Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
BAB 70 Menanti


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Hingga akhirnya kini usia kandungan Ratu menginjak 9 bulan, dimana ia sedang cemas menunggu kelahirannya.


Ia sudah susah bergerak, bahkan untuk memotong kuku kakinya pun sulit untuk dilakukan sendiri, tapi Deon selalu perhatian, membantu setiap aktivitas Ratu yang dirasa sulit.


Ratu juga merasa senang akhirnya si Manis hamil menyusulnya, dan tentu saja Ratu lah yang akan melahirkan terlebih dahulu, karena proses kehamilan kuda memang lebih lama daripada manusia, bisa sekitar 11-14 bulan.


Setiap malam Ratu kesulitan untuk tidur karena perutnya yang telah membesar, dia tidur dengan posisimiring kanan, miring kiri, itu juga terkadang ia tidak bisa tidur karena semalaman Deon kecil menendang-nendang perutnya.


"Nak.. ayo kita tidur, sudah ya mainnya..! Ibu sudah mengantuk, jangan menendang perut ibu terus-terusan dong sayang..!" Keluh Ratu


"Andai aku bisa menggantikanmu, sudah aku gantikan, kasihan kamu membawa Deon kecil di perutmu berbulan-bulan, bahkan kau sudah terlihat kewalahan." Ucap Raja


"Tentu saja, jika bisa bergantian, kau saja yang hamil, aku bisa membayangkan perutmu yang membesar, berjalan dengan pelan dan tanganmu memegang perut besar mu karena takut perutmu jatuh menggelinding. Hahaha"


"Kau ini, sangat senang jika melihatku tersiksa. Hemm."


"Hehehe.. maaf, bukankah tabib bilang jika aku akan melahirkan minggu ini? Jujur aku sudah tak tahan, ingin segera melahirkan, aku rindu tubuhku yang dulu, yang bisa bebas tidur berguling-guling, bebas melakukan aktivitas, bisa berkuda, memanah dan banyak lagi, ahh…. Aku sungguh rindu."


"Ya ampun, kau merindukan dirimu yang pecicilan, yang bar-bar, yang bersikap seperti laki-laki yang berlarian dan melompat bebas? Harusnya setelah mendapatkan bayi, kamu lebih keibuan Anggrek..!" 


"Hemm…" Ratu menjawab seadanya, ia malas jika sudah diceramahi Deon.


"Bukankah kamu ingin cepat melahirkan?" Tanya Raja antusias


"Iya, memangnya kenapa?"


"Aku tahu cara agar kamu cepat melahirkan, tabib sempat memberitahu ku."


"Benarkah, apa itu?"


"Melakukan hubungan suami istri."


"Apa? Aku tak percaya, itu sih paling maunya kamu aja."


"Jika kamu tak percaya kamu bisa menanyakan pada tabib istana."

__ADS_1


"Tapi ada benernya juga sih, bukankah ****** bisa membantu memancing kontraksi alami." Pikir Ratu


Akhirnya mereka tidur tanpa olahraga malam, karena Ratu bersikeras ingin menanyakan perihal itu langsung pada tabib terlebih dahulu secara langsung. Meski Deon merayu, tapi Ratu menghiraukannya.


Saat pagi datang, Ratu terbangun dan melamun di ranjangnya,


"Dulu, ketika ibu gue hamil, pasti kayak gini deh rasanya, berat bawa-bawa gue di dalem perut, punggung pegal, kaki bengkak, susah beraktivitas, susah tidur, huh… maafkan Gita ya mah, Gita selalu saja susah diatur kadang ngelawan juga, padahal perjuangan mamah tuh besar banget buat Gita."


Cup..


Kecupan pagi mendarat di pipi kiri sang Ratu, ternyata Deon sudah bangun dan memperhatikannya yang sedang melamun. Ratu pun menoleh dan memberikan senyuman pagi.


"Pagi-pagi memikirkan apa sampai segitunya?"


"Ah, tidak apa-apa. Aku ingin mandi dulu, lalu sarapan pagi dengan makanan berkuah, dan jangan lupa nanti panggilkan tabib untuk memeriksa kehamilanku..!"


"Baiklah istriku, mau aku bantu mandikan?"


"Tidak usah, meski sulit, tapi aku sedang ingin mandi sendiri."


"Iya, bawel.." Ucap Ratu, lalu ia buru-buru menuju kamar mandi.


Sarapan selesai, Ratu ditemani Sani berjemur di taman depan, menikmati hangatnya matahari pagi. Tibalah saatnya pemeriksaan karena tabib telah datang, sementara Raja sudah pamit untuk bekerja, ia juga sempat izin untuk mengunjungi selir Mey.


Kehamilan selir Mey hanya berselisih satu bulan dengan Ratu, jadi kini selir sedang mengandung 8 bulan. Disaat seperti ini selir juga mengeluh karena tidak bisa beraktivitas seperti biasanya, dan meminta Deon datang memperhatikannya.


Ketika Deon mendatangi kediaman selir, dia hanya akan menemaninya sekitar satu jam saja. Dia merasa tidak perlu berlama-lama disana.


***


Ratu berbaring di ranjang, sang tabib pun mulai memeriksa.


"Apakah belum ada tanda-tanda melahirkan yang mulia? Sepertinya usia kandungan yang mulia sudah cukup untuk melahirkan."


"Belum, belum ada rasa mulas yang seperti tabib ceritakan kemarin, belum ada tanda-tanda yang lain juga, tapi benarkah ada cara agar lebih cepat melahirkan?."

__ADS_1


"Hmm, ada yang mulia, coba saja berhubungan badan, biasanya itu bisa memicu rasa mulas melahirkan."


"Hmm.. jadi benar apa yang dikatakan Deon kemarin." Pikir Ratu


"Rasa mulas melahirkan itu seperti apa ya tabib?"


"Rasa mulas seperti kedatangan tamu bulanan yang mulia, terkadang mulas melilit dan terasa sakit yang terus menerus."


"Emm.. iya aku mengerti."


"Cuma mules kaya yang mau mens kan, itu sih gue sering ngalamin, mudah-mudahan gue cepet lahiran, rasanya udah begah banget dan gak nyaman." Gumam Ratu


"Bayi yang mulia sehat, gerakannya juga bagus, kalau begitu saya permisi yang mulia."


Tabib istana pun pergi, Sani datang menghampiri.


Sani juga berharap dapat segera melihat bayi mungil dan imut. Dia begitu menantikan kelahiran bayi Ratu.


Siang ini Ratu berjalan-jalan di sekitar istana bersama Sani, ia harus banyak berjalan agar kakinya tidak bengkak.


Saat melewati dapur istana, Ratu merasa lapar mencium wangi masakan yang sedang dimasak koki istana. Dia menghampiri koki istana di dapur istana, dan memesan beberapa makanan. Dia juga memesan durian, berharap ada kontraksi alami yang akan muncul.


"Bukankah, ketika hamil tidak boleh makan durian Ratu?" Tanya Sani


"Boleh kok, asal jangan terlalu banyak, lagipula jika terasa mulas justru itu bagus, aku bisa cepat melahirkan." Ucap Ratu


Sani membiarkan Ratunya itu makan dengan lahap, bahkan memakan buah durian. Karena hari sudah sore. Ratu berniat kembali ke paviliun dan mandi air hangat, ia juga rasanya ingin dipijat, badannya terasa pegal-pegal.


Ketika dia membuka pintu kamarnya, ia terkejut melihat suaminya sudah ada disana dan menunggu kedatangannya, Raja melontarkan banyak pertanyaan pada Ratu, dia juga mulai memberi ceramah pada ibu hamil itu.


Ratu yang merasa bosan, ia melangkah pergi, membuka bajunya sebagian dan pergi ke kamar mandi.


Saat ia menoleh, "kenapa kau malah ikut ke kamar mandi juga?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2