
Dengan cepat Angga dan Gita menghampiri ibunya yang pingsan, membopongnya ke atas ranjang milik Angga.
Mendengar suara teriakan istrinya, Baskoro pun menghampiri kamar Angga, kebetulan juga lelaki itu sedang berada tak jauh dari sana.
"Ada apa?." Tanya baskoro yang segera masuk menggunakan kursi rodanya itu.
"Astagfirullah… " Baskoro mengusap dadanya pelan, naik turun, hingga bisa mengendali kan rasa kagetnya itu.
"Papah, , mamah pingsan pah." Ucap Angga.
"Iyalah pingsan, papah aja nyaris pingsan ngeliat wajah kalian.. kalian sedang main dandan dandanan gitu, dibedakin segala?." Ucap Baskoro
"Maaf pah." Ucap Angga
"Maaf om." Ucap Reza
Gite segera mencari minyak angin, mencari ke kamar miliknya.
Ternyata Bu Hanna mulai terbangun, dia membuka sedikit matanya, namun yang pertama ia lihat adalah wajah Angga yang sedang duduk disampingnya, waniya itu kaget untuk yang kedua kalinya dan pingsan lagi.
"Mamah.." ucap Angga.
"Ya ampun, kalian sana pergi, cucu dulu muka kalian, lihat tuh istri papah sampe pingsan 2 kali, kalian ini benar-benar keterlaluan."
"Salahin Gita aja pah, dia yang bedakin kita, iya kan adik ipar?." Ucap Angga
"Eh.. iya om, tapi ini sudah kesepakatan sebelum bermain game, , Reza juga salah tadi bukain pintu tanpa membersihkan muka dulu. Maaf ya om." Ucap Reza dia tidak mau jika Gita yang disalahkan.
Hahaha.. gentle juga dia, kayaknya dia beneran jatuh cinta sama Gita, dibelain segala. Batin Angga
"Iya gapapa ko nak Reza, kalian boleh main game apa aja, tapi harus lebih hati-hati, mamanya Gita kan gak tahu pastilah dia kaget."
Reza hanya menunduk dan mengangguk pelan, Gita datang dengan minyak anginnya, mulai mengoleskan benda itu ditangannya dan didekatkannya pada hidung ibunya, berharap ibunya bisa cepat sadar.
"Mamah cepet bangun dong, Jangan bikin Gita khawatir..!" Ucap Gita
"Mamah kamu tadi sudah sadar, tapi pingsan lagi gara-gara liat wajah Angga, tadi wajah Reza, hmm.." ucap Baskoro yang kini memandang wajah dua laki-laki di depannya itu.
"Apa?.. ya ampun… kak Angga, Reza kalian cepetan sana cuci muka! Apa kalian mua mamah pingsan untuk ketiga kalinya?." Ucap Gita kesal melihat mereka masih berdiam diri.
__ADS_1
Mereka berdua langsung terbirit-birit pergi menuju kamar mandi yang berada di kamar Angga, mereka saling berebut ingin duluan mencuci muka. Air itu seperti harta karun saja diperebutkan begitu sengit.
Alhamdulillah bu Hanna sudha sadar, setelah mendengar cerita dari Gita, dia memaklumi anak-anaknya yang sedang asyik bermain itu, dia tidak marah sama sekali, namun bu Hanna malah menghukum dengan cara menyuruh mereka menyiapkan api pembakaran dan membakar ayam dan ikan di halaman belakang.
Sepertinya makan ayam bakar enak juga, apalagi yang baru dibakar. Batin Hanna
Reza dan Angga kini kompak membakar ayam dan ikan itu. Mereka akui mereka juga lapar.
"Adik ipar, belum ingin pulang?." Tanya Reza
"Belum, nanti aja sudah makan ayam bakar ini."
"SMP nih ceritanya?." Tanya Angga
"Maksudnya?"
"SMP , sudah makan pulang. Hahahaha." Agga tertawa.
Reza yang merasa bahwa apa yang dikatakan kakak iparnya itu benar, dia hanya tersenyum kecil. Lagi pula jika dia dirumah dia merasa kesepian, dia anak satu-satunya, tidak memiliki adik atau kakak. Tidak ada yang bisa diajak bercanda ataupun bermain, jujur dia lebih suka berada di rumah Gita.
Dia juga yakin jika dia pulang, pasti ada Meta di rumahnya, membuatnya malas pulang dan ingin menginap saja. Namun dia malu jika harus menginap lagi tanpa alasan.
"Udah malem aja, kapan lo pulang?." Tanya Gita.
"Lo ngusir gue? Padahal gue pengennya nginep Git.hehe."
"Gak ngusir, nanya aja. Haha kayak yang gak punya rumah aja." Sindir Gita
"Hmm.. iya bentar lagi gue pulang, segitu gak sukanya ya lo liat wajah ganteng gue?."
"Hahaha… " Gita hanya tertawa, tidak menjawab candaan Reza, sebenarnya Gita mulai suka dengan sikap Reza, nyaman dengan keberadaannya.
Sekitar pukul 22.00 Reza akhirnya pulang, dia pulang memakai baju Angga lagi. Untungnya saat dia sampai dirumah ternyata Meta sudah pulang, menurut cerita ibunya (Maya), Meta menunggu Reza sangat lama bahkan dia sempat marah-marah.
Kunci kamar Reza pun tidak diberikan bu Maya, ibu itu beralasan jika semua kunci dibawa Reza.
"Siippp mah, Meta memang harus digituin." Ucap Reza
"Bentar Za, kamu pake baju siapa?."
__ADS_1
"Baju kakak ipar, hehe." Jawab Reza berlalu pergi menuju kamarnya, dia berjalan sambil bersiul. Dia begitu senang hari ini.
Bu Maya yang melihat tingkah anaknya pun ikut merasa senang. Berharap perjodohan itu berhasil.
***
Hari berganti hari, kini sudah seminggu Reza mencoba bersikap manis pada Gita.
Gita yang mulai terbiasa dengan kehadiran Reza pun mulai menganggap jika Reza itu adalah laki-laki dewasa, laki-laki yang harus dia pertimbangkan menjadi calon suaminya.
Jika melihat Reza bersikap manis dan tersenyum, wanita itu akan salting, membuat Reza kini tahu jika calon istrinya itu mulai luluh dengannya.
Denis yang terus berusaha mendekati Gita, dia selalu gagal dengan sikap dinginnya wanita itu, dikala dia memaksa wanita itu, ternyata dia malah mendapatkan dua tonjokan di mata kanan dan kirinya.
"Jangan berani macem-macem sama gue!" Ucap Gita pada Denis.
"Aw.." Denis meringis kesakitan.
Kalau lo bukan orang kaya, mana mau gue sama cewek model kaya lo, cantik enggak, kasar iya. Pikir Denis
Lelaki itu hanya bisa menahan amarahnya dalam hati, melihat punggung Gita yang perlahan menjauh.
Nisa lalu menghampiri sahabatnya itu.
"Lo kenapa, wajah lo bete gitu?."
"Gimana gak bete coba, si Denis maksa-maksa gue, dia bilang suka sama gue, terus gue tolak lah, gue kan gak suka, eh malah terus aja berlutut maksa gue, dan dia meluk gue saat gue bener-bener mau pergi.. kurang ajar." Ucap Gita.
"Sabar.. mending sama kak Reza aja lah, cocok ko lo sama dia."
"Hmm.. entahlah, gue udah sedikit nyaman sih, tapi untuk ke jenjang yang lebih serius… gue gak yakin Reza bakalan serius."
"Tapi menurut gue kak Reza serius sama lo, gue yakin dia bakalan setia sama lo." Ucap Nisa mengeluarkan pendapatnya.
"Waw… tuh pangeran lo dateng Git, liat deh penampilannya… dia bawa apa tuh? Cie…"
Goda Nisa
Gita memandangi laki-laki yang kini berjalan ke arahnya, dengan mata tanpa berkedip, namun detak jantungnya tak terkendali.
__ADS_1
Bersambung….