
"Hmm.. tentu saja."
"Apa itu? Jangan aneh-aneh..!"
"Sebenarnya aku ingin merasakan tidur nyenyak beberapa malam kedepan, Pangeran kecil jarang sekali mau digendong oleh pelayan, terkadang bayi kita hanya diam saat aku yang menggendongnya, setiap malam aku selalu begadang, boleh ya seminggu kedepan kamu menggantikan aku..! Hehe"
"Tapi, bagaimana kalau dia ingin ASI?"
"Hmm.. kamu bisa membangunkan aku jika bayi kita tidak bisa berhenti menangis dan benar-benar lapar. Tapi jika hanya terbangun sesaat kamu sebagai ayahnya hanya perlu menimangnya atau mengganti celanannya yang basah karena pipis, nanti aku akan mengajarimu."
"Hmm.. baiklah, hanya seminggu kan? Bayi kita kenapa tidak mau digendong pelayan?"
"Iya, entahlah.. aku pun tidak mengerti, dua minggu terakhir ini Pangeran kecil mulai mengenali ibunya, ayahnya dan neneknya. Dia seakan tau jika pelayan yang menggendongnya dia tidak berhenti menangis."
"Kita kembali ke paviliun saja, aku khawatir bayi kita terbangun dan mencari ibunya."
"Hmm.. benar juga."
Mereka akhirnya kembali karena khawatir, tapi tak disangka disana sudah ada ibu Suri yang sedang menimang-nimang cucunya itu.
"Ibu…" panggil Deon.
"Kamu darimana saja?, anakmu terbangun dan menangis, celananya basah, dia buang air besar dan merasa tidak nyaman, setelah Sani membersihkannya, dia mulai menangis mencari ibunya, untung saja ibu datang, dan sepertinya dia mengenali neneknya yang cantik ini.hehe"
Raja dan Ratu hanya tersenyum saat mendengar kata "Nenek Yang Cantik".
Ibu Suri merasa rindu pada cucu pertamanya itu, baru dua hari yang lalu ia datang menjenguk. Sebenarnya rasanya ingin setiap hari menemani bayi mungil itu, tapi dia juga mempunyai urusan lain yang harus ia selesaikan.
Mereka mencoba mengajak bermain anggota baru keluarganya, tapi karena masih 1 bulan, bayi itu belum bisa menanggapi orang-orang dewasa disekitarnya yang sedang mengajaknya berbicara.
Hanya dengan tersenyum, dan membuka mata perlahan saja, bayi itu mampu membuat semua orang jatuh cinta. Benar-benar menggemaskan.
__ADS_1
Sepanjang hari ibu Suri diam di paviliun Ratu, ia ingin dekat-dekat dengan cucunya itu.
"Bayi selalu wangi, ibu sangat suka menciumnya."
"Aku juga dulu seperti itu ya bu?" Tanya Raja
"Ya tentu saja, wajahnya pun mirip saat kau kecil."
"Tapi aku berharap, dia mirip denganku bu.. bukankah aku yang telah mengandung dan melahirkannya." Ucap Ratu
"Hahaha… ya mungkin ketika besar akan mirip dengan ibunya, tentu saja sangat merugikan, Anggrek yang lelah mengandung dan melahirkan tapi ketika lahir kenapa mirip Deon semuanya."
"Betul sekali, ibu mewakili perasaanku.hehe"
"Tapi tetap saja aku yang berjuang membuatnya setiap malam bu. Hmm.." Ucap Deon tak terima.
"Haha.. cuma bergoyang ko jadi berjuang." Ratu mulai meledek
Ratu dan Raja hanya saling pandang mendengar apa yang dikatakan ibu Suri.
Ibu Suri berlalu pergi, sebelum pergi dia mengecup kedua pipi bayi gemoy itu.
Ratu pergi ke kamar mandi, ia ingin merasakan mandi tanpa gangguan. Dia menitipkan bayinya pada suaminya, dia yakin jika Pangeran Kecil akan aman bersama ayahnya.
Sudah lama rasanya Ratu tidak memanjakan dirinya, dia begitu sibuk menjadi ibu baru.
Seharusnya dia bisa bersantai karena banyak pelayan di istana. Tapi bayinya itu seakan ingin membuat Ratu menjadi ibu yang siap siaga dan selalu ada didekatnya.
"Hmm.. gue baru kali ini bisa mandi nyaman begini, biasanya baru masuk kamar mandi saja terasa terdengar tangisan bayi di telinga gue, ketika gue berlari dengan khawatir, eh itu bayi ternyata tidur dengan pulas, hahaha.. terkadang gue pikir, gue sering halu deh denger suara bayi nangis."
Terdengarlah suara tangisan bayi, Ratu berpikir itu hanya halusinasinya saja, telinganya memang sering seperti itu, dia begitu menikmati ritual mandinya, wangi bunga semerbak tercium olehnya, bahkan kini wangi itu menempel pada kulit tubuh sang Ratu.
__ADS_1
Ritual mandi pun selesai, saat dia selesai dengan pakaiannya, dia sama sekali tidak melihat ayah dan anak yang seharusnya ada di dalam kamar.
Ratu tak menghiraukannya, ia berpikir mungkin Deon mengajaknya keluar kamar dan berada di ruangan yang lain.
Ratu mulai mencari bayi gemoynya, rasanya ia rindu dengan hanya meninggalkannya untuk mandi.
"Sani.., apa kamu melihat Raja?."
"Mmm… Raja membawa bayi anda keluar, itu di dekat taman bunga, padahal ini sudah gelap dan cuaca dingin sekali Ratu."
"Ya ampun.."
Ratu bergegas menghampiri Raja, "kenapa malam-malam kau bawa anak kita keluar?"
"Dia menangis terus, kau bahkan tak mendengarnya? Aku berpikir dia kegerahan, aku lihat tadi dia berkeringat jadi aku bawa dia keluar, buktinya dia diam dan nyaman."
"Berarti tadi benar-benar suara c gemoy, bukan gue yang halu." Gumam Gita
"Kau kan bisa membuka selimutnya atau bajunya di dalam kamar, tidak usah membawanya keluar..!"
"Benar juga ya. Kenapa tidak terpikir olehku."
"Ayo cepat masuk, nanti dia sakit..!"
Mereka akhirnya bergegas masuk ke dalam, untunglah Deon baru membawanya keluar jika dibiarkan lebih lama, pasti bayi itu akan demam.
Ratu kemudian memberi pelatihan pada Raja, bagaimana cara mengganti celana bayi saat buang air. Deon begitu memperhatikan dengan serius, karena malam ini dia mulai bertugas.
Jika biasanya Ronda malam untuk menjaga rumah warga dari pencuri, ini Ronda malam untuk menjaga istri tetap terlelap. Hehehe..
Bersambung…
__ADS_1