
"Apaan sih kamu dek, teriak-teriak di Rumah Sakit?" Angga
"Aku cuma ngebayangin aja udah bikin aku takut kak," keluh Gita.
"Demi nyawa seseorang Git..! Kakak mohon ya sama kamu?" Angga
"Ta-tapi, tapi…" Gita
"Saya mohon Nak Gita, tolong anak saya, saya akan sangat berterimakasih jika Nak Gita mau menolong Dafa," Pak Andra kini yang memohon.
Gimana dong?, gue bener-bener takut, tapi ini masalah nyawa. Pikir Gita
"Gak ada orang lain selain aku kak? Biar aku cari dulu deh." Gita
"Waktunya mendesak dek, kakak mohon sama kamu." Angga
Anggita akhirnya mengalah, mencoba melawan rasa takutnya, Reza ikut menemani Gita, karena gadis itu tidak mau sendirian di dalam ruangan sana.
Gita duduk dengan sangat terpaksa, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang tersedia.
"Za, gimana caranya biar aku gak takut?" Gita
"Tutup saja mata kamu..! Dan aku bakalan disini nemenin kamu." Reza
Dokter mulai mengambil peralatannya, Gita sudah siap dengan menutup matanya, saat kulit Gita terasa sedikit sejuk karena sedikit alkohol, gadis itu mengintip sedikit dari celah jarinya sendiri.
Jarum? Itu jarum? Pikirnya
"Dokter tunggu dulu..! Bisa gak kalau gak pake jarum? Dokter bisa kan buat aku pingsan dulu atau gimana gitu?" Tanya Gita.
"Kalau dibius juga butuh jarum suntik, jadi dua kali dong disuntiknya? Hmm.. gak sakit kok, kaya digigit semuta aja," bujuk Dokter.
"Gak dok, nanti aja ya?" Gita
"Gita, sekarang atau nanti sama aja pake jarum." Reza
Gita menunduk, dia mengangguk setuju, namun saat jarum itu sedikit lagi mengenai kulitnya. Tiba-tiba Gita pingsan.
"Astaga, Gita… Gita… jangan bercanda dong..! Dok gimana ini?" Reza panik.
"Sepertinya teman anda memang trauma dengan jarum, tapi pingsannya tidak akan lama, sebaiknya kita cepat menyelesaikan transfusi darah ini." Dokter
"Baiklah, kalau dia baik-baik saja." Reza
__ADS_1
Pria itu menunggu kekasihnya dengan setia, selama proses transfusi darah, Gita benar-benar dalam keadaan pingsan.
Preman kok takut jarum? Pikir Reza
Untungnya setelah misi itu selesai Gita terbangun, dia baik-baik saja, hanya sedikit mengalami pusing. Reza memberinya minum juga makanan yang sudah dibeli Angga sebelumnya.
"Kamu sukses Git." Angga
"Hmm.. sukses dibikin pingsan?" Gita
"Hahaha… Reza pasti heran karena baru tau kalau yang biasanya bikin preman pingsan, eh dibikin pingsan cuma dengan jarum." Angga
"Udah deh jangan ngeledek..! Kakak 'kan tau aku memang dari dulu takut jarum, hmm.." Gita
"Makasih ya Nak Gita, sampai saya tidak tahu harus membalasnya dengan apa?" Pak Andra
"Sama-sama pak, gak usah sungkan begitu, ini bukan apa-apa kok, tidak perlu merasa terbebani dan harus membalas saya." Gita
"Yakin bukan apa-apa?" Goda Angga.
"Kakak…." Gita
Syukurlah Dafa pun sudah membaik, dia hanya butuh perawatan beberapa hari selama di Rumah Sakit. Pak Andra yang menunggu anaknya sendirian, membuat Angga menawarkan dirinya untuk membantu menjaga Dafa.
Gita diantar pulang oleh Reza, gadis itu masih merasa lemas jika membayangkan jarum tadi. Bahkan dia berjalan sangat pelan.
"Makasih Nak Angga, saya mau beristirahat sebentar, kalau makanan biar pak Nadim yang belikan, dia ada berjaga di luar ruangan ini..!" Pak Andra
"Baik, saya mengerti." Angga
Pak Andra membaringkan tubuhnya, rasanya sangat nikmat sekali, karena sejak tadi dia berdiri dan duduk saja, bahkan telat makan membuat asam lambungnya naik, dia minum obat lalu tidur sejenak.
Ketika malam tiba, Pak Andra menyuruh Angga untuk pulang saja, dia juga sudah merasa baikkan.
***
Keesokan harinya Angga datang lagi menjaga Dafa, dia datang saat siang hari, dia hanya pergi ke kantor setengah hari saja, selebihnya dia limpahkan tugasnya pada Pak Surya.
Dafa sudah mulai berbicara bahkan bercanda, Angga yang melihat itu pun dia merasa senang. Dafa tidak mau jika dijaga oleh pengasuhnya saja, dia ingin ada ayahnya atau Angga disampingnya, membuat Pak Andra kewalahan, namun Angga siap membantu.
Hingga 4 hari berlalu akhirnya Dafa sudah boleh pulang, namun Pak Nadim sopir Pak Andra terlambat datang, hingga mereka memilih naik mobil Angga saja, pria itu sudah mulai membawa mobilnya sendiri lagi.
Ketika di dalam mobil, Dafa tak sengaja menyenggol kotak milik Angga yang tertinggal saat pergi menemui Aldi.
__ADS_1
"Kak ini kalung siapa? Bajunya juga, ini baju anak-anak." Dafa
"Hmm.. itu punya Kakak, iya kecil karena itu baju lama Kakak, itu juga kalung peninggalan almarhum ibu kakak." Angga
"Oh, Angga Pratama.. itu nama lengkap kakak ya? Lalu AA ini artinya apa?" Dafa
Deg
"Coba papah lihat Dafa." Pak Andra
Kalung ini, apa jangan-jangan dia Angga anakku, tapi dia 'kan anaknya Pak Baskoro, mana mungkin. Pikir Andra
Pak Andra bingung apakah dia harus bertanya langsung, rasanya tidak enak saja jika langsung bertanya apakah Baskoro ayah kandungnya atau bukan.
"Kakak gak tau artinya apa, mungkin A itu Alisa, nama ibu kakak.. kakak juga sebenarnya baru tahu jika ibu kakak sudah meninggal." Angga
Deg
Alisa? Astaga, ini benar Angga anakku. Pikir Andra
"Nak Angga maaf kalau saya bertanya sedikit lancang, kalau ibu Nak Angga meninggal, ibu Hanna itu siapa?" Pak Andra
"Ibu angkat saya, tapi saya menganggap nya ibu kandung saya sampai sekarang, beliau orang yang sangat baik." Angga
Jawaban itu membuat Andra berkaca-kaca, ingin mengatakan jika dia ayah kandungnya, namun dia bingung memulai pembicaraannya dari mana, menjelaskan masa lalunya yang rumit.
"Oh begitu, Nak Angga beruntung memiliki keluarga baru yang begitu sayang, lalu ayah kandung Nak Angga dimana?." Pak Andra
"Entahlah, belum ketemu pak, apakah ayah kandung saya itu Pak Aldi atau bukan, soalnya setahu saya ibu menikah dengan Pak Aldi, bahkan mempunyai anak perempuan, atau saya mungkin anak dari pernikahan pertama ibu saya." Angga
"Mudah-mudahan ayah Nak Angga juga cepat ketemu ya, dalam keadaan sehat." Pak Andra
"Iya, aamiin." Angga
Dafa meletakan kalung itu ke dalam kotaknya lagi, merapikannya dan menyimpannya kembali.
Sepertinya aku harus membicarakan hal ini dengan Bu Hanna dan Pak Baskoro. Pikir Andra
Andra akan menceritakan semuanya kepada kedua orang tua angkat Angga terlebih dahulu, mendiskusikannya, mencari jalan terbaik, jika perlu dia akan melakukan tes DNA terlebih dahulu.
Jika benar, Andra akan senang sekali, bahkan dia bisa mengabulkan permintaan Dafa untuk memiliki seorang kakak laki-laki.
Papah harap, kamu benar-benar bisa mendapatkan kakak laki-laki Dafa. Batin Andra
__ADS_1
Dia tersenyum sepanjang perjalanan.
Bersambung….