenggal. Itu terdengar mengerikan bagi Deon apalagi bagi selir Mey, ia tidak bisa tidur setelah mendengar keputusan itu.
Rizad yang tidak bisa membantu, dia hanya bisa pasrah melihat pujaan hatinya akan mat* hari ini, ia tak sanggup melihatnya, dia tidak akan datang ke tempat eksekusi hari ini.
Paman Heri saat mengetahuinya pun, dia malah merasa senang, karena ia merasa diuntungkan dengan kematian keponakannya itu. Dia bahkan sengaja datang meluangkan waktunya untuk melihat eksekusi Mey.
Sementara Ratu hanya diam di kamarnya, ia tidak ingin melihat kejadian mengerikan itu, ia tidak sanggup apalagi dalam keadaan hamil begitu, dengan izin Raja dan ibu Suri akhirnya Ratu tetap diam di paviliunnya.
Semua orang berkumpul di depan istana, semua pengawal, pelayan, bahkan sebagian rakyat pun ikut menyaksikan eksekusi ini, karena ini dibuka untuk umum, untuk memperingatkan kepada semua orang jika hukum di istana ini sangatlah kejam, agar tidak ada yang berani lagi melakukan kejahatan.
Terlihatlah dua pengawal yang menggiring selir Mey dari dalam, terlihat wajah selir Mey yang sudah pucat pasi. Ia memberontak dan tak ingin melangkah mendekati tempat kematiannya.
"Aku tidak ingin mat* sia-sia, tuhan tolonglah aku..!" Gumam Mey lirih dalam hatinya
Tapi dua pengawal itu terus menyeretnya hingga setengah jalan, tiba-tiba selir Mey ambruk tak sadarkan diri.
Bersambung..
Rekomendasi Novel hari ini, jangan lupa dikepon ya..! :)
__ADS_1