
Raja memerintahkan Rizad untuk menemuinya di suatu tempat melalui pengawal pribadinya. Ketika di perjalanan dia bertemu Pangeran Ceng.
"Wah.. Raja kita mau kemana? Coba kulihat sepertinya matamu menunjukan kalau semalam kau begadang.hehe.."
"Kau selalu ingin tahu saja, aku habis ronda semalam."
"Wahh… senangnya yang sudah dapat jatah semalam, haha.. harusnya kau bersemangat pagi ini."
"Kau tidak tahu saja ronda malam ku tadi seperti apa, sudahlah aku ada urusan yang lebih penting."
"Iisshh.. so sibuk sekali, lebih baik aku mengunjungi keponakanku saja dia lebih menggemaskan dan menyenangkan dari pada ayahnya ini."
"Hmm… pergilah..!"
"Kau belum tahu saja bayiku yang sebenarnya seperti apa." Gumam Deon dalam hati
Saat Raja tiba, ternyata sudah ada Rizad disana sedang menunggunya dengan wajah gelisah.
"Bagaimana, apa keputusanmu? Aku harap kau tidak akan menyesalinya."
"Yang mulia… a-aku akan mengasuh anakku, aku akan mengakuinya."
"Baiklah, pilihan yang sangat bagus."
"Ta-tapi yang mulia, bagaimana dengan nasib selir Mey?"
__ADS_1
"Itu urusan nanti, aku belum membicarakan hal ini kepada istriku, bukankah dia yang selama ini menjadi korban, jadi aku harus mengetahui apa yang Ratuku inginkan."
Rizad hanya menunduk, ia tidak bisa memohon pengampunan Raja untuk Mey, karena ia menyadari kesalahan Mey begitu besar.
Raja kini merasa sedikit lega, ia belum sempat membicarakan hal ini dengan Ratu, karena saat dia pulang Ratu selalu dalam keadaan sibuk dengan bayinya dan terkadang ketika ia pulang, Ratu sedang tertidur pulas. Kini Deon mengerti betapa lelahnya mengurus seorang bayi.
Ketika melewati perkebunan, Raja menyempatkan diri untuk melihat dan memilih buah-buahan yang segar untuk istrinya nanti.
"Haruskah aku memilih yang asam? Bukankah dia selalu meminta buah masam? Tapi jika tiba-tiba dia meminta yang manis, akan sia-sia buah yang aku bawa.hmm.. sebaiknya aku membawa banyak buah saja." Pikir Deon
Ketika sampai di paviliun Ratu Anggrek, Deon melihat sahabatnya itu masih betah menjenguk keponakannya.
"Kau masih disini? Ku kira sudah tidak ada."
"Hahaha.. aku hanya tidak mempunyai kegiatan hari ini, kalau aku pulang aku malas sekali mendengar pujian-pujian yang dilontarkan ibuku untuk gadis-gadis yang akan dijodohkan denganku, bukankah aku masih sangat imut untuk.menikah? Ibuku terlalu berlebihan."
"Benar sekali istriku, dia memang selalu merasa begitu, itu hanya pembelaan, aku curiga dia tidak normal. Haha.." Ejek Deon
"Apa kau bilang? Aku benar-benar normal, aku hanya ingin menikmati kebebasanku lebih lama, Itu saja, bukankah kau tahu sendiri begitu banyak wanita mengejarku?hmm.."
"Cuma wanita aneh yang menyukai pria aneh sepertimu." Ucap Raja
Seketika Sani yang mendengarkan ucapan Rajanya itu merasa kesal, hanya saja kekesalannya itu dia simpan dalam hatinya.
Setelah Pangeran Ceng pergi, Raja mulai mengajak Ratu untuk berbicara serius mengenai selir Mey. meski Ratu begitu sibuk dengan buah-buahan yang Deon bawa, Ratu begitu senang.
__ADS_1
Ratu juga bimbang, dia memang ingin Mey tetap mendapatkan hukuman penggalan itu, tapi ia sebagai seorang ibu merasa kasihan pada anaknya nanti yang masih membutuhkan ASInya dan perhatiannya.
Ratu meminta Raja untuk memberinya waktu untuk berpikir, karena keputusannya akan sangat mempengaruhi kehidupan bayi perempuan itu.
Sementara Ratu berpikir, Deon akan mengadakan rapat yang dihadiri semua menteri, berharap ada hukuman yang cocok untuk selir Mey, yang akan dia pertimbangkan kembali dengan Anggrek.
"Sebenarnya gue ingin mengakhiri komik ini dengan kematian selir jahat itu, tapi kenapa hati gue seakan gak rela melihat bayi itu tiba-tiba kehilangan sosok ibunya, bahkan karena keputusan gue. Arrgghh…. Gue pusing." Keluh Gita
Tiba-tiba terdengar suara tangisan Pangeran kecil, membuat Gita (Ratu) sejenak mengalihkan pikirannya.
"Sayang… sudah bangun ya, emm.. sayang, bagaimana kalau suatu saat nanti ibu pergi? Bagaimana kalau kamu nanti butuh Asi? Ahh.. Tapi setidaknya masih ada sosok ibu Anggrek yang akan menggantikan ibumu ini. Kamu bahkan nanti pasti tidak akan pernah menyadari kehadiran ibumu Gita ini, sakit sekali bukan... Hiks… "
"Gue pengen deh, disaat gue kembali ke dunia nyata gue juga bisa membawa dia, Pangeran kecil gue.. hiks… gue jadi melow gini." Gumam Gita, tak tetasa dia meneteskan air matanya.
Gita mengangkat tubuh mungil itu, menaruhnya dipangkuannya, menepuk-nepuknya dengan lembut supaya bayi itu tertidur kembali, Gita menatap bayi itu dengan mata berkaca-kaca, berharap akan selalu melihat bayi itu tumbuh.
Melihat saat bayi itu bisa merangakak, berdiri, berjalan, berbicara dan tumbuh menjadi sosok Pangeran yang gagah, yang nantinya bahkan sudah bisa melindungi ibunya.
***
Rizad begitu mengkhawatirkan anaknya, dia begitu cepat kembali menuju kediaman selir Mey.
Meski hanya meninggalkannya sebentar tapi setelah melihat betapa acuhnya Mey pada bayi mungil itu, dia kini selalu merasa cemas.
Ketika memasuki kamar dia begitu kaget melihat hanya ada Mey yang tertidur, sementara bayinya sudah tidak ada dikamar itu, dia begitu panik dan bertanya kepada setiap orang yang ia lihat, tapi.. mereka hanya menjawab, bahwa bayi itu dibawa keluar oleh seorang wanita.
__ADS_1
"Siapa orang itu, kenapa bayiku dibawa pergi?, tapi jika wanita itu lolos dari pengawalan yang begitu banyak, pasti tidak masalah bukan? Pasti dia baik-baik saja kan? Siapa yang akan menculik anakku, bukankah itu hal yang tidak mungkin? Tapi tetap saja aku khawatir." Pikir Rizad
Bersambung...