
"Pak.. kopinya diminum dulu..!" Ucap Nadia yang sengaja memanggil bosnya itu, agar mau menoleh.
"Iya.." Ucap Reza, akhirnya dia menutup berkas yang dia pegang, berniat meminum kopi dahulu agar dia tidak mengantuk, dan saat menoleh ke arah Nadia laki-laki itu cukup terkejut.
"Nadia….."
Reza nampak kesal, dia sedang serius bekerja malah digoda seperti itu. Nadia pun terkejut, dia tidak menyangka reaksinya akan berbeda dengan yang ia bayangkan.
Reza menahan emosinya, menarik napas perlahan dan menghembuskannya.
"Nadia, bukankah kopinya sudah siap, kopi lebih nikmat jika langsung diminum bukan? Ya.. aku juga lebih suka wanita yang masih nikmat, tentunya yang lebih muda dariku, keluarlah..!"
Nadia keluar dengan menunduk, dia merasa takut jika dia akan dipecat.
Aku hanya satu tahun lebih tua darinya, kenapa aku seperti wanita sangat tua di hadapannya? Gumam Nadia kesal.
Sementara di dalam Reza menyeruput kopinya, menikmati minuman itu, mencium aromanya dengan perlahan, berusaha menenangkan dirinya yang sempat emosi.
Dia kira gue cowok murahan apa? Keluh Reza
Dan seketika dia teringat Gita karena teringat kata COWOK MURAHAN.
Dia merasa mood nya akan membaik jika dia bertengkar dengan wanita itu, dia berniat akan menjemput Anggita dikampusnya, meski sebenarnya jadwal hari ini cukup padat.
***
Sementara di kampus, Anggita mendapat kiriman kado misterius. Isinya bunga, surat berisi puisi romantis dan gantungan kunci yang imut.
__ADS_1
"Hahaha.. cie yang dapet penggemar." Goda Nisa.
"Emang gue artis? Tapi gue kira salah alamat deh, masa gue dikasih beginian, mana doyan. Hehe."
"Gak mungkin, itu ada namanya ko jelas nama Lo, tapi ko cuma ada inisial pengirim aja?"
"Hmm.. D, dedemit kali ya? Hahaha.."
"Serem ah Git, gak lucu tau.. coba deh lo inget-inget emang ada temen cowok lo ada yang namanya berawalan huruf D?"
"Entahlah, ni ambil..! Buat lo aja.." Ucap Gita sambil memberikan kado itu pada Nisa, refleks dia menerimanya, sesaat Nisa melihat ke arah kado itu dan mulai kesal.
"Lo kira gue tempat sampah apa?." Teriak Nisa, sementara Gita sudah keluar menuju kantin karena lapar, meninggalkan sahabatnya itu dengan kekesalannya.
Kado itupun dibiarkan begitu saja disana, sementara Nisa menyusul sahabatnya itu.
"Sial ternyata gagal, memang itu cewek bukan cewek biasa, gue gak bisa menebak benda apa yang dia suka, pasti seleranya juga aneh."
***
Dik kantin kampus, Gita begitu menikmati makanannya, karena kemarin dia hanya bisa makan bubur.
"Git, ko gue gak liat kak Reza sih?."
"Dia udah mau wisuda, jadi paling dia lagi ada di kantor, so keren kan dia? Haha.."
"Tapi emang keren ko, kalau aja dia gak playboy pasti jadi cowok sempurna, dan paket komplit."
__ADS_1
"Ya.. komplit dengan kejahilannya yang diluar batas."
"Hahahahaha… anggap aja itu sisi romantisnya Git." Ucap Nisa mengejek.
Setelah selesai makan, mereka berkeliling sebentar sambil mengobrol, saat kembali ke kelas dia duduk dengan wajah cerianya.
Tiba-tiba wajah itu berubah lesu saat dia menerima pesan singkat dari nomor baru, tapi Gita tahu siapa pengirimnya.
"Kenapa lo Git?."
"Gapapa, cuma dapet pesan dari orang gak penting."
"Dari siapa?."
Belum sempat Gita menjawab, ternyata sudah ada dosen yang memasuki kelas mereka.
Akhirnya materi kuliah selesai, Nisa mulai menguap lebar, dia benar-benar merasa mendapatkan dongeng sebelum tidur, bukannya mendengarkan dan memahami apa yang Pak Dosen jelaskan, dia malah terus menguap menahan ngantuk.
"Kalau mau tidur ya dirumah lah Nis, sonoh cepet pulang..!"
"Iya, gue ngantuk berat nih, gue naik taksi di depan aja deh, trus lo gimana? pulang naik apa?"
"Udah jangan khawatirin gue, nanti gue ada yang jemput ko, cepet sana pulang!"
"Iya, galak bener." Ucap Nisa berlalu pergi.
Setelah melihat sahabatnya sudah jauh dan tak terlihat, Gita mengeluarkan hp nya dan mengetik pesan, dan dia mulai menunggu seseorang.
__ADS_1
Bersambung...