Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Rencana Baskoro


__ADS_3

Saat ibu Hanna ingin menemui anaknya, dia berjalan menuju pintu kamar itu, memanggil-manggil nama Gita, namun tak kunjung ada jawaban, akhirnya dia membuka pintu dengan perlahan.


"Git… Gita, kamu sedang apa?" Panggil Bu Hanna pelan.


Ketika langkahnya masuk, menyusuri kamar yang luas itu,


Ko sepi sihh? Kemana mereka pergi?


Oh… ya ampun, ternyata mereka tidur siang.


Ibu Hanna meninggalkan mereka, kembali ke dapur, dia ingin memasak. Hobby nya memang memasak, makanya Anggita jarang sekali memakan makanan yang dibuatkan oleh pelayan.


Anggita sebenarnya tidak kekurangan kasih sayang mamah dan papanya, bu Hanna terkadang heran sendiri dengan kepribadian Gita yang tomboy dan cuek, padahal dulu saat anak perempuannya itu masih kecil, sering sekali bu Hanna mengepang dan menata rambutnya, memakaikan baju pilihannya.


Tapi sekarang, meskipun ibunya itu membelikan baju yang feminim bahkan memaksanya untuk memakainya, tetap saja Gita tidak mau, dia selalu membeli pakaiannya sendiri, itu pun di toko-toko sederhana, padahal butik teman bu Hanna banyak.


Anggita hanya bilang dengan membeli baju di toko sederhana dia bisa hidup normal, dan membantu penjual toko.


Jam menunjukan pukul 15.00, ibu Hanna membangunkan anak gadisnya itu.


"Sayang.. bangun..! Bentar lagi adzan Ashar."


"Emm… iya mah."


"Mandi sana, trus sholat, nanti makan bareng ajak temanmu itu..!"


"Iya mah.."


Bu Hanna pun keluar kamar, dan menata makanan di meja makan.


"Nis.. bangun, hey.. bangun..!"


Tapi sahabatnya itu tak bergerak sama sekali.


Ini orang tidur kok kayak mayat sih, kaku banget susah dibangunin pula.


Akhirnya Gita menggunakan caranya sendiri untuk membangunkan Nisa, didoronglah Nisa sampaj jatuh ke lantai.


"Gempa.. gempa…"


Nisa meringis kesakitan, tapi saat mendengar teriakan Gita dia langsung merasa segar, dia panik.


"Mana gempa, mana gempa?, ayo Gita kita harus segera keluar..!"


Nisa berlari kencang keluar kamar, melewati ruang tengah, dan sampailah di pintu depan dekat taman.


Emang iya ada gempa? Ko gue ada di rumah orang ya? Rumah siapa ya? Batin Nisa bertanya-tanya.

__ADS_1


Saat beberapa saat dia mengingat kapan dia datang dan berakhir dengan tidur siang.


"Gita…….." Nisa berteriak.


"Ya bestie ada apa?" Tanya Gita yang kepalanya nongol di pintu.


"Lo ngerjain gue ya?" Nisa kesal


"Haha.. siapa suruh, tidur kok kayak kebo." Ucap Gita langsung berlari, berhambur memeluk mamanya saat tak sengaja bu Hanna lewat.


"Astaga Gita kamu apa-apaan sih? Kayak anak kecil aja." Keluh mamanya


Saat Nisa melihat ibu Hanna, dia langsung tertunduk, mendadak menjadi wanita lemah lembut.


"Tante, apa kabar?."


"Baik, sudah lama gak ketemu kamu nak, terakhir kali saat kelulusan SMA kalian ya? Hmm gak kerasa.. tapi melihat Gita, tante kira dia masih saja seperti anak SMA, tante pusing." Keluh bu Hanna


"Hehe.. iya tante udah lama kita gak ketemu, kalau Gita sih memang dari dulu gitu tan. Hehe."


"Mamah ko gitu sih, bukannya bangga-banggain anaknya, hmm.." 


"Ya udah kalian mandi dulu. Nanti makan bareng ya, kamu pake baju Gita aja dulu. Ada ko baju yang tante beliin tapi gak di pake, pasti kamu suka."


Mereka pun patuh, mereka mandi bergiliran, Nisa benar-benar menyukai beberapa baju di lemari Gita yang memang gak dipakai Gita.


"Wah.. baju pilihan nyokap lo bagus-bagus, kenapa gak dipake sih? Kalau gitu buat gue aja ya daripada mubazir?."


Setelah siap, Nisa dan Gita menghampiri pak Baskoro terlebih dahulu, menyapa dan berbincang-bincang sebentar.


Setelah itu, mereka menikmati makan bersama, bahkan pak Baskoro ikut makan bersama meski harus didorong dan duduk di kursi roda. Anggita begitu merasa senang.


"Kamu cantik Nisa pake baju itu, andai aja Gita mau menghargai baju yang tante beli." Ucap bu Hanna seolah sedih.


"Mamah, bukan gitu mah maksud Gita."


"Iya ih, kamu mau jadi anak durhaka Git?" Nisa menimpali ucapan Gita.


"Iya Git, pokoknya sekali-kali kamu keluar aja jalan-jalan sama Nisa pake baju yang feminim gitu, mamah pasti suka, jangan kayak anak cowok gitu ah..!"


"Iya.. iya mah."


"Git, nanti malam akan ada sahabat papah yang menjenguk, dia kesini sama anak bujangnya. Papah harap kamu berjodoh sama dia."


Sontak Gita tersedak mendengar ucapan papanya itu.


"Nih airnya Git." Nisa menyodorkan segelas air putih.

__ADS_1


"Papah jodohin aku? Emang ini zaman siti nurbaya apa? Hmm.. Gita gak mau ah."


"Eh, kamu kenalan dulu aja, papah yakin kamu bakal suka, dia ganteng, udah mandiri, sebentar lagi dia wisuda dia ngambil S2 loh."


"Hmm.. gimana nanti ja ya pah, Gita gak yakin cowok sesempurna itu mau sama Gita."


"Haha.. makanya kamu sekali-kali nyalon dong, perawatanya sama mamah." Ucap bu Hanna.


Makan malam pun selesai dengan wajah cemberutnya Gita, pasalnya dia tidak ingin jika dijodohkan seperti itu.


Emangnya gue gak laku, sampe dijodohin segala, tampan? Emang iya tampan, jangan-jangan papah melebih-lebihkan. Batin Gita


Nisa pun pamit pulang karena sudah sore, sebelum dia pulang dia bahkan mengejek Gita berulang kali, membuat mood Gita tambah gak enak.


Gita masuk ke dalam kamarnya, membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamarnya.


Semoga aja gue cepet ketemu sama jodoh gue, kalau dipikir-pikir gue juga pengen punya keluarga kecil, punya suami pengertian dan bayi yang lucu.


"Sepertinya gue emang harus lebih serius deh sama masa depan gue, penampilan gue, perusahaan papah, dan juga jodoh gue. Gue harus berubah." Ucap Gita pelan.


Mengingat saat masa-masa sulit di dunia komik, Gita selalu ingin kembali ke dunia nyata dan menyenangkan kedua orang tuanya, kini saatnya dia berbakti, menuruti apa yang mereka inginkan, bukankah semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya.


Tok


Tok


Tok


"Git, mamah boleh masuk?" Panggil bu Hanna.


Seketika lamunan Gita buyar, dia melangkahkan kakinya dan mulai membuka pintu.


"Masuk aja mah.."


Mereka duduk berdampingan diranjang, bu Hanna menatap lekat putrinya itu.


"Git, kamu jangan marah ya sama keputusan papah..! Tapi kamu bisa kok menolak perjodohan itu jika memang kalian tidak cocok." Ucap bu Hanna pelan.


"Hehe.. nyantai aja mah, Gita gak marah kok, bener ya kalau gak cocok Gita bisa batalin?."


"Iya sayang." Jawab bu Hanna memeluk anak perawannya itu.


"Kirimin nomor telepon Nisa ya sayang, mamah ada perlu."


"Ok mah."


Ibu Hanna pun melangkahkan kakinya keluar kamar, sambil tersenyum.

__ADS_1


Kok perasaan gue gak enak ya, buat apa sih mamah minta nope nya Nisa? Batin Gita bertanya-tanya.


Bersambung..


__ADS_2