Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Keinginan Dafa


__ADS_3

Maya berdiri perlahan, dia tidak ingin membuat Gita terbangun karena kehadirannya, dia begitu jelas melihat jika gadis itu tertidur sangat nyenyak.


Sepertinya dia memang kelelahan. Pikir Maya


Maya keluar dari kamar itu dengan sangat hati-hati, mengendap-ngendap seperti pencuri. Saat berhasil keluar dengan selamat, wanita itu menghembuskan nafasnya perlahan, merasa lega karena sudah bukan di kawasan anti berisik lagi.


Dia begitu memahami keadaan Gita saat ini, dia teringat saat dulu merawat Reza, bisa tidur dengan bayi adalah salah satu kenikmatan yang tiada tandingannya, meski tidur sebentar namun sangat nyenyak.


Jika ada suara berisik sedikit saja saat bayi Reza kecil baru saja terlelap, maka Maya akan berubah seperti singa yang akan menerkam mangsanya, mencari-cari sumber kebisingan itu.


Membayangkan hal itu membuatnya tak sengaja melepaskan tawanya dengan keras, dia tidak ingat kalau sedang berada di rumah orang.


"Hahahaha….." Maya


"Kamu kenapa?" Hanna


"Eh Hanna, kamu ada perlu apa datang ke rumahku?" Maya


"Astaga, ini kan rumahku May, hmm…" Hanna


"Haha… kok aku bisa lupa ya Han?, aku akan menunggu sampai Gita berangkat kuliah Han, lalu menunggu bayi itu sampai pulang kampus, gapapa 'kan aku disini dulu gantiin jaga Nadira?" Maya


"Gapapa May, jangan sungkan begitu, hehe.." Hanna


"Hehe, iya sih, tapi aku tetep aja ngerasa gak enak." Maya


Sekitar jam 08.30 WIB gadis itu terbangun, mandi lalu bersiap-siap ke kampus, sebenarnya dia tidak ingin meninggalkan bayi itu, namun dia juga tidak mungkin bolos kuliah, apalagi sekarang dia lagi sibuk-sibuknya.


"Tante, aku titip Nadira ya? Susunya masih ada kok, airnya anget aja ya , bisa cek pake kulit tangan sedikit aja di tes air susunya, jangan lupa disendawain, terus dipakein minyak telon ya kalau nanti di lap air hangat saat menjelang sore..!" Gita


Maya dan Hanna malah saling menatap satu sama lain.


Kenapa Gita tiba-tiba cerewet masalah mengurus bayi? Bukannya kami lebih berpengalaman? Kenapa dia seperti mengkhawatirkan anaknya sendiri? Pikir Hanna


"Iya Git, tante pasti ingat nasehat kamu." Maya


Gita tersenyum, lalu mencium lembut aroma bayi itu, dia berpamitan dan berlalu pergi.


Wanginya itu loh, wangi bayi emang bikin candu. Pikir Gita


Gadis itu bergegas pergi ke kampus, berharap cepat pulang lagi, sesampainya di kampus, dia melihat Kirana dan Nisa sangat akrab sekali, lalu menghampiri mereka.

__ADS_1


Saat Nisa pergi sebentar untuk membayar minumannya ke kasir, Gita bertanya mrngenai rencananya itu.


"Bagaimana, Kamu sudah mempunyai rencana mendekatkan Nisa dan Kak Angga?" Gita


"Emm.. sepertinya Kak Nisa sudah tidak terlalu menginginkan di jodoh-jodohin deh Kak."


"Apa Nisa punya gebetan lain?" Gita


"Bukan, maksud aku tuh, Kak Nisa sudah tidak terobsesi memiliki Kak Angga lagi, katanya dia sekarang berusaha menjadi wanita yang lebih baik, masalah jodoh nanti akan datang sendiri sesuai takdirnya, gitu." Kirana


"Oh gitu, lebih baik gitu sih, aku jadi lega dengernya, dia gak akan galau lagi. Hehe.." Gita


***


Siang ini Angga masih sibuk bekerja, dia masih bekerja di perusahaan Baskoro. Dia belum bisa meninggalkan perusahaan itu tanpa ada orang yang bisa dipercaya menggantikannya.


Sebenarnya Angga ingin mengurus perusahaannya yang berada di luar negeri, tapi dia tidak ingin jauh dengan keluarganya, dia akan menjualnya, dan setelah nanti Gita siap dengan perusahaan ini, Angga akan mengurus perusahaan papanya agar berkembang pesat.


Untuk saat ini dia hanya membantu sedikit saja, terkadang Angga membantu ayahnya memilih partner kerja yang saling menguntungkan.


Dia dikejutkan oleh telepon yang berdering, lalu mencoba mengangkatnya.


"Eh adik Kakak yang telepon, kirain papah, sore Kakak pulang, kenapa?" Angga


"Aku mau menjenguk tante cantik yang kemarin, Kak Angga ikut ya?" Dafa


"Emm, tante yang mana?" Angga


"Yang pingsan kemarin Kak, katanya tante itu mau anak yang ganteng kaya Dafa, aku juga mau punya mamah kaya tante itu." Dafa


"Hmm.. sebaiknya kamu izin sama papah dulu, terus tanyain mau ikut menjenguk atau tidak?" Angga


"Ok, kalau gak mau, biar aku paksa aja Kak, hehe.." Dafa


"Hahaha… , ya terserah kamu aja, Kakak mau lanjut kerja." Angga


"Oke, nanti sore aku telpon lagi." Dafa


"Iya." Angga


Dasar bocah, bisa-bisanya dia jadi mak comblang gitu, hmm… Pikir Angga

__ADS_1


Dafa berpikir apa yang dia inginkan selama ini terkabul saat dia ingin seorang kakak laki-laki, dan sekarang permintaannya bertambah, dia ingin seorang ibu.


Maka anak kecil itu akan bekerja keras supaya bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu, Dafa berharap keluarganya bisa selengkap keluarga teman-temannya yang lain.


Dafa yang baru pulang sekolah dijemput pengasuh dan sopir itu bergegas berganti pakaian, dan minta diantar ke kantor ayahnya.


Setelah sampai dia berhambur memeluk ayahnya.


"Papah lelah? Sekali-kali liburan dong pah, kita ke pantai, hehe.." Dafa


"Oh kamu pengen liburan, iya nanti ya kita ajakin kak Angga juga." Pak Andra


"Pah.." Dafa


"Hmm, iya Nak," jawab Pak Andra yang sedang melihat layar laptopnya.


"Kita nengokin calon mamah Dafa yuk..!" Dafa


Andra yang kaget langsung bangkit dari tempat duduknya, menatap anaknya itu dari dekat.


"Maksud kamu siapa?" Pak Andra


"Itu loh pah, tante yang pingsan itu, katanya dia mau punya anak kaya aku yang ganteng, gemesin pah, Dafa juga pengen punya mamah kaya tante itu." Dafa


"Hmm, kalau kamu mau nengokin tante itu, iya papah anterin sekalian ajak kak Reza, tapi disana kamu jangan panggil calon mamah lagi..! Oke?" Pak Andra


"Oke Pah." Dafa


Anak itu terlihat senang mendengar jika ayahnya menyetujui permintaannya.


Setelah selesai, baru saja Andra akan menghubungi anaknya yang paling besar, eh ternyata sudah ada didepan matanya.


"Angga.." Andra


Mereka akhirnya pergi ke rumah Jani, kini Andra tahu jika sejak awal ini sudah direncanakan oleh Dafa.


Pak Andra merasa tak enak, merasa dirinya sudah tua dan tidak pantas menikah lagi. Dia juga takut gagal dan berakhir ditinggalkan untuk kesekian kalinya, meski istri keduanya meninggalkannya karena meninggal dunia.


Semoga saja Dafa tidak berbicara yang aneh-aneh saat tiba disana. Pikir Andra


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2