
"Emm udah sampe, ini udah didepan rumah lo, cepet turun..!" Gita
"Lo nyebelin." Keluh Nisa.
Gadis itu terpaksa turun sebelum mengobati rasa penasarannya.
Gita melambaikan tangannya pada Nisa, namun gadis itu tak menghiraukannya.
Taksi itu melanjutkan perjalanannya, setelah sampai Gita buru-buru masuk ke dalam rumah, tak berselang lama ada Angga juga yang baru datang.
Mereka berkumpul membicarakan masalah Kirana yang hilang. Mereka sepakat untuk menelepon polisi saja.
"Kita telepon polisi saja, siapa tahu ada titik terang tentang siapa yang membawa Kirana pergi, ini kan namanya penculikan, bagaimana kalau dia disekap?." Angga
"Iya iya, kamu saja yang buat laporannya bersama Reza..!" Baskoro
"Iya pah." Angga
Sementara Gita, Maya, Hanna, dan Baskoro berdiam dirumah menunggu kabar.
Jani menelepon Maya, membuat wanita itu bingung, dia sudah mengatakan sebelumnya jika Kirana baik-baik saja bersamanya. Namun sekarang dia bingung harus bilang apa saat anak itu hilang.
"Mbak, aku merindukan Kirana, apa dia mau berbicara denganku? Aku ingin menjelaskan sesuatu padanya mbak, aku mohon..!" Jani
"Kamu yang sabar ya Jani, sebenarnya aku juga tidak tahu Kirana sekarang ada dimana, semalam dia menghilang." Maya
"Apa? Mbak jangan sembunyikan dia mbak, aku hanya mau berbicara saja, jika dia belum siap aku akan memberinya waktu." Jani
"Mbak gak bohong Jani, bahkan mba sudah lapor polisi mengenai kehilangan Kirana." Maya
"Hiks… hiks… mbak aku banyak salah sama anak itu, selama ini aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuknya, disaat aku belum bisa memiliki seorang anak, seharusnya aku menjaga dengan baik anak yang dititipkan padaku mbak." Jani menyesali perbuatannya di masa lalu, dia menangisi Kirana yang selalu baik padanya.
"Kamu yang sabar ya Jani, yang penting kamu harus sehat dulu, ok? Nanti kita cari Kirana bersama-sama..!" Maya
"Iya mbak, mudah-mudahan anak itu baik-baik saja dimanapun dia berada. Aamiin." Jani
"Aamiin." Jani
Telepon itu pun terputus, Maya begitu mengkhawatirkan keadaan Kirana dan Jani yang masih berada di Rumah Sakit.
***
Sementara ditempat lain, di sebuah rumah yang cukup luas, bahkan sangat terawat.
"Lepaskan aku..! Keluarkan aku dari sini..!" Kirana
"Kamu boleh saja keluar dari kamar itu, tapi kamu tidak akan bisa keluar dari pintu rumah ini Kirana..!"
Ini sebenarnya rumah siapa? Pikir Kirana
__ADS_1
Ceklek
Pintu pun terbuka, lelaki itu mendekati Kirana, berusaha memeluknya, namun Kirana berusaha menghindar.
"Jangan..! Anda tidak menyayangiku dengan tulus kan? Bisa-bisanya mengurungku seperti ini." Kirana
"Aku papamu Kirana, kamu harus melakukan apapun yang aku suruh..!, kemarilah..! Jangan takut..!" Aldi
"Gak pah, Kirana gak mau, pergi.. pergi..!." Kirana merasa takut, dia melihat sosok Aldi yang berbeda.
"Ok, papah biarkan kamu berpikir jernih dahulu, nanti papah akan kembali lagi kesini." Aldi
Dia pergi lagi untuk kesekian kalinya. Membiarkan pintu kamar itu terbuka, namun diluar sudah ada beberapa pengawal yang menjaga rumah itu.
Flashback
Saat malam dimana Kirana diculik, dia tersadar ketika pagi hari, sudah ada papanya disampingnya, sebelum dia membuka matanya, dia samar-samar mendengar papanya berbicara lembut padanya bahkan membelai pipinya.
Namun ada yang aneh, dia memanggil Kirana dengan sebutan Alisa.
Siapa Alisa? Bukankah yang aku dengar itu suara papah? Jadi yang menculik aku itu papah? Batin Kirana
Gadis itu memberanikan membuka matanya, namun Aldi seakan terkejut, dia sedikit menjauh dan memanggil gadis itu dengan sebutan Kirana lagi, namun Kirana yang sudah terlanjur takut karena menyadari ada yang salah dari sikap papanya itu, dia menjauh, dan memberontak.
"Papah, Kenapa aku bisa ada disini?." Kirana
"Jelaskan dulu pah, untuk apa papah membawaku kemari bahkan secara paksa?." Kirana
"Papah hanya mau kamu pulang nak, dan hidup bersama lagi, bertiga dengan mamah Jani." Aldi
"Maaf aku tidak bisa pah, aku tidak pantas mendapatkan kasih sayang mamah Jani." Kirana
"Papah akan buat wanita itu mau menerimamu, dan memperlakukanmu dengan baik, maafkan papah yang baru tahu jika kamu diperlakukan tidak baik oleh wanita tidak tahu terimakasih itu." Aldi
Kenapa papah bisa bicara sejahat itu? Pikir Kirana
"Mamah Jani baik ko pah, aku yang merasa tidak enak padanya." Kirana
"Kalau wanita itu tidak mau menerimamu, papah akan ceraikan dia, biar dia hidup menjanda dan tak ada yang mau padanya karena dia itu mandul." Aldi
"Papah jangan bicara seperti itu..!" Kirana
"Hahahaha… kamu anak Alisa tapi sifatmu menjengkelkan Kirana, susah diatur, sangat berbeda sekali, namun aku suka melihat wajahmu yang sangat mirip dengannya, kemarilah..!" Aldi
"Pah, jangan buat aku takut.." Kirana menjauh dan terus menjauh karena takut.
"Hahahaha.. " Aldi tertawa melihat wajah Kirana yang ketakutan
Namun ponselnya berdering, membuatnya harus menunda pembicaraan dengan anak gadisnya itu.
__ADS_1
"Papah ada urusan sebentar, nanti papah akan balik lagi, ok?." Aldi
Aldi dengan segera mengangkat telepon yang masuk, dan segera pergi dari rumah itu.
Flashback Off
***
Jani yang sedang berada di Rumah Sakit mulai gelisah, Kirana hilang dan suaminya sudah beberapa hari ini tidak terlihat.
Jani hanya dirawat oleh beberapa pelayan pribadinya saja. Wanita itu lebih suka dirawat oleh Kirana, bahkan gadis itu selalu bercerita membuat suasana tidak sepi dan membosankan.
"Kamu dimana Kirana." Jani
Tiba-tiba Aldi datang dan langsung duduk di kursi sebelah ranjang Jani.
"Kamu darimana saja Mas? Kirana hilang." Jani
"Bukankah memang dia kabur dari sini, itu juga karena kamu yang memperlakukannya tidak baik." Aldi
"Maksud kamu mas?." Aldi
"Iya, kamu mengecewakanku Jani, kamu pasti selama ini menjadi ibu tiri yang kejam dibelakangku, iya kan?" Aldi
"Astaga Mas, aku tidak seperti itu, aku memenuhi semua kebutuhannya, uang kuliah, uang jajan, aku tak pernah menyiksanya, aku hanya sedikit acuh padanya, bukankah itu wajar, karena wajahnya terlalu mirip dengan wanita itu." Jani
"Alah kamu pasti bohong..! Iya dia semakin mirip ibunya, hahaha.. " Aldi
Kenapa dengan Mas Aldi, kenapa dia tiba-tiba tertawa? Pikir Jani
"Aku gak bohong Mas, aku tidak pernah melukai anak itu." Jani
"Ok, kalau Kirana pulang, kamu harus memperlakukannya dengan baik!" Aldi
"Iya Mas." Jani
"Aku ada urusan lain, aku pergi dulu." Aldi
"Kenapa kamu sibuk sekali Mas, disaat aku sakit seperti ini?." Jani
"Sudahlah jangan drama, bukankah kamu sudah tahu jika aku sudah tidak mencintaimu, kamu saja yang bodoh yang selalu memohon didepanku." Aldi
"Tapi Mas…" Jani
Belum sempat Jani meneruskan kalimatnya, Aldi pergi begitu saja.
Selama ini memang Jani yang bertahan dan selalu mengalah, wanita itu begitu mencintai suaminya, meski suaminya itu sering ketahuan selingkuh, bahkan Aldi sampai berani membawa perempuan lain dihadapannya, namun Jani selalu menutup mata dan memaafkan lelaki itu, berharap Aldi bisa berubah.
Bersambung...
__ADS_1