Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Bocah Nakal


__ADS_3

"Hahaha… bercanda Mah, di usia Mamah ini kan sangat beresiko jika hamil dan melahirkan." Baskoro


"Hmm, Mamah kira serius, udah tegang nih pah. Hehe…" Hanna


Baskoro melanjutkan terapi berjalannya, dia sangat semangat sekali melihat kemajuan disetiap harinya, dia tidak ingin menyusahkan keluarganya, dia ingin bisa berjalan dan berlari lagi, apalagi jika sudah punya cucu.


Tentu saja dia ingin sekali bermain, berlarian dengan cucunya nanti.


Baskoro sangat bersyukur memiliki istri sesabar dan seperhatian Hanna, yang setia menemaninya disaat sakit dan susah. Menemaninya dari nol sampai sekarang.


***


Sementara di Kantor Baskoro, Reza pamit untuk kembali ke perusahaannya, dia juga tidak ingin mengganggu kekasihnya itu yang lagi fokus bekerja.


"Aku pulang ya?" Reza


"Iya, hati-hati..!" Gita


Saat di lobi, dia berpapasan dengan Angga.


"Udah pulang aja nih?" Goda Angga.


"Iya, gak boleh lama-lama nanti ada setan yang mengganggu, jangan sampai kebablasan, 'kan kata Kakak harus dihalalin dulu." Reza


"Sipp … ," ucap Angga memberikan dua jempolnya.


Reza pergi, dan Angga pun menuju ruangan Gita dengan senyuman misteriusnya. Dia memang senang bila menjahili atau mengejek adiknya itu.


Tok


Tok


Tok


"Masuk.." Gita


"Kakak, laporannya 'kan baru dikasih, aku baru mempelajarinya, apa Kakak mau memberikan aku tugas lain?" Gita


"Hehe, santai aja Dek, kenapa Reza udah balik lagi? Cepet amat." Angga


"Hmm, digangguin Kakak mulu sih," ucap Gita yang keceplosan.


"Hahaha… jadi kamu berharap melakukan sesuatu yang tertunda tadi?" Angga


"Gak, bukan itu maksudku Kak." Gita

__ADS_1


"Jujur aja..! kamu pasti sudah deg deg ser gitu tadi, hehehe.." Angga


"Sudahlah Kak, Nggak usah dibahas, lagian gak jadi juga," Gita keceplosan lagi.


"Wah… ternyata kamu udah Niat, nikah aja lah Dek kalau kamu kebelet..! Hehehe.." Angga


"Kebelet-kebelet, kebelet pipis? Hmm.." Gita


Angga terus tertawa, dia begitu senang melihat wajah adiknya yang sekafang sedang cemberut dan kesal padanya.


Lelaki itu memang suka sekali mengerjai semua orang yang dia sayangi, jika seseorang telah dikerjai Angga, dia termasuk orang yang beruntung karena termasuk di dalam daftar orang terdekat dengannya.


Setelah puas tertawa, Angga pergi dari ruangan adiknya itu, membiarkan Gita cemberut sepanjang hari tanpa membujuknya untuk tersenyum lagi.


Akhirnya semua berakhir, hari sudah sore dan saatnya waktu pulang, menikmati ranjang empuk dan merebahkan tubuh dengan nyaman.


Sore ini Angga pulang menuju rumah Pak Andra ayah kandungnya, dia masuk dengan perlahan, namun dia dikagetkan oleh adiknya Dafa.


"Astaga, Dafa… jangan begitu lagi ya..! Kakak benar-benar kaget." Angga


"Seru Kak." Dafa


Tadi aku ngerjain Gita dan sekarang aku yang dikerjain, apakah ini yang namanya hukum karma? Instan sekali seperti mie. Pikir Angga


Angga bergegas mandi lalu memakai baju rumahannya itu, saat dia ingin merebahkan tubuhnya dan menyingkirkan selimut.


Andra yang baru pulang pun penasaran dan bertanya.


"Ada apa?" Andra


"Ada ular Pah dikamar." Angga


"Mana mungkin, Papah mempekerjakan tukang kebun yang setiap hari membersihkan halaman." Andra


"Beneran Pah, Angga serius." Angga


Merekapun pergi mengecek ke kamar Angga, dua pria itu berjalan mengendap-ngendap seperti pencuri.


"Jangan didorong Angga!" Andra


"Maaf Pah, gak sengaja." Angga


Angga bahkan kini memegangi sapu, dia berniat memukul ular itu, itu pun kalau dia berani. Hehe


Mereka masuk kedalam kamar, dengan hati-hati mendekati ranjang, ternyata memang benar mereka melihat sedikit ekor ular berwarna hitam belang.

__ADS_1


"Tuh, Angga gak bohong Pah," bisik Angga ditelinga ayahnya itu.


"Hehehehehehe … ,"  Andra malah tertawa karena kegelian.


"Papah kenapa?" Bisik Angga lagi.


"Stop! Jangan berbisik seperti itu, Papah geli." Andra


"Astaga, kirain kenapa, kalau gak bisik-bisik nanti ularnya bisa denger." Angga


"Bisa denger juga ular itu gak akan ngerti apa yang kamu bicarakan, hmm…" Andra


Bener juga apa yang dibilang Papah. Pikir Angga


Angga mencoba menyingkirkan selimut itu dengan ujung sapu agar bisa melihat dengan jelas ular jenis apa yang masuk ke kamarnya.


Namun, baru juga ujung sapu itu menyentuh selimut, tiba-tiba ular itu melayang ke arah mereka.


"Ahhh… ular.." Teriak Angga dan Andra


Mereka sampai terjungkal ke belakang dengan posisi Andra menduduki Angga.


Jika biasanya anaknya yang duduk dipangkuan ayahnya, ini momen yang sangat langka karena posisinya terbalik, membuat Dafa yang bersembunyi dibalik selimut pun tertawa senang.


"Hahahaha… kalian lucu." Dafa


"Dafa….." teriak mereka kompak, kini mereka sadar kalau mereka sedang dikerjai.


Namun saat Andra menyadari jika dia menduduki Angga, dia tersenyum kikuk dan berdiri, mengambil mainan ular Dafa dan mengejar Dafa berusaha menangkapnya.


"Dafa, kemari..! Kamu gak boleh nakal Nak, gimana kalau Papah celaka." Andra


"Itu hanya ular mainan Pah, mana mungkin Papah celaka." Dafa


Angga dan Andra mengejar dengan arah berlawanan, mereka akhirnya mendapatkan bocah nakal itu, membawanya ke atas ranjang, dan mereka menggelitikinya sampai benar-benar minta ampun.


"Hentikan Pah! Geli … ," teriak Dafa


"Kak Angga geli Kak, hentikan!, ampun…. Ampun….!" Dafa


Itulah keseharian mereka saat mendapatkan kejutan dari bocah kecil itu.


Saat mereka sudah tidak tega melihat Dafa kegelian, mereka menghentikannya, namun senyuman Dafa menyembunyikan rencana lainnya.


Nanti malam, akan ada kejutan nanti malam. Batin Dafa

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2