
"Itu, ada anak yang tiba-tiba nyebrang." Reza
Reza, Gita dan Nisa turun dari mobil untuk melihat keadaan anak laki-laki tadi.
Anak kecil itu terduduk sambil menangis, sepertinya syok, namun tidak ada luka di tubuh anak itu.
"Dafa … kamu gapapa?." Ucap lelaki separuh baya itu menghampiri anaknya.
"Maafkan anak saya, dia berlari karena marah pada saya." Lelaki itu
"Bapak, anda yang sempat bertemu dengan saya di kampus kan? Oh anak itu namanya Dafa." Gita
"Eh iya, aduh sudah dua kali saya merepotkan begini." Ucap lelaki itu yang kini menggendong anaknya.
"Nama saya Pak Andra, ini anak saya Dafa, sekali lagi saya minta maaf, saya permisi, karena masih ada keperluan lain." Pak Andra
"Iya pak, hati-hati." Reza
"Anak lelaki itu begitu menggemaskan dan tampan ya Git?." Nisa
"Hmm.. iya." Gita sambil menatap terus ke arah mereka yang berlalu pergi.
"Kenapa rasanya anak itu tidak asing ya?" Reza
"Dia mirip kak Reza waktu kecil." Gita
"Iya kamu benar, aku sempat melihat foto kakakmu dikamarnya, mirip sekali, apa jangan-jangan itu adik kandungnya atau keluarganya yang hilang?." Reza
"Maksud kamu?." Gita
Astaga, gue salah ngomong nih, sebenarnya Gita tahu gak sih tentang kebenaran kak Angga? Gue harus gimana nih, nanti masalahnya semakin rumit lagi. Pikir Reza
"Gak ada maksud apa-apa, aku cuma asal tebak aja, becanda Git, ayo masuk, biar aku antar pulang..!" Ucap Reza mengalihkan pembicaraan.
Mereka semua lalu masuk lagi ke dalam mobil, namun suasananya tidak seperti tadi, sekarang Gita malah melamun, Reza juga tidak berani bertanya takut jika gadis itu bertanya tentang apa yang tadi sempat dikatakannya.
Harusnya gue nanya dulu sama mamah, sebenarnya dia sudah tahu apa belum soal kak Angga yang anak angkat, gue b0doh sekali. Pikir Reza
Nisa turun lebih dulu, Reza mengantar sahabat pacarnya itu lebih dulu.
"Git.. woy ngelamun ajah sih lo, gue duluan ya, makasih tumpangannya." Nisa
"Eh iya Nis, sama-sama." Jawab Gita singkat, dia benar-benar sedang memikirkan hal lain.
"Kamu kenapa sayang?." Tanya Reza
"Aku? Aku gapapa, ayo cepet kita pulang..!" Ajak Gita
__ADS_1
Reza kembali melajukan mobilnya, mengantarkan kekasihnya itu sampai ke rumahnya, sementara dia kembali ke kantor karena pekerjaannya memang belum selesai.
Gita masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam, pikirannya masih terbayang wajah anak kecil tadi.
"Bisa mirip begitu ya?." Ucap Gita pelan.
"Apanya yang mirip? Kok mamah gak denger kamu masuk, tau-tau udah disini aja, salam nya aja gak denger tuh, biasanya kan suara kamu itu keras banget, berisik, kedengaran sampai belakang. Hehe." Hanna
"Ah mamah bisa aja. Gita masuk ke kamar dulu ya, mau ganti baju, eh mau mandi sekalian deh." Gita
"Iya, tapi kamu gapapa kan? Ko terasa ada yang aneh." Tanya Hanna
"Gita gapapa mah, udah ah mamah tuh yang aneh." Jawab Gita
Gadis itu masuk ke dalam kamarnya dan malah merebahkan tubuhnya di ranjang, dia masih terbayang-bayang anak kecil tadi dan ayahnya.
Apa gue cek lagi ya ke kamar kak Angga, foto anak itu apa benar-benar mirip? Apa memang kebetulan? Tapi Reza tadi bilang keluarga yang hilang? Apa mungkin? Pikir Gita
"Arghhh gue pusing." Gita
Dia dengan segera pergi ke kamar mandi, dia berusaha untuk tidak memperdulikan sesuatu yang tidak penting.
Itu pasti hanya kebetulan. Batin Gita
Gita mencoba meyakinkan hatinya agar tidak memikirkan kejadian tadi terus menerus, dia yakin jika Angga adalah kakak kandungnya, terlihat dari ibu dan ayahnya yang menyayangi Angga sama seperti menyayangi Gita, tidak ada pilih kasih.
Bahkan Angga pun selama ini selalu bersikap baik pada Gita, layaknya kakak kepada adiknya.
Angga yang lapar, dia pergi ke cafe sekitar kantornya, dia juga ingin melepaskan penat di kepalanya, sedari pagi dia belum bisa bersantai.
"Aku berharap bisa bertemu lagi dengan anak kecil itu." Ucap Angga
Terakhir kali dia datang ke cafe itu dia sempat melihat anak kecil yang mirip dengan dirinya, namun tidak sempat mengejarnya.
"Kirana.." Angga
Bagaimana kabar gadis itu ya? Polisi belum mengabari lagi perkembangan kasus itu. Pikir Angga
Tiba-tiba kepala Angga sakit, sakit yang luar biasa, bahkan ia pingsan di tempat duduknya.
Seorang pelayan cafe menyadari jika tamunya pingsan, dia langsung meminta bantuan, membopong tubuh Angga masuk ke dalam bagian cafe, disana Angga dibaringkan di sofa besar.
Manager cafe memeriksa riwayat panggilan Angga dan menelepon nomor terakhir yang Angga telpon.
"Hallo Pak Angga.." Pak Surya
"Maaf, selamat siang, saya manager Cafe Ternyaman yang berada di jalan x x x, pemilik ponsel ini pingsan pak, bisa anda datang kemari secepatnya..!" Manager cafe
__ADS_1
"Baik pak, saya segera kesana." Pak Surya
Pak surya dengan cepat sampai di cafe itu, karena memang tempatnya yang tidak jauh dari tempat kerja, namun saat Pak Surya datang ternyata Angga telah sadar.
Akhirnya Pak Surya membantu Angga menaiki mobil, membawanya pulang ke kediaman Baskoro.
Hanna begitu terkejut melihat anaknya pulang lebih awal bahkan dalam keadaan sakit.
"Pak Surya, Angga kenapa dipapah begitu?." Hanna berlari menghampiri
"Begini Bu Hanna, tadi Pak Angga pingsan tadi di cafe, jadi saya bawa pulang kemari, Pak Angga tidak mau dibawa ke Rumah Sakit atau klinik." Pak surya
"Ya sudah, bawa ke kamar aja ya pak..!" Hanna
Baskoro pun yang baru datang dari ruangan belakang, langsung menyusul ke kamar Angga.
Angga sadar, namun entah mengapa dia seakan tidak menanggapi orang-orang yang bertanya padanya.
"Angga kenapa ya pah? Mamah khawatir deh, kaya orang linglung gitu." Hanna
"Kita tunggu aja mah, nanti juga dia mau bicara sama kita, biarkan dia istirahat dulu." Sanjaya
Saat hari sudah sore, Angga mulai mau berbicara.
"Aku gapapa mah, mungkin hanya kecapean, hari ini banyak kerjaan." Angga
Gita yang sudah mandi itu keluar dari kamarnya, niat hati ingin melihat foto Angga waktu kecil, dia malah melihat kakaknya itu terbaring di ranjang dengan ditemani mamah dan papanya.
"Loh, Kak Angga kenapa? Kapan pulang, aku kok gak tahu." Tanya Gita
"Kamu tadi kan lagi mandi, Kakakmu sakit, temenin dia dulu ya.. mamah mau anterin papah ke kamarnya, papah mau istirahat." Hanna
"Iya mah." Gita
Hanna meninggalkan mereka berdua, biarlah anak gadisnya yang menjaga Angga, siapa tahu Angga mau cerita pada Gita.
"Kakak sakit apa?" Gita
"Gapapa, paling cuma kecapean." Angga
"Jangan bilang kalau kakak itu stress mikirin Kirana..!hehe.." Gita
Deg.
Saat nama itu disebut, Angga mengingat sesuatu. Mengingat bayangan masa lalu yang sempat dia lihat sebelum dia pingsan.
Kirana di panti asuhan?. Pikir Angga
__ADS_1
Bayangan itu baru muncul sebagian, namun mana mungkin Kirana ada di Panti asuhan itu bahkan saat Angga masih kecil.
Bersambung...