Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Gita Kecewa


__ADS_3

Ketika pagi datang Reza yang baru saja bangun dan menyalakan ponsel yang telah dicarger, dia mengerutkan dahinya ketika mendapat banyak pesan dari kekasihnya.


"Gak biasanya dia seperti ini? Apa malam tadi dia sangat merindukan suara gue?" Ucap Reza pelan, sambil berkaca di cermin besarnya.


Namun setelah dengan jelas membaca isi pesannya, Reza menghembuskan nafas kasarnya.


"Akhirnya dia tahu juga 'kan."


Reza membalas pesan dari kekasihnya, meminta maaf karena malam ponselnya mati, lalu mengajak gadis itu bertemu sepulang kuliah untuk membahas hal itu, membiarkan kekasihnya bercerita panjang lebar.


Reza kemudian pergi mandi dan melakukan ibadah subuhnya. Dia mulai terbiasa, terbawa kebiasaan Angga, jika menginap dia selalu dibangunkan oleh calon kakak iparnya itu.


Memang meski Angga jahil, namun ada aura positif yang ditebarkan pria itu.


Reza bersiap-siap dengan pakaian rapihnya, sarapan bersama ibu dan ayahnya.


"Hari ini kayaknya aku pulang telat deh mah, gapapa ya? Aku ada perlu sama Gita." Reza


"Perlu? Itu pacaran kali Za." Maya


"Hahaha.. ya perlu sambil pacaran kan bisa mah" Reza


"Dasar.." Sanjaya


***


Sementara suasana pagi hari di keluarga Baskoro sedikit aneh, Gita yang biasanya ceria, dia murung sekali hari ini.


Angga yang telah membaca surat itu, dia melamun sepanjang pagi ini, masih belum percaya dengan kenyataan yang datang, baru saja menemukan adik kandungnya dan sekarang Ayah kandungnya.


Berbeda dengan kasus Kirana, saat Angga menemukan Kirana, tapi kini Ayahnya yang menemukannya, tentu saja itu membuatnya terkejut.


Sepertinya Kirana dulu mengalami hal yang sama saat tiba-tiba mendapatkan surat itu. Pikir Angga


"Kalian kenapa, pagi-pagi pada bengong? Semangat dong..!" Hanna


"Hemm.. iya mah." Gita


"Aku lagi males sarapan nih mah, langsung pergi ke kantor aja ya mah?" Angga


"Boleh, tapi kamu bawa bekal makanan..!" Hanna


"Kaya anak TK aja mah," protes Angga.


"Daripada kami sakit, pokoknya kamu harus sarapan entah dimakan di dalam mobil atau saat sampai di kantor..!" Hanna


"Iya mah," uca Angga yang menunggu makanannya di masukan ke dalam kotak makanan.

__ADS_1


Sementara Gita hanya melirik sekilas tanpa berkomentar, biasanya dia yang paling bersemangat mengejek Angga.


Gita kenapa ya? Gak biasanya dia begitu? Pikir Hanna


Angga Pun berpamitan dan berlalu pergi, Gita menatap lekat punggung Angga yang berlalu pergi itu bahkan tanpa berkedip, namun dengan tatapan sedihnya.


"Hei.." Hanna


"Astaga, mamah… bikin kaget aja." Gita


"Kamu ngeliatin Angga sampe segitunya, kalian lagi berantem ya? Ko diem-dieman?" Hanna


"Gak ko mah, aku lagi gak semangat aja hari ini." Gita


"Kenapa?" Hanna


"Aku gak tau mah, aku juga berangkat sekarang ya mah? Jangan dibekali makanan kaya kak Angga, aku bisa langsung makan di kantin bareng Nisa..!" Gita


"Oke." Hanna


Gita akhirnya pergi diantar supir, hari ini dia memang sedang tidak semangat. Sampai di kampus dia memaksakan sarapan paginya karena belajar juga memerlukan tenaga, dia tidak boleh pingsan hanya karena belum makan.


Nisa yang baru datang merasa heran, baru kali ini sahabatnya seperti ini.


"Lo kenapa Git? harusnya gue yang gak semangat, yang patah hati 'kan gue." Nisa


"Hmm, jadi masalah berat lo kali ini apa?" Nisa


"Ah, nanti gue ceritain kalau udah pasti." Gita


"Kalau belum pasti gak usah lo pikirin sekarang..!, mending makan yang banyak, mubadzir tuh kalau cuma lo aduk-aduk..!" Nisa


***


Pak Andra sedang gundah, dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apakah Angga sudah membacanya?.


Namun Angga tidak menghubunginya hari ini, membuat dirinya dilanda rasa penasaran juga cemas, cemas jika Angga tidak menerimanya dengan baik, cemas jika anak lelakinya ternyata kecewa padanya, kecewa karena ayahnya ternyata seorang Andra, yang tidak sekaya Baskoro.


Pikiran Andra dipenuhi prasangka negatif, membuat pekerjaannya pun sedikit terbengkalai.


Namun apa daya, dia harus bekerja keras untuk memajukan perusahaan yang baru dirintis di kota ini, Dafa masih membutuhkan biaya sekolah sampai besar nanti.


Saat jam istirahat kantor, Pak Andra menyempatkan menjemput anaknya, karena hari ini Dafa pulang lebih awal, membawanya ke kantor dan anak itu sudah terbiasa dengan lingkungan kantor ayahnya.


Dafa tidak mengganggu sama sekali, dia hanya bermain ponsel, mengerjakan PR nya, kadang juga tidur siang di ruangan khusus yang disediakan Pak Andra.


Alangkah kagetnya saat mereka hendak pulang, baru saja Pak Andra akan membangunkan anaknya, Angga datang menemuinya di kantor.

__ADS_1


Berbicara dari hati ke hati, membuat mereka saling percaya satu sama lain, berdamai dengan masa lalu.


"Kalau begitu, aku ikut papah ya ke rumah sekalian gendong Dafa, pasti berat. Hehe.." Angga


Pak Andra tersenyum dan mengangguk kecil, dia merasa ada yang aneh saat Angga memanggilnya papah, namun satu kata itu begitu membahagiakan.


Angga menggendong Dafa, anak itu meski berumur 10 tahun namun memang berat, tapi tidak untuk Angga, dia masih kuat karena masih muda, lain halnya dengan ayahnya itu.


Sesampainya disana, Dafa langsung mengajak Angga bermain, namun ayahnya melarang, menyuruh mereka makan terlebih dahulu.


Mereka makan bersama layaknya keluarga bahagia, saat Dafa selesai duluan. Angga mulai bertanya.


"Maaf pah, kalau ibunya Dafa sekarang dimana?" Angga


"Emm.. dia sudah meninggal." Pak Andra


"Innalillahi, yang sabar ya pah, suatu saat nanti pasti ada penggantinya." Angga


"Hemm, papah sudah tua Angga, papah hanya perlu fokus pada kalian saja." Pak Andra


"Tak ada salahnya bukan jika memiliki pendamping lagi?" Angga


"Iya tidak salah, tapi nanti setelah papah melihatmu menikah, hehehe…" Pak Andra


Angga tersenyum kecut, entahlah kenapa sampai saat ini dia belum menemukan gadis yang dia suka. Dulu memang banyak yang mengejar Angga namun karena terlampau cuek akhirnya wanita-wanita itu pergi.


"Bagaimana dengan Kirana? Menurut papah dia cantik, mirip ibumu." Pak Andra


"Kirana? Dia memang cantik dan baik, tapi dia adalah adik tiriku pah, dia anak dari om Aldi dan mamah." Angga


"Apa? Pantas saja begitu mirip, kalau begitu sekarang dia tinggal bersama Aldi? Papah sudah lama tidak bertemu dengannya." Pak Andra


"Papa kenal om Aldi?" Angga


"Iya, dia dulu sahabat papah namun berkhianat dengan mamah kamu." Pak Andra


Salah Andra yang terlalu percaya dengan sahabatnya itu, terkadang dia meminta bantuan Aldi untuk mengantar Alisa saat dia tidak bisa. Namun ternyata benih-benih cinta tumbuh diantara mereka, sampai dimana Alisa lebih memilih Aldi dan pergi membawa Angga dari kehidupannya.


Tiba-tiba telepon Angga berbunyi, dia langsung mengangkat telepon dari adiknya itu.


"Assalamu'alaikum, ada apa Kirana?" Angga


"Mamah pingsan kak, kakak bisa antar aku membawa mamah ke Rumah Sakit 'kan?" Kirana


"Oke, kakak segera kesana." Angga


Angga segera pamit, dia tidak mau membiarkan adiknya itu kesulitan sendirian, Dafa yang ngambek karena Angga pergi Akhirnya ikut dengan Angga, bahkan Pak Andra pun ikut juga karena tak mau kalau Dafa sampai merepotkan mereka.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2