
Sore itu Gita melihat isi lemari, ternyata masih ada baju-baju yang pernah dibelikan ibunya itu.
Karena baju yang biasa Gita beli tentulah hanya baju-baju biasa yang terkesan tomboy. Namun kini dia bingung memadupadankan semuanya, antara baju , sepatu, tas dan gaya rambut.
Gita ingin meminta bantuan ibunya, namun ia bingung bagaimana cara bicara yang tepat mengenai hal ini, dia menghampiri ibunya di dapur.
"Mah.. "
"Iya Git…"
"Lihat dulu mah, kalau baju yang ini cocok dengan tas yang mana mah?."
Bu Hanna menoleh, dia sedikit mengerutkan keningnya.
"Hmm.. sebaiknya satu warna aja sayang, kamu mau mau pake baju itu?."
"Iya mah, bagus gak sih?."
"Bagus, cuman ada acara apa nih, tumben bener anak mamah mau pake baju yang feminim gitu." Bu Hanna penasaran
Gue harus ngomong apa ya? Kalau gue bohong, dosa dong, tapi kalau jujur nanti mamah ngetawain gue lagi, godain gue. Pikir Gita
"Aku ada acara nanti malam mah, trus disuruh dandan cantik."
"Emm.. ya udah nanti mamah dandanin kamu, mamah nanggung nih lagi masak."
"Ok. Makasih mah." Ucap Gita tersenyum lega, akhirnya dia tidak perlu pusing memikirkan baju mana yang harus dia pakai, dia kembali ke kamarnya, merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang kini berantakan.
Gita juga merasa heran sendiri kenapa dia bisa repot-repot mengeluarkan semua baju-baju itu, kenapa dia mesti seribet ini padahal cuma acara makan malam.
Saat dia melihat baju-baju yang berantakan, rasanya malas untuk merapikannya lagi, dia memanggil bi Mina untuk membenahi semuanya. Sementara dia sibuk mengirim pesan pada Nisa.
Dia ingin bertanya pengalaman Dinner Nisa yang mungkin bermanfaat untuknya, namun Nisa tidak memberikan solusi dia hanya sibuk menggoda dirinya membuatnya kesal.
| Udahlah, kalo lo gak tau bilang aja..! Ini malah godain gue terus, gue makin gugup tahu.| Gita
| Cie.. sorry deh, iya gue gak pernah diromantisin cowok Git, lo tanya aja sama mbah google.hehe| Nisa
Tau gini gue langsung searching aja, buang-buang waktu deh. Gumam Gita
"Non.. ini udah bibi beresin semua, ada lagi yang harus bibi kerjain non?."
"Gak usah bi, makasih ya."
"Iya Non."
Akhirnya Gita bisa membaringkan badannya di ranjang yang kini telah rapih, baju-baju nya pun telah kembali ke tempat semula.
Dia menscroll handphone nya mencari tahu apa saja yang harus disiapkan saat ingin dinner dengan pacar.
Hahaha… apa gue gila ya? Segitunya gue sampe harus nanya Nisa , harus searching google, Astaga gara-gara dia nyuruh gue dandan cantik nih, gue kan jadi gak PD dan harus bekerja keras. Pikir Gita
***
Berbeda halnya dengan Reza dia sedang bersiul-siul senang. Membuat ibu dan ayahnya heran.
__ADS_1
"Kamu habis menang tender Za? Seneng bener." Tanya Sanjaya
"Gak pah."
"Terus…?"
"Terus apanya pah? Terus kemana ini maksudnya." Jawab Reza lalu melanjutkan siulannya, kini dia juga bernyanyi.
"Za, kamu lagi seneng? Ada hal membahagiakan?." Tanya Maya
"Hehehe.. ada dong, Reza mau dinner nanti malam, sama Gita mah."
"Oh.. dinner, biasanya juga gak kaya gini." Ucap Bu Maya
Lalu saat dia menyadari anaknya menyebutkan nama Gita, dia ingin memastikannya kembali.
"Sama Gita Za?,
"Iya mah."
Bu Maya begitu senang, dia kini yakin bisa berbesan dengan Hanna sahabatnya.
Meta yang datang kala sore itu, sama sekali tak dihiraukan oleh Reza yang sedang senang. Keluarga itu menutup rapat-rapat tentang acara dinner Reza, tak ingin jika Meta mengacaukan semuanya.
Meta yang diacuhkan Reza, bahkan lelaki itu tidak keluar sama sekali dari dalam kamarnya, membuat Meta harus menghabiskan waktunya bersama tante Maya, berharap Reza akan keluar dari persembunyiannya.
"Tan.. Reza kenapa gak keluar-keluar dari kamarnya sih tan?."
"Lagi capek mungkin, dia kayaknya lagi istirahat deh, kamu bantuin tante aja yuk, kita bikin cake."
"Hmm iya deh tante, lagipula kalau pulang juga dirumah Meta gak ada siapa-siapa, mamah papah sibuk terus."
Bukankah tante Maya ini mertua idaman? pikir Meta
Meta begitu menyukai Reza dari kecil, karena sejak dulu Reza memang menganggapnya adik perempuan, dan sering kali melindungi Meta, menghiburnya saat ia menangis, Namun saat beranjak dewasa Reza mulai acuh, dia sudah tidak ingin berurusan dengan Meta.
Ya, Reza mulai menyadari jika wanita itu tidak sebaik yang ia kira, tidak selugu yang terlihat, bahkan seringkali barang Reza diambilnya, dan ia akan selalu mengalah.
Kasih sayang ibunya pun seakan direbut oleh wanita itu.
Namun berbeda bagi Meta, Reza dan Tantenya itu adalah impiannya. Dia ingin memiliki kasih sayang mereka seutuhnya. Membuatnya berambisi mendapatkan Reza, apapun caranya, menjauhkan wanita yang mencoba mendekati Reza.
Reza kini keluar dengan penamoilan yang sempurna, dia terlihat tampan seperti biasanya, namun ada yang berbeda. Senyumnya kini selalu mengembang.
"Mah Reza pergi dulu ya?."
"Iya Za, hati-hati."
"Kak Reza mau kemana?." Tanya Meta
"Ah, ada acara bisnis, kamu disini aja temenin mamah. Ok..!" Jawab Reza
"Hmm" Meta sedikit kecewa, tadinya dia ingin ikut pergi.
***
__ADS_1
Gita kini sedang didandani ibunya, Hanna senang sekali saat ia bisa menata rambut anaknya itu, serasa ia memasuku masa lalu, dimana ia bisa menata rambut anaknya sesuka hatinya, tanpa mendapat protes dari anaknya.
"Git, gimana cantik kan?."
"Iya cantik mah, makasih loh mah."
"Sama-sama sayang."
"Sebenernya kamu mau kemana sayang?."
"Emm.. mau makan malam mah."
"Sama siapa sih? Ko mamah jadi kepo.hehe."
"Reza mah, yaudah Gita berangkat ya mah."
Gita terlihat buru-buru, dia tidak ingin mendapatkan pertanyaan lain dari ibunya itu, bahkan saat melewati Angga yang sedang santai menonton TV, wanita itu menunduk dan berjalan cepat.
Yang tadi itu Gita kan, tumben dandan? Kenapa dia buru-buru begitu? Biarin ajalah, nanggung nih lagi seru-serunya. Batin Angga
Sementara Gita menaiki mobilnya, dia diantar sopir pribadi menuju restoran yang telah disepakati bersama Reza, awalnya Reza ingin menjemput Gita namun wanita itu menolaknya.
Selama perjalanan Gita merasa gugup, dia cemas bahkan dia terus saja memandangi cermin, takut jika bedaknya luntur karena keringat dingin akibat kecemasannya.
"Non sudah cantik ko." Ucap Pak sopir saat melihat majikannya yang terus melihat cermin.
Gita hanya tersenyum, lalu menunduk malu.
Akhirnya Gita sampai, ternyata sudah ada Reza disana. Dia berjalan perlahan, Reza mempersilahkan wanitanya duduk, memandangi wajah itu dengan kekaguman.
Cantik. Gumam Reza
Mereka menikmati makan malam yang romantis, dengan alunan lagu, yang membuat suasana menjadi hangat, Gita yang berusaha bersikap lebih anggun, nampak jelas dimata Reza bahwa wanita itu sedikit kesulitan.
"Bersikaplah seperti biasanya, tidak usah menjadi orang lain, aku suka Gita, mau bagaimanapun penampilannya, mau bagaimanapun sikapnya." Ucap Reza, lelaki itu tidak ingin membebani Gita yang harus tampil sempurna.
Gita begitu bersyukur Reza menerimanya apa adanya.
***
"Mah, Reza udah berangkat?."
"Udah pah setengah jam yang lalu." Jawab Maya
"Syukur deh, papah berharap makan malamnya lancar, dan perjodohan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan, papah suka dengan anak itu, siapa namanya? Ah iya Gita, dia baik dan mandiri." Ucap Sanjaya
Meta yang berada disana mendengar dengan jelas nama Gita, dia buru-buru pamit pada om dan tantenya beralasan ingin pulang.
Maya mencubit tangan suaminya itu,
"Aw.. sakit mah."
"Papah sih comel, pake bilang Reza makan malam sama Gita, liat tuh Meta pergi, mamah harap acaranya tidak kacau gara-gara papah." Bu Maya kesal, lalu dia pergi ke kamarnya.
"Mah, papah lupa, jangan marah dong mah, buka pintunya dong, papah gak mau tidur di kamar lain." Ucap Sanjaya
__ADS_1
Lelaki itu kini mengutuk bibir dan lidahnya yang sempat salah berucap tadi.
Bersambung….