
Hari mulai sore, sudah waktunya Gita pulang, dia begitu merasa merindukan kampusnya, 2 hari di kantor serasa sudah 2 bulan baginya dan terasa sangat membosankan.
Dia pulang dengan mobil yang tersedia bahkan lengkap dengan sopirnya, ingin rasanya ia bisa kembali bebas membawa motor matic nya.
Sepanjang jalan wanita itu memandang ke arah luar, melihat jalan yang dia lewati.
Gue harus terbiasa mengurus perusahaan, kasihan papah, pokoknya gue harus bisa..!
Tak terasa akhirnya dia sampai didepan rumah, dia begitu merindukan kasur empuknya.
Dia masuk, tak lupa mengucapkan salam, Gita mengelilingi rumahnya mencari keberadaan ibunya, tapi tak menemukan siapapun bahkan papanya pun tidak ada dikamarnya.
Kemana mereka pergi?
"Bi, papah mamah kemana ya, kok gaka ada sih?"
"Tuan dan nyonya ada di belakang rumah non di dekat kolam renang."
"Emm.. makasih bi."
Gita melangkahkan kakinya menuju tempat dimana orang tuanya berada. Alangkah terkejutnya saat ia melihat seseorang yang dirindukannya.
"Kakak…" Anggita berlari memeluk sang kakak.
Anggara melepaskan pelukannya, "Kamu siapa?"
"Gita lah kak, siapa lagi."
"Wah.. ditinggal pergi udah berubah aja, kakak baru tahu loh kalau kakak punya adek cewek. Hahaha."
"Ih gak lucu, dari dulu juga aku cewek."
"Tapi rasa cowok."
"Emang makanan bisa dirasa."
"Hahaha… tapi bogem nya bisa dirasa, masih kuat gak nih kayak dulu?."
"Masih lah, kakak mau coba?." Ucap Gita sambil bersiap layaknya seorang petinju.
"Ampun dek, sekarang kakak yakin kalau kamu adik kakak.hehe…"
"Hemm.. mah kak Angga nyebelin."
Bu Hanna tak menanggapi anak-anaknya yang sedang bertengkar sekaligus melepas rindu itu.
Bahkan dia malah tersenyum senang melihat kehangatan di rumahnya, bahkan terkesan berisik saat kedua anaknya ada.
Pak Baskoro pun merasakan hal yang sama, andai bisa selalu setiap hari melihat kedua anaknya itu, dia pasti merasa senang, tapi sayang Angga lebih suka di luar negeri mengurus perusahaan yang disana.
Pak Baskoro berniat menjual perusahaan yang berada disana, dan mulai merintis perusahaan baru lagi di Indonesia. Tapi Angga terlanjur jatuh cinta dengan bisnis disana, apalagi dia berjuang memajukan perusahaan disana dari nol.
Karena Anggota keluarga sudah lengkap, Bu Hanna menyiapkan makan malam spesial, dengan menu yang tentu saja menjadi favorit anak-anaknya.
"Git bagaimana pekerjaanmu hari ini?." Tanya Bu Hanna
__ADS_1
"Ya Gitu, bikin pusing."
"Hahaha… makanya terus belajar, nanti juga terbiasa dan terasa mudah." Ucap Angga
"Iya kak, kenapa kakak gak tinggal di Indonesia aja, kan enak perusahaan papah kakak yang urusin, dan aku bisa bebas kuliah dan main.hehe."
"Kamu yah Git mau enaknya saja, kakakmu sudah sibuk disana, jadi jangan membebani kakakmu lagi..!" Ucap Baskoro
"Iya pah, Gita cuma bercanda kok, Gita akan berusaha belajar dan terus belajar biar bisa sukses kaya papah dan kak Angga."
"Sip.." Ucap Angga sambil memberikan 2 jempol untuk adiknya itu.
"Kak.. kenalin aku sama pacar kakak dong..!"
"Kakak gak punya pacar."
"Tuh pah denger kan, harusnya papah sama mamah lebih mengkhawatirkan kakak, yang dijodohin harusnya kakak dulu jangan malah Gita, aku masih kecil pah, tuh kak Angga aja yang udah tua."
"Ishh.. punya adik gitu amat, emang kamu dijodohin dek? Sama siapa?"
"Sama cowok nyebelin, cowok murahan."
"Astagfirullah, kamu ya dek.. jangan ngatain orang begitu ah..!" Ucap Angga
Baskoro dan Hanna hanya tertawa mendengar Gita yang begitu membenci Reza, entahlah menurut mereka benci yang ditunjukan Gita itu terkesan lucu saja, seperti keluhan anak kecil yang sedang bertengkar.
Gita begitu semangat menceritakan kejelekan Reza, menceritakan betapa menyebalkannya laki-laki yang dijodohkan dengannya, berharap kakaknya itu akan membantunya menolak perjodohan ini. Tapi diluar dugaan Angga malah tersenyum senang.
"Hahaha… bagus dong, cewek yang modelnya kayak kamu memang cocok dikasih cowok model kayak dia Git, memangnya kamu mau yang gimana?"
"Astaga, mana ada yang paket komplit gitu, kamu nya aja paket paketan.haha.." Ucap Angga lalu berlari menuju kamarnya tak lupa ia kunci agar Gita tidak mengejarnya.
"Kak Angga." Teriak Gita kesal.
***
Sementara Reza sedang berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit kamarnya, masih terbayang penampilan Gita yang lama dan yang terbaru.
Kok bisa ya?
Tok
Tok
Tok
"Masuk.."
"Anak mamah lagi apa?, lagi bayangin acara wisuda besok ya?"
"Eh mamah, gak ko mah. Ada apa mah?."
"Gakpapa, mamah cuman mau mastiin besok kan acara wisudanya?, mamah mau pake baju couple ah sama papah."
"Haha.. mamah nih kayak pengantin baru aja, ya gimana mamah aja, yang penting kan kalian dateng."
__ADS_1
"Gita mamah ajakin aja sekalian ya?"
"Gak usah mah, dia kan lagi sibuk ngantor sekarang."
"Iya sih.. tapi nanti mamah coba telepon bu Hanna deh." Ucap bu Maya lalu bergegas pergi karena ingin mencari handphone nya dan segera menelpon.
"Jangan mah, gak usah..!" Teriak Reza.
Dan pintu kamar Reza pun tertutup lagi, ibu nya tak menghiraukan ucapan anaknya.
Mamah memang selalu semangat jika itu berurusan dengan Gita, apa kelebihannya dia?, bukannya mantan-mantanku cantik-cantik?.. huuhhh
Tak ingin membebani pikirannya dengan banyak masalah lagi, Reza mulai menutup matanya, ia ingin pergi saja ke alam mimpi, berharap bangun pagi dengan tubuh yang lebih segar.
***
Pagi pun datang, Gita masih malas untuk pergi ke kantor, membayangkannya saja membuatnya pusing.
Bu Hanna datang dengan baju dan alat make up nya lagi, dia bergegas memaksa anaknya itu segera mandi agar bisa bersiap-siap dengan cepat.
Kini Gita sudah berada di depan meja rias, dia kini pasrah jika setiap pagi akan selalu didandani ibunya.
"Git.. kamu lebih suka yang mana?." Ucap bu Hanna memperlihatkan beberapa stel baju.
"Lho kok bajunya gitu, emang mau kondangan mah?."
"Kamu pilih aja..!"
"Terserah mamah deh, Gita gak tau mana yang bagus, bukan selera Gita juga kok." Jawab Gita, kini ia semakin bete karena harus memakai dress.
Setelah Gita siap, bu Hanna menyuruhnya cepat berangkat karena takut terlambat.
"Mah.. Gita pergi ke kantor kan? Gak salah pakai baju nih? Ya ampun.." Gita mulai mengeluh.
Angga yang sedang sarapan mulai mendengar kegaduhan yang dibuat adiknya itu.
Saat dia menoleh ke arah Gita, dia diam sesaat.
Cantik juga, kenapa gue baru sadar ya? Sayang, kalau saja dia benar-benar adik kandungku aku pasti bangga.. tapi ada getaran aneh, astaga jangan sampai kamu suka sama adikmu sendiri Angga..! Gumamnya
"Git kamu mau kemana kok udah cantik begitu?." Tanya Angga
"Gak tahu kak, aku juga bingung, aku sarapan dulu aja lah.."
"Ok.. jangan lama-lama Git makannya!." Ucap Bu Hanna
Gita mengunyah sandwich nya dengan cepat, tanpa mengobrol dengan kakaknya yang bahkan berada di depannya karena kesal. Angga pun fokus memperhatikan tampilan baru adiknya itu.
Meski cantik, tetep aja dia masih barbar kan? Pikir Angga
Ya ampun, sebenarnya aku mau dibawa kemana sih hari ini, dandannya aja sampe kayak gini? pikir Gita
Sementara Bu Hanna sedang tersenyum bertukar pesan di handphonenya entah dengan siapa.
Bersambung...
__ADS_1