Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Mimpi


__ADS_3

"Gak, kamu ini ada-ada aja." Angga


"Hmm.. syukur deh, mengenai Kirana, emang belum ada kabar lagi kak dari pihak kepolisian?." Gita


"Belum…Kakak juga pengen ikut nyari, tapi besok lagi deh, kondisi kakak lagi gini." Angga


"Ya, besok aja kak, sekarang kakak istirahat aja..!" Gita


Namun saat Gita ingin beranjak pergi, Angga menerima telepon dari Reza.


Reza memberitahu jika Kirana ada bersama om Aldi (papanya) Reza juga baru tahu dari Maya yang baru pulang dari Rumah Sakit.


Angga merasa lega, namun dia pastikan akan mengecek keadaan Kirana nanti.


"Ada apa kak?" Gita


"Reza bilang yang membawa Kirana pergi itu Pak Aldi, papanya Kirana jadi kita gak usah khawatir dan laporannya juga bakalan dicabut." Angga


"Oh, syukur deh, aku mau makan dulu ya kak, kak Angga istirahat aja." Gita


"Iya bawel." Angga


Gita Pun Akhirnya benar-benar keluar dari kamar Angga, dia merasa sangat lapar.


***


Kirana yang masih dikurung di rumah itu, dia berharap bisa kabur dari sana, karena pintu kamarnya tidak dikunci, dia berniat melihat sekeliling rumah itu.


Dilihatnya diluar banyak pengawal, di dalam rumah pun ada pelayan yang siap menjaga Kirana dan melayani apa yang dibutuhkannya.


"Non lagi apa?." Pelayan


"Astaga, kamu siapa?." Kirana


"Aku pelayan disini, Nona muda bisa meminta saya membuatkan makanan, saya akan melayani anda." Pelayan


"Oh, pelayan sekaligus mata-mata ya menjagaku biar gak bisa kabur? Haha.. Bos kamu pergi?." Kirana


"Maksud Non, ayah Non?." Pelayan


Kirana mengangguk kecil, sejak tahu kebenaran jika dia anak selingkuhan papanya, gadis itu membenci papanya dan sekarang dia diperlakukan sebagai tahanan, dia semakin membenci papanya itu.


"Iya, Tuan lagi pergi, kalau non butuh sesuatu katakan saja padaku..!" Pelayan


"Iya, Bibi boleh pergi..!" Kirana


Setelah pelayan itu pergi, gadis itu berkeliling rumah, menjelajahi rumah itu dari sudut ke sudut.


Rumah siapa sih ini? Pikirnya


Sampai dimana dia terkejut melihat foto pernikahan yang terpajang di dinding rumah.


Fotonya berukuran lumayan besar, Kirana menghampiri foto itu agar bisa melihat dengan jelas.


"Oh foto pernikahan papah, eh sebentar wanita disampingnya mirip sekali denganku." Kirana


"Astaga, pasti dia mamaku, kenapa bisa semirip itu denganku?." Kirana


Pantas saja mamah Jani mengacuhkanku, pasti dia tidak tahan melihat wajahku. Melihat wajah wanita yang dibencinya setiap hari.


Aku tidak bisa kembali ke rumah mamah Jani, aku tidak mau membuatnya terluka. Batinnya

__ADS_1


Lalu dia mencoba masuk ke dalam kamar yang berada di sebelah kamarnya dikurung. Tapi pintu kamar itu ternyata dikunci.


Padahal Kirana ingin mencari petunjuk, sehingga dia bisa menemukan kebenaran dimana ibu kandungnya berada. Gadis itu belum sempat bertanya tentang ibunya lebih lanjut, waktu itu pikirannya kacau dan malah memilih kabur.


"Kirana, sedang apa disana?." Aldi


Pertanyaan itu benar-benar membuatnya kaget, karena dia sedang melamun saat itu. Kirana melihat ternyata papanya yang datang, namun akhir-akhir ini dia merasakan ada yang berbeda dari papanya dan mulai takut padanya, kirana mundur beberapa langkah.


"Emm.. ti-tidak sedang apa-apa pah." Kirana


Gadis itu mencoba sekuat mungkin agar bisa bersikap biasa dihadapan papanya.


"Ya udah kita makan bersama ya..!" Aldi


"I-iya pah." Kirana


Sepertinya untuk saat ini aku harus berpura-pura patuh. Pikir Kirana


Mereka pun makan bersama, "Pah.. sudah seminggu aku tidak kuliah, gimana dong pah?." Kirana


"Kamu mau kuliah lagi? Boleh, kamu pergi naik mobil diantar jemput oleh 2 pengawal papah, ok?." Aldi


"Tapi kenapa pah? Aku bisa pergi sendiri." Kirana


"Kalau kamu keberatan, ya sudah tidak usah kuliah." Aldi


"Iya pah, ok ok." Jawab Kirana cepat, dia tidak mau membuang kesempatan bagus ini. Pertama dia bisa kuliah dan kedua dia setidaknya bisa mencuri-curi waktu untuk meminta bantuan pada Reza.


Makan malam itu pun terasa seperti makan malam biasa, tidak ada sikap Aldi yang seperti kemarin, yang kasar dan sedikit aneh.


***


ON


"Anak mamah yang ganteng, kamu tunggu disini dulu ya..! Mamah tidak lama kok, kamu duduk disini ok?." Ucap ibunya


"Iya mah, mamah jangan lama ya..!" Angga saat berusia 6 tahun.


"Iya sayang." Ucap ibunya , lalu memeluk anak itu.


Hingga dimana Angga kecil menangis karena hari semakin gelap dan dingin bahkan air hujan membasahi tubuhnya, dia menangis sekencang mungkin memanggil mamanya, namun ibunya itu tidak kunjung datang.


"Mamah bohong, mamah ninggalin aku sendirian disini, aku benci, aku benci." Angga kecil berteriak sambil menangis bahkan dia juga kedinginan.


Pengurus panti yang mendengar suara anak kecil menangis mulai memeriksa ke luar. Mereka terkejut melihat anak kecil kehujanan dan menangis di depan panti. Dengan segera mereka membawa masuk Angga dan mengganti pakaiannya.


Awalnya Angga kecil tidak mau makan, namun ibu panti membujuknya.


"Siapa nama kamu sayang?." Ibu panti


"Angga." Angga kecil


"Nama yang bagus, makan dulu ya sayang biar kamu sehat, biar kamu bisa mencari ibumu." Ibu Panti


"Tapi mamah Angga jahat tante, dia ninggalin Angga disini." Angga kecil


"Angga makan dulu, besok kita cari mamah, siapa tahu mamah Angga lagi ada masalah dan besok pagi baru bisa jemput Angga pulang." Ibu Panti


"Oh gitu ya tante? Angga mau makan deh." Angga kecil


OFF

__ADS_1


Angga terbangun dengan keringat bercucuran, dia juga merasa jika matanya berair karena menangis sambil tertidur.


Mamah buang aku, iya.. dia pergi begitu saja. Batin Angga


"Wajah mamah, wajah Kirana kenapa begitu mirip? Ah iya aku baru ingat wajah mamah di mimpiku tadi." Angga


Jangan-jangan? Aku harus mencari tahu yang sebenarnya. Pikir Angga


***


Saat pagi datang, Angga sudah bersiap-siap dengan setelan jasnya, dia bahkan sarapan lebih dulu.


"Kamu sudah baikan? Apa sebaiknya kamu cuti dulu Angga, mamah khawatir." Hanna


"Aku gapapa mah." Angga


"Iya ih kak, mending di rumah aja, kan enak bisa santai-santai..hehe.." Gita


"Itu sih maunya kamu libur, bersantai di rumah nonton drama korea seharian." Angga


"Ah kakak tahu aja." Gita


"Git, kamu ke kampus diantar Pak Arman (supir keluarga Baskoro) ya..!, kakak ada perlu sama Reza." Angga


"Emmhh, ok deh." Gita.


Gita pergi lebih dulu ke kampus, bahkan dia tidak menghubungi Reza, karena pasti nanti Angga akan menjelaskannya.


Angga menunggu di teras rumah, dia duduk santai berharap Reza segera datang.


"Kak, Gitanya ada?." Reza


"Udah pergi sama supir, kamu bareng aku aja ok..!" Angga


"Iya boleh, tapi dalam rangka apa ko tiba-tiba gini?." Reza


"Nanti aja di mobil aku jelasin." Angga


"Tapi aku gak bawa mobil kak, tuh.. bawa motor itu." Tunjuk Reza


"Astaga, kamu ke kantor naik motor?." Angga


"Adik kakak yang minta dianter pake motor." Reza


"Hmmm.. ya sudah kita naik mobilku saja, masa aku mau dibonceng kamu naik motor terus pegangan yang erat sama kamu, begitu?." Angga


"Hahaha… kita naik mobil kak Angga." Reza


Reza memilih naik mobil milik Angga dan meninggalkan motornya di rumah pacarnya itu.


Kenapa gue jadi supir begini? Mau anterin adeknya kenapa malah jadi kakaknya? Astaga hari sial gue ini. Keluh Reza dalam hati


"Za, tante Jani itu beneran ibu kandung Kirana?." Tanya Angga


"Hmm.. bukan sih, Kirana ternyata anak selingkuhan om Aldi." Jawab Reza santai.


Reza tidak menutup-nutupi masalah Kirana, karena memang Kirana juga sudah tahu masalah itu.


Namun Angga begitu terkejut. "Apa? serius kamu Za?"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2