Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Mimpi


__ADS_3

Gita memasuki rumahnya, meski dengan wajah kesal, dia tetap mengucapkan salam.


Bu Hanna menjawab salam dari anaknya itu dengan senyum hangat, tapi saat dia melihat wajah anaknya yang ditekuk, membuatnya jadi ingin bertanya lebih.


"Git, ko wajahnya cemberut gitu sih?."


"Lagi kesel mah, sampe pengen makan orang." Ucap Gita lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Kamu ini, gimana acaranya lancar kan?."


"Hmm.. tau gak sih mah, tadi...emm." Ucap Gita, tapi dia enggan meneruskan kata-katanya, ia takut jika ibunya itu akan khawatir mendengar tragedi perampokan tadi.


"Tadi ada apa Git?." Bu Hanna merasa penasaran.


"Gapapa mah, Gita cape pengen rebahan mah, kaki Gita juga pegel nih pake sepatu itu, minta bibi nanti pijitin aku ya mah..!"


"Hmm iya."


Apa ada yang disembunyikan Gita ya? Tadi ada apa sih? Apa aku tanya Maya aja ya?


Gita melangkahkan kakinya menuju kamar yang begitu dirindukannya, ia berbaring dan menggerakkan tangan dan juga kakinya.


Ahhh… nyamanya, punggung ku, kakiku semuanya sakit.. huhh


Ditatapnya cincin ajaib miliknya, kini ia tersenyum sedih. Dia bersyukur bisa memiliki cincin itu dan bisa menyelamatkan hidupnya sendiri, tapi dia sedih mengingat masa-masa dimana awal dia mendapatkan cincin itu.


Gita menarik nafas panjang dan menghembuskannya, dia harus rileks, tidak boleh larut dalam kesedihan masa lalu, apa lagi masa dunia lain.


Dia memaksa tubuhnya yang pegal-pegal itu untuk pergi ke kamar mandi, membersihkan semua make up yang bahkan sedikit luntur karena terlalu lama.


Gita kembali, membaringkan tubuhnya di ranjang, menunggu pelayan yang akan memijatnya.


Nikmatnya pijatan itu, membuat Gita tertidur dan memasuki alam mimpinya.


Gemoy… Raja Deon… tunggu….


Kenapa mereka semakin menjauh? Kenapa kakiku tak bisa berlari mengejar mereka? Aku rindu, ahh bayiku.. ia dia anakku.. bukankah aku yang telah melahirkannya?


"Non.. non Gita kenapa?." Pelayan itu menggoyangkan tubuh Gita agar majikannya itu bangun, pelayan itu mulai khawatir mendengar Gita yang mengigau sambil berteriak.


"Jangan pergi….! Tunggu ibu, gemoyy..!" Teriak Gita dengan sedikit air mata di ujung matanya.


Gita akhirnya terbangun dari mimpinya itu, ia memilih menyudahi pijatannya dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi, membaringkan tubuhnya di bathtub berendam air hangat disana.


Pelayan tadi merasa heran, dia juga khawatir dengan majikannya itu, akhirnya dia melapor pada bu Hanna tentang kejadian tadi.

__ADS_1


Bu Hanna menunggu Gita mandi di ranjang milik anaknya itu, namun setengah jam berlalu tak ada suara air dan begitu sunyi.


"Git.. Gita? Kamu sedang apa?." Ucap Bu Hanna sambil mengetuk pintu.


Ceklek..


Pintu Pun terbuka, "Ada apa mah? Gita lagi berendam mah, badan Gita kan pegal-pegal."


"Ko lama, biasanya cuma 10 menit aja?."


"Namanya juga berendam mah, kalau 10 menit itu sih acara mandi cepat.hehe.." 


Gita tidak ingin membuat ibunya khawatir, dia berusaha mengendalikan emosinya, bersikap seperti biasanya.


Kini bu Hanna merasa lega, dia kembali ke kamarnya untuk menemani suaminya lagi.


Gue harus bisa melupakan masa-masa itu, itu cuman mimpi panjang Git, meski itu terasa nyata, tapi itu cuma mimpi, gak mungkin kan gue beneran masuk komik?


Tapi saat dia melihat bukti, cincin ajaib yang ia bawa sampai ke dunia nyata membuatnya menyadari bahwa bayi kecil yang ia rindukan itu nyata untuknya.


Gita memakai baju tidurnya, membaringkan tubuhnya di ranjang, menatap langit-langit kamarnya.


"Gue berharap malam ini bisa tidur nyenyak dan melupakan kesedihan gue..!" Ucap Gita, lalu memeluk gulingnya.


***


Gita memang wanita berbeda dari sekian teman wanita yang ia kenal. Membuat Reza penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh, dan tentu saja dia tidak mungkin terang-terangan mendekati Gita.


Pagi pun datang, Reza sarapan pagi dengan wajah ceria.


"Kamu lagi seneng Za?."


"Hehe.. mamah tau aja."


"Lah, dari tadi kamu senyum-senyum sendiri."


"Hehe.. Reza lagi semangat aja mah, kan udah dapet gelar S2 juga, Reza mau fokus di kantor, memperbesar perusahaan papah."


"Hmm.. bener gara-gara itu, kok mamah rasa kamu nyembunyiin sesuatu deh."


"Hahaha.. mamah ada-ada aja, oh iya mah aku masih perlu antar jemput Gita gak mah?."


"Hmm.. ya masih, tapi nanti kalau dia udah mulai kuliah lagi, mamah denger sih Gita belum masuk lagi, sepertinya 2 hari lagi deh, nanti deh mamah tanyain lagi." Ucap Bu Maya sambil mengunyah buah apel di tangannya.


Reza berangkat lebih pagi, bahkan dia menyempatkan membeli sarapan untuk Gita. Dia sepertinya sedang semangat-semangatnya.

__ADS_1


Reza bahkan rela kesiangan, demi menemui Gita terlebih dahulu.


Dia bahkan menebarkan senyum manisnya pada karyawan Gita yang sudah siap bekerja. Membuat para karyawan itu berimajinasi dengan pikirannya masing-masing.


Saat menaiki lift, dia merapikan rambutnya yang bahkan tidak berantakan.


Tok


Tok


Tok


"Masuk.." Jawab Gita


"Ini gue bawain sarapan dari nyokap gue.." Ucap Reza melangkah masuk.


Deg..


Siapa cowok itu? Gak mungkin kan cewek aneh itu punya pacar yang ganteng.. maksud gue gantengnya masih dibawah gue emm lumayan lah.. tapi gak mungkin kan gue jadi orang ketiga? Astaga


"Hmm.. simpan aja disini, gue udah sarapan tapi biar nanti siang deh gue makan, makasih.. dan sekarang lo udah bisa pulang..!" Ucap Gita lalu beralih mengobrol lagi dengan lelaki itu dengan semangat dan senyum manis.


Astaga jelas banget gue merasa dianak tirikan, giliran sama gue jutek abis, kenapa sama orang itu dia berubah manis? Menyebalkan..


"Ya udah gue pulang." Ucap Reza kesal.


"Iya." Jawab Gita singkat.


Cuma iya aja? Gak nahan gue gitu?


Gumam Reza


Astaga, ngapain juga gue lama-lama disini. Emang semenarik apa sih si Gita? Gue itu bukan suka sama dia, hanya sedikit penasaran saja. Mending gue pulang. Pikir Reza


Duk..


Kepala Reza terjedot pintu yang belum dibuka.


Gita tertawa kecil dan mengejek.


"Buka dulu dong..! Masa pintu segede gitu gak keliatan? Hehe.."


Reza hanya menatap kesal, lalu membuka pintu itu dan pergi secepat kilat, dia sedikit malu dengan tingkah konyolnya tadi.


Sementara Gita meneruskan diskusinya itu, dia kini benar-benar serius dan niat belajar, memahami dunia bisnis lebih dalam lagi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2