Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Perubahan Jani


__ADS_3

Angga menyimpan handphone nya kembali ke dalam saku celananya, dia belum memutuskan video itu akan diapakan.


Sesampainya di rumah, Gita berjalan sempoyongan, dia memang terlampau mengantuk. Hanna membantu Gita sampai ke kamarnya dan menuntun gadis itu berbaring di ranjang.


***


Reza pun juga sampai di rumahnya, sudah ada Meta yang sedang menonton TV. Gadis itu berhambur memeluk Maya.


"Tante udah pulang, aku bete loh tan disini sendirian." Meta


"Tante mau istirahat dulu ya, nanti kita nonton bareng, ok?." Maya


"Ok tante." Meta


Maya tiba-tiba teringat dengan Kirana, dia akan mengunjungi anak itu besok.


Aldi tadi sempat hadir di acara pertunangan Reza, namun dia hanya mengucapkan selamat lalu pergi, bahkan Aldi tidak sempat bertemu Sanjaya.


Maya pikir itu lebih baik, karena dia takut jika mereka bertemu dan suaminya itu tidak bisa mengendalikan emosinya maka acara itu akan kacau.


Setelah Meta pergi, orang tuanya juga datang ke pertunangan Reza, disitu Maya tahu bahwa Meta berbohong lagi, membuat Maya sedikit tidak suka dengan keponakannya itu.


Reza dan Sanjaya mengobrol sebentar membahas bisnis, lalu mereka istirahat karena lelah seharian bertemu banyaknya tamu undangan.


Saat malam datang, semua telah selesai makan, mereka duduk bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi.


"Meta, mamah sama papamu belum pulang dari luar kota?." Tanya Maya


"Sepertinya belum tante, dan sepertinya mereka akan lama disana." Meta


"Bukannya kemarin Diana dan Radit datang ke pesta mah?." Ucap Sanjaya yang membuat Meta sedikit gugup.


"Om salah lihat kali." Meta berkelit


"Tidak, bahkan kami mengobrol panjang lebar." Sanjaya


"Benarkah? Mungkin papa dan mamah pulang lebih cepat om, dan belum sempat menghubungiku." Meta


"Ya sudah, kamu lebih baik pulang aja Meta, takut orang tuamu khawatir, biar Mang Deden (supir) yang anterin kamu." Meta


"Iya tante." Meta


Meta terpaksa pulang malam itu, dia tidak mungkin menginap tanpa alasan. Kalau sekedar main sih tidak masalah.


***


Gita yang terbangun karena lapar dia baru menyadari jika jam menunjukan pukul 11 malam.


Bahkan dia masih memakai gaun pesta tadi siang.


Ya ampun, gue ketiduran dari sore pantesan aja perut gue protes, ini udah mau tengah malam. Batin Gita

__ADS_1


"Perut gue juga gak enak nih, efek PMS kali ya?" Ucap Gita pelan, dia pergi ke dapur untuk mencari makanan.


Angga yang baru kembali dari arah toilet belakang dikagetkan dengan keberadaan Gita yang sedang makan dengan memakai gaun, gadis itu makan sambil menutup matanya, dia mengantuk dan juga lapar disaat yang bersamaan.


"Astagfirullah.." ucap Angga


"Kakak kenapa? Ada apa sih?" Gita, dia juga kaget, langsung membulatkan matanya.


"Ada apa, ada apa? Kamu Git bikin kaget aja, kakak kira hantu." Angga


"Hahaha, memang ada hantu yang cantik kaya aku?." Ucap Gita dengan PD nya.


"Hahaha… coba deh ngaca dulu sebelum bilang cantik, memang ada cantik yang begitu?." Ejek Angga


Emang ada yang salah sama wajah gue? Batin Gita.


Dia berjalan mendekati cermin yang tertempel di dinding. Gita juga merasa terkejut melihat wajahnya sendiri saat ini.


"Astaga.." Gita


Ini gue? Beneran gue? Mata gue jadi item gini, bedaknya mulai luntur gak merata, pantesan aja kak Angga kaget. Pikirnya


Angga berjalan mendekati adiknya itu, "cantik kan?."


"Hehe…." Gita tak mampu menjawab seperti sebelumnya, dia terlampau malu, dia mengakui jika saat ini keadaannya sangat kacau.


"Apa aku perlu memotret mu?." Ucap Angga mengeluarkan Hp nya.


Dia bergegas mengganti bajunya, mencuci mukanya sampai benar-benar bersih, bahkan dia juga mengganti pembalutnya. Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah bersih.


Menghempaskan tubuhnya yang masih terasa lelah di tempat tidur, mengambil handphone untuk sekedar mengecek apakah Reza menghubunginya.


Benar saja ada 2 panggilan tak terjawab dari Reza, dia ingin memanggil balik namun dia merasa ini sudah tengah malam, dan akan mengganggunya.


***


Keesokan harinya Reza pergi bersama Maya, mengantarnya untuk menjenguk tante Jani yang masih sakit.


Gita juga ingin ikut menjenguk, namun Reza sudah hampir sampai, membuat Angga kini yang mengantar Gita menjenguk tantenya Reza.


Hari ini hari adalah hari minggu, mereka sedang libur dan menikmati aktivitas serta kegiatan bebas mereka.


"Kakak beneran mau ikut?." Gita


"Iya, lagian dirumah juga kakak gak punya kerjaan lain." Angga


"Ok, kita beli buah-buahan saja dulu kak." Gita


Mereka membeli beberapa macam buah dan makanan untuk dibawa ke rumah sakit. Mereka tidak mau jika hanya menjenguk dengan tangan kosong saja.


Saat Gita dan Angga sampai disana, mereka mencoba berbaur dengan keluarga Reza yang lainnya, disana ada om Aldi juga, sementara Kirana sedang membeli makanan.

__ADS_1


Maya penasaran dengan jawaban Aldi, rasanya mulutnya gatal ingin bertanya, memarahi, dan memaki Aldi, namun dia melihat jika saat ini masih banyak orang.


Kondisi Jani pun masih dalam masa pemulihan, dia belum bisa berdiri dengan tegak, kakinya masih terasa lemas, membuat Kirana sangat melakukan perawatan Ekstra untuk ibunya itu, bahkan tidak pernah meninggalkan ibunya dalam waktu yang lama.


"Tante, saya Gita, gimana keadaan tante?." Gita


"Sudah agak baikan kok, oh iya tunangannya Angga kan? Maaf ya tante tidak datang diacara kalian." Jani


"Gapapa ko tante, mudah-mudahan tante cepat sembuh ya..!" Gita


"Iya, makasih Gita." Jani tersenyum.


Setelah kecelakaan itu Maya bisa melihat perubahan Jani, adik iparnya itu lebih lembut, gampang tersenyum, seakan bukan dirinya yang dulu.


Ada apa dengannya? Pikir Maya


Ingin rasanya Maya mengusir semua orang yang ada disini dan bertanya langsung pada Jani, dia begitu penasaran, namun dia tidak mungkin menanyakan sesuatu hal yang bersifat pribadi di depan banyak orang. Dia harus menunggu sampai keadaan sepi.


Maya mengalihkan pandangannya pada Aldi, laki-laki itu begitu ramah, baik, sopan, selalu terdengar bijaksana saat menasehati Angga atau Kirana, namun dia tidak menyangak jika lelaki seperti Aldi bisa menyakiti Jani tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Lelaki bermuka dua. Pikir Maya


Maya juga menunggu Kirana, dia begitu merindukan keponakannya itu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk.." Maya


"Eh Kirana, kamu udah dateng sayang, udah makannya?." Maya


"Udah tante, tadi Kirana sekalian makan ditempat, soalnya ada papah yang nungguin mamah." Kirana


"Oh, ya gapapa sayang, harusnya gantian jaga sama papah kamu, kasian kalau kamu sampai ikut sakit gara-gara kecapean." Maya


"Gapapa ko tante, Kirana seneng jagain mamah." Kirana, dia benar-benar senang bisa sedekat itu dengan ibunya, karena selama ini Jani seakan memberi jarak padanya. Tapi setelah kecelakaan itu Jani mulai menerima bantuan Kirana, dan sesekali Jani akan tersenyum padanya, membuat gadis itu benar-benar senang.


Maya hanya tersenyum, dia tidak bisa membayangkan jika Kirana tahu bahwa Jani bukanlah ibu kandungnya, dan mengetahui jika ibunya adalah kehancuran bagi Jani.


Pasti Kirana akan ikut merasa bersalah. Pikir Maya


Saat pandangan Angga yang beralih dari handphone, lalu menatap Kirana yang baru datang, dia mengingat sesuatu.


"Gadis itu…" Angga


"Gadis itu? Maksud kakak Kirana?." Gita


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2