
"Ah, tidak apa-apa, sepertinya anak Bapak ingin cepat pulang." Angga
Bukan saatnya aku menanyakan hal itu. Pikir Angga
"Oh, iya.. kalau begitu saya permisi Nak." Pak Andra
"Iya Pak, hati-hati dijalan..!" Angga
Mobil itu melaju meninggalkan area restoran, sementara Angga tetap saja terpaku melihat mobil itu sampai benar-benar pergi. Angga juga mencoba menghafal plat nomor mobilnya.
"Kak ayo..!," panggil Kirana
Reza pun menghampiri Kirana, menaiki mobilnya dan melajukan mobil itu menuju kantor polisi.
Sampai akhirnya mobil itu sampai ditempat tujuan, mereka menunggu cukup lama sampai akhirnya diperbolehkan melakukan kunjungan.
Saat Kirana melihat ayahnya itu, membuat hatinya sakit. Baru juga sehari tapi penampilan ayahnya itu tidak karuan.
Papah, kasihan sekali dia. Pikir Kirana
Aldi duduk tepat di kursi yang ada dihadapan Kirana. Namun matanya seolah tak melihat Kirana, entah kemana pikiran Aldi pergi.
"Pah… papah sehat? Papah yang sabar ya..! Papah pasti kuat menghadapi cobaan ini." Kirana
Namun tidak ada jawaban, Aldi hanya diam tanpa kata.
"Pah.. aku bawakan papah makanan, dimakan ya..!" Kirana
Saat di restoran tadi Angga membungkus satu porsi makanan tadi, lelaki itu paham betul jika makanan di dalam penjara tidak akan seenak makanan restoran dan bisa saja om Aldi belum terbiasa, makanya dia membawakan makanan itu.
Namun Aldi benar-benar diam, tatapannya kosong. Tapi Kirana tidak menyerah begitu saja.
"Pah, besok aku kesini lagi ya..! Aku akan bawakan papah selimut dan baju yang tebal, biar papah gak kedinginan." Kirana
Waktu kunjungan pun habis, namun Kirana belum puas karena belum mendengar suara ayahnya.
Kenapa papah tidak mau bicara padaku? Apa dia membenciku? Pikir Kirana
Angga mencoba menenangkan gadis itu, berusaha membuatnya berhenti menangis. Lalu setelah lebih tenang, Angga mengantar Kirana kembali ke Rumah Sakit, sementara Angga memilih kembali ke kantornya.
***
Reza yang baru bangun dari tidurnya itu baru menyadari kalau hari sudah siang, dia bergegas mandi lalu berganti pakaian.
"Mau kemana Za, sudah rapi begitu?" Maya
"Biasa mah, jemput pacar.. hehehe" Reza
"Makan dulu Za..!" Maya
"Emm, ok deh." Reza
__ADS_1
Setelah makan Reza pun pamit, dia pergi dengan mobilnya.
Untung saja motor itu masih tertinggal di rumah Gita. Batin Reza
Selama perjalanan menuju kampus pria itu menyanyi sendirian, menyalakan musik lumayan keras. Suasana hatinya sedang bahagia.
Sebelum pergi, Reza telah mengirim pesan terlebih dahulu, menyuruh Gita menemuinya di parkiran karena pria itu akan menunggunya disana.
Karena gadisnya itu belum keluar juga, Reza memilih pergi ke kantin, membeli minuman dingin karena cuaca siang itu lumayan panas.
"Reza.." Pak Rendi
"Eh kak Rendi, apa kabar? Masih ngajar disini?" Reza
"Iya, masih.. namanya juga kebutuhan hidup. Hehe.." Rendi
"Bener juga sih." Reza
"Kamu makin sukses aja, aku kalah sama kamu Za." Rendi
"Hahaha.. bisa aja nih, aminin aja.. aku jalani aja kak, karena memang aku suka bisnis, papaku juga mendukung penuh." Reza
"Kamu nunggu tunanganmu? Maaf ya Za, waktu itu aku lupa, benar-benar lupa dan aku ingat 2 hari setelahnya. Hehe..." Rendi
"Iya gapapa." Reza
"Aku sibuk sekali 2 bulan terakhir ini, aku juga tidak tahu tunanganmu yang mana." Rendi
Reza membanggakan tunangannya itu, Rendi yang tahu jika dari dulu memang banyak wanita yang mengejar Reza dia sama sekali tidak meragukan ucapan lelaki itu. Rendi tersenyum menanggapi temannya itu, selisih umur mereka tidak terlalu jauh, membuat mereka nyaman berbahasa non formal.
Reza mengirim pesan lagi pada Gita menyuruhnya ke kantin kampus, agar bisa bersantai sejenak.
Tak berselang lama Gita dan Nisa datang, Gita bahkan menyandarkan kepalanya di bahu temannya itu sambil berjalan, dia nampak lesu dan mengantuk.
"Git, berat tahu." Nisa
"Gue ngantuk Nis, lemes juga." Gita
"Jangan pingsan disini, lo itu berat." Nisa
"Ah lebay, mana ada badan gue berat, langsing gini." Gita
"Hmm.. lo tuh berisi dan berotot Git, jadi berat. Hahaha..," ejek Nisa.
Gita tidak menyahut lagi, dia malas berdebat lagi, dia memilih memejamkan matanya sambil berjalan, terus memegang lengan atas sahabatnya itu.
"Astaga, gue kaya bawa orang buta tau gak?" Keluh Nisa.
"Hmmm… gue maunya langsung pulang, tapi Reza malah ngajakin gue ke Kantin, huh.. apa gue pulang sendiri aja ya?" Tanya Gita
"Jangan, mending makan minum dulu disana, lumayan kan gue bisa makan gratis, hehe.." Nisa
__ADS_1
"Hmmm… enak di lo gak enak digue." Gita
"Tenang, gue minta bayarin sama kak Reza aja." Nisa
"Terserah." Jawab Gita yang masih dengan mata tertutup.
"Udah sampe nih," ucap Nisa pelan, karena melihat kehadiran Pak Rendi disana.
"Sampai di rumah?" Gita
"Hmm.. buka mata lo..!" Nisa
Gita membuka matanya dan dia benar-benar kaget melihat dosen galak itu ada didepan matanya.
Kenapa malah dia, Reza mana? Pikirnya
Namun setelah menengok ke arah yang lain akhirnya dia dapat melihat tunangannya itu yang duduk berdampingan dengan dosennya.
Jangan bilang kalau dosen itu ngaduin gue?, Reza bakal tahu dong kalau gue bolos waktu itu. Batin Gita
"Eh Pak Rendi … ." Ucap Gita pelan dengan sedikit rasa gugupnya.
"Kamu baru keluar dari kelas? Tugas satu lagi dari saya sudah beres ya? Sampe nyamperin saya segala, bagus bagus..." Pak Rendi
"Belum Pak.. hehe" Gita
"Oh jadi kakak ngajar juga dikelasnya Gita? Kenalin ini tunangan saya." Reza
"Ini? Gak salah Za?" Tanya Rendi sambil berbisik
Rendi mengira jika selera Reza itu wanita cantik dan seksi karena wanita yang mengejar lelaki itu kebanyakan wanita seperti itu, namun saat melihat Gita, gadis itu terlihat cantik sih, namun tidak seksi, pakaiannya terbilang sopan, bahkan terkesan sebagai mahasiswa yang kurang baik karena sempat bolos di mata kuliahnya.
Mereka akhirnya makan dan minum bersama, hanya Nisa dan Gita yang merasa canggung dan tidak nyaman.
Karena Rendi juga berniat pulang, mereka bahkan ke tempat parkir bersama.
Saat Gita melihat ada anak kecil yang hampir tertabrak mobil yang sedang mundur ingin keluar dari tempat parkir, Gita dengan cepat berlari lalu menyelamatkan anak itu.
Gita sempat berdebat dengan pemilik mobil itu karena tidak mau meminta maaf atas kesalahannya yang mengeluarkan mobil dengan tidak hati-hati.
Lelaki itu malah bersikap sok kuat, sok berkuasa dan menyerang Gita. Namun dengan aksinya Gita membuat lelaki itu tersungkur di tanah.
Reza dan Nisa dengan santai membiarkan Gita melawan orang itu.
Sementara Rendi panik, berteriak pada mereka.
"Za, tolongin tuh tunangan kamu..!, lihat dong pengawal-pengawalnya keluar lagi." Rendi
"Santai aja.." Reza
Namun karena panik melihat Gita, dan kesal pada dua orang disampingnya yang seakan tidak peduli, Rendi berlari kencang untuk menolong Gita.
__ADS_1
Bersambung….