
Saat pagi tiba kaki Deon masih terasa sakit bahkan ia berjalan sedikit pincang.
"Selamat pagi sayang…, kakimu masih sakit?" Ucap Ratu, dia begitu senang hari ini
"Sudah membaik, bahkan aku sudah bisa beraktivitas seperti biasanya, ini hanya kecelakaan kecil saja."
"Benarkah? Kalau begitu akan menyenangkan jika kau ikut bersamaku ke peternakan pagi ini. Senangnya ditemani suami.. hehe"
"Astaga, apa aku salah bicara? Seharusnya aku bilang padanya bahwa kaki ku sakit sekali, dan tidak bisa berjalan, bukankah itu berarti aku tidak usah pergi ke peternakan. Sial.." Ucap Deon dalam hati
"Hehe.. iya tentu saja aku akan menemanimu sayang." Ucap Raja walaupun terpaksa
Mereka pergi ke peternakan menggunakan kereta kuda istana, sebenarnya Ratu ingin berjalan kaki saja itung-itung olahraga pagi, tapi dia memilih naik kereta kuda karena berpikir jika berjalan kaki Deon akan semakin sakit, Ratu tidak tahu bahwa sebenarnya ****@* Deon juga sakit.
"Apakah dia benar-benar baik-baik saja? Bahkan jidatnya pun masih memar, gue lihat-lihat dia juga gak bisa diem deh duduknya, udah miring kanan, miring kiri, hadeuhh...." Gumam Gita (Ratu) dalam hati
"Sayang, kamu kenapa seperti orang gelisah, duduk pun tidak nyaman begitu?" Tanya Ratu
"Hehe.. aku tidak apa-apa, hanya saja ****@* ku masih sakit karena terjatuh semalam, ditambah dengan naik kereta ini membuat ini semakin sakit."
"Astaga maafkan aku, aku sungguh tidak tahu, aku pikir kaki kamu akan lebih baik jika naik kereta. apakah sudah diobati yang bagian dalam itu?"
"Iya, semalam sudah diobati tabib, tapi memang masih sedikit sakit jika duduk."
"Pantas saja semalaman dia tidur tengkurap, jadi gara-gara pant@tnya memar. Hahaha.. kenapa gue seakan ngerasa jadi penindas ya, padahal kan cuma pengen buah mangga." Guamam Gita dalam hati
"Gara-gara 2 mangga semalam, aku tersiksa begini, bahkan dengan kereta ini pant@tku lebih terasa sakit. Aku hanya berharap hari ini tidak seburuk hari kemarin." Gumam Deon dalam hati
Mereka akhirnya saling diam dalam kereta, mereka sibuk dengan lamunannya masing-masing. Hingga akhirnya sampai juga di peternakan, dan sudah ada tabib istana disana.
Raja yang berjalan tertatih tatih, ia begitu merasa tersiksa, jika berjalan, kakinya yang sakit, jika duduk pant@tnya yang sakit, bahkan tidur pun ia merasa kesulitan.
__ADS_1
"Bagaimana sudah diperiksa?" Tanya Ratu penasaran
"Sudah yang mulia, memang perut kuda betina itu sedikit membesar tapi hamba belum bisa memastikan dia hamil atau tidak, bagaimana kalau bulan depan diperiksa lagi?"
"Ya ampun, terus saja bulan depan, bilang saja jika kau tidak bisa memeriksa dan aku akan memberhentikanmu dari status tabib istana."
"Yang mulia… jangan begitu, hamba akan memeriksanya sekali lagi." Ucap tabib memohon
"Ya Sudah, cepatlah..!" Ucap Ratu
"Hahaha… aku kira korban hari ini tabib itu, bukan aku, syukurlah." Pikir Deon
Tabib itu berpura-pura, dia hanya meraba-raba perut si Manis agar ia tidak dipecat, saat menyentuhnya, kuda itu tidak melakukan perlawanan tapi tiba-tiba tabib itu jatuh tersungkur.
"Aduh…"
"Siapa yang berani mendorongku?"
Saat tabib itu menoleh dengan wajah yang kotor penuh kotoran kuda, ia bisa melihat kuda jantan putih yang sedang berdiri membelakanginya, ternyata si Putih yang menendangnya. Sepertinya Si putih tidak terima pacarnya itu disentuh berkali-kali oleh sang tabib.
Ratu Pun ikut tertawa saat melihatnya,
"Aku Rasa si Putih cemburu padamu, bagaimana hasilnya?"
"Hasilnya, aku kotor begini, sungguh sialnya aku, padahal ini bukan tugasku." Ucap tabib pelan, tapi masih bisa didengar Ratu dan Raja
"Apa kau bilang?" Tanya Ratu sedikit kesal
"Hehe.. ah be-begini yang mulia, sepertinya mulai ada tanda-tanda kehamilan karena perut si Manis sedikit membesar, dan si Putih juga sensitif begitu, mungkin itu naluri seorang bapak kuda yang ingin melindungi istrinya yang hamil."
"Benarkah? Ah.. senangnya." Ucap Ratu sambil tersenyum
__ADS_1
"Ciihh… dasar tabib ini bisa saja membuat Anggrek bahagia dengan kebohongannya." Gumam Raja dalam hatinya
"Kalau begitu, pergilah.. dan bersihkan wajahmu itu..!" Ucap Raja dia seolah tak tega membiarkan tabib itu terlalu lama bersama istrinya itu.
"Baik yang mulia, hamba pamit."
Ratu begitu senang setelah mendapat kabar itu, dia mengelus-ngelus kudanya itu.
"Kamu hebat Putih akhirnya kamu akan menjadi seorang ayah, dan kamu Manis.. makan yang banyak ya..!"
Raja yang melihat kejadian itu menggeleng-gelengkan kepalanya, dia segera mengajak Ratu pulang, khawatir jika korban kesialan selanjutnya adalah dirinya. Setidaknya ia tidak berakhir dengan muka penuh kotoran.
Akhirnya Ratu berhasil dibujuk, ia menyuruh pelayan yang memandikan kuda-kudanya itu dan ia kembali ke paviliunnya bersama Deon.
"Apakah aku dan si Manis akan melahirkan di waktu yang sama?" Tanya Ratu
"Aku tidak tahu." Jawab Raja
"Aku kira aku yang duluan, bukankah aku hamil lebih dulu, sangat tidak adil bukan jika si Manis lebih dulu melahirkan." Ratu seolah menjawab pertanyaannya sendiri.
"Iya.. iya sepertinya begitu, lebih baik kita makan dulu, aku rasa Deon kecil sudah lapar."
Deon sebenarnya tidak begitu lapar tapi ia tidak ingin membahas kuda lagi, itu membuat kepalanya pusing.
Ratu makan dengan lahap, padahal tadi pagi dia sudah sarapan sangat banyak, Raja hanya melihat dengan pandangan herannya itu. Tapi ia berpikir lagi jika mungkin makanan itu untuk porsi 2 orang, pasti anaknya yang lebih rakus, dia sedikit ngeri membayangkan nanti saat anaknya lahir.
Deon hanya makan 2 suap saja, melihat Ratu makan dengan begitu lahap sudah membuatnya kenyang duluan. Bahkan semua makanan yang tersaji semuanya habis.
"Apa kau sudah selesai makan? Jika sudah biarkan aku yang menghabiskan sisa makananmu, itu mubazir kalau dibuang." Ucap Ratu sambil mengambil mangkuk yang berada di hadapan Deon.
"Bukankah biasanya si cowok yang menghabiskan makanan si cewek yang tidak habis, kenapa gue kebalik gini ya, ah sudahlah yang penting gue kenyang, ngapain juga gue malu-malu didepan c Deon, bahkan kentut saja kita saling bersahutan, balas membalas." Pikir Ratu
__ADS_1
Raja hanya terpaku di tempat, ia melihat mangkuknya yang masih penuh dengan mie ramen itu habis dimakan istrinya itu.
Bersambung...