
Meta kini pergi, dia mengendarai mobilnya dengan keadaan kesal. Bahkan hampir saja dia menabrak pengendara lain.
"Sial.. nyaris saja." Ucap Meta
"Hey keluar…!" Ucap lelaki diluar, dia menggedor-gedor pintu kaca mobil wanita itu.
Meta keluar dari mobilnya, pria itu meminta pertanggungjawaban atas kerusakan mobil hitamnya.
"Apa? Kenapa gue harus mengganti rugi? Mobil lo hanya lecet sedikit." Ucap Meta kesal, ia melampiaskan kekesalannya sedari tadi pada pria itu.
"Sedikit? Lihatlah! itu akan mengeluarkan biaya yang cukup banyak, belum lagi aku yang syok akibat kelalaian mu."
"Terserah gue gak peduli." Meta langsung menaiki mobil merahnya, memundurkan mobil itu. Membelokkannya lalu berlalu meninggalkan pria itu yang masih marah.
"Akan aku ingat wajah mu itu, wanita si@lan.." Teriak pria itu.
***
Gita yang langsung memasuki kamarnya karena lelah, kini mendengar ketukan pintu.
Tok
Tok
Tok
Pasti mamah yang kepo deh, pengen tau acara tadi. Batin Gita
"Iya sebentar mah."
Pintu pun terbuka, ternyata Angga yang bahkan masih menenteng makanan itu langsung datang ke kamarnya.
"Dek, wanita yang tadi diluar siapa?." Tanya Angga, dia sedikit penasaran.
"Kenapa gitu kak?"
"Kakak gak suka aja, masa dia mau nyelakain kamu, ngelemparin batu besar, untung kakak melihatnya dan sempat menahannya."
"Iya gitu? Padahal tadi sudah aku peringatkan untuk tidak menggangguku kak."
"Pokoknya kamu harus hati-hati sama dia!"
"Iya.. bawel." Ucap Gita lalu menutup pintunya, membuat Angga kesal dengan kelakuan adiknya itu.
Angga lalu menikmati martabak yang ia bawa, memakannya bersama dengan ibunya, menceritakan kejadian di depan rumah tadi, membuat Hanna khawatir dengan anaknya dan penasaran, setelah ibu itu menunjukan cctv video Meta, lelaki itu membenarkan jika itu wanita yang sama.
"Oh dia fans Reza , banyak juga ya penggemarnya, Gita beruntung tuh dapetin cowok idola.hehe.." Ucap Angga pada ibunya.
"Huss.. ibu justru khawatir."
"Gak usah khawatir mah, nanti Angga selidiki gadis itu. Ok?."
__ADS_1
"Iya deh, mamah percayain masalah ini sama kamu."
***
Sementara Reza yang baru sampai, melihat ibunya sedikit panik.
"Ada apa mah?."
"Tadi mamah dapet telepon dari Hanna, katanya Meta datang menemui Gita dan mencari masalah lagi."
"Astaga, anak itu benar-benar membuatku marah." Ucap Angga.
"Maaf ya, tadi papah keceplosan jadi Meta tahu kalian dinner." Ucap Sanjaya
"Aku cuma mau dia itu hilang dari hidup aku mah, setidaknya jangan mencampuri masalah pribadiku, tolonglah mah jangan terlalu baik sama dia, dia itu lama-lama ngelunjak."
Maya dan Sanjaya hanya saling tatap, mereka merasa serba salah, mereka tahu Reza tidak suka, tapi mereka juga tidak mungkin menganggap Meta orang asing dan mengacuhkannya, karena Meta tetaplah keponakannya.
***
Pagi ini Gita pergi ke kampus, dia berpenampilan sedikit lebih baik, jika biasanya dia suka memakai warna hitam, kali ini dia memakai baju dengan warna cerah. Menggerai rambutnya dan melupakan topi yang biasa dipakai.
Dia berangkat bersama Reza, pacar barunya.
Hari ini sangat berbeda, setelah status nya berubah, kini terasa agak canggung dan bingung harus memulai pembicaraan apa.
Mereka berdua hanya diam tanpa bicara, hanya saling menatap lalu menunduk. Ah… malu-malu kucing.
"Aku turun disini saja ya?." Ucap Gita
"Ok sayang." Jawab Reza, seketika membuat Gita salting.
Dia turun dengan terburu-buru, lalu pergi dengan langkah cepat tanpa menoleh lagi, pipinya merona dan tidak ingin terlihat oleh pacar barunya itu.
"Hey… seneng lo ya, dianterin pacar baru?." Ucap teman-teman Wina. Mereka belum bisa terima jika laki-laki yang selama ini menjadi idola, ternyata berpacaran dengan gadis ini, yang biasa-biasa saja menurut mereka.
Mereka merasa tidak terima dengan kekalahan ini.
Sehingga berusaha menumpahkan kekesalannya pada Gita.
Gita hanya menoleh saat mendengar ejekan itu, lalu dia melangkah lagi.
"Wah… kita gak dianggap nih, maen nyelonong aja tuh anak."
"Hajar gais..!"
Salah satu dari mereka mengejar Gita, mencengkram tangan Gita dari arah belakang menghentikan langkah gadis itu.
"Ada apa lagi?." Tanya Gita.
"Sebaiknya lo sadar diri, jauhi Reza, lo tuh gak pantes buat dia!."
__ADS_1
"Reza nya aja gak masalah tuh. Kenapa kalian yang repot." Jawab Gita
Saat tangan itu ingin menampar pipi Gita, tangan itu ditangkapnya, lalu kini wanita tadilah yang berada di atas kendali Gita.
"Apa kau mau aku patahkan tulang tanganmu ini?hah.." Tanya Gita sedikit berteriak, agar yang lain bisa mendengar ancamannya.
"Dasar, cewek kaya preman, gak pantes buat Reza."
"Oh ya? Tapi sayang aku memang wanita tanpa belas kasihan jika merasa terusik." Ucap Gita dengan sedikit hentakan membuat wanita itu menjerit.
"Sakit, lepasin gue!."
Gita melepaskannya, "lain kali gue gak akan pernah biarin lo lolos, ingat itu!." Ucap Gita yang berlalu pergi.
Namun wanita tadi mempunyai rencana lain, rencana jahat untuk menjebak Gita.
Hari ini Nisa tidak masuk, membuat gadis itu sedikit kesepian, seharian dia merasa jadwal kuliahnya sangat lama.
Kapan pulangnya? Gumam Gita.
Saat jam pulang tiba, Gita menghembuskan nafas panjangnya.
Akhirnya selesai juga, aku merindukan tempat tidurku. Pikirnya
Namun baru saja dia melewati pintu, salah satu dosen memberikan surat untuknya. Gadis itu menerima surat itu lalu memasukkannya ke dalam tas, yang dia inginkan adalah pulang membaringkan tubuhnya.
Bahkan dia terlebih dahulu menghubungi Reza, melarangnya datang menjemput. Dia tidak ingin merepotkan Reza yang masih sibuk kerja itu, toh dia bisa pulang sendiri.
Gadis itu memesan mobil lewat aplikasi online, setibanya di rumah dia melemparkan tubuhnya keatas ranjang.
Nyamanya.. gumam Gita
Pintu yang masih terbuka itu membuat bu Hanna langsung masuk.
"Pulang-pulang kok langsung rebahan?"
"Capek mah.hehe.. sini rebahan juga mah!"
"Mamah masih banyak kerjaan."
"Bukannya dirumah ini banyak pelayan, kenapa mamah selalu saja terlihat sibuk."
Memang seperti itulah Bu Hanna, dia suka memasak dan terkadang melakukan pekerjaan rumah, dia tidak selalu mengandalkan pelayan, dan tidak suka bepergian bersama teman-teman sosialita, karena ada suaminya yang sakit yang butuh perhatiannya.
"Mamah jenuh sayang kalau kebanyakan diem, eh itu apa?." Tanya Bu Hanna melihat surat yang sedikit keluar dari tas Gita.
Gita mengambilnya, "ini surat dari dosen tadi mah, tapi gak tahu isinya apa." Lalu Gita membuka, dan ia terkejut dengan isi surat itu.
*Apa-apaan ini? bukannya tadi dia gapapa? Astaga, harusnya tadi gue tadi patahin aja tulangnya sekalian*. Pikir Gita
"Isinya apa sayang?." Tanya bu Hanna penasaran, langsung merebut surat itu karena melihat anaknya yang malah melamun.
__ADS_1
Bersambung...