Cewek Tomboy Jadi Ratu

Cewek Tomboy Jadi Ratu
Main Game


__ADS_3

Bu Hanna pingsan tak sadarkan diri.


Ya ampun nyokap gue kena cincin gue lagi. Pikir Gita


"Mamah…, bi tolong bantu Gita angkat mamah ke sofa ya..!"


"Baik non."


Setelah bu Hanna dibaringkan, Gita menatap wajah ibunya itu, merasa sedikit bersalah karena ini kesalahannya.


"Apa sebaiknya bibi telepon Dokter Meri non?." Tanya bi Mina yang merasa khawatir.


"Tidak usah bi, bentar lagi mamah pasti sadar, kalau belum sadar juga nanti kita telepon dokter..!"


"Baik non, bibi ambil dulu minyak angin ya non di dalam kamar?."


Gita mengangguk, ya memang Gita tahu efek cincin itu hanya menghilangkan kesadaran, tidak ada efek lainnya yang membahayakan, Gita memperkirakan 10 menit lagi ibunya itu akan bangun.


Maafin Gita mah, asli gak sengaja mah. Batin Gita


Gita mengambil minyak angin dari tangan Bi Mina, mengoleskannya sedikit pada jari telunjuknya dan didekatkannya pada hidung ibunya itu agar aromanya bisa terhirup.


"Mah bangun..!" Ucap Gita, berharap minyak angin itu bisa membuat ibunya sadar lebih cepat.


"Bibi telepon Den Angga aja ya non?."


"Gak usah deh bi, tunggu dulu bentar lagi ya, kasian kak Angga pasti lagi sibuk."


"Baik non, oh iya lalu teman non didepan gimana?."


"Astaga, Gita lupa bi. . Coba bibi tunggu dulu disini ya temenin mamah, Gita mau kedepan sebentar..!"


Bi Mina menganggukan kepalanya, menandakan ia paham dan akan melaksanakan apa yang diperintahkan majikannya itu.


Gita mencoba mengintip dari jendela, tapi tidak ada siapapun. Gita membuka pintu dan betapa kagetnya dia.


"Astagfirullah… kenapa sih lo selalu aja ngagetin gue, kaya hantu tau gak?." Ucap Gita kesal.


"Sorry gue gak sengaja, gue udah nunggu lama, kan gue bete, ya udah gue mondar mandir disini nungguin yang buka pintu."


"Hmm.. gue kira siapa, gue lupa kalau lo mau kesini, tapi kak Angga jam segini tuh belum pulang, mending lo pulang lagi sana, istirahat di rumah, bukannya lo baru sembuh, eh udah berkeliaran kaya jelangkung."


"Nanggung lah nanti bolak-balik, gue nunggu di dalem aja ya..? Masa ada tamu dibiarkan diluar begini." Ucap Reza


"Ya udah cepet masuk..!"


Reza mengikuti langkah Gita dari belakang dia tersenyum memandang punggung wanita di depannya itu.


Saat dia melihat Bu Hanna yang berbaring di sofa, dia mulai merasa bingung.

__ADS_1


"Git, nyokap lo tidur di sofa?."


"Astaga, ya enggak lah, nyokap gue pingsan."


"Ya ampun, terus kenapa dibiarin gitu aja, udah telepon dokter belum?." Reza merasa panik melihat calon mertuanya sakit.


"Nyokap gue gapapa kok, bentar lagi juga sadar."


Benar saja Bu Hanna, membuka mata, perlahan mengangkat tubuhnya sendiri dan mulai duduk. Dia sempat bingung dan bertanya pada semua orang kenapa bisa dia pingsan.


Namun semua orang menggelengkan kepalanya, mereka memang tidak tahu penyebab ibu itu pingsan.


"Saya juga gak tahu nyonya, nyonya tiba-tiba pingsan gitu aja." Jawab Bi Mina


"Benarkah? Saya gak punya riwayat penyakit serius, sudah sarapan juga, dan tidak pusing, kenapa bisa pingsan ya?." Ucap Bu Hanna.


"Mamah ini, yang penting kan mamah gak papa, mending mamah istirahat aja nemenin papah dikamar..!"


"Iya juga ya, oh iya ada nak Reza, mau ngapelin anak perawan tante nih?."


"Hehehe…" Reza tak mampu menjawab pertanyaan itu karena ia malu.


Gita yang merasa canggung dengan pertanyaan itu dengan tergesa-gesa Gita menggandeng ibunya yang baru sadar itu menuju kamar papanya. Berharap tidak ada pertanyaan lainnya lagi mengenai asal muasal ibunya pingsan.


Gita kembali menemui Reza diruang tamu, menyuruh Bi Mina mengambilkan minuman juga cemilan.


Gita mulai basa-basi menanyakan kesehatan Reza, mereka mengobrol cukup lama hingga camilan itu habis.


"Za.. lo tunggu dulu aja ya disini..! Bentar lagi kakak gue pulang kok, lo mau ketemu dia kan?."


"Emm iya sih." Jawab Reza terpaksa meng-iya kan.


"Bi.. temenin Reza ngobrol dulu ya sambil nunggu kak Angga dateng, aku mau ke kamar udah adzan ashar juga..!."


"Siap non, sampe malem juga gapapa nemenin cowok ganteng begitu mah. Hehe.." Ucap Bi Mina


"Hahaha.. beneran bi? Tuh Za fans lo bertambah satu. Gue tinggal dulu ya." Gita melangkah pergi.


"Tapi Git…." Ucap Reza yang belum sempat ia katakan sepenuhnya.


Kenapa gue jadi ngapelin pembantunya sih? Parah. Pikir Reza 


Reza kini pasrah, dia terlanjur datang juga kan, dia berharap Gita tidak terlalu lama meninggalkannya dengan pembantu yang sedikit aneh itu.


Bi Mina terus saja mencerca banyak pertanyaan pada laki-laki itu, memang pembantu Gita yang satu ini tidak tahu kalau orang di hadapannya adalah calon majikannya juga. Calon suami majikan mudanya.


Ya.. karena waktu pertemuan keluarga yang membahas perjodohan itu, Bi Mina sedang pulang kampung dan baru kembali beberapa hari yang lalu.


Terdengar ketukan pintu, ternyata Angga pulang lebih cepat.

__ADS_1


"Ternyata ada calon adik ipar nih, Gita nya mana?." Tanya Angga sambil tersenyum.


"Kata non Gita, Aden ini nyariin Den Angga kok."


"Hmm.. ada apa?."


"Hehe.. ada apa ya, aku mendadak lupa begini." Ucap Reza yang merasa bingung harus berkata apa.


Tiba-tiba Gita lewat, dia ingin pergi ke dapur.


"Dia mau ketemu kakak, katanya mau main game bareng." Ucap Gita berlalu pergi.


"Hahaha… aku ngerti, modus kan?." Tanya Angga.


Reza hanya tersenyum kikuk, mengakui apa yang jadi tebakan calon kakak iparnya itu.


Karena memang sudah lama Angga tidak bermain game dan sibuk bekerja, dia akan memanfaatkan kehadiran Reza.


Mereka akhirnya benar-benar main game bersama, saling mengalahkan satu sama lain, dengan suara mereka yang berisik.


Bu Hanna merasa senang dapat melihat anak lelakinya kini seperti laki-laki normal yang mempunyai teman.


"Mereka cocok ya Git? Mamah seneng deh, mudah-mudahan kalian cepat menikah."


"Apa? Mamah gak salah ngomong kan? Pacaran juga enggak mah, Gita juga belum menyetujui perjodohan ini secara resmi, kenapa bukan kak Angga duluan sih yang nikah?."


"Hehe.. mamah lebih mengkhawatirkan kamu sayang."


"Takut gak laku gitu?." Tanya Gita kesal


"Hahaha.. bukan begitu, tapi ada benernya juga."


"Tega." Ucap Gita berlalu pergi.


Dua laki-laki dewasa itu kini terkapar di karpet, mereka sepertinya lelah bermain dan kenyang dengan semua cemilan yang mereka makan.


Mereka tertidur setelah melakukan sholat berjamaah, Angga yang sengaja menguji calon adik iparnya itu, mengujinya dalam mengimami shalat.


Bukankah jika nanti sudah menikah dia akan mengimami adiknya Gita. Jadi perlu di cek mampu tidaknya. Ketika itu Reza gugup, namun dia tidak menyerah dan berusaha sebaik mungkin, membuat hati Gita sedikit bergetar.


"Ternyata dia gak seburuk yang gue kira." Ucap Gita pelan memandang wajah Reza yang sedang tertidur.


Gita kini yang harus bertanggung jawab membersihkan sampah kuaci yang sedikit berserakan, bahkan kamar itu seketika berubah menjadi seperti kapal pecah, entah apa yang mereka lakukan selain bermain game.


Setelah semua selesai dan rapi, Gita ingin menyelimuti tubuh Reza, dia takut Reza demam lagi. Selimut itupun Gita pakaikan, dia tatap wajah Reza yang semakin mirip dengan Raja Deon saat tertidur.


Saat tangan mulus itu ingin menyentuh wajah yang menggoda itu, tiba-tiba ada sesuatu yang bergetar di saku celana Gita.


Drrrttt…

__ADS_1


Drrrttt…


Bersambung...


__ADS_2