Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
BAB 36 Kebahagiaan ibu suri


__ADS_3

Ketika hari masih gelap, Ratu terbangun rasanya ia ingin buang air kecil saat ia hendak turun dari ranjangnya,


"Astaga, kenapa kau tidur disini Sani?"


Sani yang kaget, bangun dengan mata yang masih tertutup, ia memaksakan diri untuk bangun,


"Bukankah Ratu yang menyuruhku tidur disini menemani Ratu." Jawab Sani lemas, ia tak kuasa menahan kantuknya, ia pun tertidur lagi


"Betul juga, kok gue bisa lupa ya?hhmm.."


Ratu melangkahkan kakinya dengan sedikit terpaksa, ia sebenarnya merasakan kantuk tapi ia juga tidak bisa menahan rasa ingin pipisnya itu.


*


Sementara Raja Deon masih saja mengeluh sakit perut, meski tidak sesakit sebelumnya, ia hanya bisa tidur satu jam dan langsung merasakan mulas di perutnya lagi, terus saja seperti itu hingga ia lemas, ia memanggil tabib istana lagi untuk meminta agar dosis obatnya ditambah, ia juga ingin tahu bagaimana keadaan Ratu.


"Astaga, tidak bisakah diperiksanya besok saja? Ini masih gelap, aku masih mengantuk." Keluh tabib istana


"Tapi ini perintah yang mulia Raja." Jawab pengawal itu


"Baiklah.. baiklah, aku akan mengambil peralatan dan obat-obatanku dulu." Ucap sang tabib


Raja pun selesai diperiksa, ia diberi tambahan obat oleh sang tabib karena Raja Deon masih buang air yang berlebihan dan masih mengeluh perutnya sakit.


"Bagaimana keadaan Ratu, apakah ia mengalami gejala yang sama denganku? Dan apakah benar jika Ratu sedang mengandung?" Raja mencerca tabib dengan berbagai pertanyaan


"Mengandung, benarkah yang mulia?"


"Kenapa malah balik bertanya, bukankah kemarin kau memeriksanya?"


"Sebenarnya Ratu menolak untuk saya periksa yang mulia, pelayan itu bilang kalau Ratu baik-baik saja, tapi jika benar Ratu sedang mengandung, ini akan menjadi kabar baik yang mulia.. dan sebaiknya jangan biarkan Ratu beraktivitas yang berlebihan."


"Kami memakan buah masam bersama, kenapa hanya aku yang sakit? Bukankah itu aneh."


"Kondisi perut Ratu mungkin lebih sehat dan lebih baik dari yang mulia."

__ADS_1


"Tapi syukurlah kalau dia sehat."


Akhirnya setelah meminum obat, Raja Deon bisa tidur nyenyak. Saat pagi tiba ia mendapat kunjungan dari ibunya, sebenarnya ia senang tapi ia juga malas mendengar ocehan sang ibu.


"Seharusnya kau bisa menjaga kesehatanmu, pilih-pilihlah sebelum makan, kau kan bukan anak kecil lagi, kenapa mesti memakan buah yanh masih masam jika banyak buah yang manis, kau ini membuat ibu khawatir saja, bagaimana keadaanmu sekarang?" Ibu Suri mengomeli Raja yang masih merasa lemas itu


"Iya ibu aku mengerti, sekarang aku baik-baik saja."


"Jangan mengikuti tingkah teman-temanmu yang terkadang nakal dan jahil itu, pasti kamu dipaksa makan oleh mereka? Apakah kamu kalah bertanding dengan mereka, hingga dihukum memakan buah masam itu?."


"Tidak bu.."


"Bukankah biasanya seperti itu, dulu juga Pangeran Xia pernah disuruh memandikan semua sapi di istana karena kalah bermain, kalian ini masih saja seperti anak kecil."


"Sudah bu, aku lelah, aku tidak ingin mendengarkan omelan ibu lagi. Aku kemarin makan buah masam bersama Anggrek bu, aku juga tidak tahu kenapa ia makan begitu lahap, aku hanya tidak bisa menolak suapan dari Anggrek, itu saja."


"Benarkah?, ohh.. anak yang pintar, seharusnya memang seperti itu . Jika seorang istri sedang ngidam saat hamil, sang suami harus menuruti semua kemauan istri, tunggu dulu…. anggrek hamil? Benarkah?"


Ibu Suri mengubah ekspresinya, dari marah menjadi senang yang tak terkira, ia ingin segera bertemu Anggrek, ia pergi terburu-buru tanpa mendengar jawaban dari Deon lagi, bahkan ia benar-benar melupakan Deon yang sedang sakit itu.


"Astaga, ibu memang lebih menyayanginya daripada aku, selalu begitu. Tapi biarkan saja, ini lebih baik, sunyi dan damai tanpa omelannya." Raja Deon melanjutkan tidurnya lagi.


Selir Mey sangat kecewa, meski ia tahu bahwa Deon sudah tidak mencintainya tapi ia merasa setidaknya Deon menerima kunjungannya yang hanya ingin menjenguknya saja. Bukankah itu begitu keterlaluan, selir Mey merasa terbuang.


Rizad yang melihat raut sedih selir Mey bisa menduga kalau Mey pasti mendapatkan penolakan lagi dari Raja, ia mencoba menghibur Mey, mengajaknya berjalan-jalan untuk melupakan kejadian ini.


* *


Sani bangun terlebih dahulu, ia bergegas kembali ke kamarnya, saat pagi tiba dan matahari mulai menyinari kamar Ratu melalui celah jendela kamarnya, membuat ia terbangun karena silaunya matahari pagi.


Tapi entah mengapa pagi ini perutnya terasa tidak nyaman, ia seperti menghirup bau yang tidak sedap padahal itu hanya asap bubur yang masih hangat yang tersedia di meja untuk sarapannya hari ini, ia tak kuat menahan rasa ingin muntahnya.


Sudah berkali-kali Ratu muntah membuat Sani berinisiatif memanggilkan tabib, meski biasanya Ratu menolak diperiksa oleh tabib istana.


Disaat Sani menunggu tabib istana datang, ternyata ada yang ingin mengunjungi Ratu, tanpa bertanya kepada Ratu, Sani mempersilahkannya langsung masuk ke kamar sang Ratu.

__ADS_1


"Salam Ibu Suri.." Ratu yang baru kembali dari kamar mandi dikejutkan dengan kehadiran ibu suri yang tiba-tiba berada di kamarnya.


Ibu Suri begitu senang dan langsung memeluk Ratu tanpa berbicara apapun membuat Ratu bingung, lalu ibu Suri melepaskan pelukannya.


"Bagaimana keadaanmu hari ini?"


"Entahlah ibu, hari ini aku merasa mual dan muntah-muntah."


"Itu bagus, terimakasih Anggrek."


Ibu Suri kembali memeluk Ratu Anggrek.


"Bagus, apanya yang bagus? Gue sakit, tapi ibu suri malah seperti senang begitu sih, hhuhhh...." Gumam Ratu dalam hatinya


"Sekarang apa kau menginginkan? Apa kau ingin buah yang asam lagi?"


Ratu menjawab tidak, karena hari ini memang ia tidak menginginkannya bahkan ini terlalu pagi, ia ingin makanan berkuah dan pedas. Lalu ibu Suri menyuruh pelayan membawakan Ramen pedas untuk Ratu, dan yang tidak pedas untuk ibu Suri.


Setelah makan, tiba-tiba Ratu berkata


"Aku penasaran sekali, ingin melihat ibu menyanyi dan menari." Ratu mengatakannya tanpa sadar, ia hanya mengungkapkan apa yang ada dipikirannya saat itu


Tapi tak disangka ibu Suri menyetujuinya, ia Rela menari dan bernyanyi demi menantunya itu yang ia harap sedang benar-benar mengandung cucunya itu.


Ratu yang melihat ibu Suri merasa terhibur, bahkan ia tertawa karena merasa itu lucu, dan disaat yang bersamaan, pintu kamar tiba-tiba terbuka.


Tabib yang tanpa sengaja melihat ibu Suri menari, ia menahan tawanya. Ibu Suri yang kaget dan merasa malu karena dibalik pintu kamar ternyata ada tabib dan pelayan-pelayan yang sempat melihatnya menari.


"Astaga.." ibu Suri kaget sampai jatuh terduduk, lalu ia berpura-pura tidak pernah melakukan hal yang lucu, ia kembali ke sosok yang elegan dan berwibawa seperti biasanya.


"Hmmm.. hmmm, masuklah.. dan periksa yang mulia Ratu dengan benar..!" Ucap ibu Suri kepada tabib istana


Bersambung…


...Hai.. hai, ada rekomendasi novel nih buat kalian, karya kak ippiie.. jangan lupa kepoin ya..!...

__ADS_1


...Bisa dibaca sambil menunggu bab baru up :)...



__ADS_2