
Sani kini ditugaskan melihat proses persalinan selir Mey, sebenarnya Ratu ingin memastikan apakah suaminya datang menemani Mey atau tidak.
Dari siang hari sampai sore hari selir Mey terus saja mengeluh sakit, dia bahkan menjerit dan marah-marah tidak jelas.
Jika Ratu bisa menjambak Raja Deon sebagai pelampiasan rasa sakitnya, berbeda dengan selir Mey, dia akan terus berteriak dan terkadang melemparkan barang-barang disana. Bahkan dia terus saja memanggil nama Raja berharap orang yang dicintainya itu datang.
Tidak berselang lama, pintu pun terbuka, selir Mey begitu semangat mengira jika yang datang adalah Raja Deon.
"Ternyata kamu." Ucap Mey lesu
"Aku diutus Raja untuk menemanimu."
"Kenapa dia mengutusmu? Bukankah Raja mengakui ini anaknya, kenapa seolah dia tidak peduli?"
"Mey.. sudahlah jangan terlalu dipikirkan, yang terpenting sekarang adalah keselamatanmu dan bayimu..!" Ucap Rizad menghibur Mey
"Kamu masih saja mengira bahwa Raja mengakui anak itu, padahal Raja sudah tau jika itu anakku, aku akan merahasiakannya sampai kau selesai melahirkan. Aku tidak mau kau putus asa disaat melahirkan, aku tidak mau jika terjadi sesuatu dengan anak kita." Guman Rizad dalam hatinya
Rizad kini yang menjadi pelampiasan rasa sakit selir Mey, saat dia berteriak saat itu juga dia akan memukul ke sembarang arah, dan bahkan mengenai Rizad.
"Sakit.. kenapa ini sakit sekali? Panggilkan tabib istana, aku ingin cepat melahirkan!" Ucap Selir Mey kesal.
Sani pun memanggil tabib istana, meskipun di dalam ada asistennya tapi selir Mey bersikeras ingin segera melahirkan dan ditangani langsung oleh tabib istana.
"Huh.. menyusahkan sekali, andai dulu selir tidak hamil, pasti sekarang yang tertinggal hanya namanya saja." Pikir Sani
Sani begitu membenci selir Mey, karena dia tahu dimasa lalu selir sering berusaha mencelakai Ratunya.
__ADS_1
Akhirnya tabib pun datang, "Mari nyonya berbaringlah, biar saya periksa lagi."
Setelah beberapa menit berlalu, "Sepertinya jalan lahirnya baru terbuka sebagian, setengah lagi baru bisa melahirkan."
"Apa? Masih harus menunggu lagi? Ini benar-benar sakit tabib."
"Iya, nyonya harap bersabar. Memang ada yang prosesnya lama ada juga yang sebentar."
"Astaga, apakah aku lebih baik mat* saja daripada merasakan sakit terus menerus?" Selir Mey benar-benar merasa sudah tidak sanggup lagi.
"Memangnya jika kau mati, kau yakin tidak akan mendapatkan siksaan di alam baka? Dasar.." pikir Sani
Rizad berusaha menyemangati selir Mey terus menerus, melihatnya seperti itu membuat Rizad sedih.
Selir Mey yang berusaha menahan sakit, ia berbaring, lalu berjalan di sekitar kamar, berjongkok, bahkan memukul-mukul dada Rizad sebagai pelampiasan.
Tabib istana segera mengambil tindakan, melakukan proses persalinan. Sani yang pertama kali melihat proses melahirkan, dia merasa ngilu.
Karena pada saat Ratu melahirkan hanya Raja dan ibu Suri yang melihat.
"Ya ampun, jadi seperti itu cara bayi lahir, ternyata menakjubkan dan juga sedikit membuatku takut untuk hamil." Pikir Sani
Proses persalinan pun selesai, selir Mey yang lemas hanya berbaring dan berusaha memejamkan matanya, ia tiba-tiba merasa ngantuk.
Rizad melihat bayi itu, menatapnya, dan menggendongnya.
"Betapa lucunya kamu nak.. ayah sepertinya tidak rela jika berpisah darimu." Gumam Rizad dalam hati.
__ADS_1
Sani pun pergi dan melapor pada sang Ratu, ketika itu Raja memang sedang tidak ada.
"Bagaimana, apakah Raja menemaninya?"
"Tidak Ratu, tapi pengawal Rizad yang diutus yang mulia Raja."
"Benarkah? Kamu tidak bohong kan? Lalu kalau memang dia tidak disana, kemana dia pergi?"
"Benar Ratu, mana mungkin saya membohongi Ratu."
Percakapan mereka terhenti ketika Pangeran kecil terbangun dan menangis.
Ketika Ratu menyusui, Sani bercerita tentang apa yang dilihatnya selama proses melahirkan.
"Hahaha… nanti kamu juga pasti mengalaminya, tapi yakinlah rasa sakit itu akan hilang ketika melihat bayi mungil yang kita lahirkan dengan susah payah, kau akan langsung jatuh cinta pada bayimu."
"Hehe.. sepertinya begitu Ratu. Akupun sekarang begitu mengagumi Pangeran kecil, dia begitu lucu dan tampan, aku pun jatuh cinta pada Pangeran kecil." Ucap Sani sambil memegang pipi bayi itu.
"Jika kau jatuh cinta pada anakku, aku tidak rela menikahkan dia denganmu yang nantinya sudah berubah menjadi nenek tua." Ucap Ratu
"Ratu… maksudku bukan seperti itu."
Mereka bercanda semalaman, Sani menemani Ratu yang terbiasa begadang setelah menjadi ibu muda. Ratu juga sedang menunggu kepulangan Raja, tidak biasanya dia pulang larut malam.
Setelah kelahiran Pangeran kecil, ayahnya pasti pulang lebih awal karena begitu merindukan bayi lucu itu.
Bersambung...
__ADS_1